My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Veronica



Sebagai besan sekaligus sahabat baik Gavin, Brin tentu saja menyampaikan kabar yang dia dengar pada sahabatnya. Gavin masih dirawat dirumah sakit saat ini sampai kondisinya benar-benar pulih.


Brin duduk di kursi tepat disebelah ranjang Gavin. Gavin tidak berbaring melainkan memilih duduk bersandar di kepala ranjang.


"Ada apa Brin? Apa ada sesuatu pada anakku?" tanya Gavin dengan nada khawatir. Gavin tau kalau Brin sangat sibuk hingga dia yakin pasti ada sesuatu jika sahabatnya itu bisa sampai datang di waktu sepagi ini.


"Tidak Clara baik-baik saja. Hanya saja ada sesuatu yang harus kamu tau" jelas Brin.


Gavin pun menganggukkan kepalanya meminta Brin melanjutkan ceritanya.


"Selama ini kamu terlalu keras pada Clara" lanjut Brin.


"Iya kamu benar, aku menyesal. Aku hanya ingin dia menjadi wanita yang kuat" ucap Gavin menyesali perbuatannya.


"Salahmu kamu hanya memperlakukan itu pada Clara sedangkan Chila tidak".


"Itu karena Chila tidak sekuat Clara. Dia manja dan kemampuan dia beradaptasi tidak seperti Clara. Chila tidak akan mampu bila aku memperlakukannya sama seperti Clara" Gavin sangat menyesal.


"Aku tidak bisa berkata apa-apa karena ini sudah terlanjur terjadi. Tapi karena perlakuan tidak adilmu itu Clara tidak ingin memiliki lebih dari satu anak. Dia tidak mau nanti tidak bisa berlaku adil pada anak-anaknya".


Gavin tertunduk. Rasa terlalu sayangnya pada Clara malah membuatnya salah dalam bersikap. Gavin tidak ingin Clara salah mengambil jalan hingga dia selalu ingin yang terbaik untuk putrinya itu.


Kehilangan istri disisinya membuat Gavin tidak bisa berbagi dan melakukan semuanya berdasarkan keinginannya saja.


Apalagi Clara begitu mirip dengan Ibunya sehingga membuat Gavin semakin over protektif pada putri sulungnya itu.


"Apa yang harus aku lakukan Brin?" Gavin tidak tau harus berbuat apa.


"Apa? Siapa orang itu? Pantas saja Clara pernah menanyakan itu padaku" Gavin menjadi geram.


"Dia adalah Veronica, mantan kepala pelayan dirumahmu" jawab Brin.


Venonica sudah lama berhenti bekerja di kediaman Gavin dan pindah ke luar negeri.


"Apa? Kenapa dia melakukan itu?" Gavin tidak menyangka orang kepercayaan istrinya bisa melakukan hal itu.


"Kamu tidak tau? Dari dulu dia itu menyukaimu. Bagaimana kamu tidak merasa aneh wanita berpendidikan tinggi memilih menjadi kepala pelayan saja? Padahal dia bisa bekerja di kantoran" Brin merasa Gavin itu terlalu tidak peka. Pantas saja dia tidak menyadari kalau selama ini sudah berbuat tidak adil pada putrinya.


Gavin semakin terkejut mendengar jawaban Brin.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku sejak lama. Kalau tau aku pasti memecatnya lebih dulu" tuntut Gavin.


"Aku tidak menyangka kalau dia sampai berkata seperti itu pada Clara. Aku pikir dia hanya akan ke tahap memisahkanmu dengan istrimu. Karena kalau hanya itu aku tidak akan pernah khawatir. Aku sangat tau kalau kamu begitu mencintai Larissa. Jadi kamu tidak akan tergoda dengan wanita lain termasuk Veronica" jelas Brin.


Gavin menghela nafas berat.


Gavin baru menyadari kalau dulu Veronica memang sering berusaha mendekatinya tapi Gavin tidak menyangka kalau Veronica ternyata ada niatan jahat seperti itu. Mungkin karena tidak berhasil mendekati Gavin walau Larissa sudah meninggal membuat Veronica menyerah dan pergi ke luar negeri.


"Brin, apa mungkin kematian Larissa karena ulah Veronica?" Gavin jadi mempunyai pikiran buruk pada mantan kepala pelayan di rumahnya.


Bersambung...