Never Say Never

Never Say Never
Rumah Bunda



"Kalian baru datang?" sapa Ame Enji pada Romi dan Anggita, rupanya Ame ikut berkumpul di rumah Bunda bersama sahabatnya yang lain, sementara Mommy dan Wilma menunggu di rumah Ame.


"Iya Ame, Mommy di rumah Ame." jawab Anggita pada tantenya.


"Coba ya Mommymu itu susah sekali diberitahu, sudah Ame bilang kesini saja tidak mau." gerutu Ame Enji karena Dari tadi sudah minta Mommy Liana langsung kerumah Bunda.


"Kalian bawa apa, kenapa repot-repot sih?" tanya bunda Kiki saat melihat banyak sekali puding diatas meja makan.


"Puding Bunda, nanti bisa dibawa pulang sama yang lain." kata Anggita tersenyum.


"Waah asik bawa pulang puding bikinan Anggita." Chico bersorak senang karena ia menyukai puding itu.


Chico panggil Mommy kesini." perintah Enji pada bungsunya.


"Iya Ame." Chico langsung beranjak mengikuti perintah Ame.


"Ada Popo kan dirumah, pasti Mommy sedang ngobrol sama Popo." kata Romi pada Ame.


"Sebentar lagi Popo akan pergi bersama Papi Mario dan Papa Andi, menyusul Ayah Eja ke Warung Elite." Ame menjelaskan. Romi menganggukkan kepalanya.


"Romi, bawa kesini puding bikinan istrimu." teriak Mama Intan pada Romi.


"Ya Ibu Ratu." jawab Romi langsung saja membawa satu box puding ketempat Mama dan Mami Monik duduk.


"Wow Anggita ini segar sekali." air liur Mama Intan langsung saja seperti ingin menetes.


"Anggie potong dulu Ma." Anggita membawakan beberapa piring kertas sendok yang sudah disiapkannya dari rumah.


"Terima kasih sayang." Intan tersenyum mengambil piring yang dibawa Anggita, ia menunggu puding dipotongi Anggita.


"Bisa kerja sama dengan Mami Monik kamu, masukkan saja ke toko kue yang Mami biasa terima pesanan." kata Intan pada Anggita.


"Hihi belum sekarang deh Ma, Anggita masih kerja kantoran." jawab Anggita terkekeh.


"Ame, Mommy sedang bicara serius sama Popo dan Papi, ada Daddy Leo juga." lapor Chico yang baru kembali dari rumah.


"Oh ok, tapi kamu sudah bilang kan nanti suruh kesini?" tanya Ame Enji.


"Sudah." Chico menganggukkan kepalanya.


"Kalau ada Daddy mungkin tidak jadi ke Warung Elite, Mae." kata Arkana pada Ame.


"Mungkin saja, mereka bahas apa sih, Ame jadi penasaran." kata Enji hatinya mulai membelai separuh ingin bersama temannya separuh lagi ingin bersama sepupunya.


"Serius sekali tadi." kata Chico.


"Aduh bagaimana ini?" Enji memandang Intan dan Monik juga Kiki.


"Jangan macam-macam Nji, kita jarang bertemu." Omel Intan pada Enji.


"Iya." jawab Enji terkekeh dan melanjutkan obrolannya bersama sahabatnya meskipun pikirannya ada pada Liana.


"Kalian sudah bertemu Om Kenan?" tanya Romi pada sahabatnya.


"Gue sudah." jawab Chico.


"Gue belum, ayo ke kamar Om Kenan." ajak Arkana pada Romi.


"Sayang satu box khusus untuk Om Kenan, ini pas sekali karena pola makan sehat Om Kenan cocok dengan puding ini." kata Romi yang sangat mengenal Kenan.


"Mau dipotongi dulu?" tanya Anggita.


"Tidak usah, sendok saja dan mangkok." jawab Romi, Anggita segera menyiapkan apa yang Romi minta, kemudian Romi dan Arkana pun ke kamar tempat Kenan menginap selama dirumah Kiki.


"Assalamualaikum..." sapa Arkana sambil membuka perlahan kamar, tampak Kenan sedang berkutat dengan laptopnya.


"Waalaikumusalaam, hai kalian sudah datang." sapa Kenan ramah.


"Om dikamar terus ayolah keluar." ajak Arkana, Kenan terkekeh menunjuk laptopnya.


"Sudah diwakili Raymond masih saja bekerja, Om." kata Arkana duduk dipinggiran kasur diikuti Romi.


