
Mereka tiba disebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat, Opa dan Oma sudah sangat dikenal disana, semua pegawai menyapa dan menyambut hangat kehadiran mereka disana.
"Bapak dan Ibu Ismail sudah datang?" tanya Opa pada salah satu pegawai disana.
"Sudah Pak." jawab pegawai sopan.
"Siapa Opa?" tanya Romi penasaran, tadi ia tidak mendengar siapa yang Opa tanyakan.
"Opa Ismail sama Oma Lana." jawab Opa terkekeh.
"Duh Opa ajak bertemu disini, habislah aku, aku belum kesana." Romi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hadapi saja, masa begitu saja takut." kata Oma menepuk bahu Romi, sementara Anggita jadi bertanya-tanya.
"Opa dan Oma dari Mama ada disini." bisik Romi, Anggita mengangguk dan ikut mengusap punggung suaminya, ia melihat Romi tampak resah.
"Opa, pesan VIP Room kan?" kata Romi pada Opanya.
"Tidak." jawab Opa santai. Romi menghembus nafas kasar, kalau di meja biasa lalu Opa nyerocos, mengomel panjang lebar, bisa terdengar tamu lain, kalau ada klien Romi kan bisa malu nantinya.
"Mbak, Ada VIP Room kosong?" tanya Romi pada pegawai yang mengantar.
"Ini ditempat yang biasa Bapak pakai kok." jawab gadis tersebut menunjuk Opa.
"Terima kasih." kata Romi, memonyongkan bibirnya pada Opa, lagi-lagi Romi dikerjai. Oma terkekeh melihat interaksi Opa dan Cucunya. Opa ikut mencibir pada Romi, cucu lelaki satu-satunya. Memang cucunya hanya Romi dan Sosa.
"Opa nih selalu saja bohongi aku, padahal pengurus mesjid." ketus Romi pada Opa.
"Eh itu bohong ya barusan, Opa lupa." jawabnya terkekeh.
"Apa perlu aku keluarkan hadisnya." dengus Romi masih kesal.
"Iya-iya ustadz Romi, Opa kan lupa, Astaghfirullah." kata Opa kemudian merangkul cucunya tersayang.
"Siap-siap loh, mukanya sudah mengajak perang." kata Opa tertawa begitu melihat wajah masam Opa Ismail memandang kearah Romi dengan sedikit sinis.
"Opa." Romi menghampiri Opa Ismail mengambil tangan Opa dan menciumnya, kemudian memeluk Oma Lana.
"Maafkan Romi." bisiknya pada Oma Lana. Anggita masih berdiri mematung disebelah Romi.
"Masih bisa minta maaf." langsung saja Oma Lana menjewer kuping Romi. Tetap saja segalak apapun di kantor, kalau sudah menghadapi kemarahan Opa dan Oma, luntur sudah wibawa Romi. Masih saja diperlakukan seperti bocah belasan tahun.
"Ada istri Romi loh, Oma." kata Romi meringis, kupingnya sudah merah saja.
"Cucu kurang ajar." Opa Ismail memukul pantat Romi dengan tongkatnya.
"Ini pelecehan terhadap anak loh." kata Romi tersenyum pada Opa. Ia sudah pasrah saja mau diapakan sama Opa dan Omanya.
"Punya cucu malah disiksa." kata Romi setelah Oma melepaskan tangannya dari kuping Romi yang tampak sangat merah, Oma Lana menjewer dengan sepenuh hati, penuh totalitas.
"Cucunya kurang ajar, menikah seperti Opa dan Oma sudah mati saja." jawab Opa Ismail emosional.
"Ya Allah, Opa bikin aku sedih deh, tidak seperti itu Opa." Romi kembali mencium tangan Opa, sedih sekali mendengar ucapan Opa barusan.
"Aku sayang Opa dan Oma." kata Romi berkaca-kaca.
"Cengeng!!!" kata Opa Ismail ketus.
"Biarin." jawab Romi dengan wajah ingin menangis, enak saja dibilang menganggap Opa dan Oma sudah mati.
"Ya sudah sana pesan makan, biar tidak cengeng." kata Oma Lana pada Romi. Mereka satupun belum ada yang menyapa Anggita. Anggita pun bingung harus apa, dari tadi masih saja berdiri disamping Romi yang berusaha meluluhkan hati Opa dan Omanya.
