Never Say Never

Never Say Never
Bukan Cinta



"Kamu habis antar Vita ke rumah sakit ya?" tanya Anggita pada suaminya ketika mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Kok kamu tahu?" tanya Romi, padahal ia tidak mau cerita, apalah daya istrinya sudah tahu lebih dulu.


"Tadi Anderson telepon aku, minta supaya Mbak Juwita diseriusi dengan Papanya, terus dia cerita deh tangannya sakit habis gendong Vita ke mobil waktu mau dibawa ke rumah sakit."


"Iya, Vita lagi hamil, dari pagi sudah bilang anaknya minta dielus sama Anderson, mungkin stres mau bilang apa sama Anderson jadi perutnya keram. Apa ada yang begitu ya?" Romi tidak habis pikir.


"Kamu tidak cerita Vita lagi hamil." protes Anggita pada suaminya.


"Lupa." jawab Romi acuh tak acuh.


"Itu berita penting loh, masa lupa." sungut Anggita.


"Penting buat siapa?" Romi terkekeh memandang sekilas pada istrinya lalu kembali fokus menyetir.


"Buat aku, tidak enak kan aku tidak ucapkan selamat sama Vita, nanti dikira aku tidak pedulian lagi."


"Nanti saja kalau bertemu ucapkan selamat." jawab Romi tidak mau memperpanjang bahasan tentang kehamilan Vita.


"Sudah berapa bulan sih?" tanya Anggita lagi, Romi mengedikkan bahunya.


"Nanti aku tanyakan Felix kalau memang itu penting buat kamu." jawab Romi malas. Ia tidak mau istrinya rewel lagi karena belum hamil sampai sekarang.


"Tidak usah." Anggita tersenyum melihat wajah malas suaminya.


"Tenang saja, aku tidak akan kesal karena Vita hamil lebih dulu dibanding aku." kata Anggita tersenyum.


"Gitu dong." Romi tersenyum senang.


"Tadi Mbak Juwita bertemu Om Lee, bagaimana tuh?" tanya Anggita lagi.


"Tidak tahu ya, kan aku sama Anderson keluar lebih dulu dari ruangan Papa." jawab Romi sabar menghadapi pertanyaan demi pertanyaan istrinya.


"Jadi Anderson bilang apa lagi?" gantian Romi yang bertanya pada istrinya sambil fokus menyetir.


"Dia bilang cepat jodohkan Papaku dengan Juwita, aku pusing." Anggita mencontohkan gaya bicara Anderson. Romi tertawa mendengarnya, sudah bisa bayangkan bagaimana pusingnya Anderson menghadapi Mr. Lee yang tidak professional karena jatuh cinta.


"Bagaimana mau dijodohkan kalau cintanya hanya untuk Moza." Romi terkekeh.


"Memangnya Moza itu luar biasa ya, sampai Om Lee melakukan apapun untuk dapatkan perhatian Moza?" tanya Anggita bingung.


"Mungkin menurut Om Lee begitu." jawab Romi tersenyum, ingat saat ia mengejar Anggita dulu. Tapi rasanya Romi tidak sebodoh Mr. Lee.


"Sayang, Anderson ajak kita bertemu nih." kata Anggita saat membaca pesan masuk di handphonenya.


"Dia dimana? kalau mau bertemu di Warung Elite saja." jawab Romi fokus memandang ke depan.


"Sebentar aku sampaikan." Anggita pun langsung menghubungi Anderson melalui handphonenya.


"Kamu dimana memangnya?" tanya Anggita langsung begitu Anderson mengangkat teleponnya.


"Masih dirumah, Kak Romi mau tidak bertemu?" tanya Anderson penuh harap.


"Mau, bertemunya di Warung Elite yang cabang Utama saja ya, dekat rumah kami." Anggita menawarkan, Restaurant andalan Anggita dan sahabatnya kalau janjian untuk kumpul bersama.


"Oke Kak, aku segera menuju kesana ya."


Romi meminta ruangan yang biasa ia pakai bersama sahabatnya dan juga meminta pegawai restaurant untuk mengarahkan Anderson keruangan tersebut, ruangan yang tertutup sehingga sangat aman jika ada pembicaraan rahasia, tidak akan didengar oleh pengunjung lain.


Sambil menunggu Anderson, pasangan suami istri ini memesan menu lebih dulu untuk mereka dan juga untuk Anderson sekalian. Guna mempersingkat waktu juga, saat Anderson datang nanti mereka tinggal menikmati tanpa harus menunggu lama.


