
Di kamar Ayu masih saja cemberut, sarapannya terganggu karena ulah Steve, belum lagi ia merasa sangat malu karena celutukan Oma, walaupun Steve dengan yakin bilang bahwa Oma tidak melihat apa yang Steve lakukan.
"Ayo ganti baju, katanya mau jalan-jalan." ajak Steve pada istrinya, seperti tidak terjadi apapun. Ayu hanya mencucut dengan kening yang berkerut, nafasnya sedikit memburu menahan emosi.
"Kalau tidak mau jalan-jalan aku tidur nih." kata Steve lagi.
"Terserah." kata Ayu menarik selimut, ia tidur lebih dulu.
"Sayang, kalau kamu tidur sekarang, nanti malam tidak bisa tidur lagi, besok kesiangan lagi." kata Steve merebahkan badannya disebelah Ayu.
"Aku tidak boleh tidur, kalau kamu boleh?" ketus Ayu pada Steve. Ya ampun baru berapa jam jadi suami istri sudah marah-marah saja, pikir Steve.
"Bukan begitu, kalau kamu kan kesulitan tidur malam, aku hanya takut jadi keterusan jam tidur kamu berubah. Lebih baik sekarang tahan kantuknya kita keliling S'pore ." kata Steve membujuk istrinya.
"Kamu tuh tidak sadar ya, aku kesal sekali sama kamu." kata Ayu akhirnya. Steve menarik badan Ayu agar semakin mendekat padanya.
"Kenapa?" tanya Steve lembut menciumi dahi Ayu.
"Aku malu sama Oma." kata Ayu lagi.
"Kan aku sudah bilang, Oma hanya jahil karena tahu aku pasti mengganggu kamu. Tidak ada CCTV disana, dia mau lihat lewat mana?" kata Steve menjelaskan.
"Kenapa bisa pas sekali."
"Itu hanya kebetulan."
"Lagian kamu kenapa begitu sih dimeja makan, Bibi kan juga bisa lihat." Ayu masih saja mengoceh.
"Berarti kalau disini boleh?" tanya Steve kembali menjahili istrinya, ******* lembut bibir Ayu.
"Kita belum malam pertama, semalam kamu lelah sekali." bisiknya pada Ayu setelah tautannua terlepas, menatap Ayu dengan mata yang mulai sayu.
"Aku mau ganti baju." kata Ayu berusaha menghindar dari Steve.
"Kata Pak Ustadz, istri tidak boleh menolak kalau suami..." Ayu terkekeh mendengar Steve yang mulai ceramah perihal kewajiban istri terhadap suami. Ia mengalungkan tangannya dileher Steve.
"Sayang, ini belum malam." kata Ayu memandang wajah pujaan hatinya.
"Kata siapa harus malam." jawab Steve terkekeh, mulai melancarkan aksinya yang dari semalam sudah ditahannya. Ayu mau tidak mau meladeni dan ikut menikmati, malah beberapa kali terdengar suara Ayu memekik akibat perlakuan Steve yang tengah melaksanakan tugas pertamanya sebagai suami, hingga menjelang siang entah sudah berapa kali mereka melakukannya, yang pasti kini keduanya tertidur dalam keadaan berpelukan, dengan baju berserakan dikasurnya, melupakan niat mereka untuk jalan-jalan.
Sementara itu di kediaman Enji, Romi terus saja memberi kode pada Anggie untuk meminta ijin pulang lebih dulu pada Mommy dan Daddy yang terlihat masih sangat betah.
"Mommy, apa mommy masih ingin menginap disini lagi?" tanya Anggie pada Mommy.
"Kalian sudah mau pulang?" tanya Daddy Leo seakan mengerti jika menantunya sudah sangat resah dan gelisah.
"Kalau boleh kami pulang dulu." kata Anggie pada Daddy Leo. Kemudian keduanya melihat kearah Mommy Liana.
"Bagaimana sayang?" tanya Leo pada Liana.
"Aku masih kangen sama Enji." jawab Liana.
"Ya sudah kita saja yang menginap, biarkan mereka ke Jakarta lebih dulu." Leo ikut membujuk istrinya.
"Iya, lagipula disini kan sudah rapi semua, Mom." kata Anggie mendesak Mommy.
"Mau apa sih buru-buru ke Jakarta?" tanya Liana pada putrinya.
"Mau membujuk Opa dan Omanya Romi." kata Anggie mengingatkan Liana jika kedua orang tua Intan dan Anto masih merajuk. Ia kemudian tertawa jadinya mengingat Intan yang kemarin terus saja khawatir.
"Ya sudah kalian pulanglah lebih dulu." kata Liana terkekeh.
