Never Say Never

Never Say Never
Cemburu



"Oma, Opa kami pulang ya." pamit Romi pada Opa dan Oma setelah makan siang bersama, kali ini dirumah, Opa malas keluar, mau aktifitas dirumah saja.


"Sering-sering menginap disini." pinta Oma pada keduanya.


"Dua bulan sekali lah menginap disini." jawab Romi pada Oma.


"Lama sekali, sekalian saja setahun sekali." sungut Oma merajuk.


"Hahaha Oma maunya berapa lama sekali?" tanya Romi.


"Dua minggu sekali." jawab Oma.


"Sebulan sekali lah." Romi bernegosiasi.


"Tidak usah menginaplah kalau begitu." Oma tambah merajuk saja.


"Oke Oma dua minggu sekali." Anggita akhirnya menyetujui. Menyediakan waktu satu malam untuk Opa dan Oma setiap dua minggu apa susahnya. Sementara Romi jadi bingung sendiri, sebentar lagi pasti Opa Ismail menuntut hal yang sama. Belum lagi nanti Opa dan Oma Anggita, mereka akan menuntut Hal yang sama apa tidak?


"Kekantorku dulu ya?" Romi meminta ijin Anggita untuk mampir ke kantornya sebentar, sudah beberapa hari tidak masuk, ingin melihat situasi saja sebentar. Anggita mengangguk setuju.


Jarak dari rumah Opa ke kantor tidak begitu jauh, mungkin dulu Opa sengaja mencari tempat yang dekat dari rumahnya.


Setibanya di kantor, Anggita yang tadinya ingin menunggu di mobil mau tidak mau ikut turun atas keinginan suaminya. Romi dengan percaya diri menggandeng istrinya memasuki kantor, menuju lift disambut satpam yang berjaga didepan lift hingga berjalan menuju ruangannya, tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memandang dan berbisik-bisik heran, tambah banyak saja yang mengira Romi playboy.


"Loh kok ke kantor?" tanya Vita begitu melihat Romi dan Anggita muncul dihadapannya.


"Kenapa? malas lihat muka gue?" tanya Romi masih menggandeng tangan Anggita, sementara Anggita tertawa kecil dibuatnya.


"Elu kan masih honeymoon, gue pikir senin baru masuk, tanggung kalau masuk sekarang." Vita terkekeh menjelaskan.


"Apa kabar bu? Kesal tidak, diajak honeymoon ke kantor?" Vita memprovokasi, membuat Romi punya ide memperpanjang cutinya.


"Panggil Anggie saja, Mbak." Anggie mencoba akrab pada Vita karena tahu jika Vita sahabat Romi di kampus.


"Kalau begitu, panggil aku Vita saja." kata Vita dengan ramah.


"Ini yang tiap hari aku repotin suruh kirim bunga tiap pagi ke kamu sayang." Romi terkekeh.


"Nah gue mau tanya tuh, masih perlu Kirim tidak?" tanya Vita pada Romi.


"Kirim dong, biar dikantor Anggie ingat gue terus." jawab Romi memandang mesra istrinya.


"Tidak usah sayang, mubazir." Anggita menggeleng cepat.


"Tuh jadi bagaimana?" tanya Vita bingung.


"Kirim."


"Tidak usah."


Bersamaan, Vita terkekeh.


"Tidak usah, Vit." Romi akhirnya mengikuti kemauan istrinya. Ia pun mengajak Anggita masuk kedalam ruangannya.


"Sayang, sebentar ya, ada yang harus aku bereskan." kata Romi langsung duduk di kursi kebesarannya. Sekitar satu jam Anggita menunggu di sofa, Romi masih sibuk dengan segala berkas dan beberapa kali Vita masuk ke dalam ruangan Romi terkait pekerjaan.


"Vit, tambah cuti gue sampai Rabu depan."


"Mau kemana, lama sekali." tanya Vita menyeringai m


"Gue mau ke S'pore, resepsi Ayu lanjut honeymoon, lu urus tiketnya ya."


"Ok Boss.


"Sayang, setelah ke S'pore kita lanjut ke Phi Phi Island ya, tidak apa kan baru masuk Rabu?" tanya Romi setelah berkoordinasi dengan Vita.


"Ya." jawab Anggita singkat, mau libur kerja tiga minggu pun tidak masalah, Daddy Leo masih aktif juga dikantor, Anggita hanya membantu.


"Kamu tanya Daddy dulu ya?"


"Tidak usah, Daddy pasti setuju." jawab Anggita yakin.


"Kamu tidak ijin big boss?" tanya Vita pada Romi.


"Sama lah seperti Anggi, pasti Papa setuju." Romi terkekeh.


