Never Say Never

Never Say Never
Panutan



"Ame dan Popo terima kasih banyak karena sudah memfasilitasi pernikahan kami." Romi memeluk Ame yang sudah dianggap seperti Ibunya sendiri. Dasar Enji disuasana bahagia begini malah menangis saat Romi memeluknya.


"Baik-baik ya sayang, jaga istri kamu, sayangi dan jangan kecewakan." katanya lagi dengan air mata yang masih mengalir deras. Bahagia sekali rasa hatinya, anak-anak sudah menikah semua, walaupun mereka sempat membuat ulah tapi itu tidak berarti dibandingkan kebahagiaan yang mereka dapat.


"Iya Ame, aku akan seperti Popo dan Papa yang sangat menyayangi Ame dan Mama." kata Romi jadi ikut terharu. Ame sekarang lebih gampang menangis, lebih lembut hatinya, walau masih suka ceplas ceplos.


"Hei boy, hanya Popo dan Papamu saja, yang jadi contoh?" tanya Alex tidak terima.


"Ah Papi merusak suasana haru." protes Roma pada Papinya, padahal ia juga ikut menangis melihat Romi dan Enji. Ia juga ingin mengucapkan terima kasih pada Ame yang turut andil memaksa ia dan Raymond dinikahkan dalam satu hari.


"Papi juga dong, Ayah Eja, Daddy Leo, Papa Andi, Papi Mario, Semuanya panutan untuk aku." jawab Romi jujur, bangga sekali melihat orang tua mereka hidup adem ayem, bahagia dan rukun hingga sekarang, bahkan sangat kompak satu sama lain.


"Itu karena kami sabar menghadapi mereka ini." tunjuk Alex pada Monik yang sedang asik ngobrol dengan sahabatnya. Reza terkekeh saja mendengarnya.


"Mami juga menurut sama Papi." kata Roma membela Maminya


"Iya lah, kalau tidak nurut Mami masih jadi artis." sahut Monik yang ternyata mendengar obrolan Romi dan yang lain.


"Mami masih mau jadi artis?" tanya Alex menggoda istrinya.


"Boleh, tapi ATM dan kartu lainnya jangan diambil ya." kata Monik balas bercanda, semua terbahak mendengarnya.


Sementara Opa dan Oma membuat lingkaran sendiri, mereka ngobrol dengan rombongan seusia mereka, apalagi yang dibahas selain bisnis, tentu saja penyakit dan obat yang sedang mereka konsumsi saat ini. Suasana ini seperti ajang reuni untuk Opa dan Oma yang jarang bertemu.


Menjelang sore, Opa Santoso pamit pada sahabatnya, juga pada Erwin dan Enji yang ketempatan. Setelah berbasa-basi hahahihi, ia segera memboyong cucu dan cucu menantu ke S'pore. Hanya bermodalkan tiga helai baju yang dibawanya, Ayu pamit pada Papa dan Mamanya. Untung saja ia selalu membawa passportnya jika sedang bersama Steve, sudah mengantisipasi jika suatu saat dibawa kabur ke luar negeri. Tapi ternyata tidak jadi dibawa kabur tapi diserahkan dengan senang hati.


"Duh Nak, sudah Mama rawat sampai cantik begini, dibawa Steve lagi pindah negara." kata Pipit membuat yang mendengarnya tertawa.


"Mama sama Papa Kapan ke S'pore?" tanya Steve disela tawanya, kasihan juga Mama dan Papa jadi berdua saja dirumah, ada sih asisten rumah tangga tapi kan beda dengan anak sendiri.


"Hari kamis ya." jawab Andi pada menantunya.


"Kamis malam ya friend." kata Mario pada Andi, ia harus mengurus pekerjaannya kamis pagi hingga sore.


"Iya kan kita berangkat sama-sama." jawab Andi, Mario pun mengangguk, karena sudah sepakat dengan sahabatnya yang lain, hanya Enji dengan berbesar hati tidak ikut ke S'pore karena masih dalam proses pengobatan, tapi tidak masalah, ia sudah sangat senang menyaksikan pernikahan anak-anak mereka.


Satu persatu pamit kembali kerumah masing-masing, karena besok akan beraktifitas seperti biasa. Romi dan Anggita masih menginap semalam lagi di rumah Enji, atas keinginan Mommy dan Daddy tentu saja, ia tidak ingin sepupunya kelelahan mengawasi rumah dibersihkan. Mama Intan dan Papa Anto pulang ke Jakarta bersama Naka Dan Sosa.


