
"Sayang, berapa malam kita menginap disini?" tanya Anggita pada Romi.
"Kamu tidak betah?" Romi mendekati istrinya, mereka berada dikamar saat ini.
"Aku kangen kamarku, sudah berapa hari tidak pulang." jawab Anggita membuat Romi menyeringai.
"Jangan-jangan Mommy minta kita tetap tinggal di rumahmu karena kamu yang minta?" Romi memicingkan matanya.
"Ih menuduh..." Anggita bersungut membalikkan badannya membelakangi Romi.
"Betul apa tidak?" tanya Romi menggelitiki Anggita, hingga Anggita berteriak kegelian, ia paling tidak tahan menahan geli.
"Romiii!!!" teriak Anggita sambil terkekeh.
"Ayo jawab, betul apa tidak?" Romi masih saja menggelitiki pinggang istrinya.
"Hu uh." jawab Anggita akhirnya mengaku.
"Tapi itu sudah lama sekali, sebelum aku tahu siapa jodohku." kata Anggita kemudian.
"Kamu bilang apa?" tanya Romi.
"Aku bilang pada Mommy, walaupun sudah menikah nanti aku akan tinggal ditempat yang sama dimanapun Mommy dan Daddy tinggal."
"Kamu harus tarik ucapanmu sayang." kata Romi memohon.
"Bagaimana cara menarik ucapan, Mommy kira pasti aku labil." Anggita mengernyitkan dahinya.
"Tidak mungkin, bilang saja suamimu ini keberatan." bujuk Romi.
"Nanti Mommy benci pada menantunya." Anggita menakuti suaminya.
"Sayang, apa perlu kita beli rumah bersebelahan dengan Mommy dan Daddy?" tanya Romi.
"Biar bisa tembus tembok ya, kita bikin pintu." Anggita memberi ide membuat Romi terbahak.
"Terserah kamu saja sayang." katanya sambil merebahkan badannya dan memeluk istrinya.
"Masih belum bisa ya?" tanya Romi berharap bisa gol malam ini.
"Hahaha kan aku bilang seminggu." Anggita terbahak.
"Jahat, aku sampai jadi bulan-bulanan keluargaku loh." Romi menciumi leher istrinya.
"Sayang, geli." Anggita berusaha menghindar tapi Romi menahan tangannya dan mulai bergerilya pada tubuh istrinya.
"Sayang kan belum bisa." Anggita mengingatkan.
"Kita pakai cara lain." kata Romi yang sudah tidak bisa menahan hasratnya kemudian terjadilah yang Romi inginkan.
"Mubazir, terbuang dengan percuma." sungut Anggita saat mereka selesai melakukan aktifitasnya, Romi tertawa saja tidak peduli dengan apa yang istrinya katakan.
"Besok pulang ya." pinta Anggita pada Romi.
"Hmm..." Romi hanya berguman, entah maksudnya iya apa tidak.
"Sayang, betul ya besok pulang."
"Iya." jawab Romi akhirnya dan kembali mendekap istrinya.
"Aku ngantuk."
"Ya sudah bobo." jawab Romi sambil mendekap mesra Anggita, bahagia sekali rasanya bisa menikah dengan pujaan hatinya.
"Sayang, kita kapan ke S'pore? Ayu sudah tanya aku." Anggita bertanya sambil memejamkan matanya.
"Belum tahu, Naka yang atur semuanya." jawab Romi juga dengan mata terpejam
"Acara keluarga kita kapan sih? yang tadi Oma bilang itu?" tanya Anggita lagi, cerewet sekali padahal tadi bilang ngantuk.
"Tidak tahu, besok kita tanya saat sarapan." jawab Romi malas-malasan. Tadi Anggita yang bilang ngantuk, kenapa Romi yang sekarang tidur lebih dulu.
"Sayang, lampunya jangan dimatikan." kata Anggita lagi.
"Aku biasanya tidur gelap-gelapan sayang." kata Romi dengan suara pelan.
"Huhu bagaimana ini, aku tidak bisa tidur. Kalau dirumah Ame kemarin masih ada cahayanya." rengek Anggita pada suaminya.
"Huhu aku tidak bisa tidur kalau begini. Aku takut, kamu tutup saja matanya pakai bantal atau bandana." rengek Anggita lagi. Duh susah ya menyesuaikan diri, ternyata mereka punya kebiasaan yang berbeda.
Terpaksa Romi beranjak dari kasurnya dan menyalakan lampu. Salahnya dikamar ini tidak tersedia lampu tidur, Romi jadi kusut sendiri, kalau begini Romi yang tidak bisa tidur merasa panas karena sorot lampu, walaupun sudah memakai AC.
