
"Kenapa jadi senasib begini sih kita?" tanya Romi kepada sahabatnya yang sudah lebih dulu menikah. Mereka sudah berada di bungalow saat ini kecuali Ayu dan Anggita.
"Senasib bagaimana?" tanya Naka pada Abang Iparnya.
"Menikahnya diburu-buru begini." keluh Romi dengan wajah sedikit bertekuk.
"Terima nasib ya Rom, lu kira pernikahan seperti ini yang gue mau." Kekeh Raymond pada Romi sambil merangkul Roma yang baru berapa jam menjadi istrinya.
"Tapi enak nih sayang, kita sudah bisa peluk-peluk bebas." Raymond tersenyum memandang Roma membuat Romi berdecak malas.
"Lu mau pesta meriah ya? gue sih tidak ya begini saja cukup." kembali Raymond memandang Roma yang memajukan bibirnya beberapa senti.
"Kamu mau resepsi di Jakarta?" tanya Raymond lagi pada istrinya, ia tidak mau Roma kecewa.
"Menurut kamu?" malah Roma balik bertanya pada suaminya.
"Malas ya, tadi saja cukup melelahkan." jawab Raymond jujur.
"Aku sih sebenarnya mau resepsi undang teman-teman di kampus, tapi kalau kamu malas ya sudah tidak usah saja." jawab Roma mengalah, Romi dan Steve hanya menyimak, mereka sibuk memikirkan pernikahan mereka nanti.
"Jadi ya Nyong, hidup ini adil. Kalau lu nikahnya terkonsep, itu sangat tidak sopan. Senior lu disini kan menikahnya lu tahu sendiri." Arkana menepuk bahu Romi tengil.
"Gaya sekali, hanya beda berapa bulan saja berasa jadi senior." Steve mencebikkan mulutnya. Arkana dan yang lainnya jadi tertawa.
"Eh tapi ya, cukup sampai dikita saja yang menikah seperti ini, anak kita nanti jangan." kata Romi lagi pada sahabatnya.
"Mau model bagaimana juga yang penting halal, bahagia dan langgeng sih Rom." sahut Sarah pada Romi, sementara Chico dan Risa istrinya yang paling pendiam diantara yang lain sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik.
"Yang penting kalian segera menuju halal, welcome to the club." teriak Raymond yang baru saja akan masuk kamar menyusul Roma.
"Eh masih sore sudah mau masuk kamar saja." teriak Arkana pada Raymond.
"Ganti baju dulu Nyong, tidak lihat Roma masih pakai sanggul tuh." sahut Raymond menutup pintu kamarnya.
"Yakin lu mereka hanya ganti baju?" Arkana menyeringai jahil.
"Mau di intip kah?" tanya Naka tidak kalah jahil.
"Ayo Rom." Steve malah ikut-ikutan.
"Jangan gila deh, sepupu gue tuh." kata Romi pada sahabatnya, semua tertawa melihat ekspresi Romi.
"Menurut lu kita mau betul intip Raymond? lebih baik kita juga ikut masuk kamar." kata Arkana lagi menarik tangan Sarah dan mereka pun berjalan masuk ke kamarnya.
"Rese, gue sama Steve ditinggal begitu saja." Romi jadi tertawa melihatnya.
"Kita temani tenang saja." kata Chico tersenyum pada Romi.
"Nah begitu dong, Chic. Arkana sama Raymond rese nih." Omel Romi lagi.
"Makanya cepat halal." kata Sosa menggoda abangnya.
"Lu lagi, mau masuk kamar juga?" sengit Romi memandang Sosa yang tertawa jahil.
"Ih kenapa memangnya, iri?" jawab Sosa seenaknya. Steve dan Naka terbahak, sementara Chico cengengesan saja.
"Risa, elu tuh kenapa jarang ketawa ya?" tanya Steve pada istri Chico.
"Masa sih. Ketawa ah." jawab Risa bingung.
"Dia tuh ketawa sama nyengir beda tipis." Chico terbahak mengacak anak rambut Risa.
"Masih jaim ya." kata Romi menggoda Risa.
"Tidak, aku memang begini. Iya kan Kak Chico."
"Hu uh."
"Sering-sering ngobrol sama Ayu biar sedikit bawel." kata Romi kemudian.
"Calon istri gue dibilang bawel." Steve terkekeh menoyor kepala Romi.
