
"Opa mau dipijit jam berapa, padahal ada jasa massage disini, kenapa mesti aku yang pijit sih?" Romi protes pada Opa, ia tahu ini hanya akal-akalan Opa saja untuk menjahilinya. Kesal juga Romi jadinya, kalau diganggu begini terus.
"Kamu keberatan? ya sudah sana main saja sama istri dan temanmu, jangan ganggu Opa dan Oma." jiah siapa juga yang menganggu, Romi terkekeh jadinya.
"Bukannya keberatan Opa, tapi Opa jamnya tidak jelas, Romi kan jadi bingung, jadi tidak bisa aktifitas yang lain." Romi menjelaskan.
"Bilang dong dari tadi, sekarang saja." kata Opa akhirnya, setelah selama satu jam Romi tertahan dikamar Opa, tapi tidak juga mau dipijit. Padahal Opa belum pernah dipijit Romi sebelumnya, bisa-bisanya malam ini Opa minta dipijit cucunya itu.
"Yang benar dong Rom, itu sih balur bukan pijit." keluh Opa pada Romi.
"Opa kalau Romi pijit nanti Opa teriak lagi, nanti gagal thousand honeymoon Opa. Lagi pula honeymoon kok bau minyak gosok." Romi terbahak menggoda Opa
"Hahaha cucu apa ini mentertawakan Opa." Opa mengetuk jarinya ke dahi Romi.
"Habisnya Opa aneh, kalau mau digosok minta Oma dong yang gosok badan Opa jadi kan tambah mesra." Romi tertawa senang sekali bisa menggoda Opanya.
"Tidak usah diajari kali Rom." kata Opa sombong.
"Romi hanya kasih tahu, bukan mengajari. Sudah jelas pengalaman Opa jauh lebih banyak dari Romi." kata Romi jujur.
"Ya sudah sana panggil Oma, pijitan kamu tidak enak." kata Opa membuat Romi menarik nafas lega.
"Oma, ditunggu Opa dikamar." kata Romi begitu tiba dikamarnya. Tampak Oma sedang asik bercanda bersama Sosa dan Anggita.
"Kamu tidur sama Opa saja, Oma disini sama Sosa dan Anggie." pinta Oma pada Romi. Wajah Romi langsung kuyu membuat Oma terbahak.
"Kelihatan sekali dia tidak sabar ingin goal." kata Oma pada Anggita, tentu saja Romi mendengarnya.
"Terserah Oma deh, lagipula Opa merindukan pijitan Oma, katanya pijitan Romi tidak enak."
"Tidak enak bagaimana, selama itu kamu dikamar Opa." Oma tidak percaya.
"Dikamar Opa bukan mijit, tapi mendengarkan kisah masa muda Opa." jawab Romi.
"Ceritakan mantan pacarnya ya?" tanya Oma curiga.
"Hahaha Oma cemburu." Sosa mentertawakan Omanya.
"Tidak, untuk apa cemburu, tapi ya menyebalkan sekali kalau membahas kisah mantan pacarnya, bangga sekali punya pacar banyak, padahal sudah jelas tidak boleh pacaran." dengus Oma kesal.
"Waduh Oma jangan kesal-kesalan dong kan lagi honeymoon." pesan Anggita ada Oma Mega.
"Hampir Oma lupa, Oma kira kita sedang liburan keluarga." jawab Oma terkekeh. Semua jadi ikut tertawa.
"Ayo Romi antar ke kamar, nanti Oma lupa lagi kamarnya yang mana." Romi menggandeng Oma menggiring ya keluar kamar menuju kamar dimana Opa berada.
"Kalian mau apa setelah ini?" tanya Oma pada Cucu-cucunya sebelum keluar kamar Romi.
"Pakai ditanya lagi." kata Romi terkekeh.
"Memangnya mau dikamar saja terus-terusan, kumpul-kumpul dong." Oma mengajarkan.
"Besok saja, sekarang istirahat dulu." jawab Romi sambil menguap, pura-pura sebenarnya biar tidak diganggu Opa dan Oma lagi.
"Jangan bohong, kalau belum ngantuk kenapa pura-pura menguap." Oma menoyor kepala Romi, Sosa yang ikut mengantar Oma keluar kamar tertawa. Ia juga akan kembali kekamarnya, Naka mungkin masih bersama Chico dan Arkana.
"Oma jagain Opa, berdua jangan keluar kamar lagi ya. Nanti nyasar loh." kata Romi pada Omanya serius.
"Iya bawel."
"Sejak kapan Romi bawel." Romi gemas memeluk Oma.
