
Begitu tiba dirumah sepulang dari kantor, Romi langsung mengajak Anggita ke taman belakang, dimana standing Samsak diletakkan, ia melihat Wilma sibuk memukul dengan gayanya sendiri.
"Bisa kurus tidak sih kalau olah raga begini?" tanya Wilma.
"Mungkin bisa." jawab Anggita memilih duduk di bangku yang ada.
"Ini buat berlatih self defense, kalau ada orang jahat kamu tahu titik mana yang menjadi kelemahan orang itu." Romi menjelaskan.
"Iya, tapi kenapa pakai ini?" tanya Wilma.
"Itu sebagai pengganti orang On." jawab Anggita.
"On lagi, gue juara kelas tahu." Wilma protes pada Kakaknya. Romi dan Anggita terkekeh.
"Jadi bagaimana, mau latihan kapan kita?" tanya Mommy yang ikut bergabung dengan anak menantunya. Mommy sudah pakai baju kaos dan training, siap sekali berolah raga.
"Mau sekarang? aku ganti baju dulu." Anggita tak kalah semangat, meski semangatnya tidak bisa menyaingi Wilma. Ia segera bergegas ke kamar untuk meletakkan tasnya dan berganti pakaian. Romi pun mengikuti istrinya, ia perlu berganti baju juga.
"Sayang, apa bisa melatih tiga orang sekaligus?' tanya Anggita karena pikirnya alatnya hanya ada satu, mereka sudah berada dikamar saat ini, sibuk dengan aktifitas mencari pakaian rumahan yang bisa dibawa berolah raga, tidak terlalu sulit karena stoknya banyak.
"Bisa, nanti praktek pada Samsak bergantian saja." jawab Romi yang sudah berganti pakaian.
Tidak menunggu waktu lama, Romi dan Anggita segera bergabung bersama Wilma dan Mommy.
"Duh gue keringatan." kata Wilma dengan nafas terengah.
"Jadi mengundurkan diri?" tanya Anggita
"Oh tentu tidak." jawab Wilma tengil. Mommy dan Rommy terkekeh.
"Oke kita mulai ya, pertama jika bertemu orang jahat kita lindungi bagian wajah kita, karena titik lemah pertama ada pada dagu, tenggorokan, mata, hidung. Jadi kalau kita mau serangpun, serang bagian dagu, karena itu akan langsung ke syaraf." Semua menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Romi.
"Power menyerang ada pada pinggang jangan di tangan, posisi tangan hanya melempar saja."
"Perlu pakai sarung tinju Bang, sakit nih." Wilma mengusap bagian tangannya.
"Saat ada musuh kamu pakai dulu sarung tinjunya? keburu abis kita William." omel Anggita pada adiknya.
"Yah terus bagaimana, pakai kaki sajalah."
"Nah kalau belum terbiasa jangan coba-coba pakai kaki, khawatir tendangan melesat atau jatuh karena lantai licin."
"Jadi?" Wilma tidak sabaran.
"Solusi untuk yang belum terbiasa tinju gunakan telapak tangan bawah, secara tehnik sama gunakan kekuatan pada pundak dan pinggang."
"Oke." Anggita semangat mulai bergoyang-goyang seperti petinju professional.
"Tips lainnya, kalau lawan pakai anting, biasanya kan jagoan banyak pakai tindik-tindik begitu ya, itu malah memudahkan kita, tarik saja antingnya." Romi terkekeh, tapi serius.
"Ingat ya, dalam keadaan terdesak yang kita serang titik lemah yang pertama."
"Siap suhu." teriak Wilma bergaya pendekar.
"Kalau dia bawa senjata bagaimana?" tanya Liana.
"Kalau lawannya hanya sendiri, Mommy mendekat, agar tidak ada jarak lawan untuk menyerang kita, karena mereka biasanya perlu jarak untuk menyerang menggunakan senjata." Liana mengangguk tanda mengerti.
"Kalau lawannya banyak, ambil langkah seribu, lari saja menghindar dari mereka." pesan Romi pada semuanya.
"Oke silahkan bergantian untuk latihan tinjunya dulu, gunakan telapak tangan bawah saja." Semua mulai berlatih secara bergantian, Wilma, Anggita dan Mommy berbaris rapi, saling menunggu masing-masing meninju Samsak dihadapan mereka.
"Wilma kalau kaki miri didepan maka tangan Kiri di depan." Romi membenarkan.
