Never Say Never

Never Say Never
mengintimidasi



"Pagi..." sapa Romi saat tibaa diruangan Papa, tampak Mr. Lee Dan Anderson sudah duduk manis dihadapan Papa.


"Loh pagi sudah disini, kan saya yang mau kesana Om." kata Romi pada Mr. Lee.


"Istri kamu bicara apa sama Anderson, ingin sekali dia pagi-pagi ajak saya kesini." celoteh Mr. Lee pada Romi.


"Bicara apa, An?" tanya Romi pada Anderson.


"Kata Anggita mau jodohkan Papaku dengan sekretaris Papanya." jawab Anderson membuat Mr. Lee membelalakan matanya.


"Bukan Papa Anto. Sekretaris Daddy Leo." jawab Romi tertawa.


"Siapa? yang saya antar pulang dulu?" tanya Mr. Lee, rupanya kedatangan Mr. Lee dan Anderson pagi ini untuk kepentingan pribadi.


"Iya Juwita." jawab Romi menganggukkan kepalanya.


"Yang benar saja, sudah punya anak dia." kata Mr. Lee menolak.


"Papa malah sudah punya cucu." kata Anderson membuat Romi dan Anto terbahak.


"Ah tapi kan tidak ada anak kecil disekitar Papa, kalau Juwita ada anak umur lima enam tahun itu." kata Mr. Lee lagi.


"Memang kenapa kalau punya anak, aku tidak suka Papa dekati Moza." kata Anderson ketus, tidak peduli dihadapan Romi dan Anto.


"Masalah rumah tangga ini." kata Mr. Lee pada putra bungsunya.


"Masalah rumah tangga apanya, Papa melibatkan perusahaan untuk mendekati Moza." ketus Anderson lagi.


"Sewa gedung memang dibutuhkan untuk ekspansi perusahaan, Son." kata Mr. Lee membela diri.


"Satu tower saja sudah lebih dari cukup, kenapa sekarang Papa minta Moza kosongkan satu tower lagi untuk Papa sewa." Romi dan Anto saling berpandangan, tidak percaya Mr. Lee melakukan hal itu. Mengosongkan satu tower tentu bukan hal yang mudah. Kemudian tawa Anto meledak.


"Yang benar saja, Lee." Anto menggelengkan kepalanya.


"Kalau bukan urusan pekerjaan Moza tidak mau saya hubungi." kata Mr. Lee pelan.


"Bagus dong Moza bukan cewek gampangan. Tidak matre juga." kata Romi pada Mr. Lee.


"Bikin penasaran, belum pernah saya ditolak seperti ini."


"Itu obsesi Lee, kamu cari istri kan bukan buat gaya-gayaan." kata Anto pada sahabatnya.


"Entahlah, bangga saja rasanya kalau bisa jalan sama Moza." jawab Mr. Lee jujur.


"Aku khawatir dia gunakan magic untuk dekati Papa."


"An, please jangan sembarang menuduh." kata Romi tidak suka Anderson menuduh tanpa alasan.


"Papa terlalu suka, sampai melakukan hal bodoh demi marketing itu."


"Kalau Papa masih begini aku kembali saja ke S'pore, terserah perusahaan Papa mau jadi apa." ancam Anderson kesal. Sudah tidak punya keluarga dan teman cerita, disini ia hanya kenal Anto dan keluarganya bahkan beberapa karyawan Romi. Selebihnya Anderson belum punya teman. Beberapa bulan disini sibuk mengurus perusahaan dan mengurus kisah cinta Papanya yang tidak masuk akal.


"Jangan begitu, Son. Papa butuh kamu urus perusahaan disini, disana sudah ada Abangmu."


"Tapi disini aku harus menghadapi Papa yang cinta buta, aku capek hati." kata Anderson jujur. Mr. Lee memandang Anto minta bantuan, Anto hanya mengedikkan bahunya. Jelas-jelas Lee Salah, mana bisa Anto bela Lee. Apanya yang mau dibela.


"Son, sudahlah nanti akan Papa perbaiki."


"Jauhi bukan perbaiki." kata Anderson pada Papanya.


"Mana mungkin jauhi, urusan gedung pasti sama Moza." kata Mr. Lee.


"Urusan pekerjaan Moza sama aku saja." tegas Anderson pada Papanya.


"Itu kalau Papa mau aku urus perusahaan Papa." kata Anderson lagi. Ia menghela nafas panjang.


"Untuk apa?" tanya Romi bingung.


