Never Say Never

Never Say Never
Pingit



"Kalian luluran dulu ya." kata Liana pada Anggita dan Lembayung.


"Biar apa?" tanya Anggie setengah hati. Maunya leyeh-leyeh saja dikamar baca buku atau nonton streaming.


"Biar cerah saat pakai kebaya." sahut Pipit, ia dan Liana sibuk sekali mempercantik anak gadisnya yang sebentar lagi melepas masa lajang. Sementara Intan dan Regina santai saja malah ikut menemani Enji ke rumah sakit. Reza, Kiki, Alex dan Monik ke bungalow melihat kondisi anak-anak mereka disana. Sekaligus ingin tahu pengantin baru bagaimana bentuk rupanya.


Mario, Leo, Anto dan Andi lumayan sibuk mengecek surat-surat kelengkapan pernikahan calon mempelai. Juga mengurus keperluan lainnya, mereka tidak mau merepotkan Erwin dan Enji. Untuk urusan mas Kawin keduanya, Vita yang membelikan, karena tidak tahu ukuran cincin Anggie dan Lembayung maka mas Kawin mereka disamakan saja Logam mulia, beratnya pun seragam. Ambil yang ringkas tidak perlu repot.


"Mommy aku malas luluran deh." kata Anggita pada Liana.


"Aku juga malas." Lembayung ikut memohon pada Pipit.


"Crew salon sudah dipanggil, kalian ini bagaimana sih." Liana mulai ngomel, kesal sekali keduanya tidak menurut.


"Mommy dan Mama saja yang luluran." Lembayung memberi saran.


"Iya sekalian refreshing." kata Anggita setuju.


"Kalian betul-betul tidak mau?" tanya Pipit meyakinkan.


"Iya, malas ah."


"Ya sudah Li, kita saja. Mereka ribet." kata Pipit menarik tangan Liana menjauh dari Anggita dan Ayu.


"Mama marah, Yu?" tanya Anggita pada Lembayung.


"Tidak memang cara bicaranya seperti itu, Mamaku tidak pernah marah." jawab Lembayung terkekeh.


Liana dan Pipit menikmati luluran sekaligus creambath, menicure dan pedicure, Salon langganan Enji membawa timnya kerumah Enji, berhubung keduanya tidak mau diatur biar Mama dan Mommy saja menikmati dan mempercantik diri.


Lembayung dan Anggie melanjutkan aksi leyeh-leyeh dan nonton streaming nya. Handphone mereka ditahan sehingga tidak bisa menerima telepon dari siapapun, terutama pujaan hati. Rindu sekali tapi apa daya banyak yang mengawasi hingga keduanya tidak berkutik.


"Romi lagi apa ya? sudah makan belum." gumam Anggita tidak konsen dengan tontonannya.


"Iya Steve juga lagi apa, kok bosan ya, kalau tahu kita luluran saja." Ayu menyesali kemalasannya.


"Ya sudah setelah Mama dan Mommy kita lanjut luluran." kata Anggie menarik Ayu keluar dari kamar menghampiri Mama dan Mommy yang di lulur diruang khusus. Ame punya fasilitas salon sendiri diruangan ini, sehingga petugas salon yang datang bekerja lebih nyaman. Popo betul-betul memberikan kenyamanan untuk Ame. Ayu dan Anggie jadi terharu dan bahagia melihatnya, ingin juga nanti suami mereka memfasilitasi seperti ini dirumah mereka nanti.


"Apa kami bisa luluran?" tanya Anggie begitu memasuki Private Salon Ame, begitu yang tertulis dipintu masuk.


"Bisa." jawab petugas yang sedang menganggur. Mama dan Mommy sudah selesai luluran, hanya saja mereka sedang di creambath saat ini.


"Tadi tidak mau, sekarang mau. Plin plan." sungut Pipit pada Lembayung.


"Iya labil." sahut Liana kesal sendiri.


"Kan aku mau Mommy juga cantik." jawab Anggita membela diri.


"Paling bisa kalau lihat Mommy mau ngomel langsung saja puji-puji." Liana mengernyitkan hidungnya pada Anggita. Sementara Ayu hanya tertawa tidak menanggapi perkataan Mamanya.


Mereka mulai dilulur, nantinya juga minta di creambath setelah melihat Mama dan Mommy rambutnya sudah di blow.


