
Steve menuruti Ayu untuk berkeliling menyusuri sawah dan mereka pun berfoto bersama, kadang meminta bantuan orang yang lewat, ada juga yang mereka lakukan selfie. Steve akhirnya ikut menikmati suasana pedesaan, sementara Anggita dan Romi memilih menunggu di Villa, jarang-jarang mereka bisa duduk berdua sambil menonton streaming, Romi meniru Papanya yang selalu menemani Mama menonton drama Korea.
"Mau nonton apa?" tanya Romi pada Anggie.
"Apa saja lah, bebas." jawab Anggita pasrah, Ia senang saja bisa nonton online bersama Romi, mengingat mereka belum bisa bebas menonton di bioskop.
"Papa tahu kamu ambil cuti karena apa?" tanya Anggita saat Romi sedang memilih film yang akan mereka tonton.
"Hmmm.. tahu." jawab Romi singkat tak ingin konsentrasinya sedikit terganggu.
"Kamu bilang apa sama Papa?" tanya Anggita lagi.
"Aku bilang kita mau double dating" Romi terkekeh.
"Ih, kamu bilang begitu?" tanya Anggita menahan senyum, jadi malu sendiri.
"Hu uh." Romi menganggukkan kepalanya.
"Papa bilang apa? sungguh kita terkesan sangat tidak professional ambil cuti karena mau double dating." dengus Anggita kesal menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Hahaha tidak apa-apa sayang, Aku selalu jujur sama Papa, malah saat mendengar ini, Papa tertawa saja." Romi mengacak anak rambut Anggita.
"Kamu tahu tidak? mereka pasti merestui asal kita bahagia." bisik Romi menyeringai jahil, ingin sekali mencium Anggita tapi segera teringat CCTV tersembunyi yang di pasang Papa di Villa ini tidak bisa membuatnya bergerak bebas. Anggita jadi tertawa sambil mencubit pipi Romi gemas, bisa-bisanya ijin cuti dengan alasan yang konyol.
"Sakit sayang." Romi mengusap pipinya sambil memandang Anggita dengan mesranya, membuat Anggita salah tingkah kembali menutup wajahnya, kali ini dengan bantal kursi yang sedari tadi dipangkunya.
"Kamu tahu aku mau apa saat ini?" tanya Romi menjauhkan bantal kursi dari wajah Anggita yang memerah. Anggita menggeleng saja.
"Mau cium kamu, tapi takut ada yang mengintip?" bisik Romi pada Anggita.
"Eneng Geulis?" tanya Anggita sambil celingukan. Romi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Siapa?" tanya Anggita penasaran. Wajahnya tampak sangat polos seperti anak kecil saat ini.
"Papa." jawab Romi terkekeh.
"Serius?" Anggita membesarkan bola matanya, langsung saja panik walaupun ia dan Romi tidak melakukan hal yang aneh sedari tadi.
"Hu uh." Romi menaikkan alisnya, kemudian kembali memilih film yang akan mereka tonton, santai sekali tanpa beban.
"Sayang film ini romance, kamu mau?" tanya Romi menunjuk salah satu judul film di layar smart TV.
"Comedi Romantic saja ya, Rom." pinta Anggita, khawatir jika menonton yang romance malah memancing sesuatu yang mereka inginkan, sementara ada Papa yang bisa intip aktifitas mereka di Villa. Romi pun menuruti dan memilih satu film yang akan mereka tonton.
"Steve sama Ayu lama juga ya." kata Anggita tanpa sadar sudah merebahkan kepalanya dibahu Romi.
"Hu uh." Romi fokus menonton, sesekali tertawa melihat adegan di layar.
"Kalian nonton apa, baru mulai apa dari tadi?" tanya Ayu yang baru saja datang diikuti Steve dari belakang.
"Baru." jawab Anggita tanpa merubah posisi duduknya.
Ayu dan Steve langsung menggeser sofa yang lain, sejajar dengan sofa yang Romi dan Anggita duduki, mereka mengambil posisi untuk ikut menonton bersama.
"Rom, benar saja yang elu bilang, sudah mesra lagi nih Raymond sama Roma." Steve menunjukkan foto yang dikirim Naka di group internal mereka. Tampak Raymond tertidur di pangkuan Roma, sepertinya didalam mobil Naka.
"Kan gue sudah bilang, gaya-gayaan saja bilang putus." Romi terkekeh.
"Mau kemana mereka?" tanya Romi tanpa membuka handphonenya.
"Mencari Bunda dirumah Ame." jawab Steve masih asik berbalas pesan di group mereka.
"Hahaha aku rasa memang dirumah Ame itu Ayah sama Bunda." Ayu mulai ikut nimbrung. Anggita diam saja karena ia tidak ada di dalam group itu, karena dulu memang tidak terlalu akrab, hanya sekedarnya saja.
