Never Say Never

Never Say Never
Rembukan



Semua yang berkepentingan sudah berkumpul diruang kerja Erwin. Anggita cengengesan memandangi Romi dan Lembayung. Salah tingkah sih yang pasti.


"Ada yang mau mengaku dosa?" tanya Mario pada mereka berempat.


"Ayu?" Mario langsung saja menunjuk Ayu, Andi terkekeh dan Pipit dengan matanya memberi kode pada Andi seakan bertanya ada apa.


"Iya Papi, dosa apa?" tanya Ayu polos, tidak berani memandang Mario.


"Coba lihat mata Papi." kata Mario, perlahan Ayu mengangkat kepalanya.


"Papi..." sungutnya manja, tidak berani berkata lebih.


"Mau cerita sama Papi?" tanya Mario memicingkan sebelah matanya.


"Aku mencintai Steve, Papi." akhirnya Ayu mengaku.


"Eh Ayu..." Pipit menepuk bahu anak gadisnya, ia tidak menyangka Ayu berani berkata seperti itu didepan Intan. Pipit memandangi Intan dengan penuh penyesalan.


"It's Ok." Intan mengangguk seraya menaikkan kelima jarinya pada Pipit.


"Romi bagaimana?" tanya Pipit dengan suara tertahan.


"Maafkan aku Ma, aku mencintai Anggie." jawab Romi mendekati Pipit dan menciumi punggung tangannya.


"Kalian ini..." Pipit menghela nafas panjang.


"Sorry Pit, diluar batas kemampuan gue." kata Intan pada Pipit.


"Aku yang minta maaf, Mas Anto, Intan." kata Pipit menangkupkan kedua tangannya.


"Pit santai saja. Mereka yang akan menjalani." kata Anto pada Pipit.


"Bunch..." Pipit tampak bingung. Andi terkekeh santai sekali, mengedikkan bahunya.


"Jadi selanjutnya bagaimana? Anggita kamu juga cinta sama Romi?" tanya Liana tanpa basa-basi.


"Iya Mom." jawab Anggita memandang Mommy penuh harap.


"Mommy sudah bilang kan, jangan rusak hubungan orang." tegas Liana pada Anggita, ia sedikit marah meskipun para suami terlihat santai, Liana juga tidak enak hati pada Pipit dan Intan.


"Tidak ada hubungan yang di rusak Mommy." jawab Lembayung pada Liana.


"Tidak ada bagaimana, Yu? sudah jelas kamu dan Romi sudah dijodohkan." kata Liana dengan kening berkerut.


"Aku pacaran sama Steve sebelum tahu kalau aku dan Romi dijodohkan, waktu itu malah Romi yang jadi mak comblang kami." jawab Ayu malu-malu.


"Ya ampun anak gue, pacaran backstreet sama tetangga, bisa-bisanya kita tidak tahu." langsung keluar cablaknya Pipit. Semua terbahak mendengarnya.


"Anak lu juga ya, Tan. Jemput anak gue nonton bertiga sama Steve itu ternyata tugas Mak Comblangnya sampai begitu." tambah Pipit lagi menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku Mama." kata Romi cengar-cengir.


"Mama restui aku sama Ayu kan?" pinta Steve pada Pipit.


"Re, bagaimana? kalau Rere terima Ayu, gue terima deh." Pipit memandangi Regina yang sedari tadi diam saja.


"Aku bagaimana Papinya saja." jawab Regina menunjuk Mario.


"Honey, ada yang masih kamu tutupi? ada yang kamu tahu dan aku tidak tahu rupanya." Mario menatap Regina tajam.


"Kamu sudah beritahu Papi?" tanya Regina pada Steve.


"Sudah Mami, seperti yang Steve bilang tadi, Steve yang ingin menyampaikan langsung pada Papi." Steve mengulangi perkataannya.


"Siapa saja keluarga yang sudah tahu, sementara Papi belum tahu?" tanya Mario pada Steve.


"Opa Santoso dan Oma Lani yang mengantar Steve mengucapkan dua kalimat syahadat." jawab Steve pada Mario.


"Buset, Bokap sama Auntie gue yang punya kerjaan." Mario terkekeh memandang sahabatnya.


"Bisa-bisanya mereka tidak cerita. Berarti Oma belum tahu?" tanya Mario perihal Maminya.


"Sepertinya Oma tahu, tapi tidak pernah tanya aku sih. Mungkin tidak peduli." jawab Steve belum berani tersenyum.


"Kenapa kamu tidak cerita Honey?" bisik Mario pada Regina.


"Kamu tahu yang aku pingsan saat kita pulang dari S'pore? itu Steve minta restu aku di mobil, aku shock, perlu waktu beberapa bulan untuk menenangkan diriku sendiri. Seandainya kamu marah atau kalian berdua bertengkar karena hal ini pasti aku akan tambah sakit." kata Regina menjelaskan alasannya pada suaminya, matanya berkaca-kaca.


"Mana mungkin aku bikin kamu tambah sakit." Mario terkekeh mengusap bahu istrinya yang mulai terisak.


"Kamu tidak marah, honey?" tanya Regina tidak percaya.


