Never Say Never

Never Say Never
Honeymoon



Hari sabtunya para tamu mulai berdatangan di acara ramah tamah pernikahan Steve dan Ayu, karena mereka tidak mau dibilang resepsi. Opa Santoso mulai mengenalkan Ayu sebagai istri Steve pada kerabatnya, banyak yang memuji kecantikan Ayu hingga Steve sedikit kesal, sementara Steve sendiri rupanya cukup populer dikalangan para pencari menantu, banyak komentar yang membuat Ayu merasa risih mendengarnya.


"Terlambat jodohkan Steve, sudah keburu digaet orang." komentar salah satu tamu, Ayu masih tersenyum mendengarnya.


"Waduh Steve, kenapa tidak bilang mau menikah muda, anak Tante padahal sudah lirik-lirik kamu loh." Steve tertawa saja mendengarnya sambil melirik Ayu yang mulai merasa tidak nyaman mendengarnya.


"Kak Steve pantas saja tidak pernah mau aku ajak kencan." sungut seorang gadis saat menghampiri Steve dan Ayu.


"Kayla, kenalkan ini Ayu Istriku." Steve tertawa memperkenalkan Ayu pada gadis tersebut.


"Halo..." Ayu berusaha ramah pada gadis tersebut.


"Aku Kayla." katanya pada Ayu.


"Kayla anak Bapak Suwondo." Ayu menunjuk seorang Bapak yang sedang bicara dengan Opa.


"Hati-hati Kak Ayu, Kak Steve ini banyak penggemarnya." kata Kayla pada Ayu.


"Ayu lebih banyak penggemarnya, Aku yang mesti hati-hati." kata Steve merangkul Ayu mesra.


"Yah kalau begitu kalian harus saling hati-hati." kata Kayla mengedikkan bahunya.


"Asal saja tidak tergoda, aman itu." kata Ayu pada Kayla.


"Lihat saja nanti, Kak Steve tahan godaan apa tidak?" kata Kayla menyeringai.


"In syaa Allah tahan lah. Selama ini saja tidak terjadi apapun." jawab Steve.


"Karena Kak Steve selama ini selalu melarikan diri ke Indonesia, sekarang sudah menetap di S'pore kan." Kayla terkekeh.


"Memangnya di S'pore ada pelakor juga?" tanya Ayu tersenyum canggung.


"Pelakor sih dimana-mana, waspadalah." kata Kayla terkekeh meninggalkan Steve dan Ayu.


"Kayla juga salah satu penggemar kamu?" tanya Ayu pada suaminya.


"Entah ya, aku tidak merasa dan tidak peduli juga." jawab Steve terkekeh.


"Aku jadi khawatir." sungut Ayu.


"Sayang, mesti saling percaya. Ingat saja bagaimana usaha kita untuk bisa bersama." bisik Steve pada Ayu. Ayu tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Kamu jangan tergoda ya."


"In syaa Allah, doakan aku terus." kata Steve mengecup pipi dahi istrinya, tidak peduli mereka sedang menjadi sorotan saat ini.


"Duh mesra-mesraan bisa nanti kan." kata Arkana yang lewat tepat disamping keduanya.


"Namanya juga pengantin baru." timpal Naka yang berjalan disebelah Arkana.


"Rese, berasa senior ya?" Steve terbahak jadinya.


"Jam berapa ke Phi Phi Island, kita jadi ikut, tidak masalah kalau sampai hari senin kata Popo." Naka tersenyum senang bisa berlibur bersama para sahabatnya.


"Asik Ramai." wajah Ayu sangat sumringah.


"Tidak minta pisah kamar ya." pesan Steve membuat semuanya tertawa, semalam mereka tidur sesuai keinginan Ayu, terpisah dengan istri masing-masing.


"Iya lah." jawab Ayu pasti.


"Jadi kita ikut semua ya? kalian sudah reservasi tempat, khawatir kamarnya penuh." Steve mengingatkan sahabatnya.


"Sudah diurus Vita, sekretaris Romi." jawab Naka.


Pesta telah usai, semua bersiap menuju bandara. Opa dan Oma sudah menghilang lebih dulu. Ayu membersihkan sisa make-up nya, untung saja tadi rambutnya hanya di blow biasa saja tidak perlu di rapikan lagi.


"Sayang, jangan pakai bikini." pesan Steve pada Ayu.


"Berenangnya bagaimana?"


"Sudah disiapkan Oma, baju renang muslimah." jawab Steve terkekeh.


"Sudah mau berangkat?" tanya Mario pada anak dan menantunya, ia masih berkumpul bersama sahabatnya yang lain.


