Never Say Never

Never Say Never
Self Defense



"Vit, Anggie mau belajar taekwondo sama Felix, atau Felix bisa carikan pelatih perempuan untuk Anggie." Romi langsung saja menyampaikan keinginan istrinya pada Vita begitu tiba dikantor.


"Untuk apa?" tanya Vita.


"Berjaga-jaga jika ada orang jahat yang menyerangnya." Romi terkekeh.


"Latihan taekwondo tidak bisa sebentar, Rom. Kenapa tidak ajarkan self defense?" tanya Vita pada Bossnya itu. Romi mengangguk sambil termenung.


"Melamun lagi, lu kan bisa boxing, ajarkan tehnik boxing untuk melindungi diri dan sedikit menyerang lawan. Menurut gue itu cukup, nanti kalau mau lebih diperdalam boleh lah gue carikan pelatih taekwondo." kata Vita lagi.


"Bener juga lu, kenapa gue tidak kepikiran ya." Romi terkekeh.


"Jadi bagaimana? masih perlu guru atau suami sendiri yang mengajarkan?" Vita mengangkat alisnya sambil tertawa.


"Hahaha iya gue ajarkan, pesankan samsak ya untuk dipasang dirumah Mommy." kata Romi pada sahabatnya itu, eh kalau dikantor sekretarisnya.


"Mau yang ukuran berapa?" tanya Vita semangat.


"Yang kecil saja 120cm."


"Mau yang gantung atau yang standing?" tanya Vita lagi, Romi tertawa.


"Standing boleh lah kalau repot harus pasang yang gantung." jawab Romi.


"Oke Bos." Vita mengacungkan jempolnya. Ia segera menjalankan perintah bosnya untuk memesan Samsak Tinju sesuai keinginan.


"Bos infokan orang rumah, Samsak sedang dalam perjalanan." kata Vita setelah sibuk melakukan pesanan dan pembayaran.


"Ok." Romi segera menghubungi Mommy Liana dirumah. Sementara Romi berjalan memasuki ruangannya meninggalkan ruangan Vita.


"Ya Rom?" sambut Mommy dari seberang.


"Rommy ada pesan Samsak Standing untuk Anggie dan Wilma berlatih self defense Mommy. Sekarang sedang dalam perjalanan." info Romi pada Mommy.


"Oke, apa kamu sudah kasih nomor telepon Mommy, Nak?" tanya Liana pada menantunya.


"Tidak Mommy, Romi pakai nomor telepon Vita, nanti kalau sudah sampai Romi beritahu biar diterima oleh yang lain, Mommy jangan keluar rumah." pesan Rommy pada Mommy, ia juga sedikit khawatir walaupun Leo sudah mengamankan keadaan dirumahnya.


"Ok, Rom. Nanti siapa yang latih?" tanya Mommy.


"Romi, Mom."


"Mommy bisa ya ikut berlatih?" tanya Liana tertarik.


"Apa Mommy ada keluhan penyakit tertentu?"


"Tidak ada, Mommy sehat." jawab Liana yakin.


"Oke Mommy, karena untuk kasus tertentu tidak dianjurkan berolah raga berat." Romi menjelaskan.


"In syaa Allah Mommy sehat dan kuat." Liana terkekeh.


"Ok Mommy." Romi mematikan sambungan teleponnya. Baru saja dimatikan sudah bunyi lagi handphone Romi, istrinya menghubungi.


"Sayang..." Romi riang sekali menyambut telepon istrinya.


"Sudah tanya Felix belum?" tanya Anggita langsung saja menembak suaminya, rupanya ia benar-benar niat untuk belajar bela diri.


"Sudah tanya Vita, tapi menurut Vita membutuhkan waktu lama untuk kamu bisa menguasai, setidaknya butuh waktu enam bulan, sementara musuh didepan mata." Romi menjelaskan.


"Jadi bagaimana?" tanya Anggita resah.


"Aku sudah pesan Samsak Tinju, sedang dalam perjalanan ke rumah Mommy."


"Aku mau diajarkan tinju gitu?" Anggita merengut.


"Sayang, aku ajarkan self defense, hanya sebentar sekitar lima belas menit, setelahnya kamu bisa latihan terus sampai benar-benar menguasai dan gerakanmu lentur." bujuk Romi.


"Apa efektif untuk melawan Sambada?" tanya Anggita.


"Efektif jika dia sendiri, kalau dia ajak teman walaupun kamu menguasai ilmu bela diri yang lain, lebih baik kamu lari." Romi terbahak, tapi serius dengan apa yang dia sampaikan.


"Ah kamu sih bercanda." sungut Anggita


"Sayang kalau musuhmu lebih dari satu dan membawa senjata memang lebih baik kamu lari karena saat kamu menyerang yang satu, yang lain akan ikut menyerang kamu, itu konyol." kata Romi tidak lagi tertawa.


