Never Say Never

Never Say Never
Opa dan Oma



"Gue ke Jakarta dulu ya, Oma sama Opa mesti dibujuk nih, PR belum selesai." kata Romi pada sahabatnya.


"Hahaha semangat." Arkana mentertawakan Romi, rumit sekali perjalanan cintanya.


"Rom, kalau sudah beres urusan Oma dan Opa, baru kita urus Panti." kata Chico pada Romi.


"Panti bisa disambil, Fuad sudah gue kasih alamatnya, besok dia dan tim kunjungan kesana." Romi tersenyum menaikkan alisnya.


"Elu mau jelaskan apa sama Opa dan Oma?" tanya Arkana penasaran.


"Jelaskan sajalah, minta maaf minta restu, itu saja." kata Romi bingung mau bagaimana lagi.


"Kalau Oma mau dirayakan bagaimana?"


"Ikuti sajalah, asalkan mereka senang dan Anggie tidak dimusuhi." Romi terkekeh, restu Opa dan Omanya sangat penting.


Opa dan Oma, orang tua Papanya Romi ini memang agak unik, mereka masih aktif bergaul kesana kemari, dan Oma Mega sampai saat ini masih dengan trademarknya sebagai Sosialita, Oma-oma gaul yang umur hampir 60 tahunan masih nonton konser, masih ke cafe, masih suka bermalam mingguan di lounge hotel sambil mendengar musik, mau cari dimana Oma dan Opa seperti itu. Mestinya sebagai Opa dan Oma gaul mereka lebih santai dan tidak banyak menuntut, asal cucu bahagia, itu sih menurut Romi. Entahlah nanti bagaimana jadinya.


"Oma mana Bi?" tanya Romi ketika ia dan Anggita sudah tiba dirumah Oma.


"Masih dikamar, saya panggil atau Mas Romi yang mau ke kamar?" tanya Bibi pada Romi.


"Aku saja, ini Anggita Istriku, bikin minum ya bi." kata Romi sebelum kekamar Oma.


Romi langsung menuju kamar Oma. Saat membuka pintu dilihatnya Oma sedang menonton TV di sofa kamar.


"Oma sayang." panggilnya tersenyum saat Oma menoleh padanya.


"Bagus, menikah tidak minta restu sama Oma." langsung saja menyemprot Romi tanpa basa-basi.


"Serba mendadak Oma, Romi juga tidak menyangka bisa menikah secepat itu." kata Romi memberi alasan.


"Apa sih yang ada di pikiran Papa dan Mamamu itu. Seperti tidak punya keluarga saja, menikah di rumah orang." Oma masih saja mengomel, seperti pesan Papa dengarkan saja lalu minta maaf.


"Maaf Oma, Romi harus bagaimana?" Romi mencium tangan Oma.


"Mau bagaimana lagi sudah kejadian." Oma menarik nafas panjang.


"Mana istrimu?"


"Diruang tamu Oma." jawab Romi pelan.


"Seperti tamu saja, dia itu istri kamu harusnya ikut kesini minta maaf sama Oma." masih kesal saja, belum berhenti ngomel Oma.


"Iya Romi jemput dulu." Romi bergegas menuju pintu.


"Tunggu, biar Oma ikut." kata Oma akhirnya, Romi tersenyum tipis Oma sudah melunak.


"Anggie, ini Oma Mega." Romi merangkul Oma mengenalkan pada Anggita.


"Assalamualaikum Oma." sapa Anggita sopan meraih tangan Oma dan menciumnya. Asli Oma wangi sekali, Anggita sampai takjub, pakai parfume apa Oma, sudah tua masih saja cantik dan wangi.


"Waalaikumusalaam..." Oma tersenyum pada Anggita, meskipun kecewa ia senang, Romi tampak bahagia, tidak tertekan seperti bayangannya.


"Kalian menginap disini?" tanya Oma pada Romi dan Anggita.


"Boleh Oma." jawab Romi cepat. Kalau Oma melunak maka Opa pun pasti melunak juga.


"Bi alun, rapikan kamar Romi ya, bikin makan enak Bi, untuk cucu-cucu saya." kata Oma pada Bi alun.


"Oma, tumben makan dirumah." kata Romi yang baru saja berniat mengajak Oma makan siang di hotel, seperti yang Oma biasa lakukan bersama keluarga dan sahabatnya.


"Bi, tidak usah bikin makanan, rapikan kamar saja." kata Oma meralat perintahnya.


"Opa mana Oma?" tanya Anggita pada Oma.


"Lagi dimana ya, mungkin di kolam belakang atau dikebun. Opa tidak bisa diam, selalu ada saja yang dikerjakannya." kata Oma mulai celingukan mencari Opa.


"Dimana?" tanya Oma via telepon, ia menghubungi Opa melalui handphonenya.


"Ada Romi dan istrinya, katanya mau dihajar." kata Oma membuat Romi dan Anggita saling berpandangan, mereka jadi mengkeret mendengar perkataan Oma.


"Oke." Oma menutup sambungan teleponnya, entah apa yang dikatakan Opa, yang pasti Oma senyum-senyum setelah menutup sambungan teleponnya


"Oma ganti baju dulu, kita makan di hotel A saja." kata Oma pada Romi dan Anggita.


"Rom, aku takut." rengek Anggita pada Romi.


