Never Say Never

Never Say Never
Backstreet



Roma datang lebih dulu sebelum Ayu dan Anggita, sementara Sarah tidak lama setelah Roma pun tiba. Langsung saja Raymond senang hati menyambut kedatangan Roma, kemudian Arkana pun heboh menjemput Sarah di lobby restaurant.


"Kenalkan ini Sarah." kata Arkana pada Sahabatnya termasuk Roma.


"Hai Sarah, selamat bergabung." sambut Roma ramah, Sementara yang lain mengulurkan tangan menyalami Sarah.


"Senang ya bisa kumpul sama teman begini." kata Sarah duduk dibangku yang sudah disiapkan Arkana.


"Ini belum semua, kalau kumpul semua lebih ramai lagi." kata Raymond pada Sarah.


"Iya, Chico sama Naka kan masih harus jaga Ame." kata Arkana pada Sarah.


"Kamu?" tunjuk Sarah bingung.


"Aku atas restu Ame ijin mau jalan sama kamu." jawab Arkana menyeringai.


"Paling bisa ini Arkana." Romi terkekeh menepuk pundak sahabatnya. Arkan jadi ikut terkekeh.


"Mana makanannya belum dipesan ya?" tanya Steve pada yang lain.


"Pesan Steve." pinta Romi pada Steve.


"Siap kakak." Steve membungkuk sopan pada Romi, kembali semua terbahak.


Ayu dan Anggita datang tak lama kemudian, Steve yang sibuk memesan makanan jadi tidak bisa konsentrasi.


"Bantuin Steve, Yu." kata Romi pada Ayu, langsung saja dengan senang hati Ayu menghampiri Steve.


"Pesan apa?" tanya Ayu pada Steve. Steve tersenyum dan langsung saja merangkul Ayu, benar-benar nekat tidak khawatir diketahui oleh salah satu Dari orang tua mereka.


"Bawa ke meja saja menunya kalau bingung." kata Ayu lagi. Steve pun menurut dan membawa beberapa buku menu ke meja supaya yang lain pesan sendiri. Sebenarnya mereka sudah hafal menu yang tersedia di Warung Elite, tapi untuk Anggita dan Sarah yang jarang ikut pasti memerlukan buku Menu.


Anggita baru setahun ini kembali Ke Indonesia, setelah menyelesaikan kuliahnya di Australia, kampus yang sama dengan Daddynya Leo. Saat berkenalan dengan Romi, ia baru saja beberapa hari menginjakkan kakinya di Indonesia.


"Kamu pesan apa sayang?" tanya Romi pada Anggita yang sudah duduk manis disampingnya.



Anggita seperti ini deh, cantik kan?


"Apa yang enak di sini?" tanya Anggita pada Romi.


"Semua enak, apa lagi Romi yang bayar." jawab Arkana membuat semuanya tertawa.


"Ya sudah Romi pilihkan saja, aku ikuti kamu." jawab Anggita tersenyum manis pada Romi.


"Steve, seperti biasa ya gue sama Anggita." katanya pada Steve yang sedang menulisi menu yang di pilih sahabatnya.


"Oke, minumnya?"


"Air Mineral tidak dingin." jawab Romi memesan sesuai kebiasaan Anggita.


"Cantik betul sih?" bisik Romi membuat Anggita salah tingkah.


"Apa sih, jangan dekat-dekat. Mestinya kita tidak bertemu satu bulan." dengus Anggita mencubit perut Romi.


"Sakit sayang." desis Romi mengusap perutnya. Arkana menggelengkan kepalanya, menaikkan alis pada Romi kemudian mereka tertawa. Tentu saja mentertawakan Romi yang terlihat begitu bucinnya pada Anggita.


"Sudah tahu mau pesan apa?" tanya Arkana pada Sarah.


"Ini makan ala carte atau bagaimana?" tanya Sarah pada Arkana.


"Ala carte." jawab Steve cepat.


"Minumnya?" tanya Steve sudah seperti waitress.


"Sama seperti Anggie, Air Mineral." jawab Sarah kemudian.


"Gue juga samain, nyong." kata Arkana pada Steve.


"Ray sama Roma seperti biasa?" tanya Steve pada Ray yang asik memainkan rambut Roma.


"Hu uh." jawab Raymond menyadarkan bahunya pada Roma.


"Pasti habis begadang deh." dengus Roma kesal melihat Raymond yang selalu terlihat lemas.


