Never Say Never

Never Say Never
Mengantar Koper



Romi dan Anggita sudah berada dirumah Mommy dan Daddy, pertama kalinya menginjakkan kaki di sini dan langsung menjadi menantu itu rasanya canggung sekali, kalau dipikir-pikir lucu juga jalan hidupnya.


"Sudah makan?" tanya Liana pada Romi dan Anggita.


"Sudah." Jawab Anggita tersenyum, "Daddy mana, Mom?" tanya Anggita pada Mommy. Sementara Romi ikut duduk di sofa bersama Mommy, walaupun bingung mau bicara apa, tapi paling aman itu duduk di sofa sampai ada yang mempersilahkannya masuk ke kamar untuk istirahat.


"Lagi ke rumah Opa Burhan, kalian mau bikin acara ya, minggu depan?" tanya Liana pada anak menantunya.


"Pertemuan dua keluarga saja sih, Mom." jawab Romi.


"Itu juga kemauan Opa dan Omaku karena tidak enak hati sama Opa Lusinto Dan Opa Burhan." kata Romi lagi. Liana tersenyum mendengarnya.


"Mommy dan Daddy hadir ke S'pore sabtu ini?" tanya Anggita pada Mommy.


"Ah tidak, itu negara yang paling Mommy hindari." Liana menggelengkan kepalanya, teringat dosa masa lalu. Banyak kenangan buruk juga disana, untung saja Leo suaminya sangat mengerti dan menerima masa lalu Liana.


"Mommy, itu kan puluhan tahun lalu. Jauh sebelum aku lahir, saat Mommy masih gadis. Masih saja diungkit." Anggita memandang Liana dengan senyum manisnya.


"Pokoknya tidak ya tidak, Mommy sudah sampaikan pada Regina dan Mario kemarin itu." kata Liana sedikit ketus.


"Kalian kapan berangkat?" tanya Liana kemudian.


"Mungkin jumat pagi, sabtu sore kami lanjut ke phi phi island, Mommy sama Daddy mau ikut?" Romi menawarkan, barangkali mertuanya mau honeymoon lagi.


"Tidak sayang, terima kasih. Wilma kasihan tidak ada yang menemani." Liana tersenyum pada Romi yang menganggukkan kepalanya.


"Kalian istirahat lah, nanti makan malam jangan lupa, kita selalu makan bersama saat sarapan dan makan malam, mungkin di rumahmu juga begitu, Rom."


"Iya, Mom. Kalau lagi kumpul saja, karena seringnya pada sibuk, Mama saja jadinya makan sendiri." Romi jadi teringat Mamanya. Liana terkekeh, ia pun suka begitu.


"Ayo sayang." ajak Anggita pada suaminya, tidak sungkan memanggil sayang didepan Mommy.


"Mommy, masa Romi tidak mau tinggal disini." adu Anggita ketika Romi baru akan melangkah.


"Kalian mau tinggal dimana?" tanya Mommy.


"Apartmentku, Mi. Kalau Mommy mengijinkan." Romi langsung saja seperti mendapat celah.


"Boleh saja, setelah tiga bulan tinggal disini." kata Mommy pada Romi.


"Oke Mommy, terimakasih." jawab Romi senang, sekalian saja mencari rumah yang layak untuk keluarga kecilnya nanti, cari-cari sekitar sini biar Anggita bisa pulang kerumahnya saat menunggu Romi pulang dari kantor.


"Senang ya kamu, Mommy ijinkan kita keluar dari rumah ini." gerutu Anggita pada suaminya ketika sudah berada didalam kamar.


"Loh memangnya kamu tidak senang? Kita akan tinggal dirumah kita sendiri nantinya." Romi langsung saja membayangkan kehidupannya di rumah baru.


"Tidak tahu, aku takut kesepian saja." kata Anggita termenung.


"Sama saja, disini juga sepi. Apalagi kalau Mommy dan Daddy keluar rumah."


"Kamu belum tahu saja, kalau si Wilma sudah pulang sekolah, rumah ini jadi ramai dengan segala bentuk keberisikannya." kata Anggita terkekeh mengingat adiknya.


"Masalah itu buat aku, dirumah aku tidak biasa berisik, kecuali suara berisik dari kamu." Romi terkekeh menggoda istrinya.


"Ih... pikiran kamu tuh kesana terus" Anggita jadi malu sendiri. Romi terkekeh memeluk istrinya. Wangi tubuh istrinya membuat Romi selalu ingin memeluknya.


Baru saja akan memejamkan mata dengan posisi nyaman begini, handphone Romi berbunyi.


"Siapa sayang?" tanya Romi pada istrinya, ia malas sekali bangun.


"Sossa." jawab Anggita setelah melihat layar handphone suaminya, diserahkannya handphone tersebut pada Romi.


"Hmmm..." jawab Romi malas-malasan.


"Lagi apa?" terdengar suara Sossa diseberang.


"Pelukan." Sossa langsung saja riuh mendengar jawaban Abangnya.


"Harusnya gue juga tuh lagi pelukan, eh disuruh Mama antar koper kamu, Bang." kata Sossa kemudian.


