Never Say Never

Never Say Never
Mantan



"Mau kemana?" tanya Opa saat melihat Oma sudah semakin cantik dengan dress polos kuning terang kombinasi batik dibagian tengah.


"Ayo makan." ajak Oma pada Opa.


"Katanya tidak mau keluar, mau dirumah saja." Opa mengingatkan Oma.


"Itu sebelum Romi dan Anggita datang." kata Oma terkekeh.


"Opa mandi dan sholat dulu." kata Opa pada Romi dan Anggita.


"Kalian sudah sholat? sana sholat dulu, Oma sudah." kata Oma pada keduanya.


"Ayo sayang." ajak Romi pada Anggita.


"Kan aku lagi..." Romi mengangguk sebelum Anggita menyelesaikan kalimatnya.


"Belum gol ya Rom." celutuk Oma terbahak, mau tidak mau Romi ikut tertawa sambil memberengut.


"Oma jangan bahas didepan Opa, nanti habis aku." kata Romi pada Oma. Semakin tertawa saja Oma melihat ekspresi wajah cucunya. Anggita menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jahil sekali Opa dan Oma Romi, beda dengan Opa dan Omanya.


"Mana Romi?" tanya Opa yang sudah berganti pakaian, seperti anak muda saja memakai celana jeans hitam dan polo shirt kuning sewarna dengan baju Oma.


"Kenapa tidak pakai kemeja?" tanya Oma.


"Memangnya jelek pakai begini?" Opa balik bertanya.


"Bagus sih, tapi aku setengah formal, kamunya santai sekali." kata Oma manja, Anggita jadi tersenyum dan membayangkan ia dan Romi akan tetap mesra dan manja saat seusia Opa dan Oma nanti.


"Bagaimana tampilan kami, Anggie?" tanya Opa pada Anggita.


"Serasi Opa." jawab Anggita jujur.


"Tidak masalah kan kalau Opa pakai polo shirt begini? matamu terganggu tidak melihatnya?" tanya Opa lagi.


"Tidak Opa, justru menarik, Anggie suka melihat gaya Opa dan Oma." kata Anggita jujur.


"Tuh sayang, tidak masalah kok." kata Opa pada Oma. Lucu sekali mereka pikir Anggita.


"Ayo." ajak Romi yang baru selesai sholat kemudian tersenyum melihat gaya Opa dan Oma yang selalu saja serasi dalam setiap kesempatan.


"Kita harus tiru Opa dan Oma, selalu terlihat serasi." kata Romi pada Anggita.


"Bukan hanya terlihat, memang kenyataannya begitu dan kalian harus tiru." kata Oma pada Anggita dan Romi.


"Iya Oma." jawab Anggita tersenyum.


"Pakai mobil Opa saja." kata Opa langsung menuju ke mobilnya yang ada diparkiran. Supir Opa yang selalu standby langsung bergerak begitu melihat Opa dan Oma berikut Romi dan Anggita menuju ke mobil Opa.


"Sudah lewat jam makan siang, kalau Romi yang bawa mobil lama lagi cari parkir." kata Opa.


"Bisa valley kan, Opa." Romi protes.


"Kamu nih selalu saja menjawab kalau Opa kasih tahu." mulai ngomel tidak mau di protes dasar Opa, Romi terkekeh dibuatnya. Gaya santai Papa meniru dari siapa ya, pikir Romi jadi ingat Papanya.


Mereka sudah dalam perjalanan menuju hotel langganan Oma. Sepanjang perjalanan Anggita dan Romi banyak menerima petuah-petuah yang berhubungan dengan rumah tangga.


"Jangan suka ribut untuk hal yang tidak jelas." pesan Oma pada keduanya.


"Jangan cemburuan dan jangan suka mengekang suami, biarkan dia menjalankan hobbynya, yang penting tetap bertanggung jawab dan tidak salah jalan." pesan tambahan dari Opa.


"Kalau hobbynya ke club bagaimana?" Romi menggoda Opa.


"Kalau itu hobbymu ya ajak istrimu saat ke club. Bisa bahaya kalau kamu dilepas sendiri." kata Opa santai.


"Memangnya mau apa ke club, Oma tidak setuju kalian kesana, kalau mau dengar musik di lounge saja, lebih santai, kekeluargaan dan tidak hingar bingar." sahut Oma, sesuai kebiasaannya.


"Oma dan Opa suka hangout ke hotel, ya itu makan lanjut duduk di lounge." Romi sedikit bercerita pada Anggita.


"Biasanya saat weekend ya Oma?" tanya Anggita.


"Kapan mau saja, ada beberapa hotel yang hari biasa pun tetap ada live music, enak kan habis makan malam dengarkan musik." kata Oma tersenyum manis.


"Ke pengajian dong Oma, masa dengar musik terus." celutuk Romi.


