Never Say Never

Never Say Never
Anak



Satu tahun berlalu, Romi dan Anggita sudah pindah kerumah baru beberapa bulan yang lalu, hanya mereka berdua dan beberapa orang pekerja dirumah itu. Rumah impian Anggita yang tidak begitu besar tapi mempunyai halaman yang luas.


Hanya ada empat kamar dirumah mereka, kamar Utama, kamar untuk kedua orang tua ataupun Oma dan Opa mereka jika menginap nanti dan kamar untuk calon anak mereka jika Allah memberikan amanah itu pada keduanya. Untuk kamar para pekerja Romi membangun paviliun dibelakang rumah Utama, jadi mereka tidak bergabung dengan Romi dan Anggita, hanya jika jam kerja atau saat dipanggil saja mereka masuk kerumah utama.


Sampai saat ini Anggie belum juga hamil, beberapa kali ia meminta Romi agar mereka melakukan program hamil, tapi Romi menolak. Entahlah mungkin Romi masih menikmati masa-masa pacaran setelah menikah.


"Nanti saja sayang, baru juga setahunan kita belum punya anak, pasangan lain yang sudah bertahun-tahun saja masih santai, kita tunggu saja, pasti ada gilirannya." jawab Romi ketika pagi ini ia mengajak Romi untuk ke dokter kandungan.


"Sosa, Ayu dan Risa sudah hamil Rom, masa aku belum." sungut Anggita khawatir sendiri, selain itu Anggita memang ingin sekali punya momongan, walaupun dikantor saat ini Anggita sudah lebih sibuk dari sebelumnya. Ia benar-benar membuktikan ucapannya pada Mommy Liana jika akan bekerja secara professional.


"Kamu lupa ya itu semua titipan Allah, terserah Allah mau kasih sama siapa lebih dulu, kita sabar saja. Roma juga belum hamil kok dia santai saja tuh. Jangan dibawa stress sayangku." Romi memeluk istrinya dan mengecup pucuk kepalanya.


"Kamu belum mau punya anak ya?" tanya Anggita curiga.


"Siapa yang tidak mau sih, kita usaha terus loh, hasilnya tetap serahkan pada Allah." jawab Romi santai, menggandeng tangan istrinya menuju meja makan. Suaminya ini seperti tanpa beban, pikir Anggita.


"Iya, tapi Mama Intan mau punya cucu dua dari kamu kan." Anggita mengingatkan suaminya.


"Bertahap dong, sekarang kan sedang on the way calon anak pertama Sosa dan Naka. Itu juga sudah bikin Mama dan Papa senang." jawab Romi sambil menikmati sarapan paginya.


"Jangan terlalu dipikirkan, kalau sudah saatnya kita pasti punya anak." jawab Romi tersenyum pada Anggita.


"Paling tidak kita periksa apakah ada masalah atau tidak." kata Anggita lirih.


"Kamu khawatir salah satu dari kita bermasalah?" tanya Romi pada istrinya. Anggita menganggukkan kepalanya pelan tanpa memandang suaminya, ia tidak bernafsu untuk sarapan pagi ini.


"Mau supaya tidak bermasalah?" tanya Romi, kembali Anggita menganggukkan kepalanya.


"Makan..." Romi menyodorkan sendok berisi nasi goreng kemulut Anggita, mau tidak mau Anggita menerima disuapi suaminya.


"Mesti sarapan, karena pagi ini energi kamu terkuras." Romi terkekeh terus saja menyuapi istrinya bergantian sampai makanan itu habis tak bersisa dipiring mereka.


"Hari ini kamu kemana?" tanya Anggita pada Romi saat dalam perjalanan ke kantor. Tugas rutin Romi mengantar istrinya lebih dulu sebelum lanjut ke kantornya sendiri.


"Kunjungan ke Om Lee." jawab Romi yang sekarang sudah ikutan memanggil Mr. Lee seperti Anggita.


"Bertemu Anderson dong." Anggita langsung senyum-senyum.


"Kenapa memangnya? kalau sudah sebut Anderson langsung senyum-senyum, bikin cemburu saja." kesal Romi pada Anggita.


"Anaknya lucu, aku kalau ingat dia selalu ingin tertawa. Dia cocok sama Wilma, sayang Wilma masih kecil." kata Anggita terkekeh.


"Bagaimana sih sebentar mau dijodohkan sama Moza, sekarang sama Wilma." Romi ikut terkekeh.


"Anderson bagaimana yang, setiap bertemu Moza?" tanya Anggita ingin tahu.


"Jaga Image sepertinya, beda sekali saat bertemu kamu." jawab Romi mengernyitkan dahinya.


"Beda bagaimana?"


