Never Say Never

Never Say Never
Seperti Bocah



"Lama sekali dikamar Om Kenan." protes Sarah pada Arkana suaminya.


"Selalu seru kalau ngobrol sama Om Kenan." jawab Arkana segera duduk disebelah istrinya.


"Mau makan apa?" tanya Arkana kemudian pada Sarah.


"Sedang tidak ***** makan, untung saja Anggita bawa pudingnya." jawab Sarah menyandarkan bahunya pada Arkana. Masih saja bahas puding ya hahaha. Sarah memang terlihat lebih lemas dari biasanya.


"Paksakan makan, mau ke dokter setelah ini?" tanya Arkana lagi. Sarah menggelengkan kepalanya.


"Mungkin Sarah hamil." tebak Anggita sambil tersenyum.


"Memang lagi hamil." kata Sarah ikut tersenyum.


"Wah selamat ya." kata Anggita pada Arkana dan Sarah, senang sekali sepupunya segera mempunyai anak. Arkana mengangguk dan langsung mengecup dahi istrinya.


"Kalian semua sudah tahu?" tanya Anggita pada yang lain. Mereka menganggukkan kepalanya.


"Tidak ada yang beritahu aku." sungut Anggita.


"Kamu sih tidak mau masuk group." kata Roma.


"Ish tidak diinvite."


"Memang aku yang larang." kata Romi.


"Loh Kenapa?" Anggita protes pada suaminya.


"Nanti konsentrasi kamu terganggu, mereka aktif sekali."


"Romi, kamu nih memisahkan aku Dari yang lain." sungut Anggita.


"Ya sudah kalau mau bergabung invite saja Rom. Tapi janji jangan abaikan aku." Romi memeluk istrinya.


"Ish bermesraan didepan umum." protes Chico.


"Istri tuh maunya dimanja. Adinda kan bisa cium Risa, atau mau Risa yang cium duluan kali. Ris!!!" panggil Arkana pada Risa yang sedang meladeni Ame.


"Ya?" Risa menoleh.


"Ini Chico kurang ciuman." kata Arkana membuat Risa merah merona.


"Jangan didengar dek, dia selalu saja kearah sana pikirannya." kata Chico terkekeh.


"Iya." jawab Risa dan kembali sibuk dengan mertuanya.


"Chico jangan disamakan dengan kamu dong Tan." teriak Ame tertawa.


"Mae, jangan bicara begitu. Lihat ini Sarah tambah lemah minta dicium."


"Ish dasar aku lemas karena belum makan dari tadi." protes Sarah pada suaminya.


"Sayang, jangan malas makan. Kasihan Baby nih." Arkana memegang perut Sarah


"Duh iri." Anggita meringis.


"Aku juga iri." kata Roma ikut-ikutan.


"Ish aku saja yang menikah lebih dulu tidak iri." kata Sosa pada keduanya.


"Kamu tidak mau hamil?" tanya Anggita.


"Siapa yang tidak mau? tapi kalau Naka masih begini lebih baik jangan hamil dulu, kasihan anakku." kata Sosa membuat Anggita sedih. Roma ikut memeluk sepupunya.


"Seperti disiksa Naka saja kamu." Romi terkekeh.


"Memangnya kamu kira menahan ridu tidak tersiksa." Sosa bersungut.


"Masa sih?" Naka yang baru muncul langsung saja senyum-senyum mendengar keluhan istrinya.


"Loh kamu sudah pulang?" tanya Sosa pada Naka.


"Iyalah kan aku rindu Istriku." jawab Naka memeluk Sosa.


"Ah drama." gumam Sosa bersungut.


"Drama apa sih? aku beneran kangen tahu. Aku ke Ame dulu." Naka melepaskan pelukannya dan langsung menghampiri Ame.


"Istri tuh diperhatikan Naka." Ame langsung saja menyemprot Naka.


"Iya Ame." Naka terkekeh, menyalami semua yang ada didekat Ame.


"Papa mana?" tanya Intan pada Naka, menanyakan Anto.


"Dirumah tuh sama Popo dan yang lain." jawab Naka, Intan mengangguk dan kembali bicara dengan Monik dan Kiki.


"Kamu masih mengabaikan Sosa, Ame sembunyikan baru tahu rasa." ancam Enji kemudian.


"Duh Ame, Naka ini tidak multitasking, jadi kalau sudah fokus lupa yang lain." keluh Naka pada Ame.


"Kan ada masanya istirahat bisa dong hubungi istrimu. Diambil orang baru tahu rasa." kembali mengancam dengan bahasa lain.


"Tuh takut kehilangan Sosa tapi abai."


"Siapa yang abai sih, jadi kondisinya tanganku itu sibuk dimobil, makanya kalau Papa telepon Sosa selalu di loudspeaker, jadi aku dengar kok kabar istriku."