Chico dan Arkana pun masih menginap dirumah Ame dan Popo, tentu saja bersama pasangan mereka. Enji senang sekali karena masih ada yang tinggal, tidak langsung bubar semuanya, ia akan kesepian kalau mereka langsung pulang bersamaan.


"Sayang kita harus coba restaurant sehat yang kemarin kamu makan." kata Liana pada Leo.


"Enak kan?" Leo tersenyum bangga karena saat kemarin membawakan untuk Liana, langsung saja Liana suka dan mau lagi.


"Iya, pasti makan disana lebih enak lagi." jawab Liana.


"Langganan Ame tuh, Daddy. Setiap kerumah sakit pasti mampir kesana." sahut Arkana.


"Kamu sudah pernah makan disana Tan?" tanya Liana pada keponakannya.


"Sudah dong, ayo kalau mau kesana." ajak Arkana.


"Tidak ada kenyangnya ya, masih banyak makanan catering disini." kata Enji pada semuanya.


"Aku terbayang dendeng vegannya." kata Liana memohon.


"Besok saja bungkus bawa pulang, ini siapa yang makan? sudah dibagikan tetangga masih berlebih. Kulkasku penuh." Enji bersungut.


"Ame sudah jangan dipikirkan, sudah dibungkus kan?" tanya Chico pada Enji.


"Ya sudah biarkan Mommy makan di restaurant, makanan sisa catering Chico antar ke panti asuhan sekitar sini." Chico memberikan solusi.


"Kamu tahu ada dimana?" tanya Enji.


"Gampang Ame, nanti aku dan Chico yang akan mengantar." jawab Romi menenangkan Enji.


"Ya sudah kalau begitu Ame ikut Mommy." jawab Enji cepat.


"Ame tidak istirahat?" tanya Chico mengingat Ame belum tidur siang.


"Ame bisa tidur dimobil." jawabnya semangat.


"Ck... perjalanan hanya Lima menit mau tidur siang dimobil." Erwin terkekeh melihat istrinya bersemangat.


"Ya sudah kami pergi dulu." pamit Leo pada anak menantu dan keponakannya.


"Kami tidak diajak?" protes Arkana.


"Kalian menyusul saja, bereskan dulu urusan panti asuhan." kata Enji pada Arkana.


"Itu kan Chico bukan Atan."


"Kamu juga bantu, ini rombongan abege dulu yang pergi." jawab Enji kembali semua tertawa.


"Ya sudah, hati-hati dijalan. Mau disisakan untuk makan malam apa serahkan saja semua? makan malam kembali Ke Bi Mumun?" Risa meminta pendapat Ame.


"Makan malam yang dimeja makan saja, yang sudah diplastik serahkan saja semua." kata Enji pada Risa.


"Siap Ame, selamat bersenang-senang." kata Anggita pada Ame.


"Kamu sabar ya, ke panti asuhan dulu baru malam pertama." bisik Ame membuat Anggita merah meranum.


"Ame ih." katanya malu.


"Hahaha kenapa Ame?" tanya Romi ingin tahu.


"Urusan wanita." jawab Enji terkikik.


"Apa sayang?" Romi masih saja penasaran bertanya pada Anggita. Enji terbahak meninggalkan anak menantunya menuju kemobil.


"Kata Ame kita ke panti asuhan dulu." jawab Anggita.


"Oh hanya itu kamu sampai merah padam?" Romi tidak percaya.


"Setelah ke panti asuhan baru malam pertama." jawab Anggita bertambah merah saja mukanya. Romi jadi ikut tertawa, dasar Ame masih saja jahil.


"Hmm... mana bisa malam pertama disini, tidak kedap suara." sahut Arkana, Sarah langsung saja memukul bahu suaminya.


"Bisa kok. Tutup bantal tapi biar tidak berisik." sambung Arkana lagi.


"Apa sih Atan, kenapa ditutup bantal?" tanya Anggita polos.


"Susah menjelaskannya, tapi lebih baik siapkan bantal saja didekat kamu." malah Arkana menanggapi pertanyaan Anggita.


"Eh bahas apa sih, ayo cari panti." ajak Chico yang jadi malu sendiri mendengarnya.