Never Say Never

Never Say Never
Di Rumah Mertua.



Untaian ayat suci begitu menyentuh hati, membuat air mata yang mendengarnya tiba-tiba mengalir begitu saja. Yang lebih mengharukan lagi bacaan tersebut keluar dari mulut Steve Abirios, putra Mario Santoso dan Regina Smith.


"Ya ampun anak gue Muslim dari lahir belum tentu hafal bacaan surat itu." komentar salah satu hadirin. Mario tentu saja terharu, Steve betul-betul serius dengan ucapannya. Sahabat Steve yang lain tentu saja iri sekaligus bahagia melihatnya, mereka ikut merasakan suasana haru.


Opa dan Oma dari Spore sudah tiba dari jam enam pagi tadi tidak ketinggalan Oma Lani turut hadir diacara pernikahan Steve dan Ayu, semua ikut merasakan kebahagiaan Steve. Terlebih saat ini, Steve dan Ayu sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Steve dan Ayu hari ini langsung ikut Opa ya ke S'pore." tegas Opa saat mereka sudah selesai menggelar akad nikah.


"Sekarang Opa?" tanya Steve tidak percaya.


"Ya sekarang, sesuai janji kamu." jawab Opa mengingatkan janji Steve yang akan segera kembali Ke S'pore jika berhasil menikahi Ayu, hanya saja Steve tidak menyangka pernikahannya berlangsung secepat ini.


"Opa boleh minggu depan tidak, Ayu harus mengajukan berhenti bekerja di kantor." Ayu minta ijin pada Opa.


"Nanti Opa yang bilang sama Permana." ups Opa Santoso benar-benar tidak bisa ditawar. Ia tahu Ayu bekerja diperusahaan Opanya sendiri, Opa Permana orangtua Pipit.


Sementara Opa Gilang, Papanya Andi santai saja saat mendengar Ayu sang cucu akan diboyong suaminya ke S'pore, ia malah terkekeh melihat Ayu kasak kusuk bersama suaminya.


"Andi, Pipit kalian tidak keberatan kan?" tanya Opa Santoso pada Andi dan Pipit.


"Terlalu mendadak Papi." kata Andi jujur pada Papi Santoso.


"Kalian juga memaksa mereka menikah mendadak toh?" sindir Opa Santoso, agak kesal karena dulu saat Mario dan Regina menikah sudah ada berita sebelumnya, tidak lantas seperti Mario menikahkan cucu satu-satunya. Mario memberi kode pada Andi agar mengiyakan saja, jika perlu mereka juga ikut ke S'pore mengantar kepindahan putra-putri mereka, pikir Mario.


"Baiklah Papi." akhirnya Andi mengalah.


"Resepsi di S'pore hari sabtu depan semua akan Saiful urus." kata Papi lagi pada mereka semua. Steve cengengesan saja, Opa dan Papi memang suka berebutan mengatur hidup Steve, untungnya tidak membuat Steve kelimpungan.


"Pakai resepsi?" tanya Mario sedikit keberatan.


"Kamu tidak tahu kalau Steve di S'pore lebih terkenal dibanding kamu?" Opa Santoso membuat Mario terdiam, terang saja selama ini Mario ke S'pore lebih sering untuk mengunjungi orang tuanya bukan untuk mengurus perusahaan.


Mario memang bersikeras tidak ingin terlalu fokus pada Unagroup perusahaan keluarganya, ia hanya total fokus pada restaurant miliknya dan sahabatnya yang hingga saat ini sudah punya puluhan cabang dibeberapa kota besar di Indonesia. Jika sudah tidak bisa mengelak baru Mario bersedia membantu pekerjaan di Unagroup.


"Papi bikin acara besar-besaran atau sekedarnya saja di S'pore, Sahabatku perlu ku undang atau tidak?" tanya Mario pada Papi.


"Undang saja semuanya, sahabat Steve juga pasti ingin hadir." kata Papi Santoso pada Mario.


Sementara diruangan lain, Romi baru saja selesai mengucapkan Ijab Kabul, semua berjalan lancar terucap dalam satu tarikan nafas tidak perlu mengulang, hingga Romi menarik nafas lega, perjuangannya tidak sia-sia, saat ini Anggita sudah resmi menjadi istrinya, hanya saja yang membuat Romi sedih Opa dan Omanya tidak satupun yang berkenan hadir, mereka kecewa Romi menikah terburu-buru seperti halnya Sosa.


