
Rasa bersalah karena sudah membuat istrinya menangis membuat Ethan terus kepikiran. Dia yang biasanya dengan mudah tertidur kini tidak bisa menutup matanya walau jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Clara sendiri sudah tertidur dengan lelapnya. Tadi saat makan malam Clara pun makan dengan lahap. Dia sepertinya sudah tidak terlalu memikirkan bentakan suaminya.
Ethan terus memandangi wajah Clara yang terlihat damai itu. Nafasnya terdengar begitu teratur.
“Tidur saja kamu cantik seperti ini” gumam Ethan sambil membelai lembut wajah istrinya.
“Maaf ya sudah bentak kamu seperti tadi”.
Tangan Ethan lalu turun ke perut istrinya.
“Maafkan Papa ya nak”.
Ethan terus mengelus perut istrinya yang belum terlihat kalau sedang hamil itu.
Clara menggeliatkan tubuhnya. Dia sedikit terusik dengan sentuhan suaminya.
“sssttt… tidur yang nyenyak” Ethan elus-elus lengan Clara agar tidurnya kembali nyenyak.
Ethan lalu memeluk tubuh istrinya agar dia juga ikut masuk ke alam mimpi.
….
Gavin sudah diperbolehkan untuk pulang setelah hampir tiga minggu di rawat di rumah sakit. Tidak langsung pulang ke rumah, Gavin memilih mendatangi kediaman keluarga Brin untuk menemui putrinya. Dia akan meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan selama ini. Gavin akan menebus kesalahannya karena telah tidak adil pada Clara.
Saat masuk ke dalam rumah Brin, asisten rumah tangga sudah menyambut kedatangan Gavin dengan sopan. Pelayan tersebut mengantar Gavin menuju ruang tamu.
Vania yang berada tidak jauh dari ruang tamu pun langsung menghampiri besannya tersebut.
“Bagaimana keadaanmu Vin? Kapan kamu pulang dari rumah sakit?” tanya Vania yang memilih duduk tepat di depan Gavin.
“Sudah lebih baik, Aku baru saja pulang dan langsung kesini. Aku ingin menemui putriku” ucap Gavin langsung ke intinya.
Pelayan datang dengan minuman dan aneka cemilan.
“An, tolong panggil Clara ya. Bilang Papanya datang” ucap Vania pada pelayan tersebut.
“Baik bu” sahut pelayan sambil menunduk dan permisi untuk memanggil Clara.
Tak lama kemudian, Clara datang menghampiri Papanya.
“Pa… sudah lama?” tanya Clara sambil mencium punggung tangan Ayahya.
“Papa kamu dari rumah sakit langsung kesini” ucap Vania menimpali.
“Papa kenapa tidak istirahat dulu, kesininya kan bisa kapan-kapan” tegur Clara karena tidak ingin Ayahnya jatuh sakit lagi. Apalagi semenjak pulang dari rumah sakit dia belum bisa menjenguk karena memang kondisinya belum memungkinkan. Ditambah suaminya yang over protektif, kemarin saja sudah marah besar gara-gara keluar fitting baju.
Clara duduk tepat di sebelah Papanya saat ini.
“Maafkan Papa ya nak, Selama ini papa sudah terlalu keras sama kamu. Papa tidak bermaksud membeda-bedakan kalian. Kalian adalah anak papa. Darah daging Papa”.
Gavin berucap sambil memeluk putrinya. Gavin tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena sudah begitu jahat pada putri kandungnya sendiri.
“Iya pa, Aku juga minta maaf karena tidak bisa seperti Chila. Aku malah ikut-ikutan menjauh dari Papa. Aku minta maaf pa”.
“Wajar kamu begitu karena dari awal papa lah yang salah. Harusnya dari awal Papa tidak selalu menyudutkan dan memintamu mengalah pada Chila. Maafkan Papa yang gagal menjadi orang tua. maafkan Papa nak”
Mereka berdua saling mengungkapkan isi hati dan berusaha memperbaiki segalanya. Berharap kedepannya hubungan Ayah dan anak itu bisa lebih baik lagi.
…..
Hari demi hari berlalu, pesta pernikahan Clara dan Ethan akhirnya digelar hari ini. Keduanya sudah siap dengan pakaian terbaik mereka. Vania mendatangkan MUA terkenal untuk menantunya tersebut. Clara yang memang sudah begitu cantik sekarang kecantikannya bertambah berkali-kali lipat berkat goresan tangan MUA tersebut.
Ethan bahkan sampai tidak bisa menutup mulutnya saat melihat istrinya selesai berhias.
“You look gorgeous !” puji Ethan sambil mengelus sebelah pipi istrinya. Ethan tidak ingin merusak riasan yang sudah menempel dengan indah di wajah cantik istrinya tersebut.
“Terima kasih, suamiku juga sangat tampan” sahut Clara dengan tersenyum manis.
Ethan tidak menyangka kalau dia yang dulu menganggap Clara musuhnya sekarang malah mencintai wanita itu dengan segenap hatinya.
“I Love You sayang” bisik Ethan mesra.
“Love you more” balas Clara yang ikut berbisik.
“Sudah…sudah… jangan bermesraan terus. Tamunya sudah menunggu” lerai Vania pada pasangan pengantin yang bukan pengantin baru bukan juga pengantin lama itu.
Ethan dan Clara saling melempar senyum dan bergandengan tangan menuju Ballroom hotel tempat mereka mengadakan resepsi pernikahan.
Riuh tepuk tangan dan sorak sorai tamu undangan memenuhi tempat acara. Mereka tidak menyangka kalau putra satu-satunya keluarga Brin dan putri pertama Keluarga Alexander ternyata sudah menikah. Apalagi keduanya terlihat begitu serasi.
Kebahagiaan terlihat di wajah pasangan suami dan istri tersebut.
Di meja paling depan, Arlan, Chila dan Friska ikut tersenyum melihat kebahagian mereka. Di meja sebelahnya ada Gavin, Vania dan juga Brin yang juga sama bahagianya.
“Akhirnya anak-anak kita bisa saling menerima satu sama lain” ucap Vania sambil tersenyum.
“Terima kasih karena kalian sudah menyayangi putriku seperti putri sendiri” ucap Gavin yang tidak bisa menahan rasa harunya.
“Kamu bilang apa sih. Clara memang putriku” balas Vania.
Perhatian mereka kemudian teralihkan pada tepuk tangan penonton yang bersorak saat Ethan dan juga Clara sedang memotong kue pernikahan mereka.
MC meminta keduanya untuk saling menyuapi satu sama lain.
Ethan begitu bahagia begitu pula Clara. Selesai suap-suapan mereka juga diminta untuk berdansa. Hari ini mereka menjadi raja dan ratu selama semalaman.
Ethan memeluk erat tubuh istrinya dan menghadiahi ciuman di kening Clara.
“I Love You More than everything” bisik Ethan ditelinga Clara.
“Me too” balas Clara.
Keduanya tersenyum dengan begitu bahagia. Berharap kebahagian mereka akan seterusnya seperti ini.
The End.