Never Say Never

Never Say Never
Cemburu



Steve menginjakkan kakinya di Bandara International Soekarno Hatta. Romi berbaik hati menjemputnya bersama Ayu dan Anggita, setelah itu rencananya mereka akan double dating. Terlihat hubungan Romi dan Anggita semakin mesra, sementara selama tiga bulan ini Steve dan Ayu hanya bisa bermesraan via telepon dan video call, iri sekali.


"Apa kabar sayang?" tanya Steve membelai pipi Ayu saat ia sudah berada di mobil Romi, duduk disebelah kekasihnya.


"Sudah jelas Ayu baik, dia saja yang ditanya?" dengus Romi sebelum Ayu menjawab pertanyaan Steve.


"Gantian ya Romi sayang, Ayu dulu dong." Steve terkekeh memandang sahabatnya dari belakang. Anggita yang duduk di bangku penumpang depan ikut terkekeh mendengar perkataan Steve yang sangat romantis pada Romi.


"Eh, bagaimana Raymond? beneran putus dengan Roma?" tanya Steve sambil menggenggam tangan Ayu yang bersandar dibahunya, diciumi saja terus punggung tangan Ayu, segitu rindunya. Ia menanyakan kondisi terkini Raymond dan Roma yang akhirnya memutuskan pertunangan mereka.


"Sedang putus, nanti juga balik lagi." jawab Romi terkekeh.


"Yakin sekali kamu." kata Anggita mengernyitkan dahinya.


"Roma mana bisa jauh dari Raymond dan Bunda Kiki, sayang. Apalagi seminggu ini Raymond sangat kusut karena Ayah dan Bunda menghilang, begitu tahu mereka berdua putus, semua sahabat, sanak saudara Ayah dan Bunda pada tutup mulut, seakan tidak tahu Ayah dan Bunda ada dimana, sungguh tidak masuk akal." cerita Romi tanpa bermaksud menggosipi sahabatnya. Ia mengedikkan bahunya.


"Apa perlu kita hibur Raymond dan kita bantu cari keberadaan Ayah dan Bunda?" tanya Steve merasa prihatin.


"Tentu saja, Raymond sekarang sedang dikantor Naka, meminta Naka menemaninya mencari Bunda, Roma karena bersedih hati selalu ikut Sosa ke kampus. Biarkan saja nanti juga mereka balikan." kata Romi fokus menyetir, mereka bertiga sengaja hari ini ambil cuti karena ingin menjemput Steve, sambil menyusun rencana langkah apa yang akan mereka ambil demi kelangsungan hubungan mereka masing-masing.


"Papi sibuk menghibur Raymond." kata Ayu pada Steve.


"Oh ya? anaknya di S'pore tidak dihibur, yang dekat saja yang dihibur." dengus Steve mendengar perkataan Ayu.


"Papi tahu kamu banyak hiburan disana." Ayu terkekeh mencubit pipi Steve sedikit kesal


"Hiburan apa?" tanya Steve mengusap bekas cubitan Ayu.


"Menemani klien ke club malam, menyebalkan sekali." Ayu memajukan mulutnya beberapa senti.


"Aku tidak bisa menghindar sayang, mereka maunya begitu. Kan yang penting aku tidak ikut minum alkohol sehingga aman dari segala macam jebakan." jawab Steve membela diri.


"Mana ku tahu." dengus Ayu.


"Allah tahu darling." jawaban Steve membuat Lembayung tersenyum lebar.


"Kalian ini bucin sekali." Romi menggelengkan kepalanya.


"Seperti yang tidak saja, sudahlah sesama bucin tidak usah saling mengganggu." kata Ayu terbahak.


"Demi kalian gue dan Anggie sampai ambil cuti." Romi menggelengkan kepalanya. Semalam Ayu memang mendesak Romi dan Anggita agar menemaninya menjemput Romi ke Bandara. Mana bisa Romi menolak jika Anggita juga ikut menyetujui.


"Tidak akan membuat kamu miskin libur sehari, Romi." tukas Ayu memonyongkan bibirnya.


"Iya memang, tapi ini jarang terjadi, ambil cuti karena jemput Abang Steve kamu tersayang." kata Romi lagi, Steve langsung saja nyengir kuda dibuatnya.


Romi memarkirkan kendaraannya disebuah Villa milik Papa Anto. Lokasi yang aman untuk mereka menghabiskan waktu bersama. Sekedar ngobrol makan siang bebas tanpa ada yang mengganggu dan dipastikan terbebaskan dari segala macam gosip dan sumpah serapah dari orang-orang yang selalu benar.


"Mas Romi, makanan sudah siap ya." sapa gadis remaja anak dari Mang Karta yang dipercaya Papa Anto menempati paviliun di samping Villa mereka.