"Betul ya, boleh?" Anggie mengulang bertanya seakan tidak percaya pada Mommy.
"Kapan Mommy pernah membohongi kamu sih?" Liana memandang Anggie anak gadisnya yang kini sudah menjadi seorang istri, seperti mimpi saja, pikir Liana. Tinggal Wilma anak bontotnya yang masih di sekolah menengah, berjarak usia lima tahun dengan Kakaknya.
"Baik-baikin." kata Liana pada Leo yang ikut tertawa melihat keduanya.
"Kenapa ini peluk-peluk?" tanya Enji yang baru saja bergabung setelah selesai mandi.
"Anggie sama Romi mau ke Jakarta lebih dulu." jawab Liana pada sepupunya.
"Ah sudah tidak sabar malam pertama ya?" kata Enji konyol.
"Sudah kali." jawab Liana terbahak.
"Ih Mommy sok tahu." kata Anggie bersungut.
"Memangnya belum?" pancing Enji, Leo tambah terbahak saja jadinya.
"Be... aaaah Ame apa sih." teriak Anggie jadi malu sendiri. Mommy, Ame dan Daddy tentu saja jadi tertawa geli melihat Anggie berhasil terpancing oleh Enji.
"Kasihan, kalian itu dikerjai sama Arkana tahu, kamar disini kedap suara semua." kata Enji lagi konyol.
"Ame bukan karena itu." kata Anggie yang benar-benar polos.
"Lalu kenapa belum?" tanya Liana konyol.
"Mommy...." teriak Anggie lagi, wajahnya tambah merah saja, Mommy dan Ame benar-benar konyol menanyakan hal tersebut pada Anggie, walaupun mereka hanya bercanda tetap saja Anggie malu.
sementara Romi yang sedang berbicara dengan Arkana dan Chico hanya melihat dari kejauhan kerusuhan Anggie bersama Mommy dan Ame. Romi bersama sikembar sedang membahas perihal panti asuhan yang mereka datangi semalam. Dasar saja ketiganya begitu melihat bangunan panti yang tidak layak pakai, langsung memiliki ide untuk mempercantiknya. Rencananya mereka akan mengajak Raymond dan juga Naka untuk berpartisipasi, bahkan Steve jika perlu.
"Nanti gue minta Fuad untuk survey ke Panti dan hitung perkiraan biaya yang harus dikeluarkan." kata Romi pada Arkana dan Chico.
"Bahannya yang bagus Rom, jangan asal supaya mereka nyaman." kata Chico pada Romi.
"Masih perlu sponsor?" tanya Arkana pada Romi dan Chico.
"Tidak usah, kita saja." jawab Chico mengangkat alisnya pada Romi meminta persetujuan.
"Iya kita saja." jawab Romi setuju dengan keinginan Arkana. Romi melirik kearah jam tangannya sudah hampir pukul sembilan, ia tidak sabar ingin menemui Opa dan Omanya.
"Tidak sabar sekali ingin berduaan." kata Chico menggoda Romi.
"Tidak sabar menemui Opa dan Oma, kamu tahu sendiri mereka itu sedang merajuk." kata Romi pada Chico yang memang tahu dari tadi Romi sudah menghubungi via handphone tapi Opa dan Oma tidak menjawabnya. Arkana dan Chico terkekeh dibuatnya.
"Risa dan Sarah mana dari tadi tidak terlihat?" tanya Romi menanyakan istri sahabatnya.
"Sarah capek, masih tidur." jawab Arkana menyeringai.
"Hajar sampai pagi, Nyong?" tanya Romi terkekeh. Arkana mengangkat alisnya, Chico hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Risa sedang ke sawah bersama Bi Mumun." Chico menjelaskan ketika Romi menunggu jawabannya.
"Rajin sekali Risa, selalu mengurus sawah didepan, bukannya mengurus suaminya." Arkana terkekeh memandang Chico.
"Aih kakak ini, itu kesenangannya kalau disini kakak, biar saja." jawab Chico terkekeh pada Abangnya.
"Biasa juga gue ikut ke sawah, pagi ini mau menemani pengantin baru." kata Chico lagi pada sahabatnya.
"Jadi semalam sudah gol, Nyong?" tanya Arkana pada Romi, ia tersenyum jahil.
"Apanya yang gol, tidak ingat setelah dari Panti kita keluar lagi?" tanya Romi pada sahabatnya.
"Eh iya itu Kalian kemana?" tanya Chico ingin tahu.
"Cari pembalut." jawab Romi memonyongkan bibirnya, habislah Romi ditertawakan oleh sikembar.