"Melamar Juwita untuk menjadi istri Papa." jawab Anderson serius, kembali Romi terbelalak, Anto pun begitu.


"Son jangan konyol."


"Papa harus menikah, kalau tidak Papa pasti terus pikirkan Moza." tegas Anderson.


"Tapi bukan begitu caranya, kamu tidak tahu bagaimana Juwita. Dia Judes sekali, bicaranya pun sedikit."


"Bagus kan berarti dia bukan janda murahan." jawab Anderson membuat Mr.Lee menghela nafas. Baru kali ini ada anak memaksa ayahnya untuk menikah bahkan mau meminta kesediaan Juwita untuk menjadi istri Papanya. Unik, pikir Romi terkekeh.


"Sudahlah, Papa akan jauhi Moza tapi jangan paksa Papa menikah dengan orang lain." Mr. Lee mengalah, daripada Anderson datangi Juwita. Anderson memicingkan matanya curiga, ia tidak percaya orang yang sedang jatuh cinta.


"Percaya sama Papa kali ini saja." kata Mr. Lee memandangi Anderson.


"Oke clear ya, jadi saya kunjungan ke kantor Mr. Lee jadi apa tidak?" tanya Romi pada Mr. Lee.


"Bicara disini saja Rom." Mr. Lee terkekeh sambil melepaskan dasinya, lehernya serasa tercekik melihat ulah Anderson. Sebenarnya siapa yang bikin ulah sih, Papa apa anaknya.


Syaiful asisten Papa Anto mengetuk pintu dan langsung muncul sambil tersenyum.


"Pak Leo sama sekretarisnya ada didepan bos." katanya pada Anto.


"Oh..." Anto jadi bingung, mau disuruh masuk tapi ada sekretarisnya,bagaimana ini. Ia memandang Mr. Lee meminta pendapat.


"Suruh masuk saja." kata Mr. Lee seperti dia yang punya kantor. Romi dan Anderson terkekeh, lucu sekali lihat Opa-Opa galau. Romi menyambut mertuanya yang hadir bersama Juwita, wanita yang sedang ditakuti Mr. Lee dan diinginkan Anderson untuk menjadi jodoh Papanya.


"Masuk Dad." sambut Romi sambil membukakan pintu ruangan.


"Tidak bilang mau kesini, Le." kata Anto pada besannya.


"Sekalian lewat, sekaligus ada yang mau kutanyakan. Kamu ternyata disini Lee." sapa Leo pada sahabatnya.


"Iya Anderson ada urusan sama Romi." jawab Mr. Lee tersenyum pada sahabatnya.


"Tumben pagi-pagi sudah kusut." komentar Leo melihat tampilan Mr. Lee.


"Biasa ini kalau ada sesuatu yang buntu." jawabnya penuh Makna. Leo dan Anto saling menaikkan alisnya terkekeh.


"Mbak Juwita kenalkan ini Anderson anak dari Mr. Lee." kata Romi yang sudah kenal dengan Juwita. Juwita hanya tersenyum menangkupkan kedua tangannya pada Anderson.


"Bisa belajar tentang design interior pada Anderson, dia ahlinya." kata Leo pada Juwita.


"Uncle lebih ahli dong, aku saja meniru uncle Leo." kata Romi terkekeh.


"Pak Leo memang pakarnya, hampir semua hotel di Indonesia dikuasai oleh perusahaan bos ku ini." kata Juwita membanggakan Leo.


"Tentu mertua siapa dulu." Romi ikut membanggakan Leo. Leo menggelengkan kepalanya saja sambil terkekeh.


"Tadi mau tanya apa?" tanya Mr. Lee pada Leo.


"Tanya sama Anto sih bukan sama kamu." Leo terbahak.


"Iya tanya saja, kan sudah datang. Jangan sampai kehadiranku mengganggu." kata Mr. Lee ikut terbahak.


"PT. Troka bukannya pakai gedung kalian ya?" tanya Leo pada Anto dan Romi.


"Iya kenapa?" tanya Anto pada Leo.


"Baru pasang sudah minta bongkar dan pindahkan ke gedung yang lainnya, katanya gedung diminta kosongkan dengan imbalan pembayaran sewa dikembalikan dua kali lipat?" kata Leo. pada Romi dan Anto.


"Waduh Moza gerak cepat, bagaimana ini." Mr. Lee jadi bingung sendiri, bukan masalah uangnya tapi wajah Anderson yang memandangnya seperti akan menerkam. Biasanya Papa yang mengintimidasi anak sekarang malah sebaiknya.