"Berat, Romi giant." teriak Oma membuat Romi terkekeh sambil meletakkan telunjuknya dibibir, jangan sampai teriakan Oma membuat heboh tamu yang lain.
"Payah Romi, Ma. Tidak bisa pijit." kata Opa menggelengkan kepalanya.
"Jangan bandingkan dengan saya dong, pasti beda." kata Oma bangga.
Romi meninggalkan Opa dan Omanya dikamar, sekali lagi ia berpesan agar Opa dan Oma tidak keluar kamar lagi malam ini.
Sesampainya dikamar, Sosa sudah tidak lagi disana, Anggita sendiri saja tampak sibuk dengan handphonenya sambil tiduran.
"Sayang, tadi cerita apa sama Oma dan Sosa?" tanya Romi penasaran, karena mereka tadi seru sekali, ia membaringkan badannya disamping Anggita.
"Oma dan Opa ke Jakarta Senin, bersama Sosa dan sikembar satu paket." jawab Anggita tertawa.
"Yes, berarti yang sampai Rabu hanya kita dan Steve." kata Romi, Anggita mengangguk. Sebenarnya kalau Raymond dan Roma ikut, mereka pun akan kembali hari Rabu bersama Romi dan yang lain.
"Sepi dong kita." rengek Anggita manja.
"Tidak apa, kita dikamar saja nanti, tidak ada yang ganggu." jawab Romi terkekeh, merapatkan badannya pada Anggita.
"Sayang sudah bisa kan?" tanya Romi penuh harap.
"Sudah memang tidak lihat aku sholat tadi?" tanya Anggita, tersenyum menatap suaminya, agak deg-degan menyambut malam pertama yang tertunda.
"Lihat tapi aku lupa." Romi terkekeh memeluk istrinya dari belakang. Romi mulai menciumi leher Anggita, tangan Romi pun mulai bergerilya dibalik baju istrinya.
"Sayang, pintu sudah dikunci?" Anggita mengingatkan, ia berjaga-jaga mengingat akan melakukan aktifitas yang mereka inginkan.
"Hu uh." jawab Romi disela aktifitasnya, seperti tak ingin kegiatannya terganggu.
"Sayang, baca doa dulu." kata Anggita mengingatkan suaminya.
"Hu uh." jawab Romi menghentikan aktifitasnya, mulutnya tampak komat kamit. Anggita menutup tubuh mereka berdua dengan selimut, selanjutnya terjadinya apa yang mereka inginkan, berapa kali mereka melakukannya? biar saja mereka yang tahu.
Pagi hari Romi terbangun memandang wajah cantik pujaan hatinya. Romi tersenyum sendiri ingat aktifitas mereka semalam lalu menciumi istrinya yang masih tertidur. Anggita yang terbangun menatap suaminya dengan mata yang sedikit terbuka.
"Masih mengantuk?" tanya Romi, Anggita mengangguk kemudian memeluk Romi dan kembali memejamkan matanya.
"Sebentar lagi shubuh." bisik Romi ikut memeluk Anggita.
"Bangunkan nanti ya." kata Anggita dengan mata terpejam.
"Mandi dulu." ajak Romi.
"Nanti saja, ya. Capek sekali rasanya." kata Anggita enggan membuka matanya.
"Memang habis melakukan apa, sampai capek begini?" tanya Romi menggoda istrinya.
"Ah Romi, tidak tahu." Anggita terkekeh sambil mengulet, rasa kantuknya hilang begitu Romi mulai beraktifitas lagi. Anggita pasrah saja walau seluruh tubuhnya rasanya rentek luar biasa. Pagi ini pun terjadi serangan fajar atas keinginan mereka berdua.
"Terima kasih sayang." bisik Romi setelah aktifitas, ia mengecup kening Anggita dan segera bangkit dari tidurnya untuk membersihkan diri karena sebentar lagi waktunya sholat shubuh.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi, Romi kembali menghampiri Anggita.
"Hei sayang, mandi." perintah Romi sambil mengecup pipi Anggita yang masih bergelung dibalik selimut.
"Dingin." jawab Anggita masih selimutan.
"Sudah kusiapkan air hangat di bathtub, tidak ada alasan." jawab Romi mengangkat tubuh istrinya agar segera membersihkan diri. Anggita tertawa, pemaksaan kalau begini namanya, tapi Anggita suka, ia mengalungkan tangannya dileher Romi, mulai nakal menciumi Romi yang Anggita tahu sudah mandi dan tidak mungkin mengganggu Anggita lagi.
"Ish, awas ya nanti setelah sholat." ancam Romi membuat Anggita terbahak dan tidak lagi berani menjahili suaminya.