
"Pulang?" ajak Romi pada istrinya, ia kembali bersama Arkana dan Chico.
"Yuk." ajak Anggita, ia sudah lelah karena dari tadi sudah aktifitas, sekarang saatnya istirahat.
"Mommy?" tanya Wilma.
"Mommy masih mau disini, kita disuruh pulang lebih dulu." kata Romi tersenyum.
"Aku takut." Anggita menggeleng tidak mau pulang duluan.
"Takut apa?" tanya Romi.
"Sambada." Anggita meringis.
"Oh, itu sih tenang saja, tidak akan muncul." jawab Romi menenangkan istrinya.
"Lagipula Daddy sudah minta teman-temannya untuk berjaga-jaga disekitar rumah." kata Arkana ikut menenangkan Anggita.
"Seperti di film-film nih seru." Wilma terkekeh, anak ini seperti tidak ada takutnya.
"Ayo pulang, begitu saja takut." kata Wilma lagi pada Kakaknya.
"Kamu berani?" tanya Anggita.
"Takut juga sih, tapi lebih takut sama Allah." katanya lagi membuat Romi dan Arkana tertawa. Arkana mengacak anak rambut sepupunya ini.
"Kecil-kecil cabe rawit." kata Arkana tertawa.
"Bagi duit dong." Wilma mengadahkan tangannya pada Arkana dan Chico.
"Kecil-kecil suka memeras." kata Arkana lagi membuat semuanya terbahak. Setelah mendapatkan uang jajan dari Arkan dan Chico, Wilma pun kembali menarik Kakaknya.
"Kita berdua saja yang dimintai duit, itu si Romi lebih banyak duitnya dari kita loh." Arkana memprovokasi.
"Takut gue sama istrinya." Wilma melirik Kakaknya, kembali ketiganya mentertawakan kelakuan Wilma.
"Sudah ku kasih jatah bulanan masih mau memeras suamiku? ku jewer saja kupingnya." kata Anggita sok galak.
"Tuh lihat sendiri kan. Dia beraninya sama aku saja, tadi sama Sambada ketakutan." Wilma mendengus kesal, lagi-lagi yang lain tertawa.
Anggita dan Wilma pun akhirnya mengikuti Romi pulang lebih dulu sesuai arahan Daddy Leo. Mereka tiba dirumah sekitar pukul setengah sepuluh malam, lebih malam dari perkiraan karena menjelang pulang ada pembicaraan serius. Hal yang ditakuti Anggita tidak terjadi, hanya saja ia sudah tegang duluan. Saat membuka turun dari Mobil saja ketakutan membayangkan Sambada tiba-tiba ada disekitaran rumah.
"Sayang, jangan tegang begitu. Hadapi saja kita kan belum tahu juga dia maunya apa?" Romi merangkul bahu Anggita, sementara Wilma sudah masuk duluan tidak sabar melihat Anggita yang jalannya pelan menurut Wilma, terang saja Wilma berlari alias ngibrit rupanya dia juga takut.
"Dia tidak mau lihat Mommy bahagia, Rom." kata Anggita meringis, ia bergidik ngeri.
"Kamu dengar sendiri cerita Mommy?" tanya Romi.
"Tidak, Wilma yang mendengarnya." jawab Anggita.
"Rom, aku mau kursus bela diri." pinta Anggita.
"Untuk apa?"
"Kalau Sambada tiba-tiba muncul dihadapanku dan Mommy, aku bisa lindungi Mommy." jawab Anggita. Romi menganggukkan kepalanya, ia mengikuti kemauan istrinya, memang dirasa perlu, jika berhadapan dengan orang jahat, entah Sambada atau siapapun.
"Nanti aku hubungi Sahabatku Felix, dia jago taekwondo, kamu bisa belajar sama dia dikantorku."
"Felixnya Vita?" tanya Anggita yang sudah pernah bertemu dengan Felix saat mereka makan siang berempat.
"Iya, Wilma juga sekalian saja." kata Romi, mereka sudah berada dikamar saat ini.
"Oke sayang." Anggita langsung memeluk suaminya dan menciumi Romi bertubi-tubi.
"Sayang, aku mandi dulu." kata Romi terkekeh.
"Nanti saja." kata Anggita kembali menciumi suaminya. Tentu saja Romi senang, kalau sudah begini terjadilah apa yang selalu Romi inginkan.
"Mommy dan Daddy pulang jam berapa?" tanya Anggita yang sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Jam dua belas sampai dirumah." jawab Daddy Leo memandang Anggita.
"Bagaimana masalah teman Mommy?" tanya Anggita khawatir. Liana memandang Leo tertangkap boleh mata Anggita.
