
Waktu cepat sekali berlalu, sebulan sudah Anggita menjadi istri Romi. Mereka sudah kembali ke rutinitas. Pagi berangkat kerja dan sore menjelang malam kembali Ke rumah. Romi tentu saja masih tinggal di rumah orang tua Anggita, ia selalu menandai kalendernya, masih dua bulan lagi dari waktu yang ditentukan Mommy Liana untuk memperbolehkan mereka pindah.
"Vit, rumah yang kemarin gue tunjuk sudah di cek?" tanya Romi pada Vita. Ia terus mencari rumah untuk tempat tinggalnya bersama Anggita dan anak-anak mereka nanti. Anggita berpesan supaya rumah yang mereka tempati nantinya tidak usah terlalu besar, halamannya saja yang besar, itu pun untuk bercocok tanam sedikit sisanya untuk parkir Mobil jika ada kumpul keluarga atau kumpul sahabat.
"Sudah oke sih menurut gue, lu tidak tanya Anggita?" tanya Vita pada Romi, menurutnya Anggita harus dilibatkan karena mereka yang akan tinggal disana nanti.
"Anggie terima beres saja." jawab Romi terkekeh.
"Salah lu Rom, mending tanya Anggita juga deh." kata Vita.
"Ck... main salah-salahan lagi." protes Romi membuat Vita terbahak.
"Masalahnya gue selalu maunya dilibatkan oleh Felix, nah elu main ambil keputusan sendiri saja."
"Iya-iya, gue pikir kalau istri itu bukannya terima saja ya, tidak perlu repot."
"Ya terserah kalau maunya begitu." kata Vita terkekeh.
Handphone Romi berdering, waktunya makan siang. Romi tersenyum sewaktu melihat pada layar, istrinya yang menghubungi.
"Iya sayang." sambutnya riang.
"Sudah makan siang?" pertanyaan rutin yang diterima Romi semenjak punya istri.
"Belum, nanti saja." jawab Romi senyum bahagia merasa diperhatikan.
"Jangan malas makan ya, kamu tidak boleh sakit." kata Anggita.
"Kenapa kalau aku sakit?" tanya Romi.
"Aku sedih. Kamu janji akan membuat aku selalu bahagia kan. Jadi makan tepat waktu, jangan cari penyakit." cerocos istrinya.
"Iya sayang." Romi terkekeh.
"Rom..." hmm mulai kepembahasan selanjutnya, biasa kalau ada maunya.
"Mau apa?" tanya Romi tembak langsung.
"Hehehe, aku boleh makan siang di Mal ya." ijin Anggita, Romi suka marah kalau Anggita pergi tanpa ijinnya.
"Sama siapa?" tanya Romi.
"Sosa, sebentar lagi dia jemput aku." Anggita terkekeh. Sudah mau dijemput baru minta ijin, kalau Sosa sudah dijalan bagaimana mungkin Romi tidak mengijinkan.
Sejak menikah dengan Romi memang Anggita dekat sekali dengan adik iparnya, mereka sering jalan berdua. Apalagi Roma yang biasanya selalu bersama Sosa, sekarang sudah pindah ke Malang karena Raymond bertugas disana.
"Kalian hanya makan saja?" tanya Romi sedikit curiga.
"Mungkin." jawab Anggita tertawa, pasti ada yang mereka beli nantinya, entah apapun itu.
"Hmmm... mencurigakan." Romi ikut tertawa.
"Naka tidak pulang sudah seminggu jadi aku harus menghibur Sosa." kata Anggita pada suaminya.
"Iya, Naka sedang di Thailand." jawab Romi.
"Kamu tahu?" tanya Anggita.
"Sosa juga tahu, perginya sama Papa." jawab Romi terkekeh.
"Kenapa Sosa galau?" tanya Anggita bingung.
"Tanya saja sama Sosa, dia selalu galau kalau Naka bertanding dan pergi lama." Romi terbahak.
"Kasihan Sosa. Harusnya Naka tidak usah bertanding lagi dong." dengus Anggita kesal.
"Bersyukurlah kamu menikahnya sama aku bukan sama Naka." sindir Romi, mengingat Anggita pernah mencintai Naka sepupunya sendiri.
"Ish siapa juga yang mau menikah dengan Naka." sungut Anggita.
"Hahaha iya memang tidak boleh kalian kan saudara. Tapi pernah cinta kan?" Romi terbahak.
"Ish Romi menyebalkan. Aku saja sudah lupa, kamu malah ingat-ingat." Anggita merajuk, Romi terbahak.