"Begitu ya?"


"Iya sayang, nanti dirumah aku ajarkan tehniknya ya, kamu sudah pesan makan siang atau mau makan siang bersama?" Romi menawarkan.


"Aku makan siang sama Daddy saja. Lagi begini rasanya malas keluar kantor, aku belum menguasai ilmu pertahanan diri yang kamu mau ajarkan itu, kalau sudah bisa aku berani deh." jawab Anggita jujur.


"Sama siapa?" tanya Anggita.


"Sendiri, paling mentok sama Vita." jawab Romi terkekeh.


"Oke, tidak dengan yang lain ya." tegas Anggita pada suaminya.


"Yang lain itu siapa?" tanya Romi bingung.


"Staff kamu yang perempuan, pasti ada. Yang kamu suka ajak temui klien itu."


"Oh Moza?"


"Iya."


"Kalau tidak keluar kantor sama Moza ya tidak makan siang bersama." jawab Romi apa adanya.


"Pokoknya awas saja kalau kamu makan siang berdua Moza."


"Kamu cemburu sama Moza?" tanya Romi terkekeh.


"Iya lah. Dia kan cantik."


"Kamu sudah pernah bertemu?"


"Belum."


"Tahu dari mana dia cantik?" tanya Romi bingung.


"Dengar saat kamu dan Papa Anto membahas Moza di meja makan saat makan malam. Hebat loh dia bisa jadi pembahasan kalian di meja makan." Anggita mendengus kasar.


"Oh itu karena Mr. Lee klien andalan kita tergila-gila pada Moza." jawab Romi terkekeh.


"Tuh klien kamu saja tergila-gila pada Moza."


"Terus kenapa? biarkan saja sih. Moza single, Mr. Lee juga single." jawab Romi apa adanya.


"Rom, Mr Lee mengundang makan siang, ajak Moza juga. Gue tidak bisa ikut." tiba-tiba Vita masuk kedalam ruangan sementara Romi dan Anggita sedang membahas Moza yang dicemburui oleh Anggita.


Klik. Telepon dimatikan Anggita, sepertinya jadi marah mendengar perkataan Vita barusan.


"Halo..." tidak ada sahutan, Romi memandang handphonenya untuk memastikan jika telepon sudah dimatikan.


"Mendadak sekali Mr. Lee, gue sudah janji makan siang sama Anggie." jawab Romi berbohong.


"Wah bagaimana, kamu hubungi saja Mr. Lee, jelaskan sendiri." kata Vita tidak enak hati pada Mr. Lee.


Romi segera menghubungi Mr. Lee, ia menyampaikan jika siang ini sudah berencana makan siang bersama istrinya,


"Ajak saja istri kamu." desak Mr. Lee pada Romi.


"Ini hanya makan siang atau ada yang mau dibahas masalah pekerjaan? jika terkait pekerjaan setelah makan siang saya temui Mr. Lee." kata Romi menawarkan.


"Ah kamu ini kaku sekali, ayolah bantu saya dekati Moza, dia terlalu acuh." bujuk Mr Lee pada Romi.


"Hahaha Mr. Lee, usaha sendiri dong kalau yang itu. Saya tidak bisa ikut campur." Romi terbahak.


"Kalau ada kamu dan istri kamu Moza pasti setuju diajak makan siang bersama." bujuk Mr. Lee lagi.


"Aduh bagaimana ya hahaha ini kok mau jadikan saya make comblang sih, Mr Lee minta tolong Papa saja." kata Romi lagi menolak secara halus, ia tidak mau terlibat urusan percintaan staffnya.


"Kamu sama Papamu sama ya, Papa kamu lempar ke kamu sedang kamu lempar ke Papa kamu." Mr. Lee sedikit kecewa.


"Saya coba bicara dengan istri saya ya." kata Romi akhirnya mengalah.


"Oke saya tunggu." Mr. Lee jadi senang


"Mr. Lee sudah sampaikan pada Moza?" tanya Romi lagi.


"Belum, kamu saja yang ajak Moza." dasar Mr. Lee malah mengandalkan Romi


"Waduh, kenapa saya yang jadi ajak Moza makan siang, bisa marah istri saya nanti." kata Romi secara tidak langsung menyampaikan apa yang baru saja Anggita ucapkan.


"Istri kamu cemburu sama Moza?" tanya Mr. Lee terkekeh.


"Bukan sama Moza saja, sama siapapun yang urusan pribadinya saya campuri." jawab Romi menutupi.


"Oh I see, baiklah saya saja yang ajak Moza, nanti kamu dan istri kamu menyusul." jawab Mr. Lee akhirnya mengerti posisi Romi, tinggal Romi yang harus membujuk Anggita agar mau menemaninya makan siang karena kepentingan pribadi Mr. Lee.