"Masak apa Neng geulis?" tanya Romi pada Eneng geulis. Bukan karena cantik tapi memang nama lengkapnya Eneng Geulis. Entahlah Mang Karta kenapa juga menamakan anaknya begitu sementara bahasa sehari-hari mereka Sunda juga.


"Kesukaan Mas Romi lah." jawabnya tersenyum lebar, Anggita sudah kesal saja karena Romi memuji gadis tersebut. Genit sekali Romi, pikir Anggita kesal, wajahnya sudah tak ada senyumnya.


"Aku tinggal dulu Mas Romi, silahkan dimakan. Kalau mau apa panggil saja." kata Eneng lagi pada Romi.


"Oke geulis, terima kasih ya." jawab Romi tanpa beban.


"Kamu genit juga ya rupanya." Anggita langsung saja menyemprot Romi, susah sekali dari tadi tahan-tahan emosi.


"Genit?" Romi tampak bingung mengernyitkan dahinya. Steve terkekeh, melihat ekspresi Anggita yang sedang cemburu.


"Anak gadis orang lu panggil geulis-geulis saja, emosi lah." Steve terbahak, menyulut emosi Anggita lagi.


"Cemburu?" Romi terkekeh.


"Menurut loo???" wajah Anggita terlihat sengit, Romi malah terbahak.


"Makan dulu yuk, nanti setelah makan kita bahas." kata Romi merangkul Anggita. Wajahnya tampak berbunga-bunga, berbanding terbalik dengan Anggita.


"Malas." ketus Anggita yang masih kesal. Ayu dan Steve tersenyum saja jadinya.


"Kasihan Steve, sudah lama tidak makan lalapan." kata Romi lagi membujuk Anggita.


"Sambalannya mana Rom?" tanya Ayu ketika membuka tudung saji.


"Panggik tuh si Neng Geulis." ketus Anggita membuat Romi terbahak.


"Wait..." katanya sambil menekan tombol handphonenya.


"Ya Mas?" suara cempreng Eneng terdengar sampai keluar.


"Sambalannya mana? bawa kesini sekalian KTP kamu ya Geulis." kata Romi pada Eneng Geulis.


"Ok, Mas." jawabnya semangat.


"Ish sudah gue marahi saja, masih panggil Geulis." kesalnya Anggita bertambah-tambah.


"Memang dia Geulis, sayang." kata Romi menjelaskan dengan kalimat yang ambigu.


"Kesal ih." Anggita segera menyendok nasi, rasa kesal yang berlebihan membuatnya ingin makan saja.


"Kamu tuh cantik loh kalau cemburu gini, iya kan Yu?" Romi menaikkan alisnya pada Ayu yang mengedikkan bahunya tidak mau ikut-ikutan.


"Genit sih lu." kata Ayu ikutan kesal.


"Enak saja siapa yang genit, hati gue cuma untuk Anggita seorang. Kamu saja gue tolak." kata Romi tengil.


"Ish gue juga nolak sih. Sayang habis makan kita kesawah ya." ajak Ayu pada Steve.


"Siang-siang kesawah, panas." tolak Steve yang tidak tahan panas.


"Sejuk begini udaranya. Foto-foto bagus kan latar belakang sawah. Nanti di S'pore tidak ketemu yang begini sayang." bujuk Ayu lagi.


"Aih mau pindah ke S'pore setelah menikah nanti ya?" tanya Romi pada keduanya.


"Rencananya sih begitu." jawab Steve sambil tersenyum.


"Kita di Jakarta saja ya, sayang." kata Romi mengusap bahu Anggita yang masih kesal.


"Mas Romi, maap sambalnya ketinggalan. Ini KTP Eneng, buat undian ya?" Eneng muncul sambil membawa semangkok sambal dan KTP.


"Iya pinjam dulu KTPnya nanti saya kembalikan." kata Romi, Eneng mengangguk dan meninggalkan mereka berempat.


"Tuh baca." kata Romi pada Anggita, Anggita membaca nama pada KTP lalu menutup wajahnya karena malu. Steve dan Ayu yang penasaran ikut melihat KTP Eneng lalu tertawa sepuasnya.


"Bokap Nyokapnya ngajak ribut." kata Steve masih tertawa.


"Gue genit?" tanya Romi pada Anggita dan Ayu dengan wajah yang menahan tertawa.


"Sayang maaf." kata Anggita dengan wajah memerah menahan malu.


"Kalian lihat kan siapa yang bucin?" tanya Romi pada Steve dan Ayu kemudian memeluk Anggita senang karena bisa membuat Anggita yang selama ini terkesan acuh akhirnya cemburu juga.