
Udara di balkon kamar mereka semakin malam sudah semakin dingin saja. Ethan menggosok-gosokkan tangannya untuk mendapatkan sedikit kehangatan.
“Dingin?” tanya Clara pada suaminya.
Ethan pun menganggukkan kepalanya.
“Kenapa tidak masuk ke kamar?” tanya Clara pula.
“Kamu sendiri masih disini. Ayo masuk bersama” Ethan bangkit dan meraih tangan istrinya untuk masuk ke dalam kamar mereka. Clara menurut. Dia menerima uluran tangan Ethan dan masuk bersama ke dalam rumah. Tidak lupa dia menutup pintu balkon agar udara tidak masuk ke dalam.
Clara masuk ke dalam walk in closet dan merapikan baju-baju yang masih berada di dalam koper. Mertuanya memang totalitas. Sampai pakaian Ethan pun bersih di dalam lemari hingga Clara tidak bisa meminjam pakaian suaminya dan terpaksa memakai lingerie pemberian Vania tersebut.
Saat asyik merapikan pakaian-pakaiannya, Ethan masuk dengan bertelanjang dada.
“Clara, tolong kaos yang biru”.
Clara mengambil baju yang diminta suaminya dan langsung menyerahkannya tanpa berucap sepatah katapun.
“Terima kasih” ucap Ethan sambil mencuri kecup di pipi istrinya. Ethan terkekeh sambil memakai pakaiannya dan keluar dari ruangan tersebut. Menyisakan Clara yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
……
Langit sudah berwarna gelap. Bintang-bintang pun sudah menunjukkan sinarnya. Hanya sang bulan yang tidak menampakkan diri karena saat ini memang sedang dalam fase new moon sehingga bulan tidak terlihat. Sama seperti new moon yang gelap dan tak terlihat. Begitulah perasaan Arlan saat ini. Gelap dan tidak terbaca. Mengetahui kalau Ethan sudah mulai bisa menerima Clara membuat Arlan merasakan lega dan juga sedih disaat bersamaan. Arlan berjalan sambil melihat deburan ombak yang semakin malam hantamannya semakin keras menerjang karang. Arlan dan Ethan hampir sama, bila mereka merasa suntuk maka pantailah tempat mereka menenangkan diri.
Arlan terus berandai-andai. Andai saja kejadian itu tidak pernah ada pasti dia mempunyai kesempatan untuk menyatakan perasaannya pada Clara. Tapi Arlan juga bersyukur ada Friska yang hadir dalam hidupnya. Putri kecil yang begitu cantik dan menggemaskan. Friskalah satu-satunya yang membuat Arlan masih bertahan.
“Maafkan Daddy ya nak. Daddy belum bisa memberikan keluarga yang utuh untukmu. Daddy belum bisa mencintai Mommy sepenuhnya. Daddy sedang berusaha nak” Arlan seolah-olah berbicara dengan anaknya saat ini.
“Dimana kak?” terdengar nada khawatir dari pertanyaan yang Chila lontarkan.
“Kakak ke Pantai lagi?” tanyanya pula.
Chila sangat tau setiap Arlan merasa galau dan gundah tempatnya mencari penghiburan pasti adalah pantai.
“Iya, sebentar lagi aku pulang. Friska sudah tidur?” jawab Arlan.
“Sudah kak. Ya sudah hati-hati ya kak”.
“Iya, kamu tidurlah duluan” ucap Arlan.
Panggilan mereka pun terputus.
Chila menghela nafas berat. Dia hampir menangis saat ini.
“Sampai kapan kakak tidak bisa menerima kehadiranku kak? Sepanjang malam aku harus selalu menanti kedatangan kakak seperti ini. Aku lelah kak. Aku ingin dicintai. Aku ingin hidup dalam keluarga yang saling menyayangi. Kalau bukan karena Friska sudah dari dulu aku menyerah kak. Aku tidak kuat terus-terusan seperti ini. Aku tidak kuat… hu…hu…” Akhirnya jatuh juga air matanya.
Chila kira bila kakaknya menikah dengan Ethan maka suaminya akan bisa belajar mencintai dirinya dan melupakan nama Clara di hatinya. Tapi ternyata sesulit ini.
“Andai saja kejadian itu tidak pernah terjadi”.
Sama seperti Arlan, Chila pun tidak pernah menginginkan kejadian seperti itu terjadi pada mereka.
Bersambung...