
Romi mengajak Anggita untuk berkeliling memilih makanan yang akan mereka santap, semua jenis makanan ada disana, mereka boleh makan sepuasnya asal saja perut mereka sanggup.
"Maaf sayang, Opa dan Oma memang suka begitu." kata Romi saat mereka sudah menjauh dari meja tempat Opa dan Oma duduk.
"Tidak apa, tadi aku kasihan lihat kamu dipukuli pakai tongkat." Anggita terkekeh.
"Tidak sakit sih, tapi terima kasih loh kamu sampai menangis." Romi tertawa senang.
"Ish..." Anggita bersungut.
"Sayang betul kamu ya sama aku, sampai tidak mau lihat aku menangis." Romi merangkul Anggita agar badan istrinya menjadi lebih rapat dengannya. Anggita senyum-senyum saja jadinya.
"Kupikir aku tidak akan pernah menangis untuk kamu sayang, eh ternyata sudah dua kali loh aku menangis karena kamu.
"Dua kali?" Romi mengernyitkan dahinya memandang Anggita.
"Iya, waktu kamu mau menyerah dulu ingat tidak?" Anggita mengingatkan Romi.
'Hu uh." senyum Romi bertambah lebar saja.
"Sama hari ini, melihat kamu disiksa." Anggita terbahak menoleh ke meja dimana Oma dan Opa duduk, tampak mereka serius bicara, entah apa yang dibahas.
"Hahaha terima kasih sayang, Never say Never lah, apa yang kita kira tidak mungkin itu tapi Allah bilang mungkin, maka terjadilah."
Mereka mulai memilih makanan yang diinginkan, karena Anggita suka sayur, ia memilih menu aneka macam sayur tanpa nasi, juga ikan bakar dan goreng tepung.
"Kamu makannya begitu saja?" tanya Romi.
"Nanti kalau kurang ambil lagi." jawab Anggita terkekeh.
Begitu kembali Ke meja, tampak Anto dan Intan sudah bergabung. Mereka tertawa melihat Romi dan Anggita.
"Bagaimana rasanya dipukul pakai tongkat?" tanya Intan pada Romi.
"Parah, kekerasan terhadap cucu." jawab Romi bersungut, Opa hanya mencibir saja.
"Lebih sakit dijewer Opa rasa, kuping kamu masih merah sampai sekarang." kata Opa Ismail menunjuk kuping Romi.
"Opa dan Oma pilih kasih, Sosa dan Naka mana pernah disiksa begini." Romi mencibir.
"Istriku sampai menangis, Ma." adu Romi pada Intan.
"Kenapa kamu menangis, yang dipukul kan Romi." kata Intan tertawa.
"Kasihan, Ma. Lihat Romi kesakitan." jawab Anggita memandang suaminya.
"Tidak salah pilih istri kan aku." Romi menaikkan alisnya bangga. Anto tertawa saja melihat putra sulungnya. Oma dan Opa juga Mama dan Papa mulai menyantap makanan yang diantar kemeja mereka, demikian juga Romi dan Anggita.
"Jadi kami setelah menikah nanti atas kemauan orang tua Anggita, tinggal di rumah mereka, padahal aku maunya do apartment." kata Romi setengah mengadu.
"Sementara ikuti saja dulu, itu maunya Liana." kata Intan pada Romi.
"Sampai kapan Mama?"
"Sampai Liana siap pisah rumah dengan Anggita." jawab Intan terkekeh.
"Mungkin apa yang aku rasakan sama dengan yang Naka rasakan." kata Romi memandang Mama.
"Kenapa?"
"Mama memaksa Naka dan Sosa untuk tetap tinggal di rumah Mama dan Papa. Aku jadi kena karma." sungut Romi membuat Anto terbahak.
"Kalau Naka bukan Mama saja sih yang memaksa untuk tinggal dirumah kita, Papamu juga nih, tidak mau pisah dengan anak kesayangannya itu." kata Intan tertawa memandang Anto.
"Bukan begitu, kalau tinggal dirumah kan gampang koordinasinya, apalagi kami suka ke luar negeri bersama. Nakanjuga tidak keberatan kan." kata Anto tersenyum lebar.
"Lagi pula kalau kalian semua pindah, Mama dan Papa hanya berdua saja, kamu tega." sungut Intan memandang Romi.
"Opa dan Oma juga berdua saja tuh." kata Romi menunjuk kedua Opa dan Omanya.
"Iya tidak masalah, kan banyak pegawai di rumah, kalau anak tidak bisa diharapkan." sindir Oma Mega memandang Anto.
