
"Jadi kalian akan menikah tiga hari lagi, seperti Raymond dan Roma juga kalian menikah disini." kata Andi pada anak-anaknya. Anak sahabatnya sudah seperti anaknya juga.
"Jangan ada satupun yang pulang. Sudah disiapkan bungalow untuk kalian menginap disana, sekalian menemani Raymond dan Roma honeymoon." sambung Mario, keempat anak muda itu masih menyimak.
"Anggita dan Ayu tetap bersama kami disini. Kalian tidak boleh saling bertemu dulu sampai menjelang pernikahan, mengerti?" tegas Anto pada ke dua pasang pembuat ulah ini. Romi menarik nafas panjang.
"Papa yang benar saja, kenapa kami harus menikah disini, aku dan Anggie sudah punya konsep yang bagus untuk pernikahan kami." dengan beraninya Romi membantah keinginan orang tua mereka.
"Sudah bagus kami percepat pernikahan kalian, Masih saja membantah." omel Intan pada Romi.
"Nanti kalau mau bikin pesta bikin saja sendiri, yang penting halal dulu." Pipit ikut buka suara. Ia tidak enak pada Enji yang sudah susah payah mau kerepotan menyiapkan tempat dan mengurus segala sesuatunya.
Tapi untungnya Enji sedang kordinasi dengan ketiga putra dan menantunya. Mau tidak mau sikembar tertahan juga tiga hari di bungalow, padahal bisa saja mereka tetap beraktifitas di Jakarta nanti saat hari H baru datang ke acara. Ame menolak itu, ia ingin semuanya berkumpul, kapan lagi bisa bersama dengan para sahabatnya dan Keluarga.
"Memangnya kamu bisa tahan tidak peluk-peluk dan cium-cium Anggita?" Intan menatap tajam pada Romi. Anggita menunduk malu.
"Mama ih, cuma cium kening." jawab Romi pelan menundukkan kepalanya.
"Yakin cuma kening? kamu ini sudah besar masih saja suka membantah." tambah saja ngomelnya Intan pada Romi.
"Sepertinya iya cuma kening. Ok lah Mama menikah tiga hari lagi disini, deal, kami setuju." jawab Romi tidak mau lagi mendengar Intan terus mengoceh, Dari pada ditelusuri sudah cium apa lagi, bikin malu saja.
"Nah dari tadi dong begitu." Intan terkekeh menepuk paha Anto suaminya.
"Aku belum beli cincin kawinnya. Mas kawinnya nanti bagaimana. Ah Mama..." keluh Romi berhayal ia dan Anggita memilih sendiri Mas Kawin untuk Anggita
"Minta dong sekretarismu beli, biasanya juga dia yang kamu suruh kirim bunga atau hampers untuk Anggie." tegas Anto membuat Romi dan Anggita cengengesan . Papa tahu saja, batin Romi terkekeh.
"Steve, Ayu kalian mau membantah juga?" tanya Regina bersedekap, menatap Steve dan Ayu dengan mata setengah memicing.
"Tidak Mami, kami ikuti baiknya saja bagaimana." jawab Steve mewakili Ayu, bisa diijinkan menikah saja dengan Ayu ia sudah sangat bersyukur.
Ok. Kalau begitu setelah acara langsung ikut Arkana ke bungalow ya, Steve dan Romi. Ayu dan Anggita ingat tetap disini. Kalian kami pingit, tidak ada yang boleh bertemu sampai kalian sah menjadi suami istri." Kata Pipit pada mereka berempat.
"Baru saja bertemu kemarin, sudah di pingit sajam" Steve terkekeh memandangi Ayu seakan tak rela.
"Sabar sajalah, setelah tiga hari kan enak mau apa saja bebas sudah halal." bisik Romi menyeringai jahil.
"Romi kamu kabari Opa dan Oma, kalau marah biar kamu saja yang dimarahi." kata Intan pada Romi.
"Siap Mama." jawab Romi tidak lagi membantah.
"Aku telepon Opa juga, Pi?" Steve meminta ijin pada Papi.
"Papi saja, mau tahu Opa akan menjelaskan apa sama Papi." jawab Mario ingin mendengar langsung dari Papinya. Regina terkekeh, pasti lama kalau Mario sudah menelepon Papinya, sedikit berdebat walaupun tetap saja yang menang Papi.
"Jangan dimarahi Opa." pinta Steve pada Mario.
"Kamu kira Papi berani memarahi Opa kamu itu?" dengus Mario kesal sendiri. Sahabatnya tertawa melihat Mario menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah setua ini tetap saja takut sama Papinya, tidak mau kualat pastinya.
Papi dan Mami juga Auntie harus ke Jakarta jika ingin melihat cucu kalian menikah tiga hari lagi, dirumah Enji.
