Never Say Never

Never Say Never
Meadley



Suasana bertambah panas dengan lagu meadley yang Oma nyanyikan, sekarang bukan saja Oma dan Opa yang berjoget, para cucu juga ikut berjoget, tentu saja Oma tambah semangat bernyanyi, lupa dengan dengkul yang kalau malam sudah mesti dibalur minyak gosok.


Mario menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan rombongan anak muda dan rombongan yang pernah muda asik bernyanyi dan berjoget, tadi ia sudah bingung saja saat tiba dirumah bersama para sahabatnya, rumah tampak sepi tidak berpenghuni, hanya ada pekerja saja yang berseliweran.


Padahal harapan Mario ia disambut hangat kedua orang tuanya, ternyata Mario salah, Papa dan Mamanya sudah seperti cacing kepanasan, menari kesana kemari, awas saja kalau nanti mengeluh capek, pikir Mario sambil tertawa dalam hati.


"Lihat tuh Nyokap Bokap kita." kata Anto terbahak menepuk pundak Mario. Mario ikut berjoget menirukan gaya Mami dan Papinya. Mereka semua terbahak, Alex menggelengkan kepalanya, belum saja orang tuanya bergabung bisa tambah seru lagi.


"Ah kenapa berdiri didepan pintu, masuk saja kalau mau bergabung." kata Papinya Alex yang baru saja tiba bersama Maminya, Langsung saja yang lain minggir mempersilahkan Opa dan Oma lewat, seperti lagi ke diskotis pada zamannya saja ada yang berdiri ngobrol didepan pintu. Lengkaplah kalau sudah begini, pasti bisa lupa makan.


"Silahkan Papi, Mami." sapa Reza sopan pada orang tua sahabatnya, mereka terkekeh dan langsung masuk sambil berjoget mengikuti irama yang ada, benar-benar lupa sama penyakit yang ada.


"Langsung sehat Itu Papi dan Mami." kata Monik pada Alex sambil terbahak.


"Iya hiburan mereka disaat berkumpul." kata Alex ikut terbahak.


Dugaan Alex ternyata salah, makanan mulai berdatangan ke ruang karaoke, buah dan sayuran juga berlimpah ruah. Semua ikut menikmati hidangan sambil menonton pertunjukan yang ada. Akhirnya rombongan Papa Mama ikut masuk, tidak tahan juga tidak bergabung dengan yang lain. Masuknya mereka disambut meriah, langsung saja memberikan Mic pada Andi agar ikut bernyanyi.


Keseruan berlangsung hingga sore hari, mereka semua lupa waktu, walau tidak lupa sholat. Habis sudah hari itu mereka habiskan di ruang karaoke yang berubah menjadi private cafe.


"Istirahat dulu ya, Om dan Opa lelah." kata Oma Mega saat melewati Romi.


"Bagaimana tidak lelah, Oma gayanya melebihi anak disco tahun 90an." kata Romi membuat Opa terbahak.


"Sekarang sudah insaf." jawab Opa menunjuk Oma. Oma menggelengkan kepalanya saja malas berkomentar, rasanya lelah sekali.


"Kalian katanya nanti malam mau keluar? lebih baik istirahat, besok Steve dan Ayu harus terlihat fresh." Oma mengingatkan.


"Iya Oma, lihat nanti bagaimana jadinya." jawab Romi pada Oma Mega.


Perlahan semua mulai meninggalkan ruangan dan masuk kedalam kamar masing-masing.


"Steve, kamarnya jangan terpisah begini dong, gabung saja perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki." pinta Ayu pada suaminya.


"Kamu tidak mau tidur sama aku?" tanya Steve.


"Bukan begitu, tapi aku rindu ngobrol dan begadang sama mereka cewek-cewek, hanya satu malam kan mereka disini." rengek Ayu pada Steve.


"Besok di Phi Phi Island kamu minta satu kamar dengar mereka lagi?" tanya Steve pada istrinya.


"Tidak sayang, masa honeymoon minta pisah kamar sama suami sih." Ayu merayu dengan memeluk suaminya.


"Kita duluan saja honeymoonnya." Steve terkekeh membalas pelukan Ayu bahkan lebih erat lagi, lalu mulai menjelajah dengan rakusnya, mana mau Steve melepaskan Ayu ke kamar lain jika do otaknya selalu ingin bersama Ayu.


"Bikin anak dulu." bisik Steve disela aktifitasnya mengerjai Ayu.