"Ada lagi Vit, yang harus diberesin? sampai Rabu nih tidak dikantor." kata Romi kemudian.


"Besok pagi deh ya kita briefing, jam sembilan Vit." kata Romi kemudian memandangi istrinya yang sedang asik tersenyum sambil memegang handphone. Vita pun segera keluar ruangan setelah tidak ada lagi yang perlu dibahas dengan Romi, ia pun sudah mendapat pesan dari bosnya agar tidak ada yang mengganggu. Karena jika tahu ada Romi, ada saja yang ingin konsultasi keruangannya.


"Sayang, kenapa senyum-senyum?" Romi menghampiri Anggita yang sedang duduk di Sofa.


"Ini Ayu, lagi curhat." Anggi terkekeh.


"Kenapa?"


"Hahaha nanti saja kamu dengar sendiri, kita kapan berangkat sayang, Ayu tidak sabar tunggu kita." Anggie menyandarkan dagunya dibahu Romi.


"Mau berangkat besok, kamu masih halangan, percuma." Romi terkekeh.


"Ish pikiranmu itu ya kesitu terus." sungut Anggita.


"Dari pada nanti aku jadi bulan-bulanan Steve, lebih baik nanti saja jumat sore kita berangkat, acara sabtu sorenya langsung ke Phi Phi Island." Romi membalikkan badannya dan langsung ******* bibir istrinya perlahan. Anggita pun menikmati dan membalasnya.


"I love you." bisik Romi dan kembali menikmati bibir Anggita, kali ini tangannya mulai bergerilya.


"Sayang, nanti ada yang masuk." Anggita berusaha menyadarkan Romi, tapi dasar Romi tidak peduli, pikirnya tidak akan ada yang berani masuk keruangannya, karena urusannya dengan Vita sudah beres.


"Sayang mau lagi seperti semalam." kata Romi pada istrinya. Anggita menggeleng menatap ke arah pintu, bisa malu besar jika ada yang masuk.


"Di rumah saja, kalau disini kamu mesti mandi lagi loh."


"Tidak apa, nanti aku bisa mandi disini." Romi beranjak mengunci pintu ruangannya, mematikan lampu, masih ada sedikit cahaya hingga Anggita tidak akan komplen. Selanjutnya terjadilah yang Romi inginkan. Tidak masalah di sofa kantor pun jadi.


Setelahnya Romi mengajak Anggita ke kamar diruangannya, membuat Anggita memukul bahu suaminya.


"Sakit sayang, kenapa aku dipukul?" tanya Romi tanpa dosa.


"Ada kamar, kenapa tadi diluar?" protes Anggita membuat Romi terkekeh.


"Sensasinya beda sayang." Romi kembali mengecup bibir Anggita.


"Aku mandi dulu, kamu mau ikut?" tanya Romi.


"Tidak, aku tiduran ya, boleh kan." ijin Anggita pada suaminya.


"Boleh lah, masa tidak boleh, mau aku peluk dulu?"


"Tidak usah nanti lama lagi."


"Mau kemana buru-buru?"


"Pulang." jawab Anggita mengalungkan tangannya dileher Romi. Jangan salahkan Romi jika langsung memanfaatkan situasi, kembali menjelajah wajah, leher hingga sekujur tubuh istrinya, sekarang mereka dikamar dengan baju yang berserakan.


"Rom..."


"Hmm..." Romi terbaring sambil memeluk Anggita.


"Kamu pernah bawa mantan pacar kamu kesini?" tanya Anggita sedikit khawatir. Romi menjentikkan telunjuknya ke dahi Anggita.


"Sakit." sungut Anggita mengusap dahinya.


"Biar tidak pikir yang aneh-aneh." kata Romi memonyongkan bibirnya.


"Aku kan cuma tanya, siapa tahu ada."


"Bisa digorok leherku sama Papa." kata Romi terkekeh.


"Kalau Papa tidak ada, misal lagi tugas ke luar kota?"


"Kamu pikir aku seperti itu ya? *** bebas gitu? kamu yang pertama sayang." jawab Romi mengecup dahi istrinya.


"Alhamdulillah." Anggita tersenyum lega, walaupun itu masa lalu Romi, tapi Anggita tidak mau dibayang-bayangi oleh mantan pacar.


"Tapi kamu punya mantan pacar kan? banyak?"


"Mana mungkin, aku kan sudah dijodohkan sama Ayu, kamu lupa ya. Mau ganti calon istri saja kemarin sudah jungkir balik." Romi mengeratkan pelukannya pada Anggita, gemas sekali istrinya mulai cemburu dengan wanita masa lalu Romi. Anggita menarik nafas lega,


"I love you, Rom." katanya sambil membalas pelukan suaminya.


"I love you more than you think sayang."