
"Kakak, kamu cantik sekali. Setiap hari harus seperti ini ya." Anggita tersenyum menatap Juwita.
"Ini seperti upik Abu jadi Cinderella." kata Juwita dengan wajah memerah.
"Hahaha sebentar lagi bertemu pangeran tampan kalau begitu." Anggita terbahak, Juwita pun ikut terbahak.
"Kak, kita makan dulu ya. Kakak mau makan apa?" tanya Anggita pada sekretaris Daddynya.
"Apa saja." jawab Juwita pasrah. Mereka pun menuju restaurant yang dipilih oleh Anggita. Tidak berapa lama supir Anderson pun muncul mengambil tas belanjaan Juwita yang banyaknya luar biasa.
"Pak setelah itu makan saja disini." ajak Anggita pada Pak Supir.
"Saya bawa makan, Non." tolaknya halus sambil membungkukkan tubuhnya. Anggita mengangguk tidak memaksa.
"Jadi Kenapa aku harus di permak seperti ini?" tanya Juwita setelah mereka memesan menu yang akan mereka santap.
"Permak? memangnya Levi's." Anggita terbahak.
"Aku serius Bu, Kenapa?"
"Ish Ba Bu Ba Bu, Anggie saja." sungut Anggita kesal.
"Oke Non." Juwita tertawa.
"Apa sih Non." kesal Anggita pada Juwita.
"Bos Noni. Kita dikantor suka sebut kamu Bos Noni." Juwita menjelaskan.
"Kenapa begitu?"
"Karena kamu seperti Noni Belanda." jawab Juwita membuat Anggita terbahak. Ada-ada saja orang kantornya.
"Siapa saja yang sebut aku Bos Noni?" tanya Anggita ingin tahu.
"Sepertinya hampir semua ya." jawab Juwita cengar-cengir.
"Ada-ada saja, mau sebut aku apa selama itu sopan tidak masalah."
"Tadi kupanggil Bu, marah."
"Mb Juwi jangan panggil Bu dong." kata Anggita memonyongkan bibirnya. Makanan yang dipesan sudah datang, tapi Juwita sedikit heran karena menu yang Anggita pesan banyak sekali.
"Non, siapa yang mau habiskan makanan segini banyak." kata Juwita pada Anggita.
"Tenang nanti ada tim penghabis makanan." jawab Anggita terkekeh.
"Suamimu mau datang?" tanya Juwita.
"Iya, Romi sama Anderson." jawab Anggita santai.
"Kenal Anderson kan? anaknya Mr. Lee." kata Anggita lagi.
"Oh, Iya kenal. Kemarin bertemu dikantor Romi." jawab Juwita tersenyum.
"Kita makan duluan saja. Romi dan Anderson masih dijalan." Anggita mulai menyendok nasinya, ia menyodorkan bakul Nasi pada Juwita setelahnya.
"Sayang..." panggil Romi saat Anggita baru akan menyuap Nasi beserta lauknya kemulut
"Loh, aku kira masih lama datangnya. Ayo makan, aku lapar." kata Anggita pada suaminya. Romi mengangguk dan segera duduk di sebelah istrinya.
"Halo Mbak, tambah cantik saja." puji Romi dengan tampilan baru Juwita.
"Tuh Mbak, suamiku saja bilang cantik." Anggita langsung saja bangga, usahanya tidak sia-sia.
"Kerjaannya Anggita ini." kata Juwita terkekeh.
"Hanya rapikan rambut saja, kalau wajah kan dasarnya sudah ada bakat cantik." kata Anggita tersenyum, menyendokkan Nasi kepiring suaminya berikut lauk dan sayurannya.
"Anderson mana?" tanya Anggita pada suaminya.
"Tidak tahu, tadi katanya sebentar lagi sampai." jawab Romi mulai menikmati makanannya.
"Hai, kalian disini?" Anggita langsung senyum saja melihat siapa yang menyapa mereka.
"Om Lee..." Romi langsung berdiri menyalami Richard Lee.
"Om sendiri? gabung saja." ajak Anggita pada Om Lee.
"Ada janji sama klien." kata Om Lee sambil melirik Juwita, seperti merasa kenal tapi lupa.
"Oh... Halo, pantas saja seperti kenal." Om Lee terkekeh. Juwita menganggukkan kepalanya tersenyum ramah.
"Kita janjian sama Anderson juga nih Om. Klien Om sudah datang?" tanya Romi.