Mario mengirim pesan pada Papi. Biar saja pasti akan protes karena menikahkan Steve mendadak tanpa diskusi dengan Papinya. Tidak lama handphone Mario berdering. Mario terkekeh saat melihat nama Papi pada layar.
"Tidak boleh protes." dengus Mario pada Papi.
"Siapa yang mau protes, cuma mau tanya memangnya anaknya Enji ada yang perempuan? tidak jadi menikah dengan Ayu?" tanya Papi Santoso pada Mario.
"Papi lupa kalau Ayu ini keponakan Enji?"
"Oh jadi juga menikah dengan Ayu. Syukurlah. Ada landasan helicopter tidak disana? tanya Papi pada Mario.
"Kenapa?" tanya Papi dari seberang.
"Papi merahasiakan padaku saat Steve menjadi Muslim." protes Mario pada Papinya.
"Tidak merahasiakan hanya belum cerita." Papi Santoso berkelit sambil terkekeh.
"Kenapa hanya aku yang baru tahu, sementara yang lain sudah, Steve itu kan anakku." mulai naik nada suara Mario.
"Ish, Steve juga cucuku, sudahlah Regina yang melahirkannya saja tidak komplen, kamu ini Papi ringankan tugasnya malah ngomel." gantian Papi yang ngomel sekarang.
"Aku tidak ngomel hanya protes." sanggah Mario.
"Apa yang mau di protes, Anakmu sudah yakin dengan pilihannya, Papi tentu saja dukung selama itu baik. Kalau masih mau protes silahkan protes sama Lani." kata Papi Santoso menyebut nama adiknya yang disegani Mario.
"Itu juga kalau kamu siap mendengar ocehannya tiga hari tiga malam." kata Papi terkekeh. Santai sekali bagaimana Mario bisa marah, selalu mau memang sendiri, kalau sudah terpojok sebut nama Lani, Mario akan langsung diam, karena Oma Lani kalau bicara selalu halus tapi menusuk. Tidak perlu bicara tiga hari tiga malam, Lima menit saja bisa membuat Mario kepikiran.
"Terserah Papi lah." Mario malas berdebat, setidaknya sudah menyampaikan protesnya, hanya sekedar protes tidak lebih.
"Memang terserah Papi, makanya nanti setelah menikah, mereka Papi boyong ke S'pore." jawab Papi Mario seenaknya sendiri.
"Aku sama Regina bagaimana?" tanya Mario setengah hati melepas Steve menetap di S'pore. Bisa lebih sering Mario dan Regina kesana, apa lagi jika Ayu sudah punya anak nanti.
"Kalian tetap di Jakarta saja, dari dulu juga kamu terbiasa jauh dari Papi, pasti juga bisa kalau jauh dari Steve. Lagi pula Papi dan Mami kesepian disini, kami butuh Steve dan istrinya menemani kami. Kalau kamu kan banyak teman disana." Papi memberi alasan panjang lebar.
"Iya-iya terserah Papi saja. Kenapa juga bukan Papi yang pindah kesini." tanya Mario heran.
"Macet, capek sudah tua harus kena macet." jawab Papi Santoso memberi alasan.
"Kapan mau kesini? Apa mau bareng saja sama Papa Burhan?" tanya Mario lagi.
"Iya, aku dan Burhan datang jumat setelah sholat shubuh." jawab Papi Santoso.
"Loh Papi sudah komunikasi dengan Papa Burhan?"
"Ini lagi saling chat. Jangan iri kalau Papi multitasking." kembali Papi Mario terkekeh.
"Papi terus saja bercanda, harusnya aku marah sama Papi." dengus Mario masih tidak terima.
"Untuk apa marah menghabiskan energi, kalau kamu lapang dada akan lebih membahagiakan dirimu ban orang disekitarmu." Papi mulai ceramah, dengan kata lain tetap tidak mau disalahkan.
"Aku lapang dada kok." jawab Mario seperti anak kecil.
"Mana ada lapang dada tapi komplen." desis Papi pada Mario.
"Aku hanya tidak terima anakku menjadi Muslim tapi aku tidak menyaksikannya secara langsung."
"Ada videonya, nanti Papi bawakan kamu tonton saja."
"Harusnya aku dan Regina hadir disana." masih saja protes. Papi terkekeh.
"Kondisi istrimu tidak memungkinkan, takutnya tidak kuat malah pingsan lagi." jawab Papi jujur.
"Berarti Regina mendapat info terus dari Papi?" tanya Mario melirik istrinya.
"Iya, dan dia tidak siap membahasnya langsung dengan kamu." jawab Papi Santoso apa adanya.
Sudahlah benar kata Papi apalagi yang mau di komplen, toh semua sudah berjalan, jika sudah terjadi sudah tentu atas ijin Allah. Mario menutup sambungan teleponnya dan kembali berkumpul bersama para sahabatnya setelah tadi sempat memisahkan diri.