"Ah Mama kalau satu rumah sama Intan itu bisa rusuh, aku hanya menjaga supa semua baik-baik saja." kata Anto berkelit.
"Rusuh bagaimana sayang?" tanya Intan tidak mengerti.
"Kamu berisik, Mama berisik apa tidak pusing Papa menghadapi kalian berdua, iya kan Pa. Kita pernah bahas kan?" Opa pura-pura tidak mendengar.
"Hehehe kan saya tidak melarang kamu berisik sayang." Opa mulai merayu Oma Mega.
"Tapi menghindar hahaha." Romi mentertawakan Opa dan Omanya.
"Suami macam apa itu?" Romi memprovokasi Oma.
"Romi, jangan cari gara-gara." Opa melotot pada Romi.
"Tapi boleh lah ditiru, terbukti rumah tangga Opa dan Oma langgeng kan." kata Anggita menengahi.
"Nah itu maksud Opa." Opa senang sekali ada yang membelanya.
"Romi betul-betul pintar memilih istri." Opa Ismail terkekeh.
"Kalau Oma berisik tidak Opa?" tanya Romi pada Opa Ismail.
"Ada masanya berisik dan Opa suka itu." Opa tampak menyeringai, Anto menggelengkan kepalanya, mertuanya ini memang paling bisa.
"Berisik yang bagaimana yang Opa suka?" tanya Anggita pada Opa.
"Hahaha kamu salah tanya begitu sama Opa, Nak." Anto langsung saja terbahak.
"Nanti kalau sudah gol, kamu akan tahu berisik yang bagaimana yang Romi suka." Opa langsung saja to the point. Anggita langsung menutup wajahnya, malu sekali.
"Jadi kamu belum gol, Rom?" ampun deh Mama malah mempertegas.
"Kalah kamu sama Steve dan Ayu." kata Mama lagi.
"Ih Mama tahu-tahunya Steve dan Ayu sudah gol." Romi menggelengkan kepalanya.
"Mama kan tanya sama Mama Pipit." kata Intan polos, tentu saja Anggita bertambah merah padam.
"Apa perlu ditanya yang seperti itu?" tanya Anggita tidak habis pikir.
"Perlu lah, kan biar tahu, jadi tidak sabar kan menunggu kehadiran cucu." Intan mulai menghayal.
"Belum juga dibikin, Ma. Sudah menunggu cucu saja." Romi terkekeh, Opa dan Oma langsung rusuh.
"Nanti kalau cucunya laki-laki saya yang kasih nama ya." kata Opa Ismail pada besannya.
"Tidak bisa dong, harus kami yang kasih nama." kata Oma Mega menolak.
"Ish belum lahir saja sudah ribut." dengus Romi kesal.
"Nah itu kan tahu kenapa Opa suka menghilang, apa saja dibikin ribut." Opa langsung tertawa.
"Ini curcol kah Opa?" tanya Oma menatap tajam suaminya.
"Hahaha tidak sayang." Opa masih saja terbahak.
"Jadi jangan ribut ya Opa dan Omaku. Kalau anaknya lahir yang kasih nama itu Romi, karena Romi bapaknya." tegas Romi pada Opa dan Omanya.
"Kamu ini baru punya istri satu hari saja sudah sombong." ketus Oma Mega pada Roma.
"Yah Oma, lagipula kenapa Oma yang ingin memberi nama pada anak kami nanti?" Romi bertanya sungguh ingintahu.
"Karena Papamu bukan kami yang kasih nama." kata Oma cemberut.
"Oh ya, siapa Pa?" tanya Romi pada Papanya, Anto cengengesan saja.
"Orang kelurahan." kata Opa ikut cemberut, sontak semuanya terbahak.
"Kenapa begitu?" tanya Romi lagi.
"Jadi saat mau bikin akte Opa masih bingung mau dinamakan siapa, sementara pegawai kelurahan sudah tidak sabar, Opa terlalu lama duduk dikantor kelurahan." Papa menjelaskan sambil tertawa.
"Hahaha bisa begitu Opa."
"Ya karena terlalu lama langsung saja dia ketika Anto, Untuk saja ganteng." kata Oma memandang anaknya.
"Iya sudah ganteng, banyak duit lagi." sahut Intan membuat Oma terbahak, ia paling suka dengan menantunya ini, bicara ceplas ceplos apa adanya. Sayang saja Anto tidak mau tinggal bersama mereka.
"Oma juga suka kalau Opa banyak duitnya." kata Oma Mega pada Romi.
"Ah Oma sama Mama mengajarkan Istriku yang tidak-tidak." keluh Anto memandang Oma. Anggita tertawa membelai pipi suaminya.