Never Say Never

Never Say Never
Yuhuuuuu



"Kamu tuh jahil sekali deh " Omel Romi pada istrinya saat mereka sudah dimobil.


"Kan kamu bilang Moza lebih cocok sama Anderson, jadi jodohkan saja Om Lee sama Juwita." Angita tertawa senang.


"Anderson kapan ke Jakarta?" tanya Romi.


"Tidak tahu, tapi Om Lee bilang dia keteteran. Makanya minta Anderson pindah ke Jakarta." jawab Anggita apa adanya. Romi pun menganggukkan kepalanya.


"Sayang, tadi kamu pulang dulu ambil mobil?" tanya Anggita pada suaminya


"Dijemput supir antar aku kesini, mobilku tadi Sosa yang antar, terus Sosa pulang sama supir." Romi terkekeh, merepotkan sekali.


"Ribet deh kenapa bukan kita saja yang pakai supir. Kasihan Sosa mesti mondar-mandir." tanya Anggita heran.


"Tidak apa, Sosa senang kok." Romi terkekeh.


"Kerumah Mama dulu ya." kata Romi lagi. Anggita menganggukkan kepalanya setuju.


"Kangen Mama? tumben." Anggita tersenyum jahil, Romi jarang sekali hubungi Mamanya.


"Mau kasih titipan Mama, sekalian bahas pekerjaan tadi sama Papa." jawab Romi tersenyum, tidak terlihat lelah suaminya ini, masih bugar saja.


"Sayang, ternyata Om Lee kenal Sambada. Bahkan rahasia Sambada Om Lee tahu, makanya besok Daddy sama Om Lee mau ke penjara datangi Sambada, supaya tidak ganggu Mommy lagi." adu Anggita pada Romi.


"Oh iya kan Mr. Lee di S'pore ya, pasti kenal Mommy dan Sambada. Sebenarnya Daddy sendiri yang urus pun pasti beres, kamu tahu dulu Daddy bergabung dikelompok yang sama dengan Sambada, bahkan Daddy termasuk orang yang ditakuti." jawab Romi berdasarkan informasi yang didapatnya waktu bicara dengan Raymond dan Arkana.


"Daddy sudah lama keluar dari kelompok itu, sejak aku lahir." jawab Anggita.


"Kata Om Lee, Mommy dulu banyak yang suka, sayang pacarnya mafia. Allah Maha baik, Daddy yang jadi suami Mommy, bayangkan kalau Daddyku Sambada." Anggita bergidik ngeri, ia betul-betul bersyukur menjadi anak Leo.


"Kalau suami Mommy orang lain kamu tidak ada sayang." jawab Romi terkekeh mengacak anak rambut istrinya.


"Iya juga ya." Anggita ikut terkekeh.


Mereka tiba di kediaman orang tua Romi tanpa terasa karena banyak sekali yang dibahas. Melihat belanjaan Romi dibagasi, Anggita berdecak kagum.


"Aku beli semua dibandara." jawab Romi terkekeh, memandang istrinya yang geleng-geleng kepala.


"Padahal ada pusat oleh-oleh bisa ditelepon, mereka antar ke Bandara, lebih murah sayang." kata Anggita pada suaminya.


"Aku tidak tahu, lagi pula tadi aku kejar waktu, buru-buru." jawab Romi tertawa.


"Lain kali kalau kamu keluar kota kasih tahu aku mau pesan apa, nanti tinggal telepon pusat oleh-olehnya deh, Juwita dan Wina biasa urus itu." kata Anggita pada suaminya.


"Iya sayang." Romi membawa kardus pesanan Mama Intan, sementara Anggita membantu menutup pintu bagasinya.


"Hanya satu kardus?" tanya Anggita pada suaminya.


"Satu kardus lagi untuk dirumah." jawab Romi.


"Banyak sekali sayang."


"Nanti kalau memang banyak bisa dibagikan pada yang lain." jawab Romi, menoleh kebelakang ia kesulitan membuka pintu rumah. Anggita segera menekan password pintu rumah yang sudah diketahuinya.


"Assalamualaikum, Ma..." panggil Romi pada Mama Intan dengan nafas yang memburu, rupanya kardus lumayan berat.


"Kamu tidak overload bawa dua kardus?" tanya Anggita, Romi menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada koper hanya kardus oleh-oleh. Masih lebih bagasinya." jawab Romi.


"Bi, Mama mana?" tanya Romi pada Bibi dirumah.


"Pergi sama Bapak cari makanan." jawab Bibi, Romi pun menganggukkan kepalanya.


"Saya dikamar deh istirahat." kata Romi menggenggam tangan istrinya menuju ke kamar.