"titik lemah hanya satu?" tanya Anggita
"Ada lagi bagian hati dan lever dan terakhir bagian ******** pria."
"Untuk menyerang bagian hati agak susah, maka serang bagian lever disamping." tegas Romi pada semuanya menunjuk bagian lever pada badannya.
"Bang, serang bagian ******** bagaimana, masa gue pegang sih kan horor." protes Wilma tanpa bermaksud porno.
"Oke, Mari kita berlatih." sambut Mommy setelah Romi memberikan tips yang harus mereka lakukan.
Semangat sekali ketiganya berlatih, kadang mereka saling tertawa karena kekonyolan masih-masing. Sampai tidak sadar jika Daddy sudah pulang dan ikut menyaksikan ketiganya berlatih, bahkan Daddy tertawa jika melihat gerakan-gerakan aneh, maklum saja mereka semua pemula. Saat menjelang magrib Daddy Leo pun bersorak dan menepuk tangannya.
"Ayo bubar, besok lagi." teriak Daddy membuat mereka berhenti.
"Kamu sudah pulang, sayang?" tanya Mommy pada Daddy dengan senyum mengembang dan keringat mengalir deras.
"Dari tadi, anak Istriku dijadikan jagoan oleh Romi rupanya." Daddy terkekeh menggelengkan kepalanya.
"Ini penting Daddy." kata Wilma pada Daddynya.
"Tentu saja penting, bagaimana kalau diserang dari belakang, mereka mengunci badan kalian?" tanya Daddy pada semuanya.
"Boxing mana boleh serang bagian belakang." kata Wilma sok tahu.
"Namanya saja lagi dijalan, mereka menyerang dengan berbagai cara." kata Daddy.
"Aduh bagaimana, mau gigit tangan susah ya Daddy." Wilma praktek seakan ada yang mengunci badannya dari belakang dan ingin menggigit tangan tersebut, tapi tidak sampai.
"Bagaimana dong Daddy?" tanya Mommy panik.
"Angkat kaki mereka Mom atau gunakan siku untuk menyerang lever atau dagu mereka." jawab Daddy memberikan tips ringan.
"Terus kabur ya dad." kata Wilma konyol, semua tertawa walaupun agak ngeri jika benar terjadi.
"Tergantung, kalau ganteng cium dulu lah." kata Anggita membuat Romi mengeram kesal.
"Ah mana ada penjahat ganteng." sungut Wilma kesal digoda Kakaknya
"Oke sudah dulu latihan hari ini, silahkan mandi kalian semua berkeringat." Daddy menutup hidungnya, langsung saja semua anaknya dan juga istrinya menyerang Daddy Leo dengan pelukan bahkan menciumnya, sudah pasti Daddy jadi ikut berkeringat. Romi terbahak dibuatnya, konyol sekali mereka berempat.
Setelah puas menyerang Daddy barulah semua beranjak ke kamar masing-masing membersihkan diri.
"Rom, sholat magrib dimesjid kan?" tanya Daddy Leo pada menantunya.
"Iya Dad." jawab Romi sebelum masuk ke
kamarnya.
"Capek..." kata Anggita pada suaminya ketika mereka berada dikamar.
"Nanti kalau sudah terbiasa malah kecanduan." kata Romi mengacak anak rambut istrinya.
"Ayo mandi." ajak Romi.
"Capek sayang."
"Tidak mau mandi?"
"Mau tidur."
"Sayang sudah mau magrib, aku mandi duluan, kamu jangan tidur, tidak bagus abis olahraga malah tidur." pesan Romi pada istrinya
"Rom, mandi sama-sama ya." kata Anggita kemudian.
"Sayang kamu menggoda aku?" Romi memicingkan matanya.
"Siapa yang menggoda, hanya mau mandi saja." kata Anggita serius, ia mau irit waktu.
"Sayang nanti pikiranmu kemana-mana." tolak Romi jujur.
"Kalau begitu kamu mandi duluan saja." tegas Romi lagi.
"Ish kamu kenapa sih, kan hanya mandi bukan yang lain." Anggita merajuk, aduh di ilmu boxing tidak ada tehnik menghadapi istri yang merajuk.
"Ayo." ajak Romi akhirnya pasrah, ia melirik jam pada dinding kamar, masih sempat, pikirnya menyeringai jahil, dasar Romi.