Never Say Never

Never Say Never
Keram



"Kamu benci sekali sama Moza, dia tidak salah." kata Romi pada Anderson.


"Bukan benci sama Moza, aku kesal sama kelakuan Papaku, Kak." kata Anderson pada Romi.


"Papamu sedang jatuh cinta." jawab Romi terkekeh.


"Tapi jangan bodoh, lebih dari Moza Papaku bisa dapat kok tanpa harus begitu. Mungkin itu juga yang bikin Moza malas sama Papa." Anderson menghela nafas panjang.


"Moza cantik kan?" pancing Romi pada Anderson.


"Menurut Kak Romi, menurut aku lebih cantik Kak Anggita." jawab Anderson santai.


"Itu istriku, berani sekali bilang cantik didepan suaminya." protes Romi pada Anderson, rekan bisnis yang sekarang seperti saudara sendiri.


"Sudah tahu punya istri masih puji perempuan lain." Anderson terkekeh tertawakan Romi. Tapi jujur Anderson kadang bikin Romi cemburu, istrinya dan Anderson ini suka saling memuji. Seakan mereka saling mengagumi saja.


"Cuma kasih tahu, siapa tahu kamu minat sama Moza setelah Papamu berhasil dijodohkan sama Juwita." kata Romi menatap Anderson tajam.


"Aku sama Moza?" tanya Anderson sambil membelalakan matanya tak percaya Romi ucapkan itu.


"Hu uh." Romi anggukan kepalanya.


"Never!!!" tegas Anderson menggelengkan kepalanya sambil tertawa sinis.


"Never say never, man." jawab Romi terkekeh menepuk bahu Anderson. Ia senang sekali melihat ekspresi Anderson saat ini.


"Mau taruhan?" tanya Anderson menantang Romi.


"Tidak usah, aku pasti menang." jawab Romi terbahak, Anderson melengos mendengarnya.


"Aku kembali ke kantor, Kak." pamit Anderson pada Romi. Ia tinggalkan Papanya bersama Anto, Leo dan Juwita tadi diruangan. Karena ada pertemuan lagi yang harus Anderson hadiri.


"Mau bertemu sekretarisku dulu, dia lagi hamil minta dipegang perutnya sama kamu." Anderson terbahak mendengarnya.


"Seperti apa saja." katanya menggelengkan kepalanya. Tapi mengikuti langkah Romi menuju ruangan Vita.


"Vita, ini Anderson." kata Romi pada Vita lalu meninggalkan mereka berdua masuk keruangannya sambil tertawa sendiri. Sengaja mengerjai Vita, pasti dia bingung harus bilang apa.


"Oh Pak Anderson, sudah rapatnya ya?" tanya Vita basa-basi sementara Romi mengintip dari jendela.


"Sudah, kata Kak Romi, Kak Vita ada perlu sama saya?" tanya Anderson, ia sudah diberitahu Romi tapi tidak mungkin juga langsung pegang perut Vita. Kalau Vita menyangkal bagaimana? bisa malu lah Anderson.


"Apa ya?" Vita jadi salah tingkah, Romi tertawakan Vita dari dalam ruangannya.


"Kalau tidak ada urusan lagi, saya kembali ke Kantor." kata Anderson pada Vita.


"Oh iya, nanti kalau sudah ingat aku hubungi." kata Vita, Anderson menganggukkan kepalanya. Ia segera berjalan menuju lift setelah melambaikan tangan pada Romi yang ketahuan mengintip dari jendela.


"Aaawww..." jerit Vita meringis sambil memegang perutnya yang tiba-tiba saja terasa keram. ia sampai berjongkok menahan sakitnya, Anderson langsung berbalik badan menghampiri Vita.


"Kenapa Kak Vita?" tanyanya khawatir, Anderson tahu Vita memang ingin dipegang perutnya, tapi tidak mungkin Vita sampai pura-pura sakit begini. Romi masih saja terbengong menyaksikan dari jendela.


"Akting atau beneran nih Vita." gumam Romi seorang diri.


"Sakit." kata Vita sampai keluar air mata.


"Ya ampun Kak Vita aku antar kerumah sakit ya." Anderson tampak panik.


"Boleh, tolong ya, maaf merepotkan." suara Vita terdengar sangat kesakitan.