Sewaktu Sosa menikah, mereka masih bisa terima karena kondisi Enji saat itu memang tidak memungkinkan, tapi Romi cucu lelaki pertama, harapan mereka Romi bisa menikah dan resepsi besar-besaran mengundang semua kerabat, sanak saudara dan juga rekan bisnis.


"PR kamu masih ada Boy." Anto menepuk bahu Romi, tentu saja Romi harus membujuk Opa dan Omanya, baik dari Papa maupun dari Mama.


"Iya Pa." jawab Romi terkekeh


"Setelah ini kalian kunjungi Opa dan Oma kalau perlu menginap disana beberapa hari." Kata Intan pada Romi dan Anggita.


"Dirumah kami saja, tinggalnya." sahut Liana cepat. Romi hanya memandang Anggita, mereka sudah sepakat sementara akan tinggal di apartment Romi dulu, sebelum mendapatkan rumah yang layak untuk tempat tinggal mereka nanti.


"Di Apartment Romi saja, boleh ya Mom." pinta Anggita pada Mommy, tidak mendapat jawaban hanya bola mata Mommy saja yang membesar tidak ingin di bantah.


"Biarkan saja mereka di apartment." bisik Leo membujuk istrinya. Liana menggelengkan kepalanya. Memang Liana keras kepala, ia harus dibujuk pelan-pelan, itu pun dengan bermacam cara.


"Tinggal dulu saja dirumah, paling tidak dua minggu." Leo menepuk bahu Romi, ia tahu bagaimana harus menghadapi istrinya.


"Iya Dad." jawab Romi menurut, dua minggu dirumah Anggita lumayan risih juga, pikir Romi. Tapi demi mengambil hati mertua, Romi mengikuti.


"Tapi kami mengunjungi Opa dan Oma dulu." kata Romi pada Daddy Leo.


"Tentu, Bagaimana kalau makan malam bersama, Nto. Kita undang orang tua kita." kata Leo pada Anto.


"Iya boleh juga, besok biar Romi kabari kita, bikin seakan-akan Romi dan Anggita yang ajak, jangan kita." sahut Intan pada semuanya.


"Sudah jadi orang tua juga urus anak sendiri mesti ijin sama orang tua. Lucu juga ya." Intan jadi tertawa geli.


"Ma, semuanya ditunggu diruang makan." kata Naka pada Intan. Mereka segera bergegas menuju ruang makan, dimana semua sudah berkumpul. Langsung saja Romi menghampiri dan memeluk Steve rekan seperjuangannya.


"Lega Nyong." katanya pada Steve.


"Lega sih, tapi gue sama Ayu, langsung ke S'pore hari ini Nyong." kata Steve pada Romi.


"Secepat itu?" Romi sedikit kecewa, ia berencana mengajak Steve dan Ayu honeymoon bersama, Raymond dan Roma juga ingin ikut. Arkana dan Sarah sebenarnya pun ingin ikut, apalah daya Ame belum bisa ditinggal berlibur.


"Iya, sabtu depan kami resepsi di S'pore, kalian datang ya." undang Steve pada Romi.


"Pakai resepsi?" Romi terkekeh.


"Opa maunya begitu." kata Steve menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah, honeymoon bersama bagaimana? Raymond dan Roma mau loh." kata Romi membahas rencana mereka, sementara yang lain sudah mulai makan, keduanya masih sibuk ngobrol ngalor ngidul.


"Honeymoon saja yang dibahas, senior lu belum honeymoon euyy." Arkana menepuk bahu Romi.


"Hahaha ayolah, ke S'pore saja yang dekat." ajak Steve pada keduanya.


"Nanti gue tanya Sarah. Bisa tidak ambil cuti." kata Arkana mulai mempertimbangkan.


"Malas ya, honeymoon hanya ke S'pore." Romi terkekeh.


"Sekalian hadir resepsi gue, nanti yang seriusnya kita atur lagi." kata Steve semangat, seperti yang ada waktu saja untuk berlibur.


"Iya-iya." jawab Romi terkekeh melihat wajah Romi yang begitu sumringah, tinggal Romi yang masih berpikir keras menyesuaikan diri jika harus tinggal bersama Mommy dan Daddy, dirumah mertua.