Never Say Never

Never Say Never
Gegap Gempita



"Bagaimana rasanya?" tanya Opa ketika bertemu Romi saat sarapan pagi, rencananya mereka akan ke pantai setelah sarapan, Opa dan Oma tentu saja di ajak bergabung.


"Belum juga makan." jawab Romi terkekeh.


"Ah pura-pura tidak tahu lagi, bukan itu yang Opa maksud." Opa menyeringai jahil.


"Apa sih?" tanya Romi pura-pura lugu.


"Malam pertama, enak kan?" Opa langsung ke pokok pembahasan.


"Ish, memangnya boleh ya hal seperti itu diceritakan. Sudah jelas ada hadisnya itu cukup untuk internal suami istri saja." jawab Romi mulai bawa-bawa hadis pada Opa yang pengurus mesjid dekat rumah itu. Opa terkekeh dibuatnya.


"Berarti sudah goal ya." kata Opa mengangkat alisnya.


"Bodo ah, aku tidak mau jawab." Romi melakukan aksi tutup mulut, merapatkan bibirnya dan membuat tanda dengan jari jika mulutnya terkunci.


"Kenapa?" tanya Oma melihat kelakuan Romi.


"Opa nakal." jawab Romi bergegas meninggalkan Opa dan Omanya, bisa kacau kalau Oma ikutan tanya-tanya. Masa harus dijelaskan, pikir Romi.


"Kenapa Romi, seperti menghindar?" tanya Oma pada Opa.


"Entah, takut saja padahal aku cuma tanya malam pertamanya bagaimana." Opa terkekeh.


"Ish Opa ini, masa yang begitu ditanya." Oma memukul pundak Opa, tapi mereka berdua terbahak.


Romi mendekati Anggita yang asik ngobrol dengan Ayu.


"Hindari Opa dan Oma." bisiknya kemudian bergabung dengan para pria. Anggita terbahak sudah menebak pasti Opa dan Oma menginterogasi suaminya tadi.


"Kenapa?" tanya Ayu, Anggita menggeleng tidak ingin menjelaskan.


"Yang lain mana?" tanya Anggita karena belum melihat Sarah dan Sosa. Hanya Risa saja yang sedang berkeliling mencari menu yang akan dimakannya.


"Sarah masih tidur, Sosa maunya sarapan dikamar." jawab Ayu terkekeh.


"Wah memang boleh ya sarapan dikamar, kalau tahu aku juga sarapan dikamar saja." sungut Anggita.


"Kenapa, capek?" tanya Ayu terkekeh.


"Memangnya kamu tidak?" tanya Anggita kemudian mereka terbahak bersama, tidak perlu dijelaskan mereka pasti merasakan hal yang sama.


"Ayo langsung ke pasir putih." ajak Steve pada Ayu, Romi mengikuti dari belakang.


"Yang lain mana?" tanya Ayu tidak melihat sikembar dan istrinya.


"Sedang menjemput permaisuri." jawab Steve terkekeh.


"Oma dan Opa ikut kita?" tanya Ayu.


"Ikut siapa lagi?" Steve balik bertanya.


"Siapa tahu punya acara sendiri." Ayu ikut terkekeh, mendatangi Oma dan Opa yang duduk dimeja terpisah. Romi yang menghindar dari Oma dan Opanya mau tidak mau merangkul istrinya ikut mendatangi Oma dan Opa.


"Ayo ke pantai, Oma." ajak Anggita pada Oma.


"Kalian saja anak muda." kata Oma menolak.


"Loh sayang sudah kesini tidak kepasir putih, mau naik perahu tidak? lautnya bening loh." Romi promosi, seakan marketing kepulauan.


"Malas ah, Oma dan Opa mau dikamar saja." jawab Opa membuat Romi mendelik.


"Kenapa, iri ya, namanya saja sedang honeymoon pasti maunya dikamar saja." jawab Opa senyum-senyum jahil.


"Kita tidak tuh." jawab Romi memandang Anggita.


"Kalah sama yang tua." jawab Opa Santoso terbahak, gantian Steve yang mendelikkan matanya.


"Paling juga main pijit-pijitan pakai balsem." ledek Romi pada Opa dan Oma.


"Enak saja, kita mau main dikolam saja." jawab Oma Mega.


"Ya sudah kalian pergilah, jangan ganggu kami." kata Opa Santoso.


"Ish padahal dari tadi malam, Opa dan Oma yang ganggu aku." ketus Steve kesal, ingat ia baru bisa masuk kamar pukul tiga dinihari, karena Oma mengunci pintu kamar dan menggerendelnya. Jadi Steve terpaksa tidur dikamar bersama Opa. Saat Oma terjaga baru ia menghubungi Steve menyuruhnya pindah kamar.


"Masa sih?" tanya Oma tengil, para cucu jadi tertawa dibuatnya.


"Oke ya, Oma dan Opa selamat berbulan madu." kata Romi terkekeh, buru-buru menarik Anggita menuju pantai pasir putih.