"Aku kekamar Oma dulu." kata Romi pada Anggita.
"Kamu tidur dikamar Oma?" Anggita jadi sedih karena suaminya akan membiarkannya sendiri dikamar ini.
"Tidak, aku mau pinjam syal Oma buat tutup mata." jawab Romi keluar kamar.
"Jangan lama-lama." Anggita meneriaki suaminya.
"Iya sayang, kamu bobo saja duluan, Oma pasti ajak aku ngobrol kalau begini." kata Romi pada istrinya.
"Oma..." tidak ada jawaban saat Romi mengetuk kamar Oma dan Opa.
"Opa..." ketuk Romi lagi, tumben jam segini sudah tidak ada suaranya, jangan-jangan mereka lagi ***-*** pikir Romi tersenyum jahil.
Setelah sekian lama melamun didepan pintu kamar Opa dan Oma, Romi kembali mengetuk pintu kamar itu. Biar saja diganggu, kan sudah sering, pikir Romi sama jahilnya dengan Opa dan Oma.
"Kenapa?" tanya Opa galak saat membuka pintu kamarnya.
"Ish, lagi apa sih? yang pengantin baru kan Romi." kata Romi mengerucut.
"Memangnya pengantin baru saja yang begitu, mau apa?" tanya Opa masih galak.
"Mau pinjam syal Oma, Romi tidak bisa tidur, Anggita tidak suka tidur dalam keadaan gelap." adu Romi pada Opa, Opa pun terbahak dibuatnya.
"Dilatih dong, lama-lama juga biasa." kata Opa pada cucunya.
"Bagaimana caranya? tadi sudah aku peluk masih rewel minta dinyalakan lampunya." Romi minta pendapat Opa.
"Mungkin kamu bau." jawab Opa seenaknya.
"Sembarangan, Opa tahu kan berapa kali sehari Romi mandi, sabunnya merk apa, parfum merk apa, shampoo merk apa. Semua orang kalau Romi lewat juga tahu kalau Romi wangi." sungut Romi, ada saja cara Opa memancing emosi cucunya.
"Kamu emosian sekali." Opa menggelengkan kepalanya.
"Itu hanya perasaan Opa saja, mana Omaku sayang. Romi butuh syal Oma." tanya Romi lagi, ia sudah capek berdiri lama didepan kamar Opa.
"Masuk saja pilih sendiri." kata Opa terkekeh.
"Opa, jangan ajak Romi ngobrol ya, kasihan Anggita sendirian." pesan Romi pada Opa.
"Hahaha siapa yang mau ngobrol sama kamu sih, sana ambil sendiri syalnya." Opa mendorong tubuh Romi agar berjalan menuju lemari syal Oma.
"Pilih yang warna gelap saja." kata Oma yang ternyata masih membaca Al Qur'an.
"Loh Oma belum tidur?" Romi tersenyum pada Oma.
"Belum mengantuk." jawab Oma ikut tersenyum.
"Aku kita lagi ehem sama Opa." kata Romi terkekeh.
"Memang kita lagi ehem kan?" Oma ikut terkekeh menunjuk al Qur'an yang dibacanya.
"Tadi Opa lagi mengaji ya, makanya lama membuka pintu." Romi tersenyum tidak enak hati, pikirannya saja yang menuju kesana.
"Iya, kamu saja yang mesum dikira kita lagi aktifitas yang seperti dia bayangkan." Opa memandang Oma.
"Ih pikiranmu itu ya, meniru siapa sih?' tanya Oma membuat Romi terbahak.
"Pasti Opa lah." jawab Romi terpancing duduk dipinggiran kasur Oma, padahal tadi dia sendiri yang bilang tidak mau diajak ngobrol.
"Eh sana kekamarmu, Anggita menunggu." kata Opa karena Romi sudah mulai merebahkan tubuhnya disebelah Oma yang sedang mengaji, sementara syal Oma berwarna navy sudah ada ditangannya.
"Aku mau tidur didekat Oma." jawab Romi mengambil tangan Oma minta dielus-elus kepalanya.
"Enak saja, suruh istrimu yang usap-usap kepalamu." Opa menarik tubuh Romi dan mendorongnya keluar kamar.
"Hahaha Opa tidak sayang aku nih." Romi terbahak diusir dari kamar Opa dan Oma.
"Kamu sendiri yang tadi bilang kasihan Anggita, ingat ya, sudah menikah tidak boleh mengganggu Oma dan Opa lagi." Opa membesarkan bola matanya, kebiasaan Romi yang suka tidur dikamar Opa kalau menginap selama ini rupanya membuat Opa terganggu. Hahaha dasar Romi.