
Ethan dengan sengaja merangkul mesra istrinya saat Benny mulai kembali mengeluarkan kata-kata pujian untuk istrinya.
“Istri saya memang cantik pak” Ethan sengaja menggunakan kata istri agar Benny berhenti merayu Clara. Tapi sayang Benny tidak memahami maksud Ethan. Tepatnya dia tidak berpikiran kalau orang sekelas Clara dan Ethan hanya melakukan pernikahan di catatan sipil. Jadi Benny mengira istilah istri yang Ethan gunakan hanya simbolis kalau Ethan menyayangi Clara, bukan dalam artian istri yang sebenarnya.
“Iya benar pak Samuel. Pak Samuel sangat beruntung” ucap Benny menimpali.
“Kalau begitu sampai jumpa nanti jam 3” ucap Benny lalu mendahului pasangan baru tersebut.
Clara dan Ethan pun kompak menganggukkan kepalanya.
“Pak Benny sudah pergi, tanganmu sudah bisa dilepas” ucap Clara sambil melepaskan tangan Ethan yang masih merangkulnya saat ini.
“Memangnya tidak boleh kalau aku ingin merangkul istri sendiri?” tanya Ethan ketus.
“Boleh kalau di hati kamu tidak ada wanita lain” jawab Clara lalu mendahului suaminya.
Ethan tertegun sejenak. Dia hanya bisa menghela nafas lalu menyusul istrinya.
….
Pernikahan bisa berjalan dengan baik bila adanya saling menerima satu sama lain. Bagaimana jadinya bila pasangan tersebut sama-sama egois dan tidak ada yang mau mengalah?.
Vania memikirkan pernikahan anaknya yang terkesan dipaksakan ini. Entah kenapa Vania sangat yakin kalau sebenarnya Ethan mencintai Clara bukan Chila seperti yang dia sering katakan.
“Bagaimana ya caranya agar mereka berdua bisa saling menerima satu sama lain?” gumam Vania pelan. Walaupun pelan tadi Brin yang berada di sebelahnya bisa mendengar dengan jelas.
“Buat anakmu merasa kehilangan baru dia akan sadar kalau Clara berarti buatnya. Kamu seperti tidak tau anakmu saja” ucap Brin santai.
Vania menganggukkan kepala.
“Tapi bagaimana caranya Pa?”. Vania sama sekali tidak mempunyai ide.
Kedua pasangan itu pun saling tersenyum dan membayangkan bagaimana kira-kira Ethan nanti saat istrinya menghilang begitu saja.
“Putramu terlalu bodoh. Dapat istri cantik kok disia siakan. Bisa-bisanya malam pertama malah berlama-lama di rumah” ucap Brin pula.
“Dia itu juga putramu, bukan putraku saja” protes Vania tak terima.
Ethan yang saat ini berada di ruang rapat merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Kenapa seperti ada yang membicarakan aku?” gumam Ethan dalam hati.
Arlan yang melihat Ethan mengelus-elus leher bagian belakangnya pun bertanya-tanya.
“Kenapa?” tanya Arlan pada sahabatnya itu.
Ethan hanya menggelengkan kepalanya, dia kembali fokus pada Clara yang sedang mempresentasikan konsep iklannya pada Benny. Clara memang selalu totalitas dan ide-idenya selalu out of the box.
Benny tampak sangat serius mendengarkan apa yang Clara presentasikan. Sesekali dia menganggukkan kepala bila ide-ide tersebut sesuai dengan keinginannya.
Ethan juga melihat ke arah Arlan yang sebelas dua belas seperti Benny.
“Kamu begitu cantik dan pintar. Apakah suatu saat nanti orang sepertimu bila menaruh hati padaku?” gumam Ethan dalam hati.
“Sayangnya sikapmu selalu cuek bisa bersamaku. Harusnya kamu berusaha mendapatkan cintaku juga. Bila kita sama-sama tidak berusaha akan seperti apa jadinya pernikahan ini?”
Ethan kembali memperhatikan istrinya yang sesekali tersenyum kepada Benny.
“Sekali saja aku ingin kamu tersenyum dari hati padaku” lanjut Ethan dalam hati.
Bersambung...