"Mana nih photographer kita?" tanya Ayu mencari Chico yang belum juga muncul. Mereka menunggu di lobby hotel, untuk naik perahu bersama, rencananya mereka akan one day trip dari pulau Phi Phi ke Maya Bay.


"Boleh." jawab Ayu santai.


"Aku tidak mau, Rom." kata Anggita cepat, ia takut olah raga air.


"Yang membuat kamu nyaman saja." jawab Romi pada istrinya.


Setelah Arkana, Naka dan Chico beserta pasangannya bergabung, mereka menuju lokasi kapal yang mereka sewa. Aksi foto-foto pun berlangsung karena Chico rajin sekali mengabadikan setiap moment, mereka semua senang saat ini berada ditengah laut.


"Mabok gue." kata Sarah yang tidak biasa naik kapal.


"Baru aku mau ajak kalian semua mancing di kepulauan seribu." kekeh Chico yang memiliki kapal hadiah dari Om Tomi, suami adik Ame di Boston.


"Tidak mau." jawab Arkana cepat, ia tidak suka menghabiskan waktu di laut.


"Sayang ayo kita snorkling berdua." bujuk Romi.


"Takut." jawab Anggita.


"Sama aku, ayo." ajak Romi lagi, akhirnya Anggita menuruti permintaan suaminya.


Ditengah perjalanan nahkoda menghentikan kapal dan mempersilahkan mereka untuk berenang dan snorkeling.


Anggita yang awalnya hanya ingin menonton saja, mau tidak mau ikut turun, rasa takutnya tertutupi karena Romi selalu berada didekatnya, rasa gugup dilautan berubah menjadi suasana romantis karena Romi selalu ada disamping Anggita, mengulurkan tangannya dan yang membuat Anggita meleleh tatapan mata suaminya yang lembut dan memesona. Mereka tidak bisa bicara tapi saling menatap dan bergandeng tangan


Ternyata romantis itu tidak hanya menghabiskan waktu dikamar, jalan berdua di mal, nonton bioskop, tapi melihat ikan berkejaran, berpegangan tangan didalam air bersama suaminya itu jauh lebih romantis.


"Suka?" tanya Romi saat mereka sudah kembali kekapal.


"Sangat suka, Sarah kamu harus coba bersama Arkana." kata Anggita menyarankan, supaya Sarah merasakan romantisme saat snorkeling.


"Lain kali saja." jawab Sarah tidak mau ambil resiko. Arkana terkekeh memandang istrinya.


"Seru." teriak Sosa yang baru saja muncul bersama Naka, ia juga sangat senang bisa snorkeling bersama suaminya.


"Kamu lihat ikan paus tidak?" tanya Naka pada istrinya.


"Tidak, lihat kamu saja lebih ganteng dari ikan paus." jawab Sosa membuat Naka menjepit hidung Sosa dengan kedua jarinya.


"Risa sama Chico kenapa tidak turun?" tanya Anggita.


"Temani Sarah." jawab Chico tertawa.


"Bohong." jawab Sarah mendengus, Chico dari tadi sibuk dengan kameranya, sementara hanya Risa yang menemani Sarah.


"Steve mau lagi, seperti ini." kata Ayu ketagihan.


"Hahaha sama mereka lagi?" tanya Steve berlagak malas.


"Iya."


"Nanti deh aku pikirkan dulu." jawab Steve jual mahal. Kapal sudah berjalan kembali menuju hotel.


"Ish, kita yang pikir-pikir dulu Steve." Arkana tidak mau kalah.


"Hahaha awas saja nanti kalau bujuk aku ajak liburan ya." Sosa mengancam Steve.


"Kalau tidak berhasil bujuk Naka, pasti bujuk kamu." kata Ayu pada Sosa.


"Chico, photonya jangan lupa segera disebar." pinta Ayu pada sepupunya.


"Ish, aku tidak photo kamu." jawab Chico tengil.


"Abang Chico yang paling baik diantara Abangku yang lain, jangan lupa Kirim photonya di group." Ayu merayu Chico.


"Kirim tidak ya?" Chico jual mahal.


"Steve..." Ayu meminta bantuan Steve membujuk Chico. Steve terkekeh melihat Chico bercandai istrinya.


"Nanti aku Kirim khusus yang tidak ada Ayu." kata Chico terbahak.


"Coba saja, Risa kutahan di S'pore sebulan loh." ancam Ayu.


"Memang maunya kamu itu sih." kata Steve tertawa, ia tadi mendengar Ayu membujuk sahabatnya agar semua pindah ke S'pore.


"Hahaha lumayan kan sayang, aku jadi tidak kesepian." kata Ayu pada suaminya.


"Iya, aku tapi yang sepi karena tidak ada Risa." kata Chico membuat Risa bersemu merah mendengarnya. Diantara semua pasangan Chico dan Risa yang paling kalem dan mereka masih tampak kaku dan malu-malu, padahal sudah beberapa bulan lebih dulu menjadi suami istri sehingga tidak heran jadi kalimat Chico barusan sudah membuat hati Risa gegap gempita.