"Sama supir kantor saja Anderson, sudah kuminta standby di lobby." kata Romi sambil berlari lebih dulu menuju lift sementara Anderson menggendong Vita ala bridal.


Duh minta dipegang perutnya, sekarang malah digendong, batin Vita dalam hati. Kenapa juga anaknya diperut berulah. Ada-ada saja.


"Jadi siapa yang antar ke rumah sakit?" tanya Anderson saat meletakkan Vita dimobil kantor.


"Tidak apa, supir saja yang antar." kata Vita pada Romi dan Anderson.


"Gue antar deh Vit, apa kata Felix lu gue lepas begitu saja." Romi segera naik kebangku pengemudi depan.


"Terima kasih Pak Anderson." kata Vita tersenyum ikut memegang perutnya."


"Masih sakit Vit?" tanya Romi saat kendaraan sudah melaju ke rumah sakit terdekat.


"Tidak, tapi periksa saja Rom. Aneh deh bisa begitu." kata Vita mengusap perutnya.


"Anak lu rese juga ya." Romi terbahak.


"Enak saja bilang anak gue rese." protes Vita.


"Itu bikin Mamanya digendong cowok ganteng, kalau Felix lihat bisa ngamuk tuh." Kata Romi masih tertawakan Vita. Kemudian ia menghubungi Felix melalui teleponnya.


"Gue lagi ajak Vita ke rumah sakit nih, tadi perutnya keram." Romi menyebutkan nama rumah sakitnya lalu menutup sambungan teleponnya.


"Felix panik tuh." kata Romi pada Vita.


"Gue saja panik." kata Vita menghela nafas. Gawat juga masa karena bingung mau bicara sama Anderson minta dibelai sampai harus keram begitu, tadi setelah dibelai Anderson dia langsung tenang. Seperti tidak terjadi sesuatu, Vita menghela nafas panjang.


"Kamu kenapa?" tanya Felix saat menemui Vita dan Romi diruang tunggu.


"Kan aku sudah bilang pengen diusap perutnya sama Anderson tadi." adu Vita pada Felix.


"Terus?" kening Felix berkerut.


"Tadi sempat bertemu sebelum Anderson pulang meeting sama Romi, aku tidak bilang sama Anderson karena kamu tidak ijinkan, tahu-tahu perut aku keram sampai susah berdiri." Vita memandang Felix sedikit takut.


"Iya gue juga bingung bisa begitu." kata Romi menggelengkan kepalanya.


"Sekarang bagaimana masih keram?" tanya Felix mengusap lembut perut istrinya. Vita menggelengkan kepalanya.


"Tadi sakit sekali." katanya pada Felix.


"Iya nanti kita tanyakan dokter." jawab Felix.


"Gue balik kantor ya." ijin Romi pada keduanya.


"Thanks ya Rom, sudah bawa Vita ke rumah sakit." kata Felix pada sahabatnya.


"Tadinya Anderson yang mau antar, gue pikir Vita akting." kata Romi terkekeh.


"Totalitas betul akting gue, sampai menangis." kata Vita terkekeh.


"Nah itu, pas lihat elu nangis baru gue keluar ruangan." kata Romi langsung saja seru bahasannya.


"Gawat tuh anak elu." kata Romi pada Felix.


"Kenapa?"


"Itu kemauannya tidak dituruti langsung merajuk, masih didalam perut loh, coba dikasih tahu baik-baik Vit nasehati." kata Romi terdengar konyol.


"Takut ya Anggita ngidamnya sama?" Vita terkekeh.


"Menurut elu, Fel?" Romi menyeringai.


"Gue yang nasehati anak gue nanti." kata Felix pada Romi.


"Sama nyokapnya juga bakal gue nasehati." sambung Felix lagi, Romi terbahak sementara Vita mesem-mesem.


"Ini mesti ditanya ke dokter, beneran kemauan anaknya apa Mamanya nih?" Felix melirik istrinya.


"Jangan cari masalah, nanti keram lagi." ancam Vita pada suaminya.


"Tuh Rom, kalau elu komplen bisa keram lagi katanya, jadi gue mesti nahan sabar deh." kata Felix membuat Romi terbahak.


"Ada-ada saja Vita nih, semoga Anggita tidak begini. Repot nanti hatiku." kata Romi mengusap dadanya, Vita terkikik geli, siapa juga yang mau kejadian seperti ini.