"Takut kenapa?" tanya Romi terkekeh.


"Opa mau hajar kita." Wajah Anggita seperti orang mau menangis saja, lagi-lagi Romi terkekeh, ia lebih santai karena Opa tidak lebih galak dari Oma. Oma saja tadi hanya sedikit ketus, kemudian kembali normal.


"Rom..." suara Baritone muncul dari dalam, tampak Opa dengan baju santai kebesarannya, wajahnya tampak fresh.


"Opa habis olah raga?" tanya Romi karena Opa keringatan.


"Cari keringat." jawab Opa terkekeh.


"Ini Anggita, Opa." kata Romi mengenalkan istrinya. Opa memandang Anggita dari atas kebawah, membuat Anggita salah tingkah.


"Kenapa mau sama Romi? bukannya kamu tahu Romi sudah dijodohkan?" kata Opa pada Anggita.


"Eh..." Anggita bingung mau jawab apa.


"Opa, aku sama Ayu kan tidak pernah saling mencintai." Romi menjelaskan ulang pada Opa, padahal sudah pernah dijelaskan via telepon sebelumnya.


"Opa kan tanya sama istri kamu, kenapa kamu yang jawab sih?" Opa memandang Romi sengit. Diluar dugaan Opa lebih alot dari pada Oma.


"Ayu menikah sama Steve, Opa." Romi kembali menjelaskan.


"Opa tanya Anggita kenapa mau sama Romi?" Opa mengabaikan Romi, kembali menatap Anggita.


"Tadinya Anggie tidak mau Opa." jawab Anggita polos.


"Terus tergoda? dirayu pakai apa?"


"Opa jangan begitulah, aku kejar terus Anggita, padahal sudah diacuhkan, malah Anggita tidak mau menerima telepon aku.Tidak mau bertemu juga. Kalau bukan karena Ayu, mana bisa aku bertemu Anggita." jelas Romi pada Opa


"Kalian ini bikin kesal saja, menikah seperti main-main."


"Kami serius Opa." jawab Anggita pelan.


"Kalau serius itu, tidak menikah dirumah orang, seperti ditangkap satpol pp saja "


"Itu karena Papa dan Mama."


"Iya Opa, Mommy dan Daddy ku juga, mereka minta kami cepat menikah." Anggita akhirnya ikut menjelaskan.


"Mereka mewakili Satpol PP Opa, aku ketahuan Papa cium pipi Anggie saat pernikahan Sosa." Romi terkekeh.


"Romi, kamu jadi Laki-laki itu harus sopan, mestinya ajak Opa dan Oma juga Papa dan Mama kamu kerumah keluarga Anggita, kita minta baik-baik anak gadis orang." kata Opa pelan tidak ada nada kemarahan disana.


"Sudah terlanjur menikah Opa." kata Anggita mulai berani tersenyum.


"Mulai dari awal, kapan ajak keluarga kamu berkunjung kerumah orang tua Anggita. Kamu juga sebagai perempuan mau-maunya diajak menikah tanpa dilamar dan diminta baik-baik pada keluargamu." cerocos Opa, tapi bisa diterima dan masuk akal oleh keduanya.


"Iya Opa, maaf." kata Anggita pelan.


"Bukan kamu yang minta maaf, tapi Opa. Bisa-bisanya cucu Opa jadi Laki-laki yang mau enaknya saja."


"Opa, aku tuh sudah jungkir balik kejar Anggita, Opa. Kalau kemarin tidak melamar karena situasinya saat aku meminta Anggita pada Daddynya langsung saja kami dinikahkan." kata Romi membela diri.


"Tetap saja Opa tidak terima, memalukan keluarga, Opa kenal keluarga Lusinto, apa katanya nanti kalau tahu ternyata kamu itu cucu Opa." Opa menyebut nama Opa Lusinto Ayah dari Daddy Leo.


"Opa, jangan begitu lah, aku tidak bermaksud membuat malu keluarga kok. Lagipula bukannya waktu mama dilamar, Opa lagi di luar negeri." Romi mencari celah agar tidak disalahkan.


"Iya tapi kakak Oma yang mewakili, setidaknya ada pihak keluarga meminta baik-baik mama kamu saat itu." Opa agak kesal rupanya. Ini masalah gengsi, pikir Romi.


"Opa, kan kemarin aku minta baik-baik Anggita ke Daddy dan Mommy. Makanya kami direstui." Romi tetap tidak mau disalahkan juga.


"Tapi tidak dirumah orang juga menikahnya. Pokoknya kamu Salah!!!" tambah naik suara Opa.


"Iya makanya Romi minta maaf sama Opa. Kapan Opa ada waktu kita kerumah Opa Lusinto ya." bujuk Romi, tidak mau berdebat sampai besok. Bisa panjang kalau diladeni.


"Coba tanya Opa Ismail. Kamu juga belum mengenalkan Anggita pada Opamu itu kan?" Opa tersenyum jahil, ia sudah kompakan dengan besannya ingin mengerjai Romi dan Anggita.


Romi menghela nafas, masih ada Opa dan Oma yang berikutnya harus Romi dan Anggita temui, sudah susah begini mendapat restu, harusnya rumah tangga mereka bahagia, karena Romi berjuang cukup keras agar Anggita menjadi istrinya. Semoga sulit diawal saja, selanjutnya bahagia hingga akhir, begitu harapan Romi.