
"Dad, urusan sama Om Lee serahkan sama Mbak Juwita saja." pinta Anggita pada Leo saat ia berada diruang kerja Daddynya.
"Kenapa memangnya?" tanya Leo ingin tahu alasan Anggita menyerahkan pekerjaan yang berhubungan dengan Richard Lee, pada Juwita.
"Biar Mbak Juwita berkembang, masa mau begitu terus." jawab Anggita, Leo terkekeh mendengarnya.
"Ada alasan lain?" tanya Leo tersenyum.
"Ada sih." jawab Anggita terkekeh, mana bisa bohong sama Daddy.
"Apa?" tanya Leo masih senyum saja.
"Siapa tahu berjodoh." jawab Anggita terkikik geli.
"Hahaha kamu ini, Lee sudah cinta mati sama Moza." Leo terbahak.
"Anderson tidak setuju." jawab Anggita menatap Daddy.
"Itu urusan mereka sayang, kita jangan ikut campur." kata Leo pada putrinya.
"Tidak ikut campur, hanya membiarkan Mbak Juwita lebih sering bertemu dengan Om Lee, kalau saling jatuh cinta Alhamdulillah kalau tidak, ya tidak masalah juga." jawab Anggita menjelaskan pada Daddy.
"Nanti Lee bingung, Daddy tidak menemuinya." kata Leo lagi.
"Daddy kan sibuk, Om Lee pasti mengerti. Ayolah Daddy." Anggita membujuk Leo agar setuju, setidaknya biarkan Juwita intense bertemu Om Lee selama proyek kerja sama ini berjalan. Pastinya Om Lee akan lebih sering bertemu Mbak Juwita dibandingkan bertemu Moza.
"Ya sudah nanti akan Daddy sampaikan pada Juwita." jawab Leo akhirnya mengalah.
"Aku ijin ke Mal sama Mbak Juwita ya." kata Anggita lagi.
"Mau apa?" tanya Leo, banyak sekali request anaknya ini.
"Aku harus dandani Mbak Juwita supaya lebih eye chatching." kata Anggita tersenyum manis.
"Totalitas sekali." Leo terkekeh.
"Daddy mau jadi sponsor?" Anggita menatap Leo sambil terkekeh.
"Siapa lagi yang kamu jadikan sponsor selain Daddy?" tanya Leo pada putri sulungnya ini.
"Anderson dan Romi hahaha." Anggita terbahak, dengan sukarela ia mintakan sponsor untuk memodali penampilan Juwita. Leo menggelengkan kepalanya ikut tertawa menyerahkan kartu tanpa limit pada Anggita.
"Wow ini akan tercatat dan diketahui Mommy." kata Anggita menatap Daddy
"Memang Mommy harus tahu kalau anak gadisnya mencari sponsor untuk modali perjodohan." kata Leo tertawa.
"Nanti Mommy marah." Anggita memberengut, masih takut saja dimarahi Mommy.
"Kalau alasannya baik pasti tidak marah, kalau mereka berjodoh kasih kwitansi tagihan pada Lee, biar diganti." Leo membuat Anggita terbahak, tapi ide yang cemerlang, bon belanja akan Anggita simpan untuk di reimburse pada Om Lee nantinya, jika mereka berjodoh.
"Oke Daddy, aku pergi dulu." ijin Anggita pada Leo.
"Masih pagi, Nak." Leo melihat jam dipergelangan tangannya masih pukul sepuluh pagi.
"Daddy tidak ada meeting kan? kata Mbak Juwita hari ini free, jadi semakin pagi semakin baik. Karena kami harusnke salon juga." Leo hanya bisa menggelengkan kepalanya, seenaknya saja keluar kantor, tapi memang benar hari ini free tidak ada pekerjaan penting.
"Mbak Juwita, ayo." ajak Anggita begitu keluar dari ruangan Daddy.
"Apa boleh?" tanya Juwita yang sudah dibilang Anggita tadi kalau ia ingin ditemani Juwita ke Mal.
tidak,
"Boleh, aku sudah bilang Daddy." katanya menunjuk kartu tanpa limit milik Dadynya. Juwita menggelengkan kepalanya, masih saja minta uang sama Daddy padahal sudah punya suami, pikir Juwita tidak habis pikir.
"Win, handel ya. Aku temani Bos Noni dulu nih." bisik Juwita, rupanya di kantor mereka menyebut Anggita dengan sebutan Noni alias Noni Belanda, karena tampilannya yang seperti blasteran.
"Iya Mbak." jawab Wina sopan pada seniornya. Tidak temani Bos Noni juga pasti akan Wina handel kalau Juwita keluar kantor. Keduanya menuju lobby dimana supir yang sudah Anderson siapkan menanti, bagaimanapun ia bertanggung jawab memberikan fasilitas pada Anggita untuk mempercantik Juwita.
"Kita ke salon dulu ya." kata Anggita pada supir Anderson, Juwita mengelus dada saja, kelakuan anak bos jam kerja malah minta temani ke salon.
"Dandani temanku biar trendy dan kekinian dong." pinta Anggita pada hairstyles langganannya.
"Ih, rambutan kamu panjang bener, padahal kamu tuh pere cantik, eikeh poles dikit bisa bikin lekong mabuk kepayang ." komentar pemilik salon menyisir rambut Juwita dengan kelima jarinya.
"Ngomongnya yang gue ngerti deh." protes Anggita tertawakan kenalannya itu.
"Eh Anggita yeiy maih endes ye, jam segindang udah kesindang, lekong kerejong bini belenjong." omelnya pada Anggita, Juwita tertawa walau tidak mengerti.
"Iya enak kan" Anggita tertawa.
"Ayo poles deh, biar bikin laki mabuk kepayang." kata Anggita mengulang ucapan sipemilik salon.
"Anggie kenapa aku." tanya Juwita bingung.
"Mbak Juwi kan sekarang sering bertemu klien jadi harus terlihat lebih menarik, demi perusahaan kita juga." jawab Anggita membuat Juwita menganggukkan kepalanya pasrah saja dioprak aprik kepalanya, sementara Anggita duduk santai di cream bath sambil menunggu tampilan terbaru Juwita.
"Rambutnya eike bikin merah merona ya bow."
"Yang penting cantik jangan terlihat aneh ya, orang kantoran nih bukan anak dugem." pesan Anggita.
"Cuss eike bikin cucok meong deh pokoknya." katanya lagi.
Benar saja setelah dua jam berlalu, Anggita dibikin pangling dengan tampilan Mbak Juwita, hanya dipoles sedikit terlihat sangat cantik, seperti yang Anggita duga Mbak Juwita memang sangat cantik, hanya rambutnya saja yang dirubah dan sedikit diwarnai.
"Taraaa... cucok Eim, langsung belenjong deh bajunya pilih yang cucok meong." katanya dengan centil.
"Duh kalau eike lekong eike nikahi deh." katanya lagi.
"Lu mah sekong." celutuk pegawai yang lain. Anggita tertawa saja.
"Sekong tuh apa?" tanya Juwita.
"Sakit." jawab Anggita terkekeh Dan segera ke kasir melakukan pembayaran.
"Berapa Nggie?" tanya Juwita mengeluarkan dompetnya.
"Ditanggung kantor." jawab Anggita asal.
"Eh mana boleh begitu." protes Juwita.
"Hehehe tenang ada sponsor." jawab Anggita terkekeh kemudian mengajak Juwita ke butik langganannya
"Pilihkan sepuluh setel ya, pakaian kantor yang trendy tapi elegant." pinta Juwita pada pemilik butik. Mulailah mereka memilihkan pakaian yang tepat untuk Juwita, bukan yang asal laku tapi yang sesuai dengan gaya dan bentuk tubuh Juwita.
"Mbak pakai deh satu, ganti nih bajunya." kata Anggita pada Juwita.
"Harus dipakai sekarang?" tanya Juwita bingung.
"Iya berlaku mulai hari ini, sepatunya juga." kata Anggita lagi. Juwita menurut pasrah dengan perlakuan Bos Noni yang membuatnya bingung. Tapi karena dibilang untuk kepentingan perusahaan Juwita menurut saja tidak berani protes. Semua baju, sepatu, tas dibelikan Anggita, entah berapa juta yang sudah sponsor keluarkan untuk Juwita.
"Mulai hari ini dan seterusnya, pakai baju yang barusan kita beli ya. Yang lama jangan dipakai lagi. Kasih ke orang saja." kata Anggita pada Juwita.
"Ini seperti upik Abu berubah jadi Cinderella." kata Juwita tidak percaya dengan gayanya yang kekinian, ia sendiri baru sadar kalau ia bisa secantik ini.