"Tapi istrimu tidak dengar kamu." Enji menjewek telinga anaknya.


"Ame..." Naka mengusap telinganya.


"Hahaha sudah tua masih saja seperti bocah, ayo semua makan yuk, atau mau sholat magrib dulu?" tanya Bunda Kiki pada semuanya.


"Sholat dulu saja Bunda." jawab Chico.


"Iya Bunda, sholat dulu." jawab yang lainnya, mereka juga sudah kenyang dengan cemilan yang ada. Walaupun belum makan nasi, maklum orang Indonesia ya kalau belum makan nasi berarti belum makan.


Setelah sholat magrib barulah mereka makan bersama, para lelaki dirumah Erwin termasuk Liana akhirnya ikut makan dirumah Kiki. Untung saja Kiki masak banyak, karena ternyata yang tidak diduga ikut datang, Kiki senang sekali jadi ramai rumahnya. Karena sahabatnya tidak jadi ke Warung Elite karena masalah Liana Maka Reza yang menyusul ke rumah Erwin tadi.


"Kak Eja ternyata sudah pulang dari tadi ya." tanya Kiki pada suaminya.


"Iya, tapi ada urusan dulu nih dengan para bos." jawab Reza terkekeh.


"Kenan mana? panggil Ray." perintah Reza pada Raymond.


"Om Kenan tadi masih kerja." jawab Raymond.


"Iya, tapi sekarang sudah selesai, ayo ajak makan bersama."


"Iya Ayah." Raymond segera berjalan ke kamar Kenan, menjemput Om nya untuk makan bersama. Tidak lama tampak Raymond mendorong kursi roda Kenan.


"Ya ampun Ken, kenapa?" tanya Leo yang tidak tahu cerita.


"Kecelakaan di Tol." jawab Kenan terkekeh.


"Sorry, semoga lekas pulih." kata Leo pada Kenan.


"Terima kasih Bang." jawab Kenan tersenyum.


"Om mau dimana? sama anak muda atau sama yang pernah muda?" tanya Raymond jahil.


"Sama yang pernah muda saja." jawab Kenan terbahak.


"Ah payah nih On Kenan tidak asik." kata Arkana kecewa, ia salah satu penggemar Kenan selain Raymond.


"Nanti saya kesana, sekarang ngobrol disini dulu." Kenan terkekeh.


"Jadi bagaimana ceritanya, bisa kecelakaan begini?" tanya Leo pada Kenan. Kenan pun menceritakan kisahnya secara garis besar.


"Sabar ya, tinggal pemulihan kan."


"Iya tinggal pemulihan saja, sambil latihan berjalan." kata Kenan pada Leo.


"Ada saja cerita ya, bersyukur ya sehat dan selamat."


"Iya memang kita harus selalu bersyukur sih." kata Reza memandangi adiknya.


"Bang Eja dan Kiki jadi sibuk urus saya " kata Kenan lagi.


"Apanya yang sibuk, biasa saja kok." jawab Kiki.


"Tidak sibuklah, tinggal menjalani saja." Reza menimpali.


"Untungnya Abangnya sayang adek." kata Enji tersenyum.


"Cuma satu sih jadi harus disayang." Reza terkekeh. Kenan mencibir saja sambil tersenyum.


"Ken ini Liana istri Leo loh sepupu aku." Enji kemudian mengenalkan Kenan dengan Liana. Kalau dengan Leo sudah kenal karena Leo pernah beberapa kali bekerja sama dengan Kenan.


"Oh iya salam kenal Kak Liana." kata Kenan sopan.


"Panggil Liana saja." kata Leo tertawa.


"Iya Liana lebih muda kok." Enji ikut tertawa. Kenan ikut tertawa.


"Ayo mulai makan ya, kita kebanyakan bicara dari tadi." kata Kiki lagi.


"Kalau sudah ngobrol ya gitu lah lupa waktu." Enji terkekeh.


"Jadi kalian tadi bahas apa sih? lama sekali kesininya." Enji memberengut.


"Sambada muncul lagi, sepertinya sudah bebas." kata Liana pada Enji.


"Aih seramnya, lagi kondisi sakit begini mana bisa kulawan dia." kata Enji menghela nafas.


"Sayang, kenapa jadi kamu yang mau melawan Sambada. Tenang saja, ada Leo dan Mario yang akan urus seorang Sambada." Erwin terkekeh.


"Kamu santai sekali schatz, aku kok takut ya."


"Memang menakutkan sih tapi berdoa saja lah, Allah Maha kuasa." kata Leo sambil tersenyum memandangi istrinya. Masih saja bisa tersenyum padahal bahaya didepan mata, tapi benar kata Leo ada Allah.