Never Say Never

Never Say Never
Richard Lee



Setelah mengantar Romi ke Bandara, Anggita langsung menuju ke kantor sesuai janjinya pada Mommy. Perjalanan dari Bandara ke Kantor memakan waktu sekitar satu jam lebih sedikit. Setibanya di kantor Anggita langsung menghubungi pihak Wedding organizer yang seharusnya ditemui Vita hari ini. Karena kecemburuan Anggita jadilah ia yang mengurus semua kepentingan pribadi Vita.


Urusan Vita terselesaikan dengan baik, semua Anggita urus sendiri, untuk masalah dekorasi pun Anggita sudah berkomunikasi dengan Felix, nanti Felix sendiri yang akan menentukan tata letaknya. Felix dan Vita akan mengadakan pesta pernikahan yang megah, Anggita jadi ingat pernikahannya sendiri tidak dirayakan, hanya akad nikah dan pesta kecil keluarga saja. Kalau lihat begini rasanya ingin juga tapi membayangkan harus berdiri beberapa jam di pelaminan menerima ucapan selamat dari tamu dengan senyum tidak berhenti itu rasanya pasti akan sangat melelahkan.


Vit, urusan wedding organizer sudah ya, tinggal kamu fitting setelah pulang nanti.


pesan Anggita Kirim untuk Vita dan sudah terbaca. Tapi mungkin Vita sedang bertemu klien jadi tidak dibalasnya.


Anggita pun tidak ambil pusing Dan mulai melanjutkan pekerjaannya. Mulai hari ini ia mau bekerja secara professional, omelan Mommy tadi jadi pikiran Anggita juga, benar juga yang Mommy bilang kalau anak Daddy semua kelakuannya seperti Anggita dan Wilma siapa yang akan meneruskan perusahaan yang sudah Daddy rintis ini, bahkan sudah berkembang pesat.


Inilah saatnya Anggita belajar maksimal hingga saat Daddy pensiun nanti sudah tidak pusing menjalankannya, paling tidak Anggita sudah memiliki orang-orang yang bisa Anggita percaya untuk melancarkan jalannya perusahaan.


Anggie, terima kasih ya sudah mau bantu. Maaf baru bisa balas, baru selesai bertemu klien. Suamimu sudah menuju bandara.


pesan balasan dari Vita membuat Anggita tersenyum, Romi sudah menuju bandara. Senang sekali rasanya, walau ada rasa sedikit tidak enak hati, hanya sedikit tapi, selebihnya rasa bahagia. Maafkan kalau aku egois ya, pikir Anggita.


Anggita segera menghubungi suaminya, karena dari tadi belum ada laporan dari Romi saat tiba maupun saat akan pulang, mungkin karena waktu yang padat membuat Romi tidak sempat mengabari Anggita.


"Sayang, baru saja aku mau hubungi kamu, eh sudah kamu duluan." jawab Romi saat mengangkat telepon dari Anggita.


"Kamu sudah menuju bandara ya?" tanya Anggita semangat.


"Iya, Vita sudah kasih tahu kamu kan?"


"Kamu yang suruh kasih tahu?"


"Hu uh, aku buru-buru." jawab Romi terkekeh.


"Maafkan aku ya." kata Vita lagi kasihan sekali pada suaminya.


"Memangnya kamu salah apa?" Romi kembali tertawa.


"Kamu jadi balik hari, tidak bisa istirahat."


"Memang rencananya kan aku mau balik hari ini juga, kecuali kalau pekerjaannya tidak bisa dilanjutkan oleh Budi dan Bona. Percuma saja aku bawa mereka berdua kalau tidak bisa ditinggal."


"Nah sudah ada mereka kenapa kamu ajak Vita?"


"Buat cadangan saja, Karen kamu sudah marah-marah duluan."


"Huhu beban biaya perusahaan kamu jadi bertambah maafkan aku."


"Mestinya memang Vita ikut, tapi dia ijin kan."


"Tidak jadi ijin karena aku." lagi-lagi Anggita tidak enak hati.


"Tidak apa sayang, Vita senang kok Karen urusannya selesai lebih cepat Karena kamu bantu. Sebenarnya Vita juga bisa pulang hari ini, tapi Moza minta ditemani." Romi menjelaskan.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu mau aku jemput?"


"Tidak sayang, nanti aku saja yang jemput kamu ke kantor."


"Jam berapa?"


"Jam tujuh aku sampai kantor kamu in syaa Allah."


"Lama sekali, lembur dong aku." sungut Anggita.