"Mana bisa Romi makan kalau Opa dan Oma masih marah." sungut Romi, ia belum juga mengenalkan Anggita pada Opa dan Oma.
"Kamu tidak capek ya dari tadi berdiri terus?" tanya Oma Lana tanpa senyum.
"Duduk Anggie." perintah Oma Mega pada Anggita.
"Mana boleh duduk, belum minta maaf sama saya." kata Oma Lana memandang Anggita.
"Kenapa minta maaf, bukan salah Anggie, Oma." Romi membela istrinya, sekali lagi tongkat Opa Ismail mendarat di bahu Romi.
"Opa, suka sekali menyiksa cucu." keluh Romi mengusap bahunya.
"Maafkan Anggie Oma, Opa. Romi jangan dipukul." Anggie tiba-tiba menangis, tidak tega melihat Romi dipukul tongkat dari tadi.
"Memang kenapa, cucu saya mau saya apakan juga terserah saya." ketus Oma Lana. Anggita masih saja menangis tidak menanggapi ucapan Oma. Belum pernah dirumah melihat Mommy dan Daddy kasar begini.
"Hai sudah-sudah, perjanjian tidak sampai menangis." kata Oma Mega menengahi.
"Hahaha keterusan." jawab Oma Lana terbahak.
"Sini sayang." kata Oma Lana memanggil Anggita yang masih menangis. Anggita menghampiri Oma yang merentangkan tangannya ingin memeluk, langsung saja Anggita masuk kedalam pelukan Oma Lana.
"Selamat datang dikeluarga kami." kata Oma terkekeh.
"Sudah jangan menangis, kami sengaja kasih pelajaran sama Romi." kata Opa Ismail ikut mendiamkan Anggita.
"Tega sekali Opa sama Oma." keluh Romi, menghampiri Anggita yang masih dalam pelukan Oma.
"Sayang, sudah. Opa sama Oma memang suka drama." kata Romi melirik Opa Ismail yang sedang cengengesan.
"Jadi kami dimaafkan ya?" kata Romi sambil menggandeng tangan Anggita.
"Tentu, Anggita jangan marah ya. Romi memang harus dikerjai. Enak sekali menikah mengabarkan sehari sebelumnya. Sudah begitu jauh lagi lokasinya, yang benar saja." Oma Lana langsung mengeluarkan unek-uneknya.
"Perlu bikin acara disini kah?" tanya Romi pada Opa dan Omanya, ia sudah duduk disebelah Anggita, di posisi tengah sementara kedua pasang lainnya di sisi kanan dan sisi kiri.
"Perlu dong, sederhana saja acara keluarga. Kita kan belum bikin acara dua keluarga." kata Oma Lana pada Romi.
"Iya pertemuan keluarga Burhan dengan keluarga Lusinto." jawab Opa Ismail.
"Tapi jangan bikin drama lagi loh ya. Mereka tidak sejahil Opa dan Oma." pesan Romi pada kedua Opa dan Omanya. Pasangan tua itu terbahak senang sekali berhasil mengerjai cucunya.
"Bisa tidak? kalau tidak bisa lebih baik tidak usah." kata Romi kemudian.
"Iya bisa." jawab Opa dan Oma bersamaan.
"Papamu dan Mamamu mana, kenapa tidak muncul? takut sama kita ya?" tanya Opa Ismail kemudian.
"Mau disuruh kesini kah?" tanya Romi pada Opa dan Omanya.
"Sudah dalam perjalanan kesini, kukirim video Romi yang sedang kamu pukul tongkat tadi." kata Oma Mega pada Opa Ismail. Kemudian mereka terbahak bersama, Anggita menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya Opa dan Oma Romi hancur begini kelakuannya. Untung saja cucunya tidak jahil seperti mereka.
"Papa pasti tidak tega melihat aku disiksa." kata Romi pada Opa dan Omanya.
"Cuma bisa tidak tega kan, mama berani mereka memarahi kami." kata Opa Ismail bangga.
"Untung aku sayang Opa dan Oma." sungut Romi sambil meminta Anggita mengusap bagian tubuhnya yang kena tongkat Opa tadi.
"Sok manja kamu, Opa pukul pelan begitu." kata Opa Ismail mencibir.
"Memang di badan tidak terasa, sakitnya tuh disini." kata Romi sambil memegang dadanya.
Anggita tertawa dan menepuk bahu suaminya. "Mulai drama kamu." bisiknya pada Romi, lalu mereka semua tertawa tanpa beban.