"Sebentar lagi Pi. Opa sudah jalan ya?' Steve balik bertanya.


"Papi Mami sampai kapan disini, tunggu aku pulang honeymoon tidak?" tanya Steve terkekeh.


"Memangnya Papi tidak ada kerjaan di Jakarta." kata Regina terkekeh.


"Nanti malam kami kembali Ke Jakarta." jawab Mario, percuma juga berlama-lama di S'pore sementara orang tua dan anaknya tidak dirumah.


"Papa Andi juga nanti malam?" tanya Steve pada Andi yang sedari tadi menyimak pembicaraan.


"Iya kita semua satu pesawat." jawab Andi, pandangannya beralih pada Ayu.


"Papa..." peluk Ayu pada Papanya.


"Ish, baru menegur Papa. Dari tadi sibuk sendiri." kata Pipit pada Ayu.


"Mama, Ayu bingung orangnya terlalu ramai, jadi tidak tahu lagi siapa yang mau Ayu sapa." kata Ayu membela diri.


"Makanya fokus dong." Andi mengacak anak rambut Ayu.


"Iya." jawab Ayu terkekeh.


"Mami ternyata Steve banyak penggemarnya loh." adu Ayu pada Mami Regina.


"Masa?" Regina terkekeh.


"Duh tadi komentar tamu tidak enak


sekali bikin Ayu kesal." keluh Ayu.


"Jangan didengarkan, biasa itu ada saja yang menguji kesabaran." Regina menenangkan Ayu.


"Ya sudah kalian berangkatlah." kata Mario begitu melihat rombongan yang lain sudah mulai geret koper.


"Naka, Sosa yang benar bikin anaknya." pesan Intan pada anak dan menantunya.


"Ih Mama, aku saja yang dipesan begitu, semua yang ikut ini tujuannya sama." jawab Sosa konyol. Semua terbahak me dengarnya.


"Friend gue mesti balik Jakarta sekarang." kata Reza begitu selesai membaca pesan di handphonenya.


"Kenapa?" tanya Mario bingung.


"Kenan kecelakaan." jawab Reza agak panik.


"Parah Yah?" tanya Raymond pada Ayahnya.


"Lumayan hancur mobilnya, kecelakaan di Cirebon." Reza membaca ulang pesan yang diterimanya.


"Gue juga ikut Ayah kalau begitu." kata Raymond pada sahabatnya, ia tidak mungkin liburan bersenang-senang sementara Om kesayangannya entah bagaimana kondisinya (buat yang belum baca, kisah Kenan ada di "I Love you too" ya).


Ya sudah kalau begitu kita semua kembali Ke Jakarta sekarang saja." kata Alex pada yang lain.


"Coba gue urus dulu." Mario menghubungi sekretarisnya untuk mengurus reschedule tiket keberangkatan mereka ke Jakarta.


"Jangan sampai mengganggu kalian, tidak apa Gue, Kiki, Raymond dan Roma kembali Ke Jakarta sekarang." Reza tidak mau merepotkan sahabatnya.


"Siapa yang terganggu sih, memang kita harus kembali lebih cepat, lagi pula acara sudah selesai." jawab Anto disambut anggukan kepala sahabatnya yang lain.


Karena terjadi sesuatu diluar perkiraan mau tidak mau Raymond mengundurkan diri dari acara honeymoon bersama sahabatnya. Dibiarkannya saja tiket hangus, sementara penginapan bisa dialihkan pada sikembar yang baru memutuskan untuk ikut.


"Kamu tidak apa kan kita kembali Ke Jakarta?" tanya Raymond pada Roma.


"Tentu saja tidak apa-apa, masa iya Raymond kembali Ke Jakarta, Roma tetap liburan menemani yang lain honeymoon." celutuk Monik memecahkan ketegangan yang ada.


"Hahahaha Mami, nanti kita honeymoon yang temani Papi, Mami, Ayah dan Bunda." jawab Roma membuat semuanya tertawa.


"Oke, siap-siap, tiket sudah reschedule.' kata Mario setelah mendapat kabar dari sekretarisnya.


"Kami ke Bandara duluan ya." Pamit Steve pada semuanya.


"Ray, semoga Om Kenan keadaannya baik-baik saja." kata Steve memeluk Raymond yang sedikit tegang, karena group chat keluarganya dari tadi tidak berhenti berbunyi.


"Thanks Steve, have fun." Raymond tersenyum.


"Rom, kalau goal kabari." kata Raymond terkekeh, masih saja bisa jahili Romi yang curhat, berharap malam pertamanya berhasil saat honeymoon nanti.