"Tidak sadar ya kalau Ayu bawel?"
"Sedikit, jauh lebih bawel Ayu kan?"
"Anggie rese."
"Enak saja Rese, awas saja sebentar lagi Anggie jadi kakak ipar lu juga." kata Romi tengil.
"Iya juga sih." Naka terbahak jadinya.
"Cari jodoh yang jauhan makanya, putar-putar kesitu-situ juga." kata Chico menggoda Romi dan Steve.
"Iya deh kamu yang jodohnya orang jauh." kata Steve dengan gaya dibuat kemayu. Risa tersenyum saja melihatnya.
"Calon istri gue lagi apa ya? kalau lagi dipingit boleh telepon tidak sih?" tanya Romi pada Naka dan Chico.
"Entah ya, kita tidak pakai dipingit tuh." jawab Naka terkekeh.
"Gue telepon ya Rom, tapi jangan lupa ganti mobil." kata Sosa berbaik hati tapi ada maunya.
"Punya adik matrealistis begini." dengus Romi mengacak anak rambut adiknya.
"Kamu desak-desak Romi terus ganti mobil, mobil kamu kan masih bagus." tegur Naka pada Sosa.
"Romi sudah janji, kalau dia tidak janji juga aku tidak akan mengingatkan."
"Dasarnya saja mau memeras gue." kata Romi menggelengkan kepalanya. Sosa terkekeh menggandeng tangan abangnya.
"Kapan lagi mau manjakan adek, nanti kalau sudah punya istri belum tentu bisa."
"Iya-Iya bawel. Risa lu boleh deh berguru sama Sosa, dijamin Chico meleleh." kata Romi pada Risa.
"Hehehe bisa saja Kak Romi." Risa terkekeh.
"Sedikit bergosip ya, apa benar Anggie itu sebenarnya naksir Naka?" tanya Sosa membuat Romi tercekat.
"Bukan naksir, cuma minta perhatian saja, diantara kita bertiga aku yang paling tidak suka direpoti Anggie, anaknya tidak mandiri. Sementara Arkana dan Chico perhatian dan mau saja diganggu Anggie." Naka menjelaskan.
"Kamu juga tidak adil sih, kalau Ayu saja kamu cepat sekali membantu, coba kalau Anggie kamu abaikan." kata Chico pada Naka.
"Karena sudah ada kalian yang perhatian pada Anggita, jadi aku perhatiannya pada Ayu saja." jawab Naka.
"Setelah ini biarkan Anggie aku saja yang perhatikan, kalian tidak usah lagi." kata Romi bijaksana.
"Ayu juga kan langsung aku boyong ke S'pore." kata Steve tersenyum pada sikembar.
"Langsung?" tanya Naka tidak percaya.
"Hu uh, tadi Opa sudah bilang." jawab Steve yakin.
"Kalau kita kumpul, kamu tidak ikut dong karena pisah negara."
"Kumpulnya di S'pore saja." Steve memberi ide.
"Boleh juga nanti kita atur waktu." jawab Chico setuju.
"Ini yang buka sanggul tidak muncul lagi ya." Steve melihat pergelangan tangannya, sudah berapa jam ditunggu Raymond dan Roma belum muncul juga.
"Apa kamar disini kedap suara?" tanya Chico pada Naka.
"Kenapa memang mau masuk kamar juga kalau kedap suara?" timpal Sosa terkekeh sementara Risa wajahnya tampak memerah.
"Bukan begitu, hanya saja Raymond sepertinya kurang hot, tidak dengar suara-suara aneh dari sini." jawab Naka menyeringai menatap Risa.
"Hahaha coba saja kita teriak dari sini, panggil Raymond dan Arkana." Romi memberi ide.
"Ish kalian ini kalau lagi tanggung bagaimana mau jawab." Steve terkekeh membayangkan yang tidak-tidak.
"Coba ya Steve otak mesum lu disimpan dulu." kata Sosa pada Steve.
"Iya nih gue jadi tidak sabar menunggu tiga hari, kenapa tidak besok saja ya menikahnya." kata Steve sambil terbahak.
"Mau coba kamarnya ya, pengen tahu kedap suara apa tidak." Romi jadi ikutan membayangkan yang tidak-tidak. Sama saja sama Steve pikirannya kemana-mana.