
Beberapa minggu ini, Wilma, Anggita dan Mommy giat berlatih, hampir setiap sore, jika tidak ada kepentingan pasti sudah ada di taman belakang bersama Samsak.
"Besok pakai orang lah jangan pakai Samsak terus." kata Wilma tengil, seakan sudah jago betul.
"Lancarkan saja pukulan kamu." kata Romi pada adik iparnya yang paling giat berlatih, mungkin karena paling muda jadi jiwa abegenya berkobar.
Sore ini Daddy pulang tidak langsung ke Taman belakang, tapi langsung menyalakan televisi acara sekilas info, Romi dan Mommy jadi penasaran, berita apa yang Daddy ingin dengar.
"Sambada kembali tertangkap." kata Daddy Leo pada Mommy.
"Kok bisa?" tanya Liana bingung, mereka sedang persiapan jika Sambada menyakiti mereka, eh yang bersangkutan malah kembali masuk penjara.
"Bisa lah Mommy, memang tempatnya Sambada itu di penjara." jawab Daddy santai.
"Apa ada campur tangan keluarga kita lagi?" tanya Liana resah.
"Campur tangan Mario, tapi murni ulah Sambada bukan jebakan." kata Leo pada istrinya.
"Bagaimana ceritanya?" tanya Liana.
"Simak saja beritanya, aku juga lagi lihat." jawab Leo menepukkan sofa di sampingnya, meminta Liana duduk disebelahnya. Liana yang sedang menunggu antrian Samsak pun duduk disebelah suaminya, ia belum berkeringat, jadi masih wangi saja.
"Mommy sore ini tidak latihan ya." katanya semangat. Anggita terkikik geli, dasar Mommy, sudah merasa aman jadi tidak mau latihan. Anggita dan Wilma tetap semangat berlatih, meskipun musuh sudah kembali tertangkap sebelum mereka berperang, tetap saja Anggita dan Wilma harus berjaga-jaga.
"Kamu sudah tahu cerita ya, kok santai saja?" kata Anggita memeluk Romi saat mereka sudah berada di kamar.
"Hu uh." jawab Romi beneran santai, tapi tetap saja giat melatih Anggita dan Wilma.
"Bawa Narkoba lagi?" tanya Anggita.
"Iya dengan jumlah lebih banyak." jawab Romi menggelengkan kepalanya. Sudah bebas malah edarkan Narkoba lagi, jelas saja tertangkap.
"Jadi aku tidak usah latihan lagi?" tanya Anggita.
"Latihan dong sayang, ini kan perlu bukan hanya untuk hadapi Sambada, tapi untuk jaga diri kalau ada yang ganggu saat sedang di jalan." jawab Romi.
"Harapan aku sih, serba aman. Tidak ada yang ganggu." Anggita menadahkan kedua tangannya seperti orang berdoa.
"Aamiin." jawab Romi ikut berharap keluarganya selalu aman tentram dan damai.
"Sayang, aku besok ke luar kota." kata Romi pada istrinya.
"Berapa hari?" tanya Anggita, sedih mau ditinggal keluar kota.
"Tiga hari, tapi aku lihat situasi hari pertama, kalau aman aku balik hari, biar anak-anak yang lanjutkan sampai hari ketiga." jawab Romi pada Anggita
"Sayang kamu berangkat sama Vita?" tanya Anggita. Romi menggelengkan kepalanya.
"Sama Moza, Budi Dan Bona." jawab Romi jujur.
"Kenapa harus sama Moza sih?" rupanya walaupun sudah kenalan, Anggita tetap cemburu dengan Moza.
"Ini kliennya Moza." jawab Romi.
"Harus dikawal tiga orang?" tanya Anggita kesal.
"Kliennya mau bertemu aku, makanya aku ajak Budi dan Bona, supaya bisa wakilkan aku hari berikutnya." Romi menjelaskan.
"Kamu tuh kalau lagi cemburu menyebalkan." kata Romi menghela nafas.
"Moza sih yang menyenangkan, makanya kemana-mana sama Moza terus." semprot Anggita tidak bisa menahan marahnya. Segera keluar kamar meninggalkan Romi, moodnya langsung rusak kalau sudah dengar Moza dekat-dekat suaminya. Entahlah mungkin Anggita berlebihan, tapi memang rasanya tidak nyaman saja. Beda kalau pergi sama Vita, Anggita bisa santai saja.
"Vit, lu ikut deh besok. Biar bisa temani Moza. Habis ketemu klien gue langsung balik ke Jakarta." Romi langsung menghubungi Vita begitu Anggita keluar kamar, mesti ada jalan keluar. Romi tidak mau Anggita salah sangka.