"Belum. Tapi sudah booking tempat sih." jawab Om Lee.
"Duduk dulu saja disini." kata Romi persilahkan Om Lee untuk duduk.
"Sebentar, saya telepon dulu sudah dimana, lihat menu makanan kalian saya jadi lapar." kata Mr. Lee mengambil telepon disakunya. Ia menghubungi klien yang akan ditemuinya, menanyakan posisi.
"Ternyata masih jauh, makan disini dulu saja ya." kata Om Lee menyeringai, langsung saja duduk disebelah Juwita.
"Anderson mau kesini juga?" tanya Om Lee pada Anggita dan Romi.
"Iya." jawab Anggita yakin karena sudah janjian sebelumnya.
"Sepertinya dia masih lama juga setahu saya." kata Mr. Lee karena tadi Anderson masih meeting saat Mr. Lee keluar kantor.
"Ya sudah kalau masih lama nanti kita tinggal saja." jawab Anggita santai, pikirnya tujuan utama mendekatkan Mr. Lee dengan Juwita.
"Saya makan ya." kata Om Lee saat piring dan lauk sudah penuh, tidak lagi sungkan karena merasa dekat dengan Romi dan Anggita.
"Mungkin saya akan kembali Ke S'pore begitu Anderson sudah menguasai kondisi pekerjaan di Indonesia." kata Mr. Lee setelah selesai menikmati makanannya.
"Loh kenapa, nanti Anderson yang keteteran." kata Romi heran.
"Anderson bisa handel semua, saya keteteran karena tidak fokus, kalian tahu sendiri lah." Mr. Lee menghela nafas panjang.
"Kalau di S'pore bisa fokus?" tanya Anggita, ia tahu Om Lee mau menjauh dari Sosa karena Anderson tidak setuju dan sangat marah dengan kelakuan Om Lee.
"Mungkin kalau jauh kan tidak lihat." Om Lee terkekeh. Lucu sekali liat pria dewasa yang katanya suka ganti-ganti perempuan bisa kusut di tolak oleh seorang gadis.
"Bisa kan Om alihkan pikiran ke yang lain, yang Anderson bicarakan kemarin." kata Romi memberi kode melirik Juwita yang masih membersihkan mulutnya dengan tissue.
"Hmm..." Om Lee menoleh pada Juwita kemudian menarik nafas panjang tanpa berkata apapun.
"Ok lah, saya pamit dulu, nanti biar saya yang bayar." kata Om Lee begitu handphonenya berdering, sepertinya rekan bisnisnya sudah mendekat.
"Om terima kasih ya." kata Anggita senang saja ditraktir Om Lee, apalagi melihat Om Lee bicara dengan petugas restaurant sambil menunjuk meja yang mereka tempati saat ini.
"Coba hubungi Anderson, jadi datang tidak?" pinta Romi pada Anggita.
"Kalau Anderson masih lama lebih baik kita kembali Ke Kantor. Iya kan Mbak?" Romi melibatkan Juwita.
"Iya betul." jawab Juwita tersenyum.
Anggita menuruti perintah suaminya, segera menghubungi Anderson.
"Jadi kesini tidak?" tanya Anggita langsung, Anderson malah tertawa.
"Aku baru selesai meeting Kakak." katanya lagi.
"Ya sudah aku kembali ke Kantor saja." kata Anggita malas menunggu.
"Papa sudah bergabung kan?" Anderson kembali tertawa.
"Iya sekarang sudah bersama Kliennya." jawab Anggita apa adanya.
"Tadi aku yang minta kliennya untuk datang terlambat, biar Papa bergabung sama kalian, bagaimana kira-kira setelah melihat perubahan calon istri?" Anderson terkikik geli.
"Ya begitu lah, susah komentar aku. Tapi tadi dia bilang mau kembali Ke S'pore begitu kamu sudah kuasai pekerjaan di Indonesia."
"Masa?"
"Iya tadi bilang begitu sih."
"Waduh, bagaimana rencana kita?" langsung saja panik.
"Ya kamu urus bagianmu, aku urus bagianku." jawab Anggita terkekeh.
"PR baru ini, Kak. Kalau menjauh bagaimana bisa dekat sama Juwita." keluh Anderson pada Anggita.
"Bisa saja dari pihak kita terbang kesana, untuk urus pekerjaan yang masih harus dihandel Om Lee." jawab Anggita tersirat.
"Oke Kak, aku mengerti." jawab Anderson menarik nafas lega. Ada saja rencana kedua orang ini.