
"Sayang ayolah, ini Mr. Lee yang minta tolong supaya aku dan kamu bisa temani dia makan siang bersama Moza." bujuk Romi ketika Anggita menolak diajak makan siang.
"Kenapa harus ditemani sih, memangnya Mr. Lee anak kecil." ketus Anggita kesal, kenapa jadi merepotkan mau dekati perempuan, pikirnya.
"Karena Moza terlalu acuh." jawab Romi menjelaskan.
"Kalau acuh berarti tidak suka, Rom." Anggita masih saja ketus.
"Iya hari ini aku minta kamu temani aku, paling tidak kamu bisa kukenalkan pada Moza supaya tidak lagi cemburu." kata Romi setengah memohon.
"Ya sudah, tapi aku tidak mau ya satu mobil dengan Moza." entah kenapa Anggita antipati sekali, padahal ia tidak tahu Moza dan Romi juga biasa saja menghadapi Moza.
"Iya nanti Moza kuminta naik mobil kantor." kata Romi berjanji.
"Oke, jemput aku sekarang?" tanya Vita pada suaminya, sudah pukul sebelas siang saat ini.
"Iya aku jalan sekarang." kata Romi pada istrinya, ia keluar ruangan dan menemui Vita diruangannya.
"Gue jalan dulu, bilang Moza supaya menyusul ke restaurant yang ditunjuk Mr. Lee, gue sama Anggita. Moza naik mobil kantor saja." pesan Romi pada Vita.
"Oh ajak Nyonya?" Vita terkekeh.
"Mr. Lee bilang begitu waktu gue bilang mau makan siang sama Anggie." Romi terkekeh.
"Mau apa sih Mr. Lee?" tanya Vita.
"Minta didekatkan dengan Moza."
"Hahaha selamat menjadi mak comblang." Vita terbahak.
"Ush, hanya kali ini, jangan sampai jadi Samsak gue, karena Anggie mengamuk." Romi ikut terbahak, kemudian berlalu meninggalkan Vita yang kini sibuk menghubungi Moza agar menyusul Romi ke restaurant yang ditunjuk Mr. Lee.
"Ah Malas deh Bu Vita, ini makan siang sama Mr. Lee kan?" kata Moza begitu Vita menghubunginya.
"Iya kamu tahu?" Vita terkekeh.
"Tadi Mr. Lee hubungi aku, tapi aku tidak angkat." kata Moza apa adanya, ia memang menghindari Mr. Lee, selain sudah tua dia juga pernah beristri, suka ke club malam lagi, bukan type Moza. Kalau seperti Romi sih boleh lah, pikir Moza, sayangnya Bos nya yang ramah itu hanya fokus pada Vita.
"Sepertinya kali ini kamu tidak bisa menghindar deh, karena Bos Romi sudah menuju ke restaurant dan kamu diminta menyusul." tegas Vita pada Moza.
"Duh kenapa Pak Romi suruh aku menyusul sih, kalau mau ajak aku kenapa tidak sekalian saja aku ikut Pak Romi." keluh Moza.
"Bos Romi jemput istrinya dulu." jawab Vita terkekeh.
"Memang sudah menikah?" tanya Moza bingung, ia pikir Romi masih bujangan dan tergila-gila pada Vita.
"Sudah, kamu kemana saja? baru tahu." Vita terkekeh.
"Memang aku baru tahu, tidak diundang sih waktu menikah."
"Ya memang keluarga dan orang dekat saja, ya sudah kamu jalan deh nanti bos ngomel lagi."
"Ck... Bu Vita ikut yuk, kalau cuma aku kok jadi seperti double date, tidak mau ah." Moza merengek.
"Aku ada janji makan siang sama calon suamiku. Kalau aku bergabung nanti triple date, sama saja kan." Vita terkekeh.
"Bu Vita ayo, tidak apalah triple date dari pada double date." bujuk Moza pada Vita
"Ya sudah nanti aku menyusul, kamu duluan deh." Vita akhirnya menyerah.
"Ah nanti bohong." Moza menolak, ia khawatir Vita tidak datang nanti.
"Berangkatnya sama-sama saja, calon suami Bu Vita biar menyusul." Moza memberi ide, Vita tertawa mendengarnya, jadi Moza yang mengatur.
"Ayo dong Bu, kalau Pak Romi tidak ikut-ikutan pasti aku tidak harus kesana." pinta Moza pada Vita.