"Tenang saja, itu bukan masalah besar." kata Daddy santai.
"Bukan masalah besar bagaimana, kalau mengancam kenyamanan Mommy dan keluarga kita?" sungut Anggita.
"Iya sayang, akan Daddy hadapi kamu jangan khawatir." Leo terkekeh melihat keresahan anaknya.
"Daddy masih bisa tertawa." sungut Anggita.
"Daddy tahu siapa Sambada. Sudah lah jangan merusak harimu." Leo menggeser piring kosong ke arah Anggita agar anaknya mulai sarapan pagi.
"Romi, apa kamu tidak berhasil menenangkan istrimu?" tanya Daddy pada Romi yang sedari tadi menyimak saja.
"Semalam sudah tenang, entah kenapa pagi ini mulai resah lagi." jawab Romi menatap Anggita.
"Aku pikirkan Mommy yang dirumah hanya ditemani asisten sementara kita semua dikantor, belum lagi Wilma yang pikirannya kamu tahu sendiri." Anggita merengut.
"Daddy sudah kerahkan orang kepercayaan Daddy untuk menjaga Mommy. Tenang saja sayang, kita berdoa saja."
"Iya... Mommy, tidak apakah Mommy sendiri dirumah?" tanya Anggita.
"Banyak orang disini, Mommy tidak sendiri. Kamu jangan khawatir." Liana menenangkan sulungnya. Anggita menatap Mommy dalam, ia mencari tahu apa benar Mommy setenang itu atau sebenarnya Mommy juga takut hanya tidak diungkapkan.
"Sayang, jangan terlalu khawatir. Serahkan pada Allah. Kita tidak akan kuat jika menggunakan energi kita." kata Romi pada Anggita.
"Betul apa yang Romi bilang tuh, kamu dengarkan suami kamu. Mommy pasrah saja bagaimana jadinya. Semua serahkan pada Allah." Liana mengangguk setuju.
"Mom, yang aku khawatir itu, teman Mommy dendam karena keluarga kita yang jebloskan dia ke penjara."
"Bukan keluarga kita. Dia di penjara karena memang ulahnya sendiri. Saat polisi akan menangkapnya dia kedapatan membawa Narkoba. Bukan kita yang kasih dia Narkoba itu sayang, itu memang bisnisnya dia." Leo menjelaskan.
"Tapi kenapa dia marah?" tanya Anggita
"Daddy tidak tahu, mestinya puluhan tahun di penjara dia instropeksi, banyak kesalahan yang sudah dia buat termasuk memperalat Mommy kamu." kata Leo pada Anggita.
"Lagi Mommy kenapa bisa kenal orang seperti itu sih." sungut Anggita, Liana tersenyum saja, tersenyum miris sih yang pasti.
"Daddy juga, kenapa terlambat datang temui Mommy, sebelum orang itu kenal Mommy harusnya kenal Daddy dulu. Aku yakin kalau Daddy datang lebih cepat, Mommy tidak akan mau kenal dengan Sambada itu." dengus Anggita kesal, Leo dan Liana tertawa geli mendengar sulungnya menyesali pertemuan mereka yang terlambat.
"Kalau Daddy datang lebih cepat, belum tentu Mommy mau sama Daddy." Leo terkekeh.
"Kenapa begitu?" Anggita tidak mengerti.
"Sayang, Papi Mario saja salah satu orang yang Mommy kamu tolak, apalah Daddy ini." Leo terbahak melirik istrinya, Liana lagi-lagi tersenyum malas berkomentar.
"Betul, Mommy tolak Papi Mario dulu?" tanya Anggita tidak percaya, Liana memonyongkan bibirnya memandangi Leo kesal, pakai bawa-bawa Mario lagi.
"Mommy ih tidak jawab." keluh Anggita, Romi terkekeh jadinya, istrinya pagi ini cerewet sekali.
"Seganteng itu Mommy tolak, kaya lagi. Aduh aku sih bingung sama Mommy." Anggita menggeleng tidak percaya.
"Kalau Mommy terima, kamu, Wilma dan Steve tidak ada loh. Mau tidak jadi anak Mommy?" tanya Liana pada Anggita.
"Anak siapa aku jadinya?" tanya Anggita konyol.
"Mana Mommy tahu, anak Sambada kali." jawab Mommy Liana lebih konyol.
"Tidak Mau!!!" jawab Anggita cepat, semua langsung saja mentertawakan Anggita yang seketika langsung bergidik ngeri, membayangkan ia punya Daddy seperti Sambada yang tertangkap membawa Narkoba.