"Tadi kamu datang jam berapa ke kantor? enak saja datang siang mau pulang cepat." omel Romi pada Anggita, sudah ketularan Mommy rupanya.


"Hahaha kamu ikut marahi aku lagi." Anggita terbahak.


"Aku tidak mau disalahkan keluarga kamu ya, sudah jelas kamu harapan mereka, malah tidak becus kerjanya."


"Nanti saja dipikirkan, sekarang kamu kerja yang benar dulu. Malu sama staff yang lain kalau anak owner malah semau gue."


"Iya sayang, aku tunggu dikantor ya."


"Mau dibawakan apa, aku beli dibandara saja."


"Tidak usah. Yang penting kamu sehat selamat dan tetap sayang sama aku." jawab Vita membuat Romi senyum-senyum.


"Aamiin." mereka mengakhiri sambungan teleponnya.


"Bu Vita ada yang mau bertemu." Wina sekretaris junior Daddy tiba-tiba saja masuk keruangan Vita.


"Oh siapa?" tanya Vita heran, tumben sekali ada yang mau menemui Vita dikantor, perdana ini. Wina menyerahkan kartu nama tamu tersebut. Mr. Lee?? kening Vita langsung berkerut, ini bukannya klien Romi yang suka sama Moza itu ya. Untuk apa mau bertemu Vita.


"Ada dimana orangnya, Win?" tanya Vita penasaran.


"Diruangan Pak Leo." jawab Wina, Vita tersenyum dan menarik nafas lega, sudah bertemu Daddy rupanya. Anggita segera keluar ruangan menuju ruang Daddynya.


"Assalamualaikum..." Anggita masuk keruangan Daddy yang sedang bicara dengan MR. Lee.


"Waalaikumusalaam, Anggie masuk sayang, ternyata kamu sudah bertemu dengan Lee ya, ini teman kuliah Daddy loh." kata Leo pada anaknya, menunjuk Mr. Lee yang cengengesan.


"Saya baru tahu kamu anak Leo, duh bikin malu saja." Mr. Lee terbahak, sambil menerima uluran tangan Anggita.


"Iya kami makan siang bersama Dad, aku temani Romi." jawab Anggita pada Daddy.


"Om sudah lama cari Leo, ternyata selama ini dekat ya. Kalau tahu minta Romi temui saya sama Daddy kamu."


"Iya baru tahu juga kalau Mr. Lee ini kliennya Romi. What a small world." Leo terkekeh.


"Kenapa bisa tahu kalau Daddy mertuanya Romi, Om?" tanya Anggita penasaran.


"Om lihat foto keluarga dimeja Leo. Om pikir kok ada kamu, ya sudah om bilang, ini seperti istrinya Romi, ternyata memang benar." Mr. Lee terbahak.


"Jadi kamu makan siang kemarin temani Romi karena Kliennya ini mengincar staff Romi ya?" tanya Leo sambil melirik Lee sahabatnya semasa kuliah. Lee terbahak mendengarnya.


"Mungkin ya, Romi juga tidak cerita banyak." Anggita ikut tertawa.


"Cewek yang aku incar seumuran anakmu, Le." Lee menepuk dahinya.


"Dad, berarti Mr. Lee ini Richard Lee?" tanya Anggita memastikan, setahunya sahabat kuliah Daddy hanya Richard Lee.


"Iya, betul sayang. Terakhir bertemu waktu Daddy menikah, terus menghilang dia. Sekarang muncul lagi masih begini saja."


"Bisa bantu Om, biar Moza mau sama Om?" tanya Richard Lee, masih usaha saja. Leo terbahak menepuk bahu sahabatnya.


"Hahaha maaf Om, aku tidak dekat sama Moza. Kemarin itu juga baru kenal." jawab Anggita jujur.


"Usaha sendiri lah." kata Leo pada Richard Lee.


"Susah anaknya didekati, angkat teleponku saja malas. Aku jadi bingung harus bagaimana. Sudah sewa satu tower saja masih diabaikan." jawab Mr. Lee apa adanya.


"Cari yang lain, kemana Richard Lee yang dulu?"


"Dulu masih muda ya, sekarang sudah tua." jawab Mr Lee bersungut.


"Sudah tahu tua, masih saja mengincar yang muda." jawab Leo membuat Anggita terkikik geli.


"Masih gadis pula." jawab Anggita benar-benar tertawa geli, sampai keluar air mata.


"Mestinya cari janda ya?" tanya Mr. Lee dengan wajah memelas, Leo terbahak kembali menepuk bahu sahabatnya.