Setelah Vita pasti berangkat dengannya, Moza barulah mengangkat telepon Mr. Lee, menyetujui untuk makan siang bersama, ia juga mengatakan akan datang bersama Vita dan calon suaminya, Romi dan istrinya sudah berangkat lebih dulu. Mr. Lee sendiri tidak masalah yang penting Moza mau diajak bertemu diluar urusan kantor, meskipun itu melibatkan orang-orang kantor juga.
Sementara Romi sudah bersama istrinya kini, ia belum tahu kalau Vita dan Felix akan bergabung makan siang dengan Mr. Lee. Kalau Romi tahu ia pasti akan senang sekali.
"Sayang, samsaknya sudah datang tuh." Anggita menunjukkan foto yang dikirim Wilma, ia sedang bergaya meninju kesana kemari. Romi tertawa melihat foto-foto yang ditunjukkan Anggita, walaupun hanya sekilas tapi terlihat kekonyolan adik iparnya itu. Samsak sudah diletakkan ditaman belakang, mereka bisa berlatih disana nantinya.
"Mommy juga mau ikut latihan loh." lapor Romi pada istrinya.
"Kata siapa yang?" tanya Anggita tidak percaya.
"Aku kan tadi telepon Mommy, waktu kasih tahu Samsak sedang dalam perjalanan ke rumah." Romi tetap fokus menyetir kendaraan menuju restaurant.
"Gaya deh Mommy." Anggita tertawa.
"Tapi perlu juga sayang."
"Iya sih, Rom... Mr. Lee itu setua siapa?" tanya Anggita ingin tahu, kenapa Moza bisa mengacuhkan Mr. Lee.
"Kurang lebih seperti Papa atau Daddy deh, mungkin lebih muda sedikit." jawab Romi.
"Seperti Om Kenan?" tanya Anggita.
"Lebih muda dari Om Kenan, tapi gayanya tidak seperti anak muda." Romi terkekeh.
"Gayanya Opa-Opa?" Anggita terkikik geli.
"Iya orang kantoran yang serius gitu, kalau Om Kenan karena bergaul dengan kita jadi seperti anak muda." kata Romi bangga.
"Ck... kamu membanggakan diri kamu secara tidak langsung."
"Ih benar sayang, coba kamu lihat saja Om Kenan seperti anak muda kan?"
"Iya sih, single ya, jodohkan saja dengan Moza." Anggita memberi ide.
"Tidak ah, repot jodoh-jodohkan orang. Biar mereka usaha sendiri saja." Romi menolak. Mereka memasuki halaman parkir restaurant, sudah tampak Mobil Mr. Lee diparkiran, tepat disebelah mobil Mr. Lee Romi memarkirkan kendaraannya.
"Sayang, aku sudah rapi belum?" tanya Anggita pada suaminya.
"Sudah dan selalu cantik." jawab Romi mengecup pipi istrinya.
"Ayo turun." ajak Anggita, Romi menganggukkan kepalanya lalu segera turun dari mobil, Anggita pun mengikuti.
"Perdana ini aku ikut kamu makan siang sama orang kantor kamu." Romi terkekeh memandang istrinya.
"Terima kasih sayang, sudah temani aku." kata Romi Manis sekali membuat Anggita tersenyum bahagia sekali melihat suaminya bahagia.
"Sama-sama sayangku." jawab Anggita tak kalah manisnya. Mereka saling bergandengan tangan menuju restaurant. Lumayan jauh jalan kedalam melalui parkiran, karena restaurant ada di dalam sebuah gedung perkantoran.
"Sayang, Mr. Lee orang Singapore?" tanya Anggita pada suaminya. Romi menganggukkan kepalanya.
"Jangan-jangan kenal Mommy dan Sambada." Anggita jadi was-was sendiri.
"Aduh kamu jangan rusak harimu dengan mengingat Sambada dong sayang." Romi mengusap bahu istrinya, tidak lagi menggandeng ya, sekarang Romi merangkul istrinya. Anggita tampak mulai ketakutan, Romi jadi kasihan, karena masa lalu Mommy, Anggita jadi was-was.
"Aku takut." Anggita meringis.
"Ingat tidak Wilma bilang apa tadi malam?" Romi mengingatkan.
"Apa?" tanya Anggita.
"Wilma lebih takut sama Allah dari pada sama Sambada." kata Romi tersenyum memandang Anggita.
"Iya betul, kadang anak itu banyak benarnya." Anggita terkekeh, takutnya mulai hilang ingat konyolnya Wilma dan celutukannya yang seperti orang benar saja