"Wah pinter, tambah disayang Naka deh nurut sama Mama. Sudah dimana?" tanya Romi semangat.


"Ini didepan rumah Daddy Leo." jawab Sossa terkekeh.


"Sebentar aku keluar, tunggu ya." jawab Romi menutup sambungan teleponnya.


"Masuk." ajak Anggita ketika menemui Naka dan Sossa didepan rumahnya.


"Lain kali saja ya, mau lihat Ame." kata Sossa pada Anggita, ia mengetuk bagasi Mobil, kode agar Naka yang duduk dibangku pengemudi membukakan bagasi.


"Niat betul Mama usir gue, Koper yang dibawa sebesar ini" Romi terkekeh.


"Iya lemari Abang hampir kosong tuh sekarang." Sosa tertawa geli.


"Terima kasih, Nak." kata Romi pada Naka.


"Yup, Rom ke S'pore kamis yuk." ajak Naka pada Romi.


"Ada urusan kah?" tanya Romi, pikirnya Naka sekalian mengurus bisnisnya.


"Tidak, Ayu rusuh tanya terus kapan datang, dia kesepian. Masih bingung belum ada kegiatan, di negara orang pula." kata Naka pada Romi, kasihan dengan sepupunya.


"Iya sama aku juga curhat begitu." sahut Anggita terkekeh.


"Tadinya gue pikir berangkat jumat pagi, ya sudah kalau mau kamis gue ikut deh. Siapa urus tiket, gue minta Vita koordinasi nanti."


"Vita saja yang urus semua, bagaimana. Sekalian ya." pinta Naka.


"Boleh, nanti gue kasih tahu Vita." Romi menganggukkan kepalanya.


"Sabtu sore gue lanjut ke Phi Phi Island, mau gabung?" Romi menawarkan.


"Wah seru tuh, tapi belum bisa lah, Ame kasihan kalau tidak dikunjungi." Naka menolak tawaran Romi.


"Ame kan di pinggiran banyak crew."


"Iya, tapi kita selalu kumpul kalau weekend, kebetulan weekend ini kita tinggal ke S'pore, kasihan kalau terlalu lama."


"Tidak bisa libur sebentar ya?"


"Elu tahu, orang sakit itu butuh diperhatikan, disayang. Sedikit saja diabaikan bisa sedihnya luar biasa, sensitif." Naka menjelaskan kondisi Ame.


"Iya sih, tapi kemarin acara kita, Ame sehat walafiat, bagaimana kondisi sekarang? semoga sehat walafiat, terbayang lelahnya mengurus tiga pengantin dalam waktu berdekatan."


"Sehat sih alhamdulillah, makanya ini kita mau kesana, karena kamis sudah berangkat ke S'pore. Chico dan Arkana sudah disana." kata Naka lagi, memandang Sossa yang belum juga masuk kedalam mobil.


"Suami lu nungguin tuh." kata Romi pada adiknya.


"Hehehe mau peluk dulu, kan kita tidak serumah lagi." Sossa merentangkan tangannya.


"Duh bikin sedih saja, padahal dekat dan masih akan sering bertemu loh." Romi terkekeh segera merengkuh tubuh adiknya kedalam pelukannya.


"Jangan lupa, Mobil gue ganti." kata Sossa setelah melepas pelukan Abangnya.


"Masih ya? gue kira istri lu, minta ganti mobil." Romi terkekeh.


"Iya, gue juga bingung untuk apa, mobilnya saja dirumah jarang dipakai, sekarang sama gue terus kemana-mana." Naka terkekeh.


"Ini kan kebetulan kamu lagi di Jakarta, kalau lagi terbang aku butuh Mobil kan."


"Iya kan bisa pakai yang ada sekarang."


"Naka, tidak mendukung deh." Sosa mendengus kesal, keningnya tampak berkerut.


"Hahaha ya sudah Rom, kapan gue bisa antar Sosia ke showroom." Naka terkekeh.


"Beli bekas saja ya." kata Romi supaya uangnya tidak banyak keluar.


"Enak saja perjanjian tidak begitu." sungut Sosa.


"Siosa... baru saja bikin gue terharu, eh sekarang malah bikin gue agak kesal-kesal bagaimana gitu." gerutu Romi membuat Anggita terkekeh. Salahnya Romi yang menjanjika sendiri akan membelikan Sossa mobil, wajar saja jika ditagih.


"Besok lu ajak deh dia ke showroom, kabarin gue berapa yang harus ditransfer, kebetulan besok pagi gue ada briefing. Biar lunas hutang gue nih."


"Enak saja lunas, nanti kalau gue hamil kan ada lagi hadiahnya."


"Tidak, Mobil yang lu mau sekarang sudah melebihi anggaran yang sudah gue siapkan untuk itu, jadi anggap saja di rapel sekalian sama kado lahiran Dan ulang tahun anak lu selama lima tahun." sungut Romi.


"Hahaha pelit." Sossa terbahak dan masuk kedalam mobil, melambaikan tangan pada Anggita pun Sossa masih terbahak, senang sekali dia mengerjai abangnya.