"Mama sama Papa cuma sebentar kan sayang." kata Anggita pada suaminya


"Iya, aku mau rebahan dulu sebentar, dari tadi duduk terus." jawab Romi.


"Kasihan kamu capek ya."


"Demi Istriku." jawab Romi membuat Anggita meleleh.


"Masuk kamar dulu baru cium dong." kata Naka yang ternyata ada dibelakang mereka, bersama Sosa baru juga sampai dirumah.


"Ih lihat saja." kata Romi merasa terganggu.


"Mestinya diamkan dulu, mau lihat Bang Romi pasti sudah mau nyosor itu tadi." celutuk Sosa membuat Romi terbahak.


"Tahu betul kelakuan Abangmu ini." Naka tertawa.


"Sudah terbaca." jawab Sosa mencibir.


"Berisik, seperti kalian tidak saja. Aku rebahan dulu, nanti kalau Mama datang panggil ya, satu kali saja panggilnya jangan berisik." pesan Romi pada adiknya.


"Memang kenapa kalau panggil sampai kamu keluar kamar?" tanya Naka.


"Siapa tahu lagi tanggung." timpal Sosa terbahak.


"Rese, gue cuma mau rebahan saja."


"Disofa kan bisa kalau mau rebahan." Sosa menyeringai.


"Ya kalau disofa tidak bisa peluk dong, tadi saja cium pipi sudah rusuh." kata Romi, Anggita cengengesan saja. Mereka segera masuk kamar meninggalkan Sosa dan Naka yang juga sedang menuju kekamarnya.


"Sayang aku rebahan sebentar." ijin Romi pada istrinya.


"Iya nanti aku bangunkan kalau Mama datang." kata Anggita pada suaminya.


"Sini..." Romi menepuk kasur disebelahnya, meminta Anggita ikut berbaring.


"Sayang jangan macam-macam." Anggita langsung saja khawatir.


"Cuma peluk saja." jawab Romi terkekeh.


"Sayang kita menginap saja disini." kata Romi lagi pada istrinya. Pikir Romi ngobrol sama Papa dan Mama biasanya bisa sampai malam, apalagi Naka sedang ada dirumah. Pasti teman ngobrol Romi bertambah.


"Aku kabari Daddy dulu." kata Anggita pada suaminya.


"Aku sudah telepon Daddy kok tadi waktu kamu belum sampai lobby."


"Berarti kamu juga sudah tahu kalau Om Lee sahabat Daddy?" tanya Anggita. Romi menganggukkan kepalanya sambil tertawa.


"Kamu kerjai kami? aku panik lihat kamu sewot tadi." kata Anggita bersungut.


"Daddy yang suruh aku kerjai Mr. Lee." Romi masih saja tertawa.


"Jadi Om Lee sore ini selain dikerjai kamu, sama aku juga ya. Dia harus antar Mbak Juwita pulang, eh aku jadi penasaran bagaimana tuh mereka dijalan." Anggita jadi ikut tertawa.


"Biarkan saja urusan mereka." Romi memeluk istrinya erat.


"Sayang aku belum mandi, bau nih." Anggita risih sendiri.


"Aku juga belum mandi, nanti saja sekarang pelukan dulu." Romi membenamkan wajahnya didada istrinya. Ah kalau begini mana mungkin cuma rebahan saja, minta dibangunkan malah yang lain yang bangun.


"Duh sayang boleh ya sambil tunggu Mama." ijin Romi pada istrinya dengan tangan yang mulai menjelajah kesana kemari.


"Rom, nanti saja." pinta Anggita, tapi Romi mana bisa dibilangin, benar saja baru saja akan mulai,


"Romiiiii...!!! Roooom..." suara Mama sudah menggelegar memanggil kesayangannya.


"Sosaaaaa... Nakaaaaa.... Anggiiiiii ayo makanan sudah datang nih, Papa sama Mama sudah lapar."


"Anak-anak yuhuuuuu." duh Mama Intan benar-benar berisik dan mengganggu konsentrasi. Mana bisa Romi lanjutkan aktifitasnya, untung saja masih berpakaian lengkap walau sudah mulai berantakan.


"Iya Ma, tunggu." jawab Romi segera menjawab panggilan Mama agar tidak lagi berisik. Buru-buru keduanya merapikan diri dan beranjak dari kasurnya, keluar kamar dan menghampiri Mama, Naka dan Sosa juga tampak berjalan santai keluar kamar.


"Woi Naka, Lipstick Sosa nempel tuh di baju." kata Romi jahil.


"Ganti baju, Ka." kata Sosa panik, Romi terbahak melihat keduanya.


"Tapi bohong." katanya menyeringai kemudian berjalan lebih dulu bersama Anggita meninggalkan keduanya, dasar Romi.


"Rese." Naka ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya, Iparnya memang jahil.