
"Aku juga pesimis sih dekati Moza, sepertinya dia benar-benar tidak tertarik dengan pria kaya ini." Mr. Lee menghela nafas panjang.
"Karena sudah tua sih, coba kalau masih muda seperti Romi, pasti dia mau." Leo terkekeh.
"Iya juga ya, kalau Romi masih single pasti dia mau. Malah aku pikir Romi akan dekati Moza, ternyata tidak ya, dia pilih yang lebih cantik dari Moza rupanya."
"Om bisa saja. Moza cantik loh Om."
"Iya tapi lebih cantik kamu loh, kalau bukan istri Romi dan anak Leo pasti om pilih kamu." jawab Mr. Lee, Leo kembali terbahak.
"Pacar-pacar Lee dulu memang model-model Mommy dan kamu sayang."
"Iya Liana juga di S'pore dulu banyak yang suka tuh, sayang pacaran sama mafia dia."
"Eh menikahnya sama aku sudah ya jangan bahas masa lalu Liana." omel Leo pada sahabatnya. Lee kembali terbahak, Anggita hanya bisa ikut tertawa saja melihat kedua sahabat ini saling mengenang masa lalu.
"Jadi Sambada kamu jangan khawatir Le, Kalau lihat aku dia pasti tidak berkutik, bisa lebih lama dia dipenjara." kata Lee pada Leo.
"Kapan kita datangi dia ke penjara, supaya Liana tidak diancam lagi Le?" Lee menawarkan pada Leo, Anggita tentu saja senang mendengarnya.
"Besok bagaimana Lee?" Leo balik bertanya.
"Boleh saja. Mau jam berapa, kamu jemput aku ke apartment saja." jawab Lee tersenyum.
"Ok besok Daddy pergi sama Om Lee, kamu standby dikantor ya, sayang." kata Leo pada Anggita.
"Iya Dad." jawab Anggita pada Leo.
"Anggie kapan-kapan kenalan sama anak Om ya, dia mau Om ajak pindah ke Indonesia." kata Mr Lee pada Anggita.
"Sekarang dimana Om?"
"Di S'pore, tapi perusahaan disini semakin berkembang dan Om keteteran."
"Mau pegang disini ya Om?"
"Iya, nanti kamu kenalkan dia sama Romi. Duh anak aku ganteng loh, nanti Moza naksirnya sama dia lagi." Mr Lee langsung menepuk dahinya.
"Hahaha sudah kubilang kamu cari istri jangan yang terlalu jomplang umurnya, punya anak nanti dikira cucu lagi."
"Jadi Moza bagaimana?" Lee meringis seperti anak abege.
"Segitu sukanya sama Moza Om?" tanya Anggita, Lee menganggukkan kepalanya.
"Kalau anak Om lebih muda dianpasti pilih yang muda sih." jawab Anggita disambut derai tawa keduanya.
"Anaknya Leo bicara tidak disaring." Lee menggelengkan kepalanya sambil tertawa, Anggita terkikik geli.
"Sama Juwita saja, sekretaris Daddy." kata Anggita ingat sekretaris senior Daddynya.
"Ah yang judes itu?" Lee menggelengkan kepalanya.
"Kesan pertama saja judes, selanjutnya menyenangkan. Janda anak satu, layak jadi istri." Anggita mempromosikan Juwita, Leo menganggukkan kepalanya setuju.
"Nanti lah Om pikir-pikir dulu."
"Moza jadi menantu saja." kata Anggita lagi.
"Le kamu bisa bayangkan ya kalau Moza jadi menantu aku, dia pernah aku kejar-kejar sebegitunya." Lee terbahak.
"Kemungkinan selalu ada, Never say never." jawab Leo tertawa geli membayangkan Moza jadi menantu Mr. Lee.
"Anak Om hanya satu?"
"Ada yang pertama perempuan sudah menikah, Anderson yang bungsu. Wajah melayu karena Mamanya orang melayu. Tapi banyak perempuan kejar-kejar dia."
"Belum punya pacar?" tanya Anggita ingin tahu.
"Papanya terlalu genit." jawab Leo membuat Lee meringis.
"Dulu, sekarang sudah tidak genit. Cuma kejar Moza saja, itu pun diacuhkan. Aku pikir kalau lihat pria mapan semua perempuan pasti mau, ternyata Moza tidak."
"Berarti dia punya prinsip, Om."
