Never Say Never

Never Say Never
Adik ipar



Romi menarik nafas lega saat menutup sambungan telepon dari Steve. Meskipun masih belum selesai tapi Papa Andi dan Mama Pipit sudah tahu jika Ayu tidak mau menikah dengan Romi, yang lebih melegakan Papa Andi tidak memaksakan kehendaknya, tinggal menunggu Steve mengaku pada Papi Mario, tapi kapan? sudah dua minggu berjalan masuk minggu ketiga. Anggita benar-benar saklek, tidak mau menerima telepon dari Romi, bahkan pesan Romi hanya dibaca saja.


"Kusut sekali, belum beres juga?" tanya Vita saat melihat bossnya bersandar dikursinya dengan rambut berantakan.


"Sudah satu persatu tapi tidak bisa cepat seperti maunya Anggie." kata Romi menjawab pertanyaan Vita.


"Jadi bagaimana?" tanya Vita.


"Lihat saja nantilah, yang penting usaha maksimal." jawab Romi menyugar rambutnya.


"Hari ini banyak pertemuan dengan klien, coba lihat penampilanmu yang kusut itu, bagaimana mau meyakinkan kliennya nanti. Ayo fokus!" tegas Vita pada Romi, kadang sahabatnya ini bisa lebih galak dari pada big boss.


"Siap Bu Vita." jawab Romi terkekeh, segera beranjak dari kursi menuju ke toilet untuk memperbaiki penampilannya.


"Nanti siapa marketing yang akan presentasi?" tanya Romi pada Vita saat sudah keluar dari toilet ruangannya.


"Moza." jawab Vita.


"Moza terus, apa tidak ada yang lain?" tanya Romi heran, karena ini sudah kesekian kalinya Ia dan Vita menghadap klien bersama Moza.


"Kebetulan building areanya Moza dan hanya Moza yang bisa meyakinkan klien." jawab Vita.


"Kliennya dari siapa sih? jangan sampai ada kesan kamu selalu kasih order ke Moza loh, Vit." tegas Romi tidak mau yang lain protes.


"Ini kliennya Moza yang dapat juga. Jangan khawatir deh, gue juga tidak mungkin kasih Moza terus, sementara banyak yang belum dapat klien hingga saat ini." jawab Vita meyakinkan.


"Ajak Bona, dia minta ikut waktu itu." kata Romi pada Vita.


"Beda area Rom." tegas Vita.


"Biar saja, biar dia tahu bagaimana cara Moza meyakinkan kliennya, jadi tidak buruk sangka." Romi terkekeh, Vita pun segera menghubungi Bona.


Bona betul-betul hadir, ia sangat penasaran apa memang Moza sehebat itu, bisa menaklukkan Mr. Lee. Jika hanya menggunakan kecantikan dan lekuk tubuh, sepertinya Mr. Lee bukan orang seperti itu.


Setelah Moza berhasil meyakinkan kliennya dan mereka menanda tangani surat perjanjian kerja sama barulah Bona percaya jika Moza memang sehebat itu, bukan karena bantuan Romi atau Vita selalu mendampingi Moza bertemu klien.


"Pak Romi, marketing saya bagaimana caranya supaya bisa seperti Moza ya?" tanya Bona ingin bawahannya juga bisa seperti Moza, memiliki kemampuan negosiasi yang mengagumkan.


"Dampingi saja setiap akan presentasi, kuasai dulu produk yang akan dijual, juga cari informasi detail kebutuhan klien seperti apa." kata Romi pada Bona, sebetulnya sudah tidak perlu diajarkan juga Bona sudah tahu.


"Yang Utama jangan lupa berdoa." kata Romi lagi, Bona mengangguk setuju, ia tidak lagi berburuk sangka pada Moza. Memang Moza layak, mungkin malah Moza bisa menggantikan posisi Budi, jika Budi kinerjanya masih seperti sekarang.


"Sudah lapor sama Pak Budi, Moza?" tanya Bona mengingatkan, bagaimanapun Budi atasan langsungnya.


"Handphone Pak Budi dari tadi tidak bisa dihubungi." jawab Moza, untung saja percakapan mereka berdua tidak didengar Romi maupun Vita. Jika Romi tahu sudah pasti akan tersulut emosinya.


...............


Hari ini pernikahan Arkana dengan Sarah, akad nikah dan jamuan sederhana saja, mengingat Ame Enji kondisinya masih belum pulih, Walaupun sudah keluar dari rumah sakit. Romi berharap hari ini ia bisa bicara dengan Anggita secara langsung, karena Romi tidak pernah mendapat respon dari Anggie melalui handphone. Minta bantuan Lembayung pun tidak berhasil, tegas sekali membuat Romi sedikit prustasi.


Arkana tampak bahagia menggandeng Sarah yang baru saja sah menjadi istrinya, Romi jadi ikut bahagia untuk sahabat kecilnya.


"Selamat ya kalian." katanya menyalami Arkana dan Sarah. Romi yang baru saja datang karena urusan pekerjaan belum bergabung dengan sahabatnya yang lain.


"Kapan menyusul?" tanya Sarah membuat Romi menepuk jidatnya.


