
Sesampainya di rumah Anggita langsung menyiapkan pakaian dan barang lainnya untuk keperluan suaminya besok.
"Kamu bawa koper yang mana?" tanya Anggita.
"Tidak usah, begitu selesai aku langsung pulang kan tidak menginap." jawab Romi membuat Anggita tersenyum lebar.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Romi pura-pura judes. Sebenarnya ingin tersenyum juga lihat istrinya mesem-mesem begitu.
"Terimakasih ya Rom." Anggita langsung memeluk suaminya erat sampai Romi merasa sesak.
"Sama-sama." jawab Romi berusaha melepaskan pelukan istrinya, sedikit dilonggarkan.
"Aku kan masih mau peluk." rengek Anggita manja.
"Kalau kemauannya diikuti baru mau peluk, tadi tinggalkan aku sambil banting pintu." ungkit Romi jadi sedikit kesal.
"Maaf..." Anggita kembali memeluk Romi dan menciumi bahunya.
"Jangan marah." kata Anggita lagi. Mau tidak mau Romi meleleh, mana bisa marah sama kesayangannya ini.
"Lain kali kamu jangan gitu lagi ya, aku tuh beneran kerja. Kalau aku mau sama Moza buat apa kejar kamu, dari awal aku sudah tahu Moza single." kata Romi mencium pucuk kepala istrinya. Anggita menganggukkan kepalanya meski hati kecilnya masih sedikit khawatir.
"Tahu sendiri kan bagaimana usaha aku waktu dekati kamu? kalau sama Moza tidak akan susah begitu. Kamu pikir sendiri deh kenapa aku pilih yang susah didekati, terus mau main-main sama yang lain?" Romi memandang Anggita sambil menundukkan kepalanya.
"Iya." jawab Anggita mendongak sambil tersenyum.
"Sayang, jadi besok semua urusan Vita aku yang urus, untuk koordinasi dengan Felix bagaimana?" tanya Anggita ingat tugasnya besok.
"Kamu aku kasih nomor handphone Felix ya, nanti kamu urus sendiri." jawab Romi pada istrinya.
"Tidak apa ya aku komunikasi langsung?" Anggita tampak ragu.
"Tidak apa, Felix sahabat aku. Tidak mungkin ganggu kamu." Romi terkekeh mengacak anak rambut Anggita.
"Kamu besok berangkat jam berapa?" tanya Anggita lagi.
"Jam sepuluh dari rumah langsung ke Bandara janjian sama Klien jam setengah dua siang." jawab Romi.
"Mau aku antar ke Bandara?" Anggita menawarkan.
"Kamu tidak ke kantor? aku diantar supir." kata Romi pada istrinya.
"Sama Moza juga?" mulai lagi tanya-tanya Moza. Romi menjentikkan telunjuknya ke dahi Anggita.
"Hehehe kan aku cuma tanya." Anggita tertawa.
"Mereka kumpul dulu di kantor, aku langsung saja ke Bandara." jawab Romi, Anggita mengangguk.
"Jadi mau antar aku? tapi kita tetap pakai supir ya, kamu jangan setir sendiri." kata Romi lagi.
"Iya." Anggita menganggukkan kepalanya.
Keesokan harinya saat sarapan pagi, semua berkumpul seperti biasa, hanya saja Wilma tidak ikut sarapan, ia selalu membawa bekal untuk sarapan disekolah dan minta dibawakan dua porsi sekaligus, untuk pagi dan siang hari.
"Kamu langsung ke Bandara, Rom?" tanya Daddy Leo pada menantunya.
"Iya Dad, jadi agak santai." jawab Romi sambil menikmati sarapannya.
"Aku ijin datang siang ya Dad, mau antar Romi dulu." Anggita tersenyum pada Daddynya.
"Kerja seenaknya, seperti perusahaan punya Bapak Moyangmu saja." kata Liana membuat Leo terbahak.
"Mommy..." sungut Anggita jadi malu sendiri.
"Mulai besok aku kerja professional deh." katanya lagi, Romi tersenyum saja. Serba salah, kalau dilarang ikut antar nanti dikira karena ada Moza, dibiarkan tidak enak sama Daddy.
"Kamu berapa hari Rom?" tanya Mommy pada Romi.
"Balik hari kok, Mom. Nanti malam in syaa Allah sudah disini lagi."
"Tuh Dad, anakmu." Liana menggelengkan kepalanya.
"Biar saja, Anggie lagi was was." kata Leo terkekeh.
"Was was apa sih Dad?" Anggita bersungut, tapi kok Daddy tahu.