"Steve..." Ayu mulai hanyut dalam permainan Steve.


"Besok pesta jangan kuyu, kata Oma." Ayu mengingatkan Steve, tapi sepertinya percuma, Steve sangat konsen dengan setiap jengkal jelajahannya, terjadilah apa yang Steve inginkan.


Ayu terkulai lemah, lupa keinginannya untuk berkumpul dalam satu kamar dengan sahabatnya, ide sesaat yang untungnya belum Ayu sampaikan pada sahabatnya.


"Ngantuk." jawab Ayu dengan mata terpejam, Steve tertawa dan kembali menciumi Ayu agar hilang rasa kantuknya.


"Ngantuk Steve." Rengek Ayu dengan manjanya, membuat Steve berhenti tidak lagi mengganggunya.


"Lima belas menit sebelum magrib aku bangunkan ya." bisik Steve mengecup pipi ayu.


"Hu uh." jawab Ayu kemudian tertidur pulas.


Steve bangkit dari tidurnya, ia harus cepat mandi karena ia tuan rumah yang harus menjamu tamunya, mana mungkin ditinggal di kamar begitu saja didalam kamar, setelah mandi Steve kembali bergabung dengan para sahabatnya yang sudah berkumpul dengan Mami, Papi dan semua tamu yang ada. Mereka ikut sibuk melihat lokasi acara Steve esok hari.


"Banyak juga tamu yang diundang?" tanya Romi pada Steve.


"Tidak tahu, yang aku tahu kita-kita saja, selebihnya tamu Opa dan rekan bisnisnya." jawab Romi, tapi heran juga melihat hiasan mewah berwarna silver penuh bunga mulai terpasang. Walau belum selesai seluruhnya tapi sudah terlihat dan terbayang nantinya seperti apa.


"Sepertinya pesta besar." Arkana mentertawakan Steve. Diantara mereka berenam, berarti hanya Steve yang mengadakan resepsi pernikahan yang super mewah.


"Opa tidak sesuai ucapannya nih, dia bilang hanya pesta sederhana mengundang kerabat dan rekan bisnis terdekat." sungut Steve. Semuanya terbahak, mana mungkin pesta sederhana, semua juga tahu siapa Opa Santoso, pengusaha terkenal di Indonesia yang menetap di Singapore. Perumahan besar milik Opa saja sudah terjual pada ribuan orang di Indonesia di berbagai lokasi, belum lagi bisnis lainnya yang dipegang Steve dan Mario saat ini.


"Apa sempat berangkat ke Phi Phi Island, kalau tamu banyak mana mungkin ditinggal." kata Raymond pada Steve.


"Tinggal saja itu kan tamunya Opa. Gue cuma bisa temani sampai sebelum kita berangkat." jawab Steve.


"Coba pastikan dulu, kalau tidak jadi berangkat masih bisa dibatalkan." kata Raymond pada sahabatnya. Mana bisa menolak nanti kalau Opa suruh tinggal, mau jadi cucu durhaka memangnya.


"Opa, tamunya berapa banyak, ini mewah sekali." kata Steve begitu mendekat pada Opa yang sedang asik ngobrol dengan sahabatnya.


"Paling seratus atau dua ratus orang." jawab Opa Santoso, Steve pun mengangguk.


"Aku kan besok sore ke Phi Phi Island, Opa ingat kan?" Steve mengingatkan.


"Iya Opa ingat."


"Kalau tamu belum pulang apa boleh kutinggal?" tanya Steve.


"Mungkin kamu yang Opa tinggal, karena Opa juga mau liburan sama Oma." jawab Opa tertawa.


"Ih Opa mau kemana?" tanya Steve penasaran.


"Thousand Honeymoon dong." sahut Oma Mega. Steve terkekeh, meski sudah tua banyak sekali gaya para Opa dan Oma ini.


"Mami dan Papi ditinggal dong?" kata Steve kasihan juga sama Mami dan Papinya.


"Biarkan saja mereka juga punya acara sendiri." jawab Opa.


"Mereka tahu tidak kita besok mau pergi?" tanya Steve.


"Kamu cerewet sekali, kalau kasihan sama Papi Mamimu, ajak saja dia honeymoon bersama kalian." ketus Opa membuat Steve terkekeh meninggalkan Opanya yang ikut terkekeh, kemudian mengedipkan mata pada sahabatnya.