Never Say Never

Never Say Never
Lola



"Om Lee hari ini kembali Ke S'pore sayang." lapor Anggita pada Romi sepulang mereka bekerja. Romi tersenyum dan fokus memandang ke depan, ia sedang menyetir kini


"Gagal dong jodohkan sama Juwita?" tanya Romi tetap tersenyum manis pada istrinya.


"Tidak ada respon kan Dari Om Lee sudah sebulan ini kita usaha maksimal, tapi lucunya hari ini Om Lee minta diantar ke Bandara sama Mbak Juwita." Anggita terkekeh dan berharap lebih.


"Kalau jodoh tidak kemana, mau lari sejauh apa pasti akan kembali." jawab Romi tersenyum sambil fokus menyetir.


"Bijaksana sekali suamiku." Anggita tertawa menggoda suaminya, Romi mengangkat alisnya saja.


"Kamu mau makan apa?" tanya Romi pada istrinya, biasanya mereka sebelum sampai rumah makan dulu atau bungkus untuk dibawa pulang. Tidak mungkin lagi Anggita sibuk memasak didapur, cuci piring saja mengandalkan pekerja harian, sudah seminggu ini catering langganan pulang kampung. Pekerja yang menginap entah kenapa belum ada yang betah, mungkin karena suasana dirumah sepi. Padahal bekerja dirumah Romi dan Anggita terhitung santai, tempat tinggal mereka pun terhitung nyaman di belakang rumah utama.


"Pesan online saja ya, aku mau cepat sampai rumah." ijin Anggita pada suaminya sambil tersenyum manis.


"Mau makan apa nanti pesan onlinenya?" tanya Romi lagi memastikan menu yang diinginkan istrinya tercinta.


"Ayam kalasan bagaimana? sama lalapan dan sayur asam." jawab Anggita langsung saja membayangkan ayam kalasan didepan mata. Air liurnya seakan menetes seketika. Belum Romi menanggapi jawaban istrinya,


Drrrtttt... Drrrtttt... handphone Romi berbunyi, Moza yang menghubunginya, tumben sekali tidak biasanya. Romi memberitahukan Anggita siapa yang menghubunginya dengan perlihatkan layar handphonenya, Anggita mengangguk persilahkan suaminya mengangkat telepon Moza.


"Ya, Moza?" jawab Romi begitu mengangkat teleponnya. Ia aktifkan Bluetooth yang tersambung pada perangkat audio kendaraan sehingga suara Moza terdengar seisi mobil, kebetulan hanya Romi dan Anggita yang berada di Mobil itu.


"Hari ini Mr. Lee kembali Ke S'pore ya Pak?" tanya Moza dari seberang.


"Iya, kenapa?" tanya Romi tetap fokus menyetir kendaraannya.


"Pesawat jam berapa Pak, naik apa?" tanya Moza mencari tahu.


"Sayang, Om Lee pesawat apa jam berapa?" tanya Romi pada istrinya. Anggita menyebutkan berdasarkan yang ia dengar tadi. Romi pun memberitahukannya pada Moza.


"Oke Pak, terima kasih ya." Moza mengakhiri sambungan teleponnya.


"Kenapa dia?" tanya Anggita begitu Romi menutup sambungan teleponnya, ia tidak terlalu suka sama Moza karena Moza selalu menjaga jarak dengan Anggita. Seperti tidak suka pada Anggita, perasaan Anggita begitu.


Saat Anggita bertemu Moza dikantor Romi, Moza seringkali seakan tidak menganggap keberadaan Anggita. Ah, menyebalkan... kalau baik kan bisa jadikan teman seperti halnya Vita dengan Anggita saat ini.


"Seperti yang kamu dengar tanyakan Om Lee saja." jawab Romi tidak peduli.


"Menyesal setelah mengabaikan?" tanya Anggita tersenyum sinis, tidak bisa sembunyikan rasa tidak sukanya pada Moza.


"Entah, biarkan saja urusan dia." jawab Romi mengedikkan bahunya. Ia memang tidak pernah mau tahu urusan pribadi karyawannya, kecuali Vita dan Felix sahabat dikampusnya.


"Nanti dia susul ke Bandara lagi, padahal Om Lee sedang bersama Mbak Juwita." keluh Anggita sedikit khawatir.


"Biarkan saja sayang, kan kalau jodoh tidak kemana. Kita tidak tahu jodohnya Om Lee siapa." Romi tenangkan istrinya. Kalau ditanggapi akan bertambah saja kesalnya.


"Iya sih." Anggita terkekeh.


"Sayang, makan di restaurant saja ya, jadi sampai rumah sudah tinggal bersih-bersih dan tidur." pinta Romi pada istrinya. Ia malas bayangkan harus berkemas lagi setelah makan.


