
Arlan masih terlihat panik. Dia mondar mandir di dalam ruangannya sambil terus menghubungi kedua sahabatnya itu.
“Kenapa kak?” tanya Chila yang baru saja sampai disana.
“Ini Clara tidak bisa dihubungi. Ethan juga. Aku khawatir” jawab Arlan sambil kembali mencoba menghubungi keduanya.
Chila duduk di sofa sambil terus memandangi suaminya. Chila menghela nafas berkali-kali. Sakit sekali rasanya bertahun-tahun melihat suaminya begitu perhatian dengan wanita lain.
“Kak… sampai kapan kakak akan mengabaikanku seperti ini? Apakah kakak tidak bisa mencintaiku? Sudah ada Friska diantara kita tapi hatimu tetap untuk wanita lain”.
Chila bergumam dalam hati.
Semenjak ada Friska yang tumbuh di dalam rahimnya, Chila sudah mengisi ruang di hatinya hanya untuk Arlan. Bersusah payah dia membuat Arlan jatuh cinta padanya tapi hingga kini pun Arlan belum bisa membuka hati untuk dirinya.
Arlan memang tidak seperti Ethan yang terang-terangan menolak Clara, tapi sikap Arlan malah membuat Chila semakin tersiksa. Arlan memang memperlakukannya dengan baik, menyayangi dia dan anak mereka tapi hatinya tetap hanya untuk Clara. Tatapan mata penuh cinta hanya Arlan tunjukkan pada Clara.
Bolehkah Chila marah akan hal itu? Walau pernikahan ini terjadi karena suatu kesalahan tidak bisakah setidaknya sedikit saja Arlan membuka hati untuk dirinya?.
Chila yakin walaupun kejadian itu tidak terjadi, Arlan belum tentu bisa mendapatkan kakaknya.
“Makan dulu kak” ajak Chila karena suaminya masih terus saja mondar mandir sambil menghubungi kedua temannya.
Arlan melihat ke arah istrinya kemudian menganggukkan kepala.
Chila menyiapkan makanan untuk Arlan dengan telaten.
“Sekarang aku sudah boleh menyuapi kakak?” tanya Chila dengan tatapan memohon.
Arlan pun menganggukkan kepalanya. Arlan merasa sangat bersalah pada istrinya. Dia pun tidak mengerti kenapa sampai sekarang belum juga bisa mencintai Chila sepenuhnya.
Mereka berdua makan dengan saling menyuapi satu sama lain. Walaupun Arlan lagi-lagi berlaku manis tapi Chila masih bisa merasakan kalau suaminya tidak tulus kepadanya.
“Cintai aku kak. Aku ingin kamu mencintaiku” ucap Chila dalam hati.
Clara dan Ethan baru saja selesai mandi bersama. Clara duduk di atas ranjang hanya mengenakan handuk sedangkan Ethan sudah mengenakan pakaiannya.
“Aku ambilkan bajumu dulu ya” ucap Ethan yang saat ini tangannya sedang mengelus rambut Clara yang masih basah.
Clara menganggukkan kepalanya lalu beranjak hendak mengeringkan rambut.
Saat Ethan keluar dari kamar, Vania langsung mendekat.
“Ethaaaaannnnn… keterlaluan kamu ya? Mama panggil-panggil dari tadi gak nyaut-nyaut!” pekik Vania kesal.
Ethan cuek saja.
“Mama yang lebih keterlaluan. Harusnya Mama bersabar. Malam pertamaku jadi seperti ini gara-gara mama” Ethan melayangkan protesnya.
“Mana koperku?” tanya Ethan pula.
Vania hanya terkekeh saja. Dia sudah biasa mendapatkan amukan dan protes Ethan yang seperti ini.
“Tapi kamu senang kan?” goda Vania dengan sengaja.
Wajah Ethan sudah memerah karena dia kembali mengingat bagaimana dirinya dan sang istri memadu kasih.
“Mana kopernya ma?” tanya Ethan mengalihkan pembicaraan Mamanya.
Vania semakin terkikik. Dengan menahan tawa dia menuju kamar untuk mengambilkan koper yang memang dari kemarin sudah dia simpan di dalam kamarnya sendiri. Ethan menyusul Vania ke dalam kamar.
“Aku tunggu penjelasan Mama nanti sore!’ tegas Ethan sebelum keluar dari kamar mamanya.
Vania hanya menunjukkan kedua jempolnya. Dia sudah siap mendengar protes dari putranya nanti. Yang penting bagi Vania adalah hubungan anak dan mantunya bisa menjadi harmonis.
Bersambung...