"Ck, selalu last minute, gue belum ijin sama Felix." dengus Vita kesal.
"Nanti Felix gue yang urus, ini tugas loh. Felix tidak bisa intervensi." tegas Romi, padahal secara tidak langsung Anggita sudah intervensi Romi.
Romi mencari Anggita keluar kamar. Diruang keluarga hanya ada Daddy dan Wilma, Mommy tidak ada. Mau tanya Romi malu, jadi pura-pura ambil minum saja.
"Dimana?" tanya Romi pengen juga.
"Di perempatan itu, enak loh, ada ronde juga." Wilma mulai promosi.
"Ayolah, ajak Kakak." kata Romi dengan mata berkeliling mencari Anggita.
"Anggie pergi sama Mommy." jawab Leo
"Oh iya, Dad." jawab Romi tidak mau bertanya lebih lanjut, bisa malu sama Daddy. Ini saja Romi agak kesal karena Anggita pergi sama Mommy tanpa memberitahu Romi.
"Daddy ikut?" Romi menawarkan dengan kunci Mobil ditangannya.
"Ayo." Daddy ikut juga mau makan sekuteng, mungkin iseng karena anak istrinya sedang keluar rumah. Jadilah mereka bertiga berburu Ronde dan sekuteng. Sayang sekali Mommy dan Anggita entah kemana.
"Anggita merajuk, Rom?" tembak Daddy Leo langsung.
"Iya Dad." jawab Romi terkekeh.
"Kenapa?" tanya Daddy Leo ingin tahu tanpa bermaksud ikut campur.
"Aku besok ke Luar Kota, Marketing andalan dikantorku Moza juga ikut, karena memang besok kami bertemu klien Moza. Tapi aku tidak berdua sih, masih ada Marketing Manager dua orang aku ikut sertakan, dengan harapan kalau mereka sudah bisa handel aku bisa langsung kembali dihari yang sama." Romi menjelaskan secara detail.
"Cemburu sih biasa, tandanya cinta." Daddy terkekeh.
"Tapi sampai pergi." Romi menggaruk kepalanya sambil fokus menyetir.
"Kebetulan saja saat Anggita keluar Kamar, ditarik Mommy minta temani." kata Leo memberikan informasi. Romi jadi menarik nafas lega.
"Kemana memangnya, Dad?" tanya Romi, akhirnya bertanya juga.
"Kerumah Ame. Penasaran soal Sambada." Daddy terkekeh.
"Dibiarkan saja berdua?" tanya Romi bingung.
"Dijemput Chico tadi, kebetulan disuruh Ame. Nanti setelah makan Ronde kita jemput Mommy dan Anggita." kata Leo.
"Bungkus saja yang banyak, kita makan di rumah Ame." Wilma memberikan ide.
"Coba telepon abangmu, ada siapa saja dirumah biar tahu harus beli berapa bungkus." perintah Leo pada anak bungsunya yang agak tengil ini.
"Oke, Dad." Wilma langsung menghubungi Naka yang setahu Wilma sedang berada dirumah Ame juga. Setelah bicara dan bercanda dengan Abangnya itu, Wilma pun menutup sambungan teleponnya.
"Kata Bang Naka belikan saja Lima belas bungkus, kalau sisa mau Abang bawa pulang." lapor Wilma pada Daddy dan Romi.
"Bawa pulang untuk siapa?" tanya Romi pada Wilma.
"Keluarga Bang Romi lah." jawab Wilma.
"Tidak ada yang suka jahe." jawab Romi jujur.
"Oh berarti untuk Bang Naka sendiri, dia sangat menyukai wedang Ronde disini. Paling enak."
"Masa sih?" Romi terkekeh, jadi penasaran seenak apa.
"Kamu sudah Packing, Rom?" tanya Daddy tidak tertarik dengan bahasan wedang ronde paling enak itu.
"Belum, Dad, besok saja. Kami juga berangkat siang." jawab Romi tersenyum sekilas memandang Daddy yang duduk disebelahnya.
"Ini uangnya, Nak." Leo menyodorkan tiga lembar uang ratusan ribu pada Wilma ketika Romi sudah memarkirkan kendaraannya dengan sempurna.
"Lima belas loh, Dad." kata Wilma minta uang lagi.
"Itu Pas untuk Lima belas bungkus sayang." jawab Leo.
"Uang antri, Dad." kata Wilma, dasar Daddynya juga kena palak oleh Wilma.