
Ethan membuka matanya perlahan. Dia tersenyum ketika melihat sosok yang begitu dia rindukan ada disana. Dia belai wajah cantik sosok itu. Sosok yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Ethan kembali menangis. Rasa rindunya membuat dirinya berhalusinasi bertemu istrinya.
Ethan menggenggam tangan sosok yang dia yakini adalah istrinya itu. Ethan tidak tau apakah dirinya sudah meninggal atau sekarang dia berada di alam yang entah ada dimana.
“Sayang…Maafkan Aku”.
Ethan yang awalnya berbaring langsung mendudukkan dirinya.
Dia bawa istrinya ke dalam pelukannya.
“Aku minta maaf karena tidak dari awal mengatakan ini sehingga kamu salah paham”. Ethan menjeda ucapannya. Nafasnya putus-putus karena berucap sambil menangis.
“Aku mencintaimu istriku, hanya mencintaimu”.
“Tidak ada wanita yang aku sayangi selain kamu dan Mamaku”.
“Satu-satunya wanita yang bisa membuat ku cemburu hanya kamu”.
Ethan urai pelukannya dan menangkup wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya yang besar lalu dia cium kening istrinya cukup lama.
Wajah istrinya terlihat pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.
“Maafkan aku, selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik. Aku gengsi menyatakan perasaanku yang sesungguhnya”.
“Tapi percayalah sayang, aku sangat mencintaimu”.
Ethan cium pipi kiri Clara lama. Lalu beralih ke pipi kanan.
Air matanya tak henti-hentinya membasahi pipinya.
Hanya penyesalan yang Ethan rasakan saat ini. Andai dia diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Ethan berjanji akan memperlakukan istrinya dengan baik. Menjaga dan melindungi dengan segenap jiwa dan raga.
Ethan kembali memeluk istrinya.
“Maafkan aku”.
Ethan elus belakang kepala istrinya dengan sayang.
“Apa kamu begitu membenciku sekarang? Apa masih ada kata maaf untukku?”.
“Selama ini aku selalu mengatakan kalau aku menyukai Chila tapi sebenarnya itu bohong.”
“Aku tidak pernah mencintainya”.
“Aku tidak pernah cemburu dia bersama pacarnya dulu atau sekarang bersama Arlan”.
“Dulu yang membuatku kecewa bukan karena melihat adikmu dan Arlan berciuman”
“Sama sekali bukan karena itu”.
“Tapi aku kecewa karena Arlan menutupi semua ini dariku padahal kami sudah berteman sejak lama”.
Ethan kembali mengurai pelukannya.
Lagi dia belai wajah istrinya.
Ethan dekatkan wajahnya dan dia cium bibir istrinya.
Bibir Ethan bergetar menahan haru. Walau ini hanya halusinasi semata setidaknya dia masih diberi kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya.
“Padahal aku sudah merencanakan pesta pernikahan akan begitu mewah. Aku ingin orang-orang tau kalau aku memiliki istri yang begitu sempurna”.
“Tapi Tuhan berkata lain, aku harus kehilanganmu. Andai saja waktu itu aku tidak menjawab pertanyaan papa seperti itu. Kamu pasti masih berada disampingku saat ini.”
“Aku hanya bisa berandai-andai sekarang”.
“Aku sekarang kehilanganmu, kehilangan wanita yang begitu aku cintai”.
Tangisan Ethan semakin keras. Pelukannya pun semakin dia pererat. Bila benar ini semua hanya mimpi dan halusinasi semata Ethan berharap dia tidak pernah bangun dan tetap bersama dengan istrinya.
“Apa jadinya aku bila tidak ada kamu disisiku. Aku tidak akan bisa sayang”.