"Iya dia memang tidak genit sih." jawab Mr. Lee menganggukkan kepalanya.
Lama juga bicara dengan Mr. Lee yang ternyata sahabat Daddy. Sampai Romi datang menjemput Anggita pun Mr. Lee masih ada dikantor Daddy. Mereka benar-benar keasikan ngobrol.
"Romi sudah jemput, Anggie pulang duluan ya Dad." ijin Anggita karena daddy masih melepas rindu sama Mr. Lee.
"Wah kalau begitu Om juga pamit, ayo kita sama-sama keluar, mau lihat reaksi Romi." Mr. Lee Timbul jahilnya.
"Wah Daddy langsung ke parkiran sayang, nanti Romi salah sangka lihat kamu berdua Lee." Daddy Leo khawatir.
"Biarkan Salah sangka sebentar nanti kan dijelaskan." jahil sekali Mr. Lee, tapi Anggita tidak mau Romi salah sangka ia tetap memberi tahu Romi dengan mengirim pesan ketika mengambil tas keruangannya.
Sayang aku sama Mr. Lee, ternyata dia sahabat Daddy.
Anggita langsung memasukan handphonenya kedalam tas lalu berjalan menuju lift bersama Daddy dan Mr. Lee. Anggita dan Mr. Lee menuju lobby sedangkan Daddy Leo langsung menuju basement karena mobilnya terparkir disana.
Dari kejauhan kening Romi berkerut saat melihat istrinya berjalan sambil ngobrol santai dengan Mr. Lee.
"Romi." sapa Mr. Lee ramah saat melihat Romi yang bersandar dimobilnya.
"Mr. Lee, kenapa ada disini?" tanya Romi dengan wajah tidak ramah.
"Ada urusan dikantor istri kamu, ternyata asik juga diajak ngobrol." kata Mr. Lee menyeringai, ia senang sekali menggoda Romi.
"Urusan apa?" tanya Romi sewot. Sepertinya Romi belum baca pesan dari Anggita.
"Sayang Mr. Lee ini..."
"Saya mau Anggita bantu Anderson anak saya." jawab Mr. Lee cepat.
"Anderson mau dibantu apa?" tanya Romi detail sekali, ia sudah pernah bertemu dengan Anderson putra Mr. Lee yang di S'pore, sudah pasti jauh lebih tampan dari Papanya.
"Urusan pekerjaan lah. Kamu ini cemburuan sekali." Mr. Lee terkekeh menepuk bahu Romi.
"Yah karena Mr. Lee mencurigakan, saya kan harus berjaga-jaga." ketus Romi lagi tidak bisa menahan rasa cemburunya, ketawa Mr. Lee langsung saja meledak. Romi selalu saja bicara apa adanya dan Mr. Lee suka itu.
"Mr. Lee sahabatnya Daddy sayang, aku sudah Kirim pesan kamu belum baca ya?" bisik Anggita pada suaminya. Air muka Romi langsung berubah tenang tidak lagi sewot.
"Kapan Anderson datang? sepertinya dia lebih cocok sama Moza daripada Mr. Lee." hahaha gantian Romi yang menggoda Mr. Lee.
"Aduh Romi, kamu bikin saya patah hati." kata Mr. Lee memegang dadanya.
"Masih ada Juwita Om, Mbak Juwita!!!" panggil Anggita saat melihat Juwita menuju Lobby.
"Eh iya Bu." segera menghampiri dengan sopan.
"Panggil Anggie saja sih." sungut Anggita pada Juwita yang selalu saja memanggil Anggita Ibu.
"Sudah ada jemputan?" tanya Anggita menyeringai.
"Ini baru mau pesan taxi online." jawab Juwita jujur
"Oh diantar sama Om Lee saja, kalian satu arah."
"Tidak usah saya naik taxi online saja." jawab Juwita cepat.
"Jangan, sudah terlalu sore kasihan anak Mbak. Titip ya Om, antarkan sampai dirumah dengan selamat. Om pasti senang lihat anaknya lucu deh, nanti belikan makanan dulu Om." kata Anggita membuat Mr. Lee terbengong, tapi tidak mungkin menolak, kasihan Juwita nanti merasa dipermainkan.
"Ayo Mbak, jemputan saya sudah datang." kata Mr. Lee ketika Mobil jemputan ya sudah terparkir dibelakang mobil Romi. Mau tidak mau Juwita mengikuti perintah anak owner yang tidak terbantahkan.