"Terserah kamu deh." jawab Anggita ikuti kemauan suaminya, lagipula sebentar lagi magrib, dekat restaurant ada mesjid, mereka bisa sholat di Mesjid dulu.


"Parkir di mesjid saja ya, sekalian sholat magrib?" tanya Romi pada istrinya, Anggita mengangguk setuju. Romi pun segera parkirkan kendaraannya di Mesjid sambil mereka melaksanakan ibadah sholat magrib, baru setelahnya makan malam di restaurant ayam kalasan.


Sementara itu dirumahnya, Anderson sudah bersiap untuk antarkan Papanya ke Bandara, tapi sampai sore ini Papa belum juga muncul.


"Papa dimana?" tanya Anderson via telepon.


"Perjalanan ke rumah Juwita, nanti Papa diantar Juwita ke Bandara." jawab Richard Lee pada anaknya.


"Koper Papa bagaimana?" tanya Anderson bingung.


"Bukan begitu, Papa kan sudah berkemas dari kemarin. Untuk dibawa ke S'pore kan?" tanya Anderson.


"Tidak jadi, Papa di S'pore hanya sebentar, kalau bosan Papa akan kembali Ke Jakarta." jawab Lee pada anaknya.


"Sudah Move on?" tanya Anderson yang tahu sebulan ini Papa agak kusut.


"Bicarakan apa sih, pikiran Papa sudah tidak kesana lagi." jawab Lee yakin.


"Betulkah? kenapa aku agak ragu ya?" Anderson terkekeh.


"Berani bertaruh?" Lee menantang putranya.


"Ih mana boleh berjudi." kaya Anderson sok bijaksana.


"Sudah mendalami agama sejak tinggal di Jakarta ya?" Lee menggoda putranya, ia masih menunggu Juwita membereskan putrinya yang akan diajaknya untuk temaninya saat pulang dari Bandara nanti. Entah kenapa Lee menyuruh supirnya pulang Dan meminta Juwita ajak putri kecilnya yang sudah menghubunginya sedari tadi tanyakan keberadaan Mamanya.


"Bergaul sama Kak Romi jadi begini." Anderson terbahak.


"Papa Mbak Juwita kurasa cocok sama Papa." kata Anderson pada Papanya.


"Bicarakan apa sih. Papa hanya ingin berteman." jawab Lee terkekeh.


"Sudah bukan masanya lagi berteman Pa, cari pendamping yang tepat yang bisa mencintai Papa. Moza tidak mencintai Papa, percuma jadikan istri." kata Anderson lagi pada Papanya.


"Moza tertarik sama kamu rupanya." Lee setengah bergumam.


"Aku tidak merasa dan tidak peduli juga. Aku pikirkan Papa dulu. Kalau Papa sudah ada yang urus baru aku menikah dengan wanita yang Papa restui." jawab Anderson pada Papanya.


"Mr. Lee maafkan jadi menunggu." kata Juwita terdengar oleh Anderson.


"Papa sudahi dulu ya." kata Lee pada putranya lalu menutup sambungan teleponnya.


"Saya yang minta maaf karena sudah mengganggu waktumu dan putrimu." jawab Lee tersenyum ramah.


"Salaam Uncle." kata Juwita pada putrinya. Gadis kecil itu mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Lee.


"Siapa namanya cantik?" tanya Mr. Lee sambil menoleh kebelakang dimana gadis kecil itu duduk.


"Lola, uncle." jawabnya dengan suara imut.


"Lola mau ikut uncle ke S'pore tidak?" tanya Lee bercandai Lola.


"Lola belum libur uncle." jawab Lola sopan.


"Nanti kalau libur susul uncle ke S'pore sama Mama ya." Lee mulai membuka hati rupanya, Juwita tersenyum saja pikirnya Mr. Lee bercandai Lola.


"Apa Lola punya passport?" tanya Lee pada Juwita.


"Belum, kami belum pernah keluar negeri." kata Juwita jujur.


"Besok kamu bikin sama Lola juga. Karena saat saya di S'pore pasti akan ada masanya kamu ditugaskan oleh Anto untuk menemui saya terkait pekerjaan." kata Lee pada Juwita.


"Oh iya." jawab Juwita tersenyum.


"Nah kalau kamu ditugaskan Anto, ajak saja Lola biar sekalian jalan-jalan. Kasihan dirumah terus tunggu Mama pulang kerja, sekali waktu boleh ikut Mama tugas keluar negeri kan." Lee terkekeh dan mulai melajukan kendaraannya menuju bandara.


Sesampainya di Bandara, supir Mr. Lee sudah standby menunggu bossnya. Juwita jadi bingung, kenapa supirnya bisa ada di Bandara lebih dulu, mungkin ada pekerjaan yang harus diurusnya, sehingga tidak membuang waktu karena Mr. Lee harus antar Juwita menjemput Lola.