Never Say Never

Never Say Never
Bucin



"Baiklah anggap saja itu obsesi, tapi kita tidak bisa memaksakan agar Papamu meninggalkan Moza begitu saja tanpa alasan. Mungkin kalau Moza punya pacar dia akan menjauh." jawab Romi akhirnya.


"Kata Kak Romi, Moza banyak yang suka. Kenapa belum punya pacar sampai sekarang?" tanya Anderson setengah protes.


"Mana aku tahu, memangnya aku teman curhatnya Moza." Romi terbahak, enak saja Anderson menanyakan urusan pribadi Moza pada Romi.


"Kalau kamu tanya tentang Istriku, baru aku bisa jawab." Romi mengusap pelan bahu istrinya.


"Bucin..." Anderson tertawakan Romi.


"Orang S'pore tahu bucin." Anggita terbahak.


"Aku pernah dengar Kak Vita komentar begitu." Romi terbahak, memang Vita sering mengatakan Romi bucin.


"Tidak apa sama istri sendiri." kata Romi nyengir lebar.


"Jadi bagaimana nih Papaku." Anderson meminta pendapat.


"Begini saja ya An, kalau dijodohkan rasanya tidak mungkin, aku tahu karakter Mbak Juwita sangat protect terhadap dirinya sendiri. Juga karakter Om Lee yang membabi buta mengejar Moza..." Anggita menghela nafas.


"Aku akan minta Daddy untuk membuat Mbak Juwita dan Om Lee intens bertemu terkait pekerjaan. Jika biasanya Daddy ikut, aku akan minta supaya Mbak Juwita sendiri saja yang urus semuanya." Anggita tersenyum pada Romi dan Anderson.


"Apa akan berhasil jika begitu?" tanya Anderson ragu.


"Papamu suka cewek pintar kan? Mbak Juwita tidak kalah pintar, dia bisa diandalkan perusahaan. Moza pun begitu, yang membedakan Moza single, Mbak Juwita single parent." jawab Anggita yakin jika sering bertemu dan saling mengenal, Om Lee akan jatuh cinta pada Mbak Juwita.


"Mbak Juwita tidak secantik Moza." keluh Anderson kembali ragu.


"Dia inner beauty, untuk cantik diluar itu bisa dikemas, tenang saja aku akan merubah penampilan Mbak Juwita. Janji ya kamu juga tidak boleh jatuh cinta sama Mbak Juwita nanti." Anggita menggoda Anderson.


"Hahaha yang benar saja, semoga tidak." jawab Anderson terbahak.


"Pakai semoga." Romi ikut terbahak.


"Tadi Kak Romi bilang Never saya Never, jadi sekarang aku pakai kata semoga." Anggita dan Romi terbahak mendengarnya.


Makanan yang dipesan akhirnya datang setelah mereka membahas topik Utama panjang lebar, mereka mulai menikmati makanan, tanpa banyak bicara lagi. Setelahnya hanya pembahasan receh dan obrolan ngalor ngidul. Sempat juga Anderson bilang tertarik punya restaurant seperti Warung Elite di S'pore.


"Kalau mau buka cabang Warung Elite di S'pore, ada Steve Sahabatku. Ini punya Papinya juga." kata Romi pada Anderson.


"Steve Santoso?" tebak Anderson langsung.


"Ya, kalian sudah pernah bertemu" tanya Romi, Anderson menggelengkan kepalanya.


"Hanya pernah dengar namanya saja, namanya cukup terkenal dikalangan pengusaha S'pore, kami belum kenalan." jawab Anderson tersenyum.


"Kapan ada kesempatan aku kenalkan." jawab Romi, Anderson menganggukkan kepalanya.


"Kamu serius mau buka cabang Warung Elite di S'pore?" tanya Anggita pada Romi dan Anderson.


"Obrolkan dulu senior lah, siapa tahu mereka tertarik." kata Romi tertawa. Ia juga harus membahas dengan Si Kembar, Raymond dan juga Steve. Diantara mereka tidak satupun yang ikut terlibat mengurus Warung Elite, semua sibuk dengan usaha mereka sendiri. Hanya Chico itupun tidak maksimal, Chico hanya memasok bahan baku.


"Aku dengar sih nantinya Warung Elite itu akan dipegang oleh Nanta anak Om Kenan. Ayah Eja sudah bilang begitu." kata Anggita menyampaikan yang ia tahu.


"Masih lama, beberapa tahun kedepan." jawab Romi.