"Dia selalu ketus sama Moza." jawab Romi apa adanya.


"Mungkin karena tahu Om Lee tertarik sama Moza." jawab Anggita, pagi ini mereka ghibah deh bahas Om Lee, Anderson dan Moza.


"Mungkin juga." Romi terkekeh.


"Sukanya sama Moza, kamu malah sodorkan Juwita, beda jauhlah."


"Maksud kamu apa beda jauh?" langsung saja Anggita sewot.


"Moza kan masih single, Mbak Juwita janda anak satu. Itu saja sudah beda, kalau penampilan ya itu sih relative, tapi semua orang juga bisa lihat kalau Moza lebih fashionable." Romi menjelaskan.


"Jadi kamu lebih tertarik sama Moza ya?" tanya Anggita tambah sewot.


"Mr. Lee bukan aku, kalau aku tertariknya sama kamu dong." jawab Romi menyeringai sambil fokus menyetir. Anggita menarik nafas panjang.


"Sayang, kalau mau kamu rubah tampilan Mbak Juwita, baru deh mulai aksi kamu jodohkan sama Om Lee." kata Romi kemudian.


"Memang Mbak Juwita kenapa, kalau sudah kenal dia itu menyenangkan loh. Orangnya juga cantik." Anggita membanggakan Juwita.


"Tapi kan lelaki itu yang dilihat selalu luarnya dulu, apalagi ya Mr. Lee sudah lihat penampilan dan kinerja Moza. Banyak yang tertarik sama dia, kecuali aku." jawab Romi yakin.


"Mozanya hanya tertarik sama kamu." sungut Anggita kesal.


"Semua wanita dikantor tertarik sama aku." jawab Romi membuat Anggita kesal, langsung saja dipukulnya bahu Romi.


"Sakit sayang."


"Menyebalkan." dengus Anggita kesal.


"Bangga dong, suami kamu banyak yang suka tapi cuma kamu juaranya." kata Romi cengar-cengir, sebal sekali Anggita kalau suaminya sudah narsis begini, tapi memang begitu adanya, jadi Anggita cuma bisa kesal.


"Terima kasih sayangku." kata Anggita akhirnya, daripada sewot lebih baik mesra-mesraan, demi hati Anggita juga biar bahagia sepanjang hari.


"Sama-sama sayang, jangan genit-genit dikantor ya." pesan Romi saat menurunkan istrinya dilobi kantor.


"Tidak pernah genit." jawab Anggita pasti. Romi mengacungkan jempolnya, mulai meninggalkan kantor istrinya begitu Anggita sudah memasuki gedung kantornya.


Romi menarik nafas panjang, keinginan Anggita untuk punya anak begitu kuat, apa sebaiknya ikuti saja untuk ke dokter kandungan ya. Sebenarnya Romi malas sekali berhubungan dengan dokter, ingat beberapa temannya yang program hamil, istrinya pasti kesakitan saat dimasukkan alat kedalam untuk memeriksa kondisi kandungannya.


"Mending tidak usah ke dokter, akan melebar Rom, nanti harus ini, itu. Sakit tahu. Belum lagi perubahan hormon badan melebar entah wajah jerawatan." kata Vivi kakak Vita yang sudah beberapa tahun ini program hamil, pernah beberapa kali ikut program bayi tabung tapi gagal. Vita sendiri saat ini sedang hamil, tapi Romi tidak beritahu istrinya, bisa ribut lagi dia kalau dengar berita itu.


"Romi, ditunggu Pak Anto diruangan." sambut Vita saat Romi memasuki ruangannya.


"Ada apa, Vit?" tanya Romi ingin tahu, jika masalah pekerjaan biasanya Vita sudah tahu kenapa Romi harus menemui Papanya.


"Ada Mr. Lee dan Mr. Anderson sih diruangan Pak Anto." jawab Anggita membuat Romi menganggukkan kepalanya. Cepat sekali Mr. Lee datang, sepagi ini.


"Rom..." panggil Vita lagi. Romi membalikkan badannya sebelum keluar ruangan.


"Anak gue ngefans sama Anderson nih kayanya, bisa kali nanti Anderson suruh pegang perut gue." pinta Vita membuat Romi menggelengkan kepalanya.


"Ijin dulu sama Felix." kata Romi tidak mau Felix salah sangka.


"Ya mana dikasih kalau begitu." sungut Vita kesal.


"Kalau tidak dikasih ya jangan." ketus Romi lebih galak dari Felix kalau begini.


"Duh ileran deh anak gue." kata Vita saat Romi menjauh tapi masih terdengar, langsung saja Romi terbahak, ampun deh jangan sampai kalau Anggita hamil seperti Vita juga.