"Pantau terus Steve." kata Romi terkekeh.
"Yup, lucu juga mereka." komentar Steve ikut terkekeh.
"Kita juga lucu." sahut Ayu sambil tertawa menatap Steve.
"Kamu sama Romi sih yang lucu." kata Steve kembali terkekeh.
"Tinggal dijelaskan saja." jawab Steve santai.
"Kamu santai sekali sih." Ayu yang agak khawatir jadi bingung sendiri.
"Mau bagaimana? panik? mana bisa menjelaskan kalau panik. Lagi pula Opa saja malah membantu, aku yakin Papi tidak keberatan." jawab Steve.
"Masalahnya kamu itu tidak melibatkan Papi dari awal, aku khawatir Papi kecewa." Ayu tampak berpikir, keningnya berkerut.
"Sudah sayang jangan khawatir, itu urusan aku sama Papi." Steve mengacak anak rambut Ayu.
"Nanti Papi kira karena aku." Ayu bersungut. Romi dan Anggita hanya saling pandang menyimak antara film dan percakapan kedua orang selain mereka.
"Tapi nanti akan ada saat kita menghadap orang tua kita bersamaan." kata Romi sambil memainkan jari Anggita.
"Yah, setelah aku mengaku sama Papi." jawab Steve.
"Eh ini semua orang tua kita ada di rumah Ame." kata Steve lagi melihat foto yang dikirim Sosa ke group.
"Ups Roma dan Raymond sedang disidang." Romi yang akhirnya membuka handphonenya terbahak.
"Jangan tertawakan, berikutnya kita yang disidang mereka." Ayu mengusap wajahnya panik. Steve menenangkan sambil menepuk pelan bahu Ayu.
"Aku kok jadi tegang ya." kata Anggita akhirnya buka suara.
"Tenang saja, yang maju kan aku sama Steve, kamu sama Ayu terima hasil. Tinggal menganggukkan kepala saja nantinya." Romi mengecup pucuk kepala Anggita.
"Kalau mereka bilang tidak, masa kita mengangguk." protes Ayu.
"Mana mungkin bilang tidak, Papaku sudah setuju kok aku sama Anggita." Romi terkekeh.
"Sayang, kita yang masih belum jelas." Ayu jadi bertambah panik.
"Makanya aku bereskan urusanku sama Papi dulu." jawab Steve kembali mengusap bahu Ayu menenangkan.
"Eh parah, Raymond dipaksa menikahi Roma. Ih gila masa secepat ini." komentar Ayu membaca laporan dari Naka. Romi dan Steve langsung terbahak, sementara Anggita menegakkan posisi duduknya.
"Sepertinya kita harus pulang." kata Romi pada yang lain.
"Dan sepertinya ambil cuti lagi karena besok kita menghadiri pernikahan Raymond dan Roma." sambung Ayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku juga?" tanya Anggita bingung.
"Kamu siap-siap saja, kalau Daddy sama Mommy hadir, kamu juga hadir kan." jawab Romi terkekeh. Kedua gadis dihadapannya kini tampak pucat, seperti apa saja, mereka segitu paniknya.
"Enak sekali Raymond ya." kata Steve terbahak.
"Kamu mau kita seperti itu juga?" tanya Ayu tidak terima.
"Kalau membuat kita cepat bersatu kenapa tidak." jawab Steve dengan wajah bahagia.
"Ish tapi aku tidak mau begitu." kata Ayu lagi.
"Bukannya kamu tidak sabar mau jadi Istriku?" Steve membercandai Ayu.
"Sayang, kamu ini tidak sadar ya. Raymond dan Roma wajahnya panik begitu. Seperti tertangkap apa saja menikah dipaksa dan dipercepat." sungut Ayu.
"Iya karena mereka bikin ulah." sahut Romi.
"Apa kabarnya kita Rom?" Ayu menghela nafas panjang.
"Kita kan baik-baik saja. Kamu siap kan sayang?" Romi merangkul Anggita yang sedikit lebih tenang dibanding Ayu.
"Siap." jawab Anggita pasti. Romi kembali mengecup pucuk kepala Anggita sambil tersenyum bangga pada Steve dan Ayu.
"Ayo pulang." ajak Steve pada Romi. Setelah memanggil Eneng Geulis dan mengembalikan KTP nya ditambah beberapa lembar uang berwarna merah yang licin dari dompet Steve, mereka segera menaiki Mobil.
"Mas Romi dan teman-temannya hati-hati ya, besok boleh kok pinjam KTP Eneng lagi." kata Eneng Geulis melepas kepergian Romi dan sahabatnya.
"Oke Geuliiiis, terima kasih ya." teriak Anggita melambaikan tangannya, sekarang ikut memanggilnya Geulis, tak lagi merasa cemburu.