"Ada bagiannya masing-masing?" jawab Kenan tersenyum.


"Yang ini tidak bisa diwakilkan." jawab Kenan terkekeh.


"Raymond bisa marah ini rumah dan Om nya kita kuasai." Romi terbahak ingat Raymond yang begitu dekat dengan Kenan.


"Dia sudah dalam perjalanan kesini." kata Kenan pada keduanya.


"Seharusnya besok, tapi klien minta bertemu di Jakarta saja." jawab Kenan.


"Sudah dimana dia, tidak bilang-bilang." gerutu Arkana.


"Satu jam yang lalu baru mendarat." jawab Kenan.


"Om sibuk, kita keluar deh." ajak Romi karena Kenan sedang bekerja.


"Ah santai saja." kata Kenan terkekeh.


"Om ini ada puding sehat bikinan Istriku." Romi meletakkan puding di samping laptop Kenan.


"Wow enak ya punya istri." goda Kenan pada Roma, berbeda dengan dirinya yang sudah tiga tahun bercerai.


"Ah Om juga kata Raymond sudah ada calonnya." Romi balas menggoda Kenan.


"Aih, siapa yang mau dengan Duda dikursi roda begini." Kenan terbahak.


"Dikursi roda hanya sesaat, kalau sudah sehat kita kalah deh." Arkana ikut terbahak.


"Mana bisa kalah dengan mantan para artis ini." balas Kenan pada Arkana.


"Weits Om, itu hanya gosip untuk menaikkan rating, buktinya aku menikah dengan seorang dokter." Arkana menjelaskan.


"Alhamdulillah jodohmu dokter ya, cantik pula."


"Tidak kalah cantik dengan calon istri Om Kenan." jawab Arkana.


"Calon istri mana? kalian ini ikut halu seperti Raymond." Kenan terbahak.


"Kenalkan lah Om." kata Romi senyum-senyum.


"Saya saja bingung mau kenalkan kalian sama siapa, belum ada calonnya saya." Kenan terbahak. Raymond ada-ada saja, pikirnya.


"Hai, jangan diganggu Om gue." teriak Raymond dari balik pintu, ia baru saja datang rupanya.


"Siapa yang ganggu?" Kenan tertawa memandang Raymond.


"Mereka minta ilmu apa Om? ilmu ganteng ya?" tanya Raymond.


"Ilmu halu." jawab Kenan.


"Iya kata Om Kenan lu halu bilang Om Kenan punya calon istri." kata Romi bergaya akan menyikut sahabatnya itu


"Ish apanya yang halu, jelas-jelas Nona sendiri bilang dia calon istri Om." dengus Raymond memonyongkan bibirnya.


"Begitu saja dianggap serius,langsung saja sebarkan kesemua orang, untung saya bukan selebriti." Omel Kenan pada Raymond.


"Yaah kalau mau masuk infotainment tinggal bilang Atan, Om." kata Arkana pada Kenan sambil terbahak.


"Tidak ada rating yang mau Om naikkan." balas Kenan terbahak.


"Ok Raymond sudah datang, kalian selamat bersenang-senang?" kata Kenan pada ketiganya.


"Kita diusir." dengus Romi sambil beranjak dari duduknya.


"Haha bukan begitu, jangan sampai terganggu kebersamaan kalian karena saya." kata Kenan pada Romi.


"Iya Chico sendiri diluar, ayo." ajak Raymond pada sahabatnya.


"Oke Om, jangan lupa kenalkan sama kami." kata Arkana masih saja menggoda Kenan.


"Atau mau dikenalkan sama artis pendatang baru nih Om, cantik loh." kata Arkana lagi.


"Ish tidak-tidak, saya tidak mau berhubungan dengan artis." langsung saja Kenan menolak.


"Sudah kepincut sama yang itu." kata Raymond mencibir.


"Jangan aneh-aneh, Boy. Saya belum terpikir kesana." tegur Kenan pada Raymond, dasar Raymond cengar-cengir saja mendengar Omnya mengomel.


"Kalau Arkana belum menikah, pasti sudah didekati itu Nona Om, type Arkana yang seperti itu." kata Raymond pada Omnya.


"Kamu suka yang lebih tua, Tan?" tanya Kenan pada Arkana.


"Hmm... langsung saja kasih tahu kalau calonnya lebih tua dari Arkana." Hahaha Dasar Raymond kembali menggoda Om nya. Romi dan Arkana jadi tertawa melihat ekspresi On Kenan, sepertinya ada hati dengan gadis yang dikatakan Raymond.