"Memang aku yang minta kok Mom, Anggita ada perlu sama Vita." Romi akhirnya buka suara, ia membela istrinya yang sedang bingung memberi alasan pada Mommy Liana.
"Oh, kalau memang ada perlu, tidak apa." jawab Liana tersenyum.
"Dad, nanti aku minta tolong juwita ya, bantu aku urus pernikahan Vita. Kasihan dia repot masih banyak pekerjaan." kata Anggita pada Daddy.
"Boleh." jawab Daddy santai.
"Pastikan dulu pekerjaan Juwita tidak terganggu." kata Mommy lagi, meskipun tinggal dirumah, Mommy yang lebih sering marah jika Anggita tidak professional dalam bekerja, meskipun itu diperusahaan keluarganya sendiri. Pikir Mommy kalau Daddy Leo pensiun, pasti Anggita yang akan menjadi penerusnya, tapi kalau Anggita malas-malasan bagaimana nanti nasib perusahaannya.
"Iya Mommy, galak betul sih, padahal Daddy saja santai." keluh Anggita.
"Iya Mommy mau kamu professional seperti Daddy, nanti kan kamu yang jadi penerusnya." kata Liana pada Anggita.
"Sudah Kamu begini, ditambah lagi Wilma modelnya begitu." kembali merepet. Leo malah tertawa mendengar Liana nyerocos.
"Mom santai saja." katanya pada Liana.
"Iya Mommy, habis antar Romi aku langsung ke kantor. Nanti pihak Wedding Organizernya saja temui aku dikantor." kata Anggita.
"Oke Daddy jalan dulu ya, Rom hati-hati dijalan." Daddy Leo menepuk bahu Romi. Liana mengantar Leo sampai ke teras, sementara Anggita dan Romi melanjutkan sarapan mereka yang belum selesai.
"Pagi-pagi sudah diomelin." sungut Anggita pada suaminya. Romi tersenyum lebar melihatnya.
"Saking sayangnya sama suami ya?" kata Romi terkekeh.
"Iya itu." jawab Anggita membuat Romi terbahak.
"Ayo ke kamar." ajak Romi pada istrinya, mereka sudah selesai makan, saatnya Romi bersiap diri.
"Masih lama kan berangkatnya?" tanya Anggita pada Romi.
"Satu jam lagi kita berangkat." jawab Romi, Anggita mengangguk cepat. Tadinya mau peluk-peluk dulu tapi sepertinya tidak sempat, Anggita belum dandan cantik.
Mereka berjalan ke kamar sambil berangkulan, bukan pemandangan yang aneh lagi bagi orang rumah. Romi juga sudah menyatu dengan keluarga Anggita, tidak lagi merasa risih. Tapi tetap mereka akan pindah begitu rumah mereka siap ditempati.
Anggita berdandan secepat mungkin, sekarang ia sudah tampil cantik dengan pakaian kerjanya. Sebenarnya capek-capek saja Anggita ikut antar Romi ke Bandara lalu ke kantor, tapi demi dekat dengan suami. Masalah Moza walaupun Anggita khawatir tapi ia bisa bersantai karena ada Vita.
Entah kenapa walaupun sudah berkenalan dengan Moza, tapi Anggita merasa Moza menjaga jarak dengannya, padahal Anggita sudah berusaha ramah, itu yang bikin Anggita jadi kesal kalau Romi terus dekat dengan Moza.
"Aku sudah siap." kata Anggita pada suaminya yang masih sibuk dengan tabnya.
"Iya sebentar ya sayang." jawab Romi serius sekali dengan pekerjaannya.
"Kenapa kamu tidak sesantai Daddy sih? padahal Daddy juga banyak pekerjaannya, tapi tidak pernah bawa kerjaan ke rumah loh." kata Anggita pada suaminya.
"Hehehe pekerjaan kami mungkin beda sayang." jawab Romi terkekeh.
"Kapan-kapan kamu tanya Daddy deh." kata Anggita kesal.
"Aku urus marketing, jadi ujung tombak perusahaan. Pasti lebih sibuk karena berhubungan dengan banyak orang." Romi menjelaskan pada istrinya, pandangannya yang dari tadi hanya pada tab beralih pada Anggita yang sudah cantik dan juga wangi.
"Masih ada waktu." kata Romi menarik istrinya kepangkuannya, meletakkan tab kemeja lalu mulai melakukan aktifitas yang paling disenanginya, selalu saja begitu, Romi memulai kegiatan mereka berdua disaat Anggita sudah siap untuk berangkat, kalau sudah begini terpaksa Anggita membersihkan diri lagi setelahnya.