"Maaf menunggu lama kakak." sapa Anderson saat masuk keruangan dengan senyum mengembang dibibirnya.


"Santai saja, makanan juga belum datang." jawab Anggita terkekeh, diluar prediksi Anderson tiba lebih cepat. Romi senyum saja menyambut Anderson.


"Bagaimana Kak Vita?" tanya Anderson pada Romi.


"Tadi sih begitu suaminya datang aku langsung pulang, belum tahu berita terkini, kata Anggie tangan kamu sakit?" jawab Romi lalu balik bertanya.


"Iya aga sedikit memar, sudah lama tidak angkat berat. Mesti latihan lagi, nanti kalau punya istri bagaimana menggendong istriku." Anderson tertawa sambil menggerakkan tubuhnya.


"Kamu mesti latihan olah raga angkat beban." Anggita tertawa geli membayangkan Anderson ikut cabang olah raga itu. Anderson memonyongkan bibirnya saja memandang Anggita dan Romi, seperti anak kecil, siapa sangka ia pimpinan perusahaan ditempatnya bekerja.


"Jadi kamu mau bahas apa sih sampai ajak kita bertemu?" tanya Anggita pada Anderson, langsung pada pokok permasalahannya. Sebenarnya sudah tahu pasti Anderson mau membahas perjodohan Papanya.


"Juwita, apa dia orang yang tepat untuk Papa?" tanya Anderson pada Anggita. Seperti yang Anggita duga.


"Kamu cari info tentang Juwita ya rupanya, menurut aku sih tepat ya. Entah kenapa aku lihat Moza itu tidak tertarik sama sekali dengan Om Lee, malah dia lebih tertarik sama suamiku." kata Anggita melirik pada suaminya.


"Jangan mengarang sayang." kata Romi pada istrinya, suka sekali memancing nanti ujungnya dia emosi sendiri.


"Sebenarnya kan Om Lee mau sukansama siapapun itu hak beliau, An. Kamu terlalu ikut campur urusan percintaan Papamu." kata Romi pada Anderson.


"Kak Romi sudah beberapa bulan ini aku di Jakarta urus perusahaan Papa, menurutku Papa tidak keteteran. Dia hanya tidak bisa konsentrasi karena didalam pikirannya hanya Moza, Moza dan Moza saja." keluh Anderson pada Romi.


"Aku tidak akan masalah kalau Papa mendapat sambutan dari Moza, ini sudah keluar uang banyak meskipun bukan untuk Moza pribadi, diabaikan. Bayangkan telepon Papaku jarang diangkat. Setelah Kirim pesan soal pekerjaan baru Moza mau balas."


"Itu Professional kan?" tanya Romi tersenyum.


"Memang aku angkat topi untuk Moza. Tapi Papaku, Kak Romi dengar sendiri tadi dia minta tower sebelah dikosongkan, untuk apa Kak? hanya untuk menarik perhatian Moza. Perusahaan tidak perlu itu." Anderson menghela nafas panjang.


Bilang saja sama Om Lee kalau kamu tertarik sama Moza, dia pasti mengalah." kata Romi pada Anderson, pikirnya itu satu-satunya cara agar Mr. Lee berhenti menarik perhatian Moza.


"Aku tidak tertarik dengan Moza, jangan mengarang dong." balas Anderson pada Romi sengit.


"Ih wajah biasa saja dong, jadi jelek itu. Sekarang kalau kamu sodorkan Juwita tapi hatinya sama Moza, malah aku kasihan sama Juwita." kata Romi lagi.


"lagi pula Papa kamu sudah cukup tua untuk dijodohkan." Romi terkekeh melempar serbet ke wajah Anderson.


"Harusnya Papa tidak jatuh cinta lagi." keluh Anderson menangkap serbet yang Romi lemparkan.


"Bagaimanapun Om Lee butuh pendamping." Anggita mencoba berpikir dari sudut pandang Om Lee.


"Tapi tidak dengan gadis yang usianya lebih muda dari aku juga." sungut Anderson, Romi terkekeh jadinya.


"Namanya juga cinta." kata Anggita.


"Itu bukan cinta Kak, aku tahu Papa. Dia hanya penasaran karena diabaikan." Anderson menyampaikan pendapatnya.


"Mungkin awalnya begitu, sekarang sudah cinta." sahut Romi.


"Tidak, bukan Cinta, itu obsesi." masih saja menyangkal jika Papanya jatuh cinta.