"Memang, makanya menurut aku kalau kalian tawarkan buka cabang diluar sekarang ini pasti akan ditolak karena masih dipegang oleh empat geng ganteng." Anggita terkekeh menyebut julukan keempat pemilik Warung Elite.


"Iya mereka sulit sekali diajak ekspansi ke luar kota apalagi luar negeri." Romi menganggukkan kepalanya.


"Boleh juga sambil aku siapkan lahan disana." jawab Anderson setuju.


"Nah bisa Ayu yang handel juga disana karena Steve pasti sibuk." kata Anggita lagi menyampaikan idenya yang cukup jitu.


"Iya, kalau begitu nanti saja dibahasnya." kata Romi terkekeh, mengingat Nanta saja masih sekolah.


"Tidak apa, pikirkan dari sekarang. Kalau sudah serah terima kekuasaan kita bergerak." beginilah para pengusaha muda kalau sudah kumpul bahas apapun tetap saja ujungnya ke bisnis.


"Oke sudah kenyang, sudah bahas banyak, sekarang kita pulang." kata Anggita sambil menepuk tangannya.


"Terimakasih ya Kak Vita, Kak Romi., sebentar ya aku ke toilet dulu" Anderson tersenyum senang dan segera beranjak menuju kasir padahal tadi bilang ke toilet.


"Ish kenapa dia ke kasir." Romi menggelengkan kepalanya.


"Aan mau traktir." jawab Anggita memanggil Anderson dengan panggilan rumahnya.


"Kalau kenal Aan lebih dulu mungkin kamu akan naksir dia ya?" tebak Romi cemburu.


"Masih bocah, pasti tidak lah. Aku sukanya lelaki dewasa." Anggita terkekeh.


"Seperti Om Lee?" Romi mendelikkan matanya bercandai Anggita.


"Seperti kamu!!!" teriak Anggita sambil memukul bahu suaminya, kesal mendengar Romi bilang begitu meskipun hanya bercanda.


"Seperti Naka?" masih saja menggoda istrinya.


"Iya seperti Naka sebelum kenal dan nyaman sama kamu." jawab Anggita jujur membuat Romi mengecup dahi istrinya senang mendengarnya.


"I love you..." kembali Romi mengecup dahi istrinya.


"Aih nanti saja lah dirumah bucinnya, kasihan aku yang jomblo ini." dengus Anderson yang menangkap basah aksi romantis Romi pada Anggita.


"Makanya cari istri dong." kata Romi terkekeh.


"Mestinya ya, Papaku itu sibuk carikan aku jodoh loh, bukannya sibuk cari jodoh untuk diri sendiri." Anderson ikut terkekeh menggelengkan kepalanya.


"Terima nasib ya jadi anak Om Lee." Romi tertawakan Anderson.


"An, terima kasih loh sudah ditraktir, sering-sering saja jadikan kami penasehat percintaan keluarga kamu." kata Anggita konyol.


"Tidak jadi penasehat pun akan aku traktir." jawab Anderson terkekeh, senang sekali bisa habiskan waktu bersama Romi dan Anggita untuk bertukar pikiran.


"Nanti sampai dirumah jangan emosi sama Papa kamu. Dia itu kesepian loh selama ini." Anggita menasehati Anderson.


"Iya, aku tidak akan bahas deh, kecuali Papa yang mulai." jawab Anderson tersenyum.


"Kalaupun mulai tanggapi dengan santai saja bisa kan? tadi pagi kamu seperti mau menerkam Papamu." kata Romi ikut menasehati.


"Iya aku terkejut dengar tower sebelah minta dikosongkan, bayar dua kali lipat lagi, kan konyol." Anderson terbahak.


"Iya ingati saja jangan dimarahi. Aku sih bingung ya jadi kamu yang seperti Papanya, padahal tetap saja kamu anak." Romi kembali tertawakan Anderson.


"Iya, Papa sih kekanak-kanakan."


"Kalau jatuh cinta memang begitu, awas saja kalau kamu lebih bodoh dari Papamu nanti, sudah ada bakat keturunan soalnya." Kata Anggita mencebik.


"Kakak jangan doakan aku begitu lah." rengek Anderson kembali menunjukkan sisi bocahnya, Anggita dan Romi terbahak tertawakan Anderson. Senang sekali bisa menggoda pria tampan yang waktu pertama kenal ini terlihat sangat berwibawa dan tidak banyak bicara, ternyata hanya kemasannya saja.