"Tidak usah diajari kalau itu, kebetulan sekali besok ada kajian rutin, kalian ikut ya, jangan sampai tidak." Oma menatap Romi dan Anggita.


"Di Mesjid perumahan, Opa kan pengurus mesjidnya." jawab Opa mewakili Oma.


"Baiklah." jawab Romi pasrah, mau dimusuhin Opa dan Oma lagi kalau menolak, urusan Opa Ismail saja belum beres.


"Kamu tidak jawab?" tanya Oma pada Anggita


"Pasti ikut aku dong Oma sayang." jawab Romi tertawa, menggenggam tangan istrinya.


"Nanti Oma kasih tips supaya suami tidak macam-macam saat jauh dari kita." kata Oma tersenyum manis pada Anggita.


"Apa itu Oma?" tanya Romi penasaran.


"Ih nantilah kalau Oma sedang berdua Anggita, itu rahasia wanita." jawab Oma menyeringai.


"Pasti Anggita dikasih ramuan madura biar suami puas diranjang." kata Romi vulgar.


"Begitulah kalau belum pernah gol, pikirannya kesana terus." Oma terkekeh memandang Romi.


"Oma..." Romi mengernyitkan dahinya.


"Siapa, Romi belum gol?" Opa langsung tertawa kencang.


"Tuh kan Oma, aduh ada si Maman lagi." Romi menggelengkan kepalanya. Luntur sudah wibawanya, bisa-bisa security di rumah Opa juga jadi tahu gara-gara Opa.


"Sabar Rom, paling lama satu minggu." jawab Opa masih terbahak. Anggita jadi ikut tertawa.


"Bayangkan ya Pa, dia jungkir balik kejar Anggita setelah halal masih harus menunggu." Oma malah menambah-nambah jadi mereka berdua terbahak mentertawakan Romi.


"Ah aku tidak jadi menginap di rumah Oma." Romi pura-pura merajuk.


"Iya kamu pulang saja, biar Anggita belajar sama Oma." jawab Oma terkekeh


"Mana tahan dia, Ma. Mukanya saja begitu kalau lihat Anggita huahahahaha." Romi menarik nafas panjang, Opa dan Oma paling jago kalau membuat Romi keok seperti ini.


"Anggita kamu sudah pernah dikenalkan dengan mantan-mantan Romi sebelum kamu?" tanya Opa pada Anggita.


"Apa sih Opa bahas masa lalu." dengus Romi khawatir Anggita salah sangka.


"Belum Opa." jawab Anggita tersenyum.


"Waduh Rom, mesti kamu ceritakan dong masa lalu kamu. Siapa itu gadis yang suka menghambur-hamburkan uang kamu?" Opa buka rahasia, Anggita mengernyitkan dahinya memandang Romi.


"Siapa sih Opa mana ada yang seperti itu."


"Ada kan Ma, ingat tidak?" kata Opa minta bantuan Oma.


"Itu bukan pacar Romi, Pa. Itu pacarnya Anto dulu." kata Oma mengingatkan Opa. Haduh sudah pelupa mau sok buka rahasia lagi.


"Opa aku mana ada mantan pacar." kata Romi mumpung Opa lagi lupa.


"Oh iya itu mantannya Anto ya, bisa-bisanya Opa ingat itu orang."


"Mas Romi kan ada mantannya, itu loh yang model iklan shampoo." eh si Maman ikut-ikutan buka suara.


"Man, potong gaji ya." kata Romi pada Maman, mengingat Romi yang menjalankan perusahaan Opa saat ini. Maman terkekeh dibuatnya.


"Siapa sayang, kok aku tidak tahu aku pernah pacaran sama model iklan?" tanya Anggita jadi penasaran.


"Sudahlah tidak usah dibahas, aku saja sudah lupa." kata Romi pada Anggita.


"Baru putus apa sudah lama?" tanya Anggita lagi, ia tidak tahu masa lalu Romi, tadinya tidak mau tahu juga, tapi jadi penasaran karena Opa dan Maman sebut mantan.


"Sudah lama, sebelum kenal kamu. Sudah ya tidak usah dibahas." bujuk Romi tidak mau menambah beban pikirannya.


"Lama juga dia pacaran sama itu cewek." kata Oma keceplosan.


"Itu waktu smp loh Oma, kan putus juga karena aku dijodohkan sama Ayu." kata Romi akhirnya.


"Wah kasih tak sampai dong. Kenapa tidak kejar dia setelah Ayu pacaran sama Steve." tanya Anggita penasaran.


"Karena aku terlanjur jatuh cinta sama kamu." jawab Romi, membuat Anggita terdiam tidak bertanya lebih lanjut, Romi menarik nafas lega dan memonyongkan bibirnya pada Opa melalui kaca spion karena Opa duduk didepan samping Maman. Opa pun menyeringai jahil, cengar-cengir pada Romi, mereka pakai kode-kode melalui kaca spion. Dasar Opa