"Sepupu dia nih susah betul dikasih pengertian." jawabnya menunjuk Arkana.


"Ayu?" tanya Arkana sengaja tidak menyebut Anggie.


"Ish itu sih calonnya Steve." kata Romi sambil tertawa.


"Oh calon lu, sepupu gue juga?" tanya Arkana membuat Romi kesal. Arkana terbahak jadinya.


"Semangat Nyong. Pengen betul jadi sepupu gue ya, lepasin Ayu ngejarnya Anggie." goda Arkana terkekeh.


"Jangan sombong, adik lu sekarang adik ipar gue loh." dengusnya membuat Arkana terbahak.


"Kenapa memangnya kalau gue jadi adik ipar?" tanya Naka yang baru saja bergabung, ia datang bersama Sosa.


"Itu mepet terus sama Daddy nya, coba datangi kalau berani." Naka terkekeh menepuk bahu Romi.


Romi menghela nafas, mau saja sih datangi Anggie dan keluarganya disana, jika saja ia tidak memikirkan Steve yang belum mengaku pada Papinya.


"Yang lain mana?" tanya Romi pada Naka dan Sosa.


"Semua sudah berkumpul di ujung sana Rom, kamu sih telat." dengus Sosa.


"Telat juga ada hasilnya." kata Naka pada Sosa sambil terkekeh.


"Iya kah?" Sosa menaikkan alisnya pada Romi.


"Ya gitu deh." jawab Romi sok acuh.


"Rom, gue ganti mobil dong." langsung saja Sosa memanfaatkan Abangnya.


"Ih, punya suami masih minta sama gue." sungut Romi dengan kening berkerut.


"Kan beda dari Abang sama dari Suami." katanya membujuk Romi. Romi hanya mencebik.


"Sosia, apa sih." Naka menepuk bahu Sosa, tidak mau Sosa meminta-minta begitu.


"Tuh suami lu tersinggung kan. Minta sama Naka jangan sama gue." dengus Romi.


"Tolong masalah rumah tangga selesaikan dengan damai, gue keliling lagi." kata Arkana menarik tangan Sarah meninggalkan ketiganya yang ribut tidak jelas.


"Naka, panggil Anggie dong, gue mau bicara penting." kata Romi mengabaikan Sosa yang masih mengayunkan tangan kanannya.


"Gue yang panggil deh, tapi Mobil gue ganti." Sosa masih usaha membujuk Romi.


"Naka!" desis Romi melirik Naka.


"Siap." Naka terkekeh melihat ekspresi Romi.


"Panggil Anggie kan?" tanya Naka memastikan.


"Iya tapi nih urus dulu istri lu. Sudah menikah masih saja minta beli ini itu sama gue." Naka menarik rambut Sosa pelan.


"Ish, kata Papa tadi minta sama elu Rom, kan elu juga belum setor keuntungan ke gue." kata Sosa lagi.


"Kamu buat apa ganti mobil? biasa juga pakai Mobil Ame kemana-mana, kalau aku tidak jemput, di jemput sama Om Tono." Naka sedikit heran.


"Hadiah perkawinan kita, Romi sendiri yang janji." Sosa tampak sewot menunjuk Romi.


"Iya nanti akhir tahun." jawab Romi akhirnya baru ingat janjinya pada Sosa, lagi pula Walaupun Sosa tidak berkantor tapi Papa tetap memberikan jatah bulanan untuk Sosa. Bonus keuntungan sudah pasti akan diberikan, tapi tidak sekarang.


"Tapi Sos..." Romi tampak berpikir.


"Bukannya hadiahnya gue janji ganti mobil elu kalau kalian punya anak." kata Romi mengusap dagunya sambil menyeringai jahil.


"Hadiah pernikahan beda dengan hadiah melahirkan." Sosa mendorong bahu abangnya.


"Kamu mau ganti mobil apa memangnya?" tanya Naka.


"Seperti Mobil Ame." jawab Sosa, gawat juga keseringan dijemput Om Tono supir Ame bikin Sosa merasa nyaman ingin juga punya Mobil seperti Ame.


"Nanti ya kita bikin anaknya dulu setelah itu aku ajak kamu ke showroom." Naka tampak menyeringai.


"Tetap elu yang bayar kan Rim, gue bantu pilihkan saja." Romi terbahak mendengarnya, sama saja suami istri.


"Ish yang pengantin baru itu Arkana, kenapa kalian yang lebih hot?" Romi terkekeh kemudian meninggalkan keduanya, mumpung Sosa tidak lagi rewel karena sedang menahan malu akibat ucapan Naka didepan Romi.


"Romi, mau gue bantu tidak?" teriak Naka menghentikan langkah seribu Romi.


"Mau ganti mobilnya kapan?" tanya Romi pada adiknya, membuat Naka terkekeh menekan nomor Angie pada handphonenya dan meminta Angie untuk ke mobil Naka sekarang juga.


"Nih kunci mobil gue, tadi parkir disebelah mobil Papa Anto. Elu cari deh, Anggie juga tadi parkir disana." kata Naka meninggalkan Romi yang bersorak senang karena Naka memfasilitasi untuk bicara didalam mobilnya.