"Iya." jawab Raymond pelan, tidak bisa menahan kantuknya.


"Ini loh yang bikin gue kesal sama Raymond, lagi asik jalan tahu-tahu ngantuk, lemas, ini lah itu lah, seperti tidak semangat hidup." Roma mulai ngomel.


"Sayang, jangan galak-galak." bisik Raymond pada Roma.


"Kamu sih susah di kasih tahu. Wajar tidak kalau gue khawatir, rumah tangga gue seperti apa kalau laki gue tidak semangat begini?" kata Roma lagi meminta pendapat sahabatnya, satupun tidak ada yang berkomentar, susah juga karena Raymond masih ingin mempertahankan hobbynya sedangkan ia juga tidak mau melepas Roma.


"Kamu mending pikir lagi deh, aku kan sudah bilang pilih aku atau Komik. Kalau kamu pilih komik ya kita berteman saja. Kamu cari saja pasangan sesama komikus, yang bisa mengerti hobby kamu dan ritme kamu." dengus Roma yang jadi kehilangan moodnya.


"Jangan begitu dong, aku maunya kamu." jawab Raymond lagi, tidak peduli saat ini Roma sedang ngomel dihadapan sahabatnya.


"Makan dulu, nanti pulangnya dibahas lagi." kata Steve pada keduanya.


"Iya, ayo nanti hilang berkahnya." kata Romi lagi membujuk Roma.


"Kasih tahu deh Rom, ini temanmu, aku pusing keras kepala tidak jelas." kata Roma kesal.


"Iya nanti aku kasih tahu." kata Romi pada sepupunya tersayang. Raymond menegakkan kepalanya berusaha menghilangkan rasa kantuknya, ia memang selalu begadang untuk mengerjakan komiknya, karena di pagi hingga sore hari sudah diminta ayah Eja membantu di perusahaan keluarga mereka.


"Kalau kamu begini terus, bisa tumbang kamu Ray, masih muda sudah sakit-sakitan karena jam tidurnya tidak beres." omel Roma lagi.


"Iya sayang, doakan yang baik-baik dong." kata Raymond yang pasrah saja dimarahi Roma, sementara Steve sudah menyerahkan daftar menu pada Pelayan restaurant.


"Duh lihat mereka bertiga pada bucin, kamu terganggu tidak? kalau terganggu kita pisah meja saja." kata Arkana menggoda ketiga sahabatnya.


"Memang itu sih mau lu, pisah meja." Romi terbahak menoyor kepala Arkana pelan. Arkana jadi ikut terbahak.


"Tapi betulkan, mereka terlihat bucin?" tanya Arkana pada Sarah. Sarah mengangguk sambil terkekeh, melihat pemandangan disekitarnya.


"Belum saja lihat Arkana bucin." kata Steve pada Sarah.


"Tidak seperti kalian lah." kata Arkana percaya diri.


"Kita lihat ya Atan, kamu pasti lebih parah bucinnya dibanding mereka bertiga." kata Ayu terbahak, sudah bisa membayangkan Arkana bagaimana gayanya jika cinta mati pada wanita.


"Ish Never." jawab Arkana ikut terbahak.


"Never Say Never." jawab semuanya bersamaan, kemudian kembali tertawa bersama.


"Rom, kamu masih saja Kirim hampers dua hari ini." kata Anggita kemudian pada Romi.


"Kamu suka tidak?" tanya Romi tanpa menjelaskan kalau ia lupa memberitahu Vita.


"Suka, tapi kan aku bilang jangan Kirim apapun sebulan ini sampai urusan kamu beres." kata Anggita mengingatkan Romi.


"Urusan aku sudah beres, sayang. Nih tinggal menunggu mereka berdua, Mama dan Papa aku sudah tahu. Hanya saja aku belum bisa bergerak bebas karena harus menjaga perasaan Papa Andi dan Mama Pipit." Romi menjelaskan pada Anggita. Steve mencebikkan bibirnya, sementara Lembayung tampak cengengesan.


"Sabar ya Anggie, banyak hal yang harus diluruskan. Aku juga maunya cepat, capek juga harus cari cara supaya bisa keluar sama Steve, seperti backstreet jadinya." Ayu ikut menjelaskan pada Anggie, sementara yang lain hanya menyimak, Sarah yang tidak tahu apa pun memilih diam dan tidak ambil pusing.