
"Mau berangkat jam berapa ke rumah Bunda?" tanya Romi pada Anggita.
"Kalian janjian jam berapa? Puding satu jam lagi siap diangkut." Anggita tersenyum memandang Romi.
"Jam empat saja dari sini ya." kata Romi meminta persetujuan Anggita.
"Iya, Mami katanya mau ikut, karena mau bertemu Ame." jawab Anggita sekaligus memberitahu suaminya.
"Wilma?" tanya Romi memikirkan Wilma adik iparnya.
"Kita Angkut saja sekalian." Anggita terkekeh.
"Seperti puding juga mau diangkut." Romi mencubit pipi istrinya, enak sekali bilang adiknya akan diangkut.
"Aku kekamar dulu." pamit Romi pada Anggita yang masih sibuk berkemas.
"Tidak mau bantu aku?"
"Apa yang harus aku bantu?" tanya Romi mengurungkan niatnya ke kamar.
"Cicipi puding buatanku lalu bantu masukkan ke dalam kantongan." Romi terkekeh, dasar saja minta perhatian suami, padahal ada ART yang siap membantu sedari tadi.
"Oke sayang satu jam lagi kan?"
"Iya." jawab Anggita senang.
"Aku ke kamar dulu kalau begitu." kata Romi meminta ijin.
"Temani aku dong disini. Mau apa di kamar sih?" Anggita mulai bersungut, Romi terkekeh lalu duduk dibangku mini bar. Tidak mendapat ijin untuk ke kamar, sementara istri sibuk membuat puding.
"Bang Romi sedang apa?" tanya Wilma, ia baru saja pulang sekolah dan langsung menuju lemari pendingin, Haus sekali rasanya.
"Temani kakakmu tuh bikin puding." tunjuk Romi pada Anggita.
"Kak gue satu box sendiri." teriaknya pada Anggita.
"Gembul."
"Biarin, satu box sendiri ya. Jangan lupa." katanya kemudian kembali memandang Romi.
"Tidak gerah pakai baju begitu?" tanyanya pada Romi yang masih menggunakan jas.
"Mau ganti baju sebenarnya." kata Romi terkekeh.
"Terus kenapa tidak ganti baju?" tanya Wilma.
"Tanyakan pada kakakmu yang manja itu."
"Ish dia mana manja, dia hanya pura-pura manja, minta perhatian saja menurutku." cerocos Wilma membuat Anggita menghampiri dan menjewer kuping adiknya.
"Lihat sendiri kan? tidak ada garis kelembutan." katanya pada Romi.
"Semoga Bang Romi tidak menyesal punya istri seperti Kak Anggie." Wilma berlari sebelum Anggita kembali menjewernya.
"Kamu selalu ketus sama adikmu, kasar lagi." kata Romi begitu Wilma masuk ke kamar Mommy.
"Ah sayang, kamu masih belum bisa menilai Wilma rupanya." Anggita menggeleng seraya berdecak.
"Dia masih abege." kata Romi.
"Justru itu karena dia Abege dan semau gue, selalu bikin aku sedikit kesal." Anggita terkekeh.
"Tapi tetap sayang kok." kata Anggita lagi berkata jujur. Romi tersenyum saja tak lagi berkomentar.
"Kak Mommy nangis?" kata Wilma setengah berbisik, ia keluar kamar begitu memdapati Mommy sedang tidur tapi mengeluarkan air mata
"Kamu tidak tanya kenapa Mommy menangis?"
"Mommy tidur tapi air matanya mengalir." Wilma tampak resah.
"Pantas Mommy mau bertemu Ame, apa ada masalah sama Daddy? tadi baik-baik saja ke supermarket bersamaku." Anggita sedikit berpikir.
"Entahlah, kutelepon saja Daddy kalau begitu." Wilma dengan kening berkerut mengeluarkan handphonenya disaku.
"Daddy dimana?"
"Di kantor sayang, ada apa?"
"Pulang cepat ya, penting."
"Daddy sedang rapat." setengah berbisik.
"Mommy menangis." ikutan berbisik padahal tidak perlu.
"Iya Daddy tahu, nanti kita bertemu dirumah Ame ya, bye." Leo mematikan sambungan teleponnya, ia sedang ada client jadi tidak bisa berbicara lebih lama dengan putrinya.
"Apa kata Daddy?" tanya Anggita begitu Wilma mematikan sambungan teleponnya.
"Aku ikut ke rumah Ame." katanya pada Anggita. Kakaknya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Biar sedikit tengil tapi Wilma selalu menyayangi Mommy, tak pernah rela jika Mommy tersakiti. Walaupun Anggita juga begitu, tapi Wilma terlihat nyata begitu melindungi Mommy, bahkan dari Daddy Leo sekalipun.