"Kenapa harus marah, Steve sudah dewasa." jawab Mario. Regina menganggukkan kepalanya, sesekali masih membersihkan hidungnya.


"Ok Yo, langsung nikahi sajalah dari pada mereka bikin kita pusing lagi." kata Andi pada Mario.


"Ijin Papa, setelah menikah aku akan ajak Ayu pindah ke S'pore. Itu syarat dari Opa." kata Steve pada Andi.


"Eh..." Andi menggelengkan kepalanya, menarik nafas panjang.


"Iya Pa, lagipula S'pore kan dekat dari Jakarta." jawab Ayu tanpa beban. Andi menggelengkan kepalanya.


"Kalian mau pernikahan kalian pesta kebun?" tanya Andi pada putrinya.


"Iya kan Papi sudah pernah tanya dulu." kata Ayu lagi.


"Itu kan kalau kamu menikah sama Romi." kata Pipit membesarkan bola matanya pada Ayu.


"Romi sama Anggita punya konsep sendiri. Dari dulu itu maunya aku sama Steve pesta kebun." jawab Ayu bersungut.


"Dengar ya, karena kalian bikin pusing, jadi kalian mesti terima hukuman dari kita. Kalian berempat menikah bersamaan, untuk menghindari gosip jika Salah satu dari kalian ditinggal menikah." tegas Intan pada mereka berempat.


"Ya sudah emak-emak rembukan dulu deh berempat." kata Anto pada istrinya.


"Kita berdelapan rembukan, mereka suruh tunggu diluar." kata Liana pada Leo. Leo tertawa dan mengibaskan tangannya pada empat orang pembuat ulah. Bisa-bisanya lagi acara sakral Raymond dan Roma mereka bikin pengakuan yang cukup menguras energi.


"Jadi bagaimana?" tanya Andi setelah kedua pasang itu menunggu diluar.


"Gue juga bingung sih sebenarnya, terserah deh gue ikut saja." kata Liana akhirnya.


"Tadi kamu kesannya galak sekali." kata Leo terbahak memeluk istrinya gemas.


"Aku hanya shock, untung saja tidak pingsan seperti Regina." kata Liana tertawa.


"Bagaimana kalau Steve yang sama Anggita, pasti kamu tambah shock." goda Regina pada Liana, mengingat pernah ada kisah antara Mario dan Liana dulu.


"Allah sudah atur semua itu." jawab Liana mengibaskan tangannya.


"Barengi saja, biar cepat. Mereka itu sudah nempel kaya perangko. Anak gue main cium-cium kening Anggita saja waktu pernikahan adiknya. Percepat saja seperti Raymond dan Roma." kata Anto pada semuanya.


"Tempatnya dimana? kasihan Enji nanti kelelahan." Intan memikirkan Enji yang sedang dalam pengobatan.


"Tidak apa disini saja lagi, lusa saja karena besok jadwalku cuci darah." kata Enji yang tiba-tiba ikut masuk bersama yang lain. Rupanya mereka dari tadi menguping dari depan pintu, karena melihat Romi dan yang lainnya sibuk kasak-kusuk.


"Seru ya nikahin anak kaya begini, hemat biaya." kata Andi terkekeh.


"Pelit lu." kata Mario pada calon besannya.


"Mau bikin pesta besar-besaran juga hayo gue sih." tantang Andi pada Mario dan yang lain.


"Sederhana saja, bukan tidak mau undang yang lain, keluarga kita saja sudah banyak." kata Pipit pada Andi.


"Jadi mengulang memory ya, seperti kita dulu." kata Monik dengan wajah berbinar-binar.


"Iya, tapi pakai dua penghulu ya biar cepat." kata Intan pada suaminya.


"Kenapa kalau satu penghulu?" tanya Anto pada Intan.


"Deg-degan nungguinnya, waktu dulu itu yang aku rasakan." kata Intan jujur.


"Senang ya mau punya menantu lagi." kata Anto mengecup dahi istrinya.


"Jadi kapan mereka menikah?" tanya Leo pada yang lain.


"Bagaimana kalau jumat pagi, sebelum sholat Jumat." kata Andi meminta persetujuan yang lain.


"Oke tiga hari lagi ya." Anto menganggukkan kepalanya setuju.


"Kita pulang dulu saja kalau begitu." kata Leo pada Liana.


"Kalian semua menginap saja disini. Jangan ada yang pulang." pinta Enji pada semuanya.


"Pekerjaan terlalu lama ditinggal." desis Leo pada Enji.


"Ada asisten kan, demi anak loh ini. Aku minta wedding organizer yang urus hari ini untuk membantu ya. Biar semua mereka yang urus. Surat menyurat bisa minta bantuan staff kalian." kata Enji mengatur segalanya.


Demi menyenangkan hati Enji mereka pun menurut, selama tiga hari kedepan mereka tetap berada dirumah Enji, anak-anaknya pun tidak ada yang boleh pulang, karena kamar tidak cukup, anak-anak disewakan Erwin bungalow yang tidak jauh dari rumah mereka. Tapi yang perempuan tetap tinggal di rumah Enji, kecuali mereka yang sudah menikah, anggap saja sedang di pingit.