"Kalian tidak usah di creambath, besok kan mau disanggul juga." kata Liana pada keduanya.


"Oh iya aku lupa." jawab Anggita membuat semuanya tertawa.


"Kamu pikir kamu disini mau apa? bisa. lupa kalau mau menikah." Pipit terkekeh mentertawakan Anggita.


"Iya habisnya handphone kami ditahan jadi aku lupa kalau aku punya calon suami." jawab Anggita beralasan.


"Mommy nanti pinjam handphone ya, aku mau tahu kabar Romi." bujuk Anggita pada Liana.


"Baru satu hari ditahan handphone sampai begitu, Romi baik-baik saja tuh lagi makan nasi padang sama Ayah Eja dan yang lainnya." jawab Liana melibatkan foto yang dikirim Reza.


"Iya, tapi kan kita luluran, mereka tidak." jawab Anggita tertawa menghibur diri.


"Tapi aku jadi lapar." kata Pipit pada Liana.


"Aku juga, kami duluan ya." kata Liana pada anaknya dan melambaikan tangan pada yang lain, ia dan Pipit sudah tampak cantik dengan rambut harum tertata rapi. Sementara Anggita dan Ayu sudah tertidur dengan dengkuran halus yang terdengar.


"Nanti kami antar makanan kalian." kata Pipit pada yang lain.


"Terima kasih bu." jawab salah satu crew salon. Pipit mengangguk sambil tersenyum. Setelah keluar salon jadi tambah fresh dan tidak pusing memikirkan akad nikah putrinya.


"Mun, itu crew salon siapkan makanan." kata Pipit mengingatkan.


"Biasanya mereka kedapur sendiri Bu." jawab Mumun pada Pipit.


"Wah aku sudah bilang mau antar makanan, kamu bilang deh sama mereka seperti biasa saja, aku jadi tidak enak." Pipit terkekeh.


"Ya sudah saya antar snack saja ya Bu." kata Mumun pada Pipit.


"Iya boleh Mun, kamu masak apa kami lapar." kata Pipit membuka tudung saji, Liana ikut duduk dimeja makan sambil menghubungi suaminya.


"Sayang..." suara Leo terdengar hingar bingar.


"Bapak-bapak dimana? sudah pada makan?" tanya Liana pada suaminya.


"Baru mau makan, kami lagi urus persiapan pernikahan besok." jawab Leo pada Liana.


"Makan dimana?" tanya Liana.


"Ini di restaurant sehat langganan Enji, aku penasaran dengar Erwin cerita semalam." jawab Leo.


"Kamu sama siapa?" tanya Liana detail.


"Sama Mario, Andi, Anto." jawab Leo.


"Kamu dan Pipit mau menyusul?" Leo menawarkan.


"Tidak, kami kan harus menjaga calon pengantin, dari tadi rusuh dan ribet. Menolak dilulur tahu-tahu datang minta di lulur." adu Liana pada suaminya. Leo terkekeh mendengarnya.


"Sayang, makanannya disini enak mau dibungkusin?" tanya Leo pada Liana.


"Mau." jawab Liana sementara Pipit sudah mulai makan, ia tidak sabar menunggu Liana selesai menelepon.


"Oke sayang, aku makan dulu ya." kata Leo menutup sambungan teleponnya. Liana kemudian mengikuti Pipit makan apa yang ada di meja makan.


"Mun enak sekali masakan kamu." kata Liana seperti bernostalgia saat tinggal beberapa minggu dirumah Enji dulu.


"Masih enak ya?" tanya Mumun tersenyum bangga.


"Tak tertandingi, Mun. Anak kamu bisa masak seperti ini?" tanya Pipit pada Mumun.


"Mana bisa Bu, yang ada tinggal makan saja." jawab Mumun terkekeh.


"Sambal mana sambal?" tanya Pipit pada Mumun, teringat Enji yang selalu teriak minta sambal kalau sedang dimeja makan.


"Hahaha seperti Bu Enji saja." jawab Mumun terbahak segera kebelakang mengulek sambal dadakan, tidak lama membawanya kemeja makan.


"Kamu memang handal Mun, suamimu dan anakmu sudah makan belum?" tanya Liana pada Mumun.


"Sudah itu sih jangan ditanya." jawab Mumun kembali terkekeh, kemudian berlalu meninggalkan Pipit dan Liana dimeja makan.