Sore hari mereka bersiap kerumah Bunda Kiki yang hanya beda berapa rumah dengan Ame. Biasanya Ame dirumah pinggiran Kota, tapi hari ini Ame kembali Ke Jakarta, entah hanya beberapa hari atau akan kembali menetap disini.
"Mommy kenapa?" tanya Anggita sambil merangkul Mommy saat mereka akan masuk ke dalam Mobil.
"Tidak apa-apa sayang."
"Ada yang Mommy tutupi, kenapa Mommy menangis sambil tidur tadi?"
"Kata siapa?"
"Wilma masuk ke kamar Mommy." jawab Anggita tidak mau Mommy menutup-nutupi masalahnya.
"Mungkin Mommy bermimpi." kata Liana pada putrinya.
"Mimpi apa Mommy?" tanya Wilma.
"Tidak tahu, Mommy tidur pulas." jawab Liana.
"Ah kalau aku mimpi menangis saat terbangun aku tahu apa yang aku mimpikan, kurasa yang lain pun begitu." dengus Wilma.
"Semua sudah siap, kita jalan ya." Romi bersiap melajukan kendaraannya.
"Ah Bang Romi, jalan-jalan saja, tidak usah mengganggu konsentrasiku." omel Wilma membuat Romi terkekeh, ia memang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan, kasihan lihat Mommy Liana terdesak, mungkin memang ada masalah tapi belum siap untuk cerita.
"Jalan saja Rom." Mommy Liana ikut terkekeh, ia merasa terbantu oleh Romi.
"Siap Mommy." jawab Romi mulai melajukan kendaraannya perlahan.
"Kata Anggita kalian sudah dapat rumah yang akan kalian tempati nanti Rom?" tanya Mommy pada menantunya.
"Iya Mommy, nanti kita akan lewati." Romi tersenyum memandang Mommy Liana melalui kaca spion.
"Kenapa harus pindah, apa benar seperti yang Kak Anggie bilang, karena aku terlalu berisik?" tanya Wilma pada Iparnya.
"Iya." jawab Romi terbahak, padahal bukan itu juga sebabnya.
"Padahal tinggal bilang supaya aku tidak berisik." wajah Wilma jadi sendu.
"Kenapa memangnya kalau kami pindah?" tanya Anggita.
"Sepi." jawab Wilma.
"Selain itu jika seperti sekarang Mommy menangis, aku harus hadapi sendiri."
"Hahaha memangnya sering seperti itu? tadi hanya kebetulan." kata Liana merangkul Wilma bungsunya.
"Iya tapi tadi mengkhawatirkan, Mommy tidak pernah begitu."
"Iya tadi yang terakhir, semoga kedepannya tidak begitu lagi. Doakan saja." kata Mommy mengecup pipi Wilma, bontotnya ini.
"Dirumah Bunda lagi ada Om Kenan habis kecelakaan, sekalian saja Mommy besuk." kata Anggita pada Mommynya.
"Kenan adiknya Reza ya? Mommy tidak terlalu kenal, bahkan tidak pernah bertemu." jawab Liana.
"Bukannya semua saling mengenal satu sama lain?"
"Iya, tapi Mommy kurang begitu dekat dengan mereka, hanya sekedarnya saja." jawab Liana lagi.
"Om Kenan itu, yang anaknya ganteng itu loh Mommy, yang di Malang." kata Wilma lagi, Romi terbahak mendengarnya.
"Tahu saja kalau yang ganteng." kata Romi menggelengkan kepalanya.
"Itu angkatan aku Bang Romi, hanya beda berapa tahun saja." kata Wilma.
"Kamu kenal?"
"Belum, hanya lihat bulan lalu dia menginap dirumah Bunda." jawab Wilma.
"Kenapa tidak minta dikenalkan?"
"Ish aku bukan cewek pengejar laki-laki Bang, hanya suka melihat yang indah-indah saja." kata Wilma terkekeh.
"Namanya Nanta." kata Romi memberikan informasi.
"Itu sih aku tahu." jawab Wilma sombong.
"Tahu dari mana?"
"Dari Bang Chico lah." jawab Wilma lagim
"Pantas bulan lalu kamu maunya menginap dirumah Ame bersama Risa ya. Rupanya ada yang dipantau."
"Itu Kak Risa minta temani aku Mommy. Kalau Nanta itu cuma lihat sekali itu saja karena dia lebih banyak dirumah Oma nya." kata Wilma yang rupanya sudah tahu lebih banyak tentang Nanta.(cerita Nanta ada di I Love you too season 3 ya all.)