"Sayang, kemarin aku lihat rumah sesuai seperti yang kamu mau, rumah kecil tidak bertingkat halaman besar, kapan kita bisa lihat?" tanya Romi akhirnya melibatkan istrinya seperti yang Vita sarankan. Vita yang sedari tadi masih diruangan Romi mengangkat jempolnya. Romi mencibir pada Vita.
"Besok boleh, hari ini kan untuk Sosa." jawab Anggita.
"Kamu ijin lagi dari kantor?" tanya Romi.
"Seperti yang Daddy bilang, yang penting pekerjaan sudah selesai." jawab Anggita terkekeh, tak lama mereka menutup sambungan teleponnya. Sosa sudah datang menjemput Anggita ke kantor.
"Biasa saja." jawab Sosa yang menggunakan supir, ia paling malas menyetir.
"Sudah bilang Romi?" tanya Sosa.
"Sudah." jawab Anggita tersenyum.
"Kamu sudah bilang Naka?" Anggita balik bertanya.
"Sudah, tapi paling dibaca saja tidak dibalas." Sosa memajukan mulutnya beberapa senti.
"Ish Naka kok begitu." kesal Anggita.
"Memang begitu makanya aku sebal." jawab Sosa.
"Ish, tidak usah kabari saja sekalian." kata Anggita.
"Dosa, kata Papa istri kalau pergi harus seiijin suami."
"Lah ini kamu pergi, Naka belum mengijinkan." Anggita tertawa.
"Kan aku sudah lapor dan dia sudah baca."
"Tapi tidak dibalas, hanya dibaca memangnya koran." gerutu Anggita.
"Kalau kamu telepon bagaimana? diangkat?" tanya Anggita lagi.
"Iya kadang diangkat." jawab Sosa.
"Kenapa tidak telepon." Anggita menepuk bahu Sosa.
"Aku takut dia lagi nyetir, dia kan bertanding." kata Sosa.
"Sosa, bertanding juga tidak menyetir selama dua puluh empat jam kali." dengus Anggita.
"Iya sih, coba ya aku telepon." kata Sosa kemudian.
"Kenapa Papa yang angkat?" tanya Sosa saat menghubungi Naka, Anto yang mengangkat teleponnya.
"Naka lagi memeriksa kendaraannya." kata Papa, membuat Sosa mendengus kesal.
"Ah ya sudah lah." kata Sosa melemah.
"Segitu rindunya." goda Anto.
"Bodo ah." kata Sosa lagi tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Nanti Papa minta Naka hubungi kamu." kata Anto terkekeh.
"Iya." jawab Sosa malas, kalau Papa yang minta sudah pasti Naka akan menghubunginya, tapi tidak pernah inisiatif untuk menghubungi Sosa. Pikirnya kalau sudah dapat kabar dari Papa kalau Sosa sehat dan aktifitas itu sudah cukup.
"Lagi sibuk ya?" tanya Anggita melihat ekspresi wajah Sosa.
"Iya." jawab Sosa.
"Kenapa tidak diminta berhenti saja?" tanya Anggita.
"Naka bilang tidak akan berhenti, sampai terpaksa harus mengurus perusahaan keluarganya, jadi aku hanya berdoa saja semoga perusahaan keluarganya segera meminta Naka untuk aktif disana, jadi tidak lagi aktif membalap." Sosa terkekeh.
"Iya loh, ah aku mau bicara nanti malah tambah-tambah pikiran kamu." kata Anggita.
"Iya aku tahu kekhawatirannya kamu seperti wanita pada umumnya kan." Sosa terkekeh. Anggita ikut terkekeh.
"Kalau itu sih sudah aku serahkan sama Allah, aku bilang Naka, aku juga banyak yang suka jadi kalau Naka macam-macam seminggu juga aku bisa dapat gantinya." Sosa menjulurkan lidahnya.
"Ish jangan berdoa begitulah, doakan Naka tidak macam-macam. Nanti aku dan Wilma ikut ancam Naka." kata Anggita membuat Sosa terbahak.
"Ame juga sudah ancam Naka." kata Sosa lagi.
"Nah, apa tidak tertekan Naka hidup penuh dengan ancaman." Anggita terbahak, membayangkan sepupunya.
"Setelah dari Mal kita kerumah Ame saja, bagaimana?" kata Anggita pada Sosa.
"Nanti Naka kena semprot Ame kalau tahu dia masih jarang menghubungi aku." kata Sosa bingung.
"Ah, kamu juga sih masih membela suamimu." kata Anggita mendorong bahu Iparnya, mereka pun tertawa, biar kesal bagaimanapun kalau cinta tetap saja tidak tega suami dimarahi Ibunya.
Benar kata Romi, Anggita sangat bersyukur suaminya selalu memberi kabar dan memperhatikannya walaupun sedikit posesif, itu lebih baik dari pada dilepas saja seperti Sosa.