
Steve menyambut kehadiran Mario dan Regina dengan penuh semangat, hari ini atas kemauannya sendiri menjemput Mami dan Papi ke Airport, meskipun supir Papi sudah standby jika dibutuhkan.
Dari satu jam yang lalu Steve sudah bersiap berangkat ke Bandara, kebetulan Papi dan Mami datang dengan pesawat pagi, sehingga belum terlalu macet perjalanan menuju ke Bandara di hari sabtu ini.
"Tumben kamu yang jemput." seloroh Regina saat melihat Steve di bandara. Steve segera memeluk Maminya kemudian lanjut merangkul Papi.
"Steve kangen Mami dan Papi. Sendiri terus dirumah, bosan juga." kata Steve membuat Regina mencebik, tumben sekali bilang bosan sendiri.
"Bukannya kamu jalan terus sama teman-temanmu, Son." Mario terkekeh melihat akting Steve yang seakan benar-benar rindu.
"Papi pasang mata-mata ya?" gerutu Steve karena aktingnya terbaca jelas oleh Papi. Mario dan Regina tertawa mendengarnya.
"Tidak usah pasang mata-mata juga pasti ada laporan anak-anak ada di mana." jawab Regina pada putra semata wayangnya. Tidak heran lagi, rumah mereka dengan sahabat Papi berdekatan dan anak-anak mereka pun berteman satu sama lain, sudah seperti saudara, sudah pasti ada saja yang melapor aktifitas anak-anak mereka satu sama lain.
"Pasti Papa Andi dan Mama Pipit." tuduh Steve karena tidak mungkin Ame Enji ataupun Popo yang sedang sibuk di rumah sakit, sementara Bunda Kiki kalau tidak ada perlunya pasti tidak keluar rumah.
"Kemana saja kamu sama Lembayung." ups pertanyaan Papi membuat Steve tercekat.
"Dinner, Movie. Sama Romi, Raymond, Arkana dan yang lain juga." jawab Steve sesantai mungkin.
"Lembayung selalu kamu yang antar pulang ya, bagaimana sih Romi, calon istri dibiarkan begitu saja." gerutu Mario dalam perjalanan mereka menuju ke parkiran.
"Biar saja kan Lembayung juga rumahnya dekat sekali dengan kita." Steve membela Romi.
"Tapi tidak ada perjuangan sedikitpun itu Romi." Mario terkekeh.
"Nanti kamu kepincut Ayu lagi, Steve. Kemana-mana selalu berdua." celutuk Regina membuat Steve terkekeh. Bukan nanti, Mi. Sekarang juga sudah kepincut, batin Steve dalam hati.
"Drop Papi dulu kerumah Opa ya, ada yang harus Papi urus disana." kata Mario pada Steve.
"Mami juga kerumah Opa?" tanya Steve pada Regina.
"Tidak, Opa dan Oma masih di S'pore untuk apa Mami kesana. Papi hanya menyampaikan pesan Opa pada pegawai di sana." jawab Mario mewakili Regina.
"Kalau begitu kita tunggu saja." kata Steve menawarkan.
"Tidak usah, lumayan lama. Kasihan Mami sudah rindu sama teman-temannya." kata Mario terkekeh menoleh pada Mario yang duduk di bangku penumpang belakang.
"Honey, kamu paling tahu ya. Apa boleh langsung ke rumah sakit, aku mau lihat Enji." ijin Regina pada Mario.
"Son, kamu tidak kemana-mana kan hari ini?"
"Tidak, Pi."
"Kalau begitu temani Mami besuk Ame." perintah Mario pada Steve.
"Siap Papi. Kemanapun Mami mau hari ini Steve temani." jawab Steve semangat. Mario kembali terkekeh.
"Bagaimana kondisi di kantor, Son?" tanya Mario pada Steve yang sudah aktif berkantor di Unagroup.
"Aman terkendali." jawab Steve apa adanya.
"Produk baru apa sudah bisa di pasarkan?" tanya Mario lagi.
"Perkiraan dua minggu ke depan, Pi." jawab Steve sambil fokus menyetir kendaraan.
"Kenapa lama sekali? harusnya minggu ini sudah launching." Mario mengernyitkan dahinya.
"Bisa tidak bahas pekerjaan saat dikantor saja, ini hari libur." protes Regina, malas sekali mendengar anak dan suaminya membahas pekerjaan, jika dibiarkan akan ada lagi yang dibahas terkait pekerjaan.
"Ok honey." Mario terkekeh kembali menatap istrinya. Steve menarik nafas lega, pikirannya sedang mencari kalimat yang tepat untuk menyampaikan masalah percintaannya pada Mami. Mana dulu yang dibahas, keyakinan dulu atau Lembayung dulu? pikir Steve dalam hati. Mami marah tidak ya? batin Steve lagi.
Steve menyalakan klakson kendaraannya agar security yang menjaga rumah membukakan pagar untuk Steve dan menurunkan Papi di Lobby rumah Opa. Tak berapa lama Pak Parman security kesayangan Opa muncul dengan senyum lebarnya sambil melambaikan tangannya, begitu melihat Mobil Steve yang ia sudah hafal. Ia belum tahu jika Mario dan Regina ada di dalam.
"Senyum-senyum saja Pak Parman, kalau lihat Papi pasti langsung tegap." Steve mengomentari Pak Parman, Mario tertawa melihatnya.
"Memangnya Papi menyeramkan ya? kenapa mereka takut?" tanya Mario heran.
"Kamu santai padahal honey, merekan hanya segan saja." sahut Regina dari belakang.
"Coba buka jendela ya, Pi." seringai Steve jahil dan membuka jendela bagian Mario.
"Pagi Pak Parman." sapa Mario tersenyum.
"Siap Pak, Pagi." langsung memberi hormat pada Mario. Steve melambaikan tangannya pada Pak Parman sambil terbahak, Pak Parman hanya menganggukkan kepalanya sopan tanpa tersenyum. Setelah mobil melaju Steve dan Mario pun tertawa, Mario langsung mengacak rambut putra semata wayangnya.
"Jahil sekali kamu." kata Mario disela tawanya.
"Habis beda sekali ekspresinya tadi. Papi lihat sendiri kan?" kata Steve mentertawakan Pak Parman. Mario menganggukkan kepalanya, ia memang melihat Pak Parman yang sangat santai dengan senyuman lebar saat menyambut Steve dan segera tegang tanpa senyum menjawab sapaan Mario.
"Nanti kalau mau dijemput, bilang ya Pi." kata Steve lagi saat Mario hendak turun dari kendaraannya.
"Iya nanti kalau sudah selesai Papi telepon." jawabnya pada Steve. Mario turun dari Mobil Steve dan membukakan pintu untuk Regina yang hendak pindah posisi ke depan.
"Take care, honey." katanya pada Regina sambil memeluk erat Regina kemudian mengecup dahinya dengan lembut. Steve dengan sabar menunggu ritual yang biasa dilakukan Papi dan Mami dengan sabar. Hanya akan berpisah beberapa jam pun mereka masih tampak mesra, bikin iri Steve saja. Langsung saja Steve menghayal jika Lembayung menjadi istrinya kelak, mungkin akan melakukan hal yang sama seperti Papi dan Maminya.
Steve melajukan kendaraannya begitu Regina sudah duduk di sampingnya. Kemudian membuka kaca mobilnya saat melewati Pak Parman.
Sudah makan belum, lu?" tanyanya pada Pak Parman.
"Belum Bos, ngopi dulu lah, makan mah nanti siang. Mau kemana Bos?" tanya Pak Parman pada Steve.
"Antar Mami dulu besuk, Ame." jawab Steve menunjuk Mami yang duduk disebelahnya.
"Eh ada Ibu, maaf saya kira Bos Steve sendiri, Bu." ia menunduk sopan pada Regina yang tersenyum ramah.
"Yuk jalan dulu, Pak." katanya pada Pak Parman.
"Baik Bu, hati-hati." kata Pak Parman.
"Nanti gue balik lagi jemput Papi." kata Steve melambaikan tangan pada Pak Parman.
"Elu elu, dia sudah tua Steve. Sopan sedikit." tegur Regina pada Steve.
"Anaknya saja lebih kecil dari Steve juga bicara elu gue sama Pak Parman, Mi." Steve terkekeh menjelaskan pada Mami.
"Benar begitu?" tanya Regina tidak percaya.
"Sebagian orang Jakarta asli mungkin seperti itu, Mi." jawab Steve ragu